Satu malam berlalu. Saat pagi tiba, Abas mengantar Denis ke sekolah seperti biasa. Selanjutnya Abas akan pergi ke barbershop.
Abas menatap pantulan dirinya di cermin. Dia merasa kalau dirinya sudah tak peduli lagi dengan penampilan semenjak menikah. Rambutnya panjang dan acak-acakan. Perutnya tampak membuncit. Dirinya juga lebih gemuk dan memiliki kumis serta jambang tipis. Pakaian Abas bahkan selalu lusuh. Padahal saat sekolah Abas merupakan idola sekolah.
"Pantas saja Tari malas berhubungan denganku," gumam Abas yang masih belum move on dengan sang istri. Namun dia langsung menggeleng tegas saat mengingat pengkhianatan Tari kemarin.
"Kenapa aku masih memikirkan mantan istri jahanam itu? Harusnya aku fokus memulai hidup baru," ucap Abas lagi. "Tapi di mulai dari mana?" lanjutnya yang kembali menatap cermin.
Setelah berpikir lama, Abas mencukur habis kumis dan jambangnya. Lalu dilanjutkan dengan rambut.
"Selanjutnya aku hanya perlu rutin olahraga dan mengumpulkan uang untuk beli pakaian bagus," gumam Abas.
"Permisi!" tiba-tiba seorang gadis muncul dari balik pintu.
Abas otomatis berhenti mencukur rambutnya dan menoleh. Dahinya berkerut karena merasa tidak asing dengan gadis di hadapannya.
Gadis itu cantik. Namun tomboy, jelas dari rambutnya yang pendek seperti lelaki serta baju dan celana mendukung. Gadis tersebut bahkan memiliki tato di bagian bahu dan leher.
"Hei! Apa kau ingat denganku?" tanya gadis tersebut.
"Entahlah. Tapi aku merasa tidak asing dengan wajahmu," tanggap Abas dengan kening yang masih mengernyit.
"Jasmila Hanung Tias! Peraih juara umum di sekolah!" ujar gadis itu.
Pupil mata Abas membesar. Setelah mendengar nama tersebut, barulah dia ingat.
"Astaga, Mila! Pantas aku merasa tidak asing. Tapi kau terlihat sangat berbeda sekarang," komentar Abas sembari memperhatikan penampilan Mila dari ujung kaki sampai kepala sekali lagi.
Abas cukup kaget dengan penampilan Mila sekarang. Bagaimana tidak? Setahunya saat sekolah Mila adalah cewek yang feminin dan sopan. Berbanding drastis dengan tampilannya sekarang.
"Yang namanya hidup kita tidak tahu. Tapi dengan penampilan ini aku merasa percaya diri dan tangguh!" ucap Mila.
Abas mengangguk. Setidaknya dia paham ucapan Mila barusan. Mengingat Abas tadi baru saja merasakannya.
"Duduklah!" suruh Abas seraya menyodorkan kursi pada Mila.
"Terima kasih." Mila segera duduk dengan gaya mengangkat satu kakinya. Benar-benar seperti gaya cowok.
"Bagaimana kau tahu aku ada di sini?" tanya Abas sembari duduk ke hadapan Mila.
"Sebenarnya aku tinggal di dekat sini. Aku sudah beberapa kali melihatmu membuka barbershop ini," jawab Mila.
"Oh..." Abas mengangguk. Dia sebenarnya agak canggung. Mengingat hubungannya dan Mila tidak sedekat itu. Makanya Abas merasa aneh dengan kedatangan Mila.
"Jadi kedatanganmu pasti karena ingin menyapa kan?" cetus Abas. Dia buru-buru memulai pembicaraan lagi agar suasana lebih cair.
"Itu juga. Tapi hal utamanya adalah, aku ingin bekerja di sini. Kau membutuhkan rekan kerja kan? Kebetulan aku ahli dalam hal mencukur. Aku akhir-akhir ini mempelajarinya dengan giat," kata Mila. Dia memperhatikan rambut Abas yang belum selesai dicukur.
"Tapi aku--"
"Sini! Aku akan selesaikan cukuran rambutmu," potong Mila yang segera mengambil alat cukur. Kemudian memutar kursi Abas menghadap cermin. Mila juga tak lupa memakaikan kain lebar ke leher Abas, agar sisa rambut yang dipotong tidak mengenai baju dan kulit.
Abas tak bisa berkata-kata lagi karena Mila begitu memaksa. Dia terdiam dan membiarkan Mila mencukur rambutnya.
"Nah! Selesai. Sudah kuduga kau cocok dengan potongan rambut ini," ucap Mila sembari membuka kain dari leher Abas. Ia terpaku memandang wajah Abas di cermin.
Abas segera menatap penampilan barunya di cermin. Rambutnya dipotong dengan gaya cepak. Ia tak bisa membantah kalau dirinya juga setuju dengan pendapat Mila.
Bersamaan dengan itu, sebuah mobil berhenti di depan barbershop. Tak lama Tari keluar dari mobil dan masuk ke dalam barbershop. Dia tidak sendirian, ada seorang lelaki yang menemaninya.
Melihat kedatangan Tari, Abas segera bangkit dari tempat duduk. Menatap Tari yang tampak membuka perlahan kacamata hitamnya.
"Kita harus menyelesaikan urusan perceraian sepenuhnya bukan?" tukas Tari. Ia menggerakkan bola matanya ke arah Mila. Karena satu sekolah, dirinya tentu juga mengenal Mila.
Tari sendiri sangat membenci Mila sejak dulu. Karena Mila adalah saingan beratnya dulu dalam hal meraih juara umum di sekolah.
...____...
*Guys, maaf updatenya cuman satu chapter dari awal. Itu karena sejak kemarin othor fokus ngurus anak yang sakit. Sekarang udah mendingan, jadi mungkin aku sudah bisa up dua chapter atau lebih perhari. Jangan lupa rajin komen ya... Karena satu komen saja bikin othor semangat. Makasih...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
Mas Iwan2024
ah masa sih segitu aja oke.!?. rasain sukurin loo tari dapat pesaing yang bisa membuat muu tari mati kutu rambut muu oke .!?.
2024-11-10
1
Cahaya Sidrap
semangat thor
2025-02-15
0
Fitri Sri Dewi
semangat ya utk abas
2025-01-24
0