Tahap Pertama

Setelah Priscilla sudah melakukan sarapan, dimana Arvin da Dicky membawanya keruang khusus untuk penetralan darah.

Priscilla terlihat sangat takut sekali saat melihat semua alat disana, bermacam-macam alat yang ada disana.

Dimana Dicky membantu Arvin untuk mulai memasangkan infus kepada Priscilla setelah itu memasangkan satu selang untuk menetralkan darahnya tersebut.

" A-apa begitu sangat sakit?" tanya Priscilla dengan nada takutnya

Bukan Dicky namanya jika tidak jail.

" Hmm sangat sakit rasanya itu" jawab Dicky dengan seriusnya

Tak!

" Ah kebiasaan banget lo main sentil jidat orang terus" protes Dicky kepada Arvin

Arvin mendekat kearah Priscilla sambil memasang sarung tangan karet, dia benar-benar kesal dengan Dicky yang selalu menakuti pasien.

" Jangan dengarkan Dokter Dicky, dia hanya bercanda saja itu tidak sakit kok tapi butuh waktu 2 jam lebih untuk penetralannya, apa kamu siap?"

Priscilla menganggukkan kepalanya dengan sangat pelan sehingga membuat Arvin mengelus-elus rambutnya.

Dicky yang melihat benar-benar merasa heran dengan sikap temannya itu melihat dimana dia sangat berbeda sekali.

" Dicky mulailah"

" Baiklah"

Dimana mereka mulai untuk penetralan darah terlebih dahulu, ini adalah tahap pertama yang dilakukan Arvin sehingga obat-obatan yang terlarang termasuk ada yang tercampur nikotinnya bisa hilang yang mengalir didarahnya Priscilla.

Sehingga membuat Arvin akan memulai tahap berikutnya untuk pengobatannya.

Dari arah luar jendela ada seseorang memerhatikan cara pengobatan tahap pertama yang dilakukan Arvin yaitu Direktur Hendi.

Dia berharap dengan cara ini Arvin bisa menyembuhkan gadis itu, karena dia begitu sangat kasian juga selalu disiksa dan sudah terlalu lama dia dirumah sakit ini.

Serta satupun keluarganya tidak pernah menjenguk dirinya, itulah yang membuat Direktur Hendi merasakan sedih dengan kehidupannya Priscilla disaat dia sakit begini tidak ada yang mensupport dirinya untuk sembuh.

********

Setelah dua jam lebih akhirnya Arvin menyelesaikan penetralan itu, dimana Arvin perlahan-lahan membuka semua selang yang terdapat ditangannya Priscilla.

Lalu dia membantu Priscilla untuk bangun dari tempat tidurnya, dia merasakan sedikit pusing mungkin itu efek dari penetralan itu.

" Minum dulu" kata Arvin memberikan satu minuman botol kepada Priscilla

Priscilla pun mengambil dan mulai meminumnya, lalu Dicky mendekat lagi kepada Priscilla mengambil sampel darahnya untuk kembali dites ke laboratorium.

Priscilla tidak banyak berbicara atau melawan dia hanya tenang walaupun sebenarnya takut, itu membuat Arvin senang karena dia merasa berhasil membuat gadis itu tenang.

" Sudah Dokter Dicky?"

" Gue sudah mengambil sampel darahnya, gue akan membawanya ke laboratorium nanti kalau hasilnya sudah keluar gue kabarin"

" Baiklah, terima kasih atas kerja samanya"

" Ini tidak gratis Dokter Arvin"

" Gue tau, nanti gue transfer uang jajan lo"

Terukir senyum lebar diwajah Dicky saat Arvin mengatakan dia akan mentransferkan untuk jajan dirinya.

Kini Dicky keluar dengan daya yang begitu bahagia sekali sambil membawa sampel darah itu dimana Arvin hanya menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah Dicky seperti bocah.

Lalu dia menatap kearah Priscilla dan memegangi tangannya.

" Mau ikut aku kekantin?" tanya Arvin membuat Priscilla bingung" Siapa tau ada yang ingin kamu beli atau makan hm?"

Priscilla menggelengkan kepalanya.

" A-aku tidak punya uang" jawab Priscilla

Arvin tersenyum karena dia merespon sangat baik sekali, akhirnya Arvin tau dia tidak sepenuhnya gila namun masih ada warasnya hanya saja karena obat itu yang membuat dirinya gila dan lepas kendali.

" Tenang, aku yang akan membelikannya untukmu"

Mata Priscilla terbelalak saat mendengar jawabannya Arvin.

" A-apakah itu boleh?" tanya Priscilla diangguki oleh Arvin" L-lalu bagaimana dengan orang-orang mereka nanti akan menyerangku dan menyiksaku lalu mengatakan aku orang gila"

Arvin terdiam saat mendengar ucapannya Priscilla, mungkin bukan hanya gangguan mental yang akut tetapi ada ketraumaan yang dirasakan oleh Priscilla.

Bisa dikatakan dia tidak siksa dirumah sakit ini saja melainkan sebelum dia masuk pasti mendapatkan penyiksaan terlebih dahulu.

Arvin memegangi kedua tangannya Priscilla dengan sangat mencoba untuk menenangkan dirinya agar bisa melawan rasa takut dan traumanya itu.

" Dengarkan aku, selama kamu bersamaku tidak ada satupun orang yang berani menyentuhmu paham? Aku akan tidak akan diam jika mereka bertindak jadi jangan takut ada aku disini"

Priscilla menganggukkan kepalanya dan mencoba percaya kepada Arvin. Tetapi sebenarnya itu adalah cara pengobatan atau terapi yang dilakukan Arvin untuk melawan rasa takut dan trauma Priscilla terhadap orang-orang.

Setelah ini dia akan mencoba cari tau tentang Priscilla sebelum masuk kerumah sakit, agar dengan mudah dia bisa disembuhkan.

********

Selama perjalanan menuju kantin, Priscilla selalu menggandeng tangannya Arvin dia begitu takut melihat orang-orang serta Dokter lainnya.

Tetapi dengan berusahanya dia menahan agar ketakutan itu tidak menghantui dirinya, Arvin juga bisa merasakan getaran dari tangannya tapi dia mengakui bahwa Priscilla hebat bisa melawannya.

" Duduklah" kata Arvin saat tiba

Priscilla dengan perlahan-lahan melepaskan gandengannya dari Arvin lalu dia melihat kearah sekelilingnya.

" Tidak apa-apa, mereka tidak akan menyerang dirimu percayalah kepadaku"

Priscilla menganggukkan kepalanya lalu dia duduk, dimana matanya selalu melihat sekelilingnya betapa banyaknya orang dan para Dokter lainnya berjalan sekelilingnya itu.

Lalu Arvin memanggil salah satu karyawan dikantin itu untuk membawakan daftar menu makanan serta minumannya agar Priscilla memilihnya sendiri.

Saat tiba dengan cepat karyawan itu memberikannya dan menunggu mereka sedang memilih.

" Pilihlah yang mana kamu sukai" kata Arvin dengan lembutnya

Pricilla menganggukkan kepalanya lalu melihat semua daftar menu yang ada disana.

Setelah beberapa menit akhirnya Priscilla telah selesai memilih menu tersebut dengan cepat Arvin memberikannya kepada Karyawan itu tersebut.

Karyawan itu pun pergi meninggalkan mereka berdua, namun tiba-tiba satu orang datang yang membuat Priscilla panik dan ketakutan.

" Arvin, apa lo gila membawanya keluar dari ruangannya?" kata Valencia dengan nada yang begitu ketus

Priscilla saat melihat Valencia betapa paniknya dia dan sangat ketakutan sekali sehingga membuat Arvin sangat susah menenangkan dirinya.

" Hey tenanglah, dia tidak akan berani"

Valencia masih menatap kearah Priscilla, dimana air matanya begitu saja mengalir hal itu membuat Arvin merasa kesal sekali.

" Mending lo pergi deh, dia benar-benar takut saat lo tiba disini" bentak Arvin

" Seharusnya lo punya pikiran lebih cerdas Arvin, dia pasien yang gila dia pasti akan takut melihat orang-orang disini"

" Setiba disini dia tidak ada merasakan takut apapun seperti ini, saat lo tiba dia berubah menjadi panik dan ketakutan"

Valencia merasa sedikit kesal dengan tingkahnya Arvin, kini dia mencoba untuk menarik Priscilla dan membawanya pergi.

" Sini biar gue yang bawa dia kembali keruangannya, lo jadi Dokter benar-benar tidak punya pikiran cerdas bisa-bisanya membawa dia keluar dari ruangannya"

Plak!

Arvin menepis tangannya Valencia dengan sangat kuat dia sudah sangat tidak tahan lagi dengan tingkahnya Valencia.

" Itu adalah cara pengobatan dan terapi gue terhadap pasien, dan satu hal lagi jangan pernah lo ingin ikut campur tangan lagi apa lo lupa bahwa dia adalah pasien gue sepenuhnya?"

Semua orang serta Dokter lainnya berhenti melangkahkan kakinya saat mendengar Arvin dan Valencia sedang berdebat.

" Jika Direktur Hendi tau maka lo akan habis"

" Gue udah izin dengan Direktur Hendi, dia memberikan gue izin itu sebabnya gue berani mengajaknya keluar ruangan otak gue lebih cerdas dibanding lo, gue tau aturan dirumah sakit tidak akan sembarangan membawa pasien keluar sebelum meminta izin kepada Direktur Hendi"

Valencia benar-benar semakin greget sekali, rasa hatinya begitu gatal melihat Priscilla keluar dari ruangannya padahal itu bukan tugasnya lagi bukan?

Priscilla yang masih digenggamnya Arvin dia hanya bisa menangis saja, bahkan dia tidak menatap wajahnya Valencia sama sekali.

Hal itu pemicu ketakutan dan ketraumaannya ada pada Valencia.

" Dan sekarang lo pergi dari sini sebelum gue melaporkan kepada Direktur Hendi, karena ini adalah cara pengobatan dan terapi gue, pengobatan gue tidak memakai obat-obatan seperti lo itu sebabnya mengapa Direktur Hendi memberikan gue izin atas apa yang sekarang gue lakukan" teriak Arvin

Valencia merasa terkejut saat mendengar teriakkannya Arvin, begitu juga dengan orang sekitarnya mereka merasa situasinya sangat menegangkan.

Dimana Valencia melihat kearah sekelilingnya ternyata orang-orang serta Dokter lainnya masih menonton mereka.

Tanpa sekata apapun lagi Valencia pergi begitu saja, dia tidak bisa membalasnya sekarang namun nanti saat waktunya tiba dia akan membalas semua kesombongan Arvin.

Terpopuler

Comments

Dewi Anggya

Dewi Anggya

nihhh dokter Valencia kok kyk gk ada attitude mengedepankan ego sm gengsinya ajaa.... preeeet...go go go dokter Arvin 🫶🏻🫶🏻😘

2024-11-18

1

Murwati Murwati

Murwati Murwati

Apa ada sesuatu yang rahasia disembunyikan Valencia...??
sepertinya dia begitu benci pada Priscilla....

2024-11-18

1

hanie tsamara

hanie tsamara

hati2 dr. arvin
kaya'ny dr valencia dendam kusumat🙊🙊

2025-02-02

0

lihat semua
Episodes
1 Awal Pertemuan
2 Hasil Tes Laboratorium
3 Tidak Terima
4 Rasa Peduli
5 Berulah Lagi?
6 Tahap Pertama
7 Sesuatu
8 Ingin Tau
9 Lepas Kendali
10 Tenanglah, Aku Disini
11 Terbongkar
12 Kau Adalah Milikku
13 Hukuman
14 Harus Pergi
15 Saat Di Paris
16 Cemburu
17 Lepas Dari Hukuman
18 Apakah Itu Karma?
19 Pengganti
20 Tentang Artikel
21 Bertengkar
22 Mental Yang Drop
23 Tempat Tenang
24 Terasa Hangat
25 Frustasi
26 Tidak Punya Pilihan Lain
27 Dua Pilihan
28 Khawatir Dan Bingung
29 Melelahkan
30 Apa Lagi Ini?
31 Menolak
32 Terus Menolak
33 Hari Yang ditunggu
34 Kehidupan Baru
35 Ingin Lebih Lama
36 Hal Yang Aneh
37 Tidak Ingin
38 Hasil Pemeriksaan
39 Membuat Masalah
40 Pemarah
41 Perasaan Apa Ini?
42 Salah Tingkah
43 Rasa Peduli
44 Tidak Tau Terima Kasih
45 Benar-benar Frustasi
46 Terlalu Gengsi
47 Pov Dicky Dan Dhea
48 Pov Dicky Dan Dhea 2
49 Rasa Cemburu
50 Licik
51 Bertengkar
52 Ungkapan Hati
53 Merasa Canggung
54 Tidak Pernah Akur
55 Terlalu Posesif
56 Selalu Mencari Masalah
57 Tidak Menyangka
58 Begitu Khawatir
59 Kembali
60 Mengalah
61 Ternyata Kau Orangnya
62 Mengancam
63 Apa Yang Terjadi?
64 Lepas Tanggung Jawab
65 Tidak Ada Habisnya
66 Merasa Lelah
67 Orang Baru
68 Orang Tidak Beres
69 Tindakan Yang Benar
70 Pengganti
71 Tidak Mungkin
72 Rasa Sakit
73 Tentang Semuanya
74 Begitu Aneh
75 Terasa Pusing
76 Semakin Merasa Aneh
77 Asal Mulanya
78 Keadaan Dirumah Sakit
79 Kali Ini Apa Lagi?
80 Tanggung Jawab
81 Pengakuan
82 Ingin Bertemu
83 It's Okey
84 Tidak Disangka
85 Waktu Dulu
86 Bukan Pembunuh
87 Dunia Sangat Kejam
88 Seseorang
89 Keluarga Yang Sebenarnya
90 Trauma
91 Yang Tak Disangka
92 Kelahiran Seseorang
93 Sebuah Nama
94 Rencana
95 Meminta Restu
96 Hal Yang Spesial
97 Terasa Kesal
98 Melamar
99 Hari Bahagia
100 Pengantin Baru
101 Menunggu Jawaban
102 Drama Apa Lagi Ini?
103 Melawan
104 Mood Hancur
105 Masalah Belum Terselesaikan
106 Ingin Kembali
107 Mendadak
108 Memulai Dari Awal Kembali
109 Semakin Parah
110 Siapa Dia?
111 Berlalu Dengan Cepat
112 Frustasi
113 Semuanya Menjadi Rumit
114 Bertindak
115 Pembahasan
116 Terasa Damai
117 Drama Di Paris
118 Tidak Suka
119 Merasa Takut
120 Begitu Tidak Menyangka
121 Hari Itu Tiba
122 Bahagia Yang Sebenarnya
Episodes

Updated 122 Episodes

1
Awal Pertemuan
2
Hasil Tes Laboratorium
3
Tidak Terima
4
Rasa Peduli
5
Berulah Lagi?
6
Tahap Pertama
7
Sesuatu
8
Ingin Tau
9
Lepas Kendali
10
Tenanglah, Aku Disini
11
Terbongkar
12
Kau Adalah Milikku
13
Hukuman
14
Harus Pergi
15
Saat Di Paris
16
Cemburu
17
Lepas Dari Hukuman
18
Apakah Itu Karma?
19
Pengganti
20
Tentang Artikel
21
Bertengkar
22
Mental Yang Drop
23
Tempat Tenang
24
Terasa Hangat
25
Frustasi
26
Tidak Punya Pilihan Lain
27
Dua Pilihan
28
Khawatir Dan Bingung
29
Melelahkan
30
Apa Lagi Ini?
31
Menolak
32
Terus Menolak
33
Hari Yang ditunggu
34
Kehidupan Baru
35
Ingin Lebih Lama
36
Hal Yang Aneh
37
Tidak Ingin
38
Hasil Pemeriksaan
39
Membuat Masalah
40
Pemarah
41
Perasaan Apa Ini?
42
Salah Tingkah
43
Rasa Peduli
44
Tidak Tau Terima Kasih
45
Benar-benar Frustasi
46
Terlalu Gengsi
47
Pov Dicky Dan Dhea
48
Pov Dicky Dan Dhea 2
49
Rasa Cemburu
50
Licik
51
Bertengkar
52
Ungkapan Hati
53
Merasa Canggung
54
Tidak Pernah Akur
55
Terlalu Posesif
56
Selalu Mencari Masalah
57
Tidak Menyangka
58
Begitu Khawatir
59
Kembali
60
Mengalah
61
Ternyata Kau Orangnya
62
Mengancam
63
Apa Yang Terjadi?
64
Lepas Tanggung Jawab
65
Tidak Ada Habisnya
66
Merasa Lelah
67
Orang Baru
68
Orang Tidak Beres
69
Tindakan Yang Benar
70
Pengganti
71
Tidak Mungkin
72
Rasa Sakit
73
Tentang Semuanya
74
Begitu Aneh
75
Terasa Pusing
76
Semakin Merasa Aneh
77
Asal Mulanya
78
Keadaan Dirumah Sakit
79
Kali Ini Apa Lagi?
80
Tanggung Jawab
81
Pengakuan
82
Ingin Bertemu
83
It's Okey
84
Tidak Disangka
85
Waktu Dulu
86
Bukan Pembunuh
87
Dunia Sangat Kejam
88
Seseorang
89
Keluarga Yang Sebenarnya
90
Trauma
91
Yang Tak Disangka
92
Kelahiran Seseorang
93
Sebuah Nama
94
Rencana
95
Meminta Restu
96
Hal Yang Spesial
97
Terasa Kesal
98
Melamar
99
Hari Bahagia
100
Pengantin Baru
101
Menunggu Jawaban
102
Drama Apa Lagi Ini?
103
Melawan
104
Mood Hancur
105
Masalah Belum Terselesaikan
106
Ingin Kembali
107
Mendadak
108
Memulai Dari Awal Kembali
109
Semakin Parah
110
Siapa Dia?
111
Berlalu Dengan Cepat
112
Frustasi
113
Semuanya Menjadi Rumit
114
Bertindak
115
Pembahasan
116
Terasa Damai
117
Drama Di Paris
118
Tidak Suka
119
Merasa Takut
120
Begitu Tidak Menyangka
121
Hari Itu Tiba
122
Bahagia Yang Sebenarnya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!