Benih Kecemburuan

Hari masih sangat pagi ketika Haris tiba di apartemennya. Sayangnya, apa yang dia harapkan setelah sampai di sana, berbuah kecewa. Lantaran Vanya tidak ada di sana. Padahal Haris bermaksud memberi kejutan, karena itu dia tidak memberi kabar kalau akan datang sepagi ini.

Kemudian Haris mengambil ponselnya untuk menghubungi sang istri.

"Sayang, kamu dimana?" tanya Haris setelah sambungan diterima.

"Aku lagi di apartemen, mas. Ada apa?"

Hati Haris mulai terusik mendengar jawaban Vanya. Pasalnya dia tidak menemukan sang istri di unit apartemennya.

"Aku di sini dan kamu tidak ada." begitu jawaban Haris.

"Lho, kenapa mas tidak bilang?"

"Katakan kamu dimana?"

"Aku di taman apartemen, mas. Sedang jogging."

Haris sedikit lega mendengarnya, setelah sebelumnya dia sempat berpikiran yang tidak-tidak.

"Cepat kembali. Aku menunggumu."

"Iya, sayang. Mas Haris sudah sarapan? Mau aku bawain bubur ayam biasanya?"

"Boleh. Kebetulan aku belum makan."

Setelah Haris mengakhiri sambungan teleponnya, dia merebahkan diri di sofa. Baginya apartemen adalah rumah ternyamannya setelah bersanding dengan Vanya.

"Padahal baru beberapa hari aku pergi, rasanya sudah serindu ini dengan tempat ini." batin Haris sambil menatap langit-langit ruangan itu.

Beberapa menit kemudian Vanya datang membawa dua kotak bubur ayam dan teh manis hangat. Vanya tersenyum sambil geleng kepala melihat suaminya tertidur di sofa.

"Senang sekali rasanya, kamu tiba-tiba muncul di sini, mas. Meskipun aku tahu, tidak seharusnya kamu berada di sini saat ini."

Vanya sengaja tidak membangunkan Haris. Dia pergi ke kamar setelah menaruh kantong makanan dan minuman di dapur. Dia ingin membersihkan diri dan berhias secantik mungkin, agar Haris merasa senang dan semakin mencintainya.

"Aku tidak pernah meragukan cintanya padaku. Tapi kenapa ya, kedatangannya hari ini seperti mengalihkan segala."

Vanya berhenti menyemprotkam parfum di badannya. Dia tersenyum sambil menatap penampilannya dari cermin. Namun, beberapa detik kemudian raut bahagia itu memudar.

"Tidak biasanya mas Haris ketiduran jam segini. Apa mungkin dia telah..."

Vanya buru-buru menggelengkan kepalanya. Dia berusaha mengusir segala pikiran buruk yang mempengaruhi hatinya. Dia harus legowo, karena sekarang Haris bukan hanya suaminya, melainkan ada istri lain di tempat yang lain. Dan statusnya diakui oleh seluruh keluarga.

Karena tak ingin makin terlarut dalam lamunannya, Vanya segera keluar dan akan menyiapkan sarapan untuknya dan sang suami. Namun, yang terlihat di meja makan benar-benar di luar ekspektasinya.

"Sudah selesai?" Haris tersenyum sangat manis menyambut kedatangan sang istri.

"Sayang..., harusnya aku yang menyiapkan semuanya." ujar Vanya sambil berjalan menghampiri Haris.

"Tapi aku ingin melakukannya, untukmu." balas Haris sambil merangkul pinggang ramping Vanya, lalu mengecup pipinya.

"Aku sangat merindukanmu, sayang..." Haris beralih pada bibir Vanya yang tak pernah terlihat pucat.

"Apa mas Haris juga bersikap seperti ini pada Ana?! Aaah..., apa yang aku pikirkan. Itu hal wajar, Ana juga istrinya. Kenapa aku ini? Kenapa aku merasa cemburu sekali memikirkan kedekatan mereka...??!" umpat Vanya dalam hati sambil menikmati ciuman dari Haris

"Sayang..., kok ngelamun? Ayo duduk, kita sarapan sama-sama." Haris menuntun Vanya ke kursinya.

"Terimakasih, sayang..." Vanya tersenyum pada Haris.

"Kenapa mas Haris kemari? Harusnya kan..." Vanya tidak melanjutkan kata-katanya. "Harusnya..., mas Haris meneleponku dulu." Vanya mengalihkan obrolan.

"Saat kita bersama, tolong jangan bahas hal lain. Mengerti?!" Haris seakan tahu apa yang hendak Vanya utarakan tadi.

"Iya, sayang. Maaf..." Vanya mengusap punggung tangan Haris.

Haris menghabiskan waktu seharian di apartemen bersama Vanya. Dia seakan menemukan sumber mata air di padang pasir, saat bersama dengan Vanya.

"Sayang..., sabtu ini kamu siap-siap ya." pinta Haris sambil membelai rambut Vanya yang berantakan.

"Sabtu ini? Mau kemana?" tanya Vanya yang sedang tiduran di bahu Haris.

"Kita jalan-jalan." jawab Haris singkat.

"Aaah..., serius?! Baiklah!!" Vanya memang sangat semangat kalau diajak jalan-jalan.

"Tapi jangan beri tahu siapapun." ujar Haris. Dan Vanya mengangguk.

"Satu hal lagi." kata Haris lagi.

"Apa, sayang?" tanya Vanya sambil menatap mata sang suami.

"Sekali lagi yuuk...?! Sebelum aku pulang. Boleh?!"

"Iiih..., dasar genit!!" Vanya memukul dada Haris yang tak tertutup apapun.

Singkat cerita, mereka kembali bercinta. Dan menghabiskan waktu bersama hingga menjelang sore.

___

"Puas, Haris?!" seru kakek Sudibyo saat menyambut kedatangan cucunya.

Haris memang menghentikan langkahnya, tapi dia tidak menatap sang kakek barang sebentar saja.

"Kamu sudah berlaku tidak adil pada istrimu!" kakek tampak menegur Haris.

Haris tersenyum sinis saat mendengar penuturan kakeknya. Lalu dia menatap sang kakek.

"Kakek tidak perlu terlalu jauh mengurusi rumah tanggaku. Sudah cukup kakek membuatku menikahi gadis tidak jelas itu. Jangan turut campur lebih dalam lagi!" balas Haris dengan sengit.

"Kakek, memaksamu?!!" giliran kakek tersenyum miring.

"Ingat Haris, kakek tidak pernah memaksa. Kakek sudah memberi pilihan untukmu. Barang kali kamu lupa, kalau wanita pujaanmu itu yang secara tak langsung memaksamu." tutur kakek lagi.

Mendengar jawaban kakek, membuat Haris kembali merasakan sakit hati. Sakit hati ketika Vanya lebih merelakan dirinya menikah dengan Liana, dibanding meresmikan hubungan mereka agar sah di mata hukum.

Haris tak menjawab apapun lagi, dia segera beranjak dan menuju ke kamarnya dengan amarah yang bergemuruh di hatinya.

Sampai di kamar...

"Mas, mau..."

Wush...!!

Jas yang melayang dan hampir mengenai wajah Liana, membuat Liana terkejut dan menghentikan ucapannya. Jas itu mendarat tepat di samping kasur. Dia tahu itu adalah kode, bahwa Haris tak ingin mendengar dia bicara. Liana hanya bisa menarik nafas panjang dan menghembuskan perlahan. Sebelum kesabaran Liana habis, dia segera pergi keluar dari kamar.

"Hiiiih...!!! Dasar alien...!! Uuuuhh...!!!" Liana mengumpat sambil mengepalkan tangannya setelah menutup pintu.

"Ya Allah..., dia jenis manusia tipe berapa sih? Kenapanya sikapnya menyebalkan sekali?! Gimana bisa kakek menyayangi cucu modelan kek begitu...?! Nggak ada bagus-bagusnya. Menang tampannya doang!" celoteh Liana.

Liana terus saja menggerutu sepanjang perjalanan menuruni anak tangga. Sebenarnya di rumah itu juga ada lift, namun Liana lebih menyukai tangga yang panjang itu daripada memencet tombol lift.

"Siapa yang tampan...?" sahut kakek yang rupanya sempat mendengar umpatan Liana.

"Kakek..." Liana merasa tak enak hati, karena sudah mengata-ngatai cucu kesayangan sang kakek.

"Kakek tahu kamu kesal dengan Haris, kan? Dia memang seperti itu. Tapi kakek yakin, suatu saat nanti dia akan bersikap manis dan baik padamu." tutur kakek meyakinkan Liana.

"Aamiin..." hanya itu balasan Liana.

Makan malam berjalan sesuai rencana kakek Sudibyo. Ini adalah makan malam yang sangat dirindukan sang kakek. Liana bisa melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah kakek yang keriputnya tampak jelas.

Setelah makan malam, bu Ameena ngobrol berdua saja dengan Liana.

"Apa Haris bersikap baik padamu, nak?" tanya bu Ameena.

Liana bingung harus menjawab apa. Dia masih memikirkan jawaban yang tepat untuk disampaikan pada mertuanya. Ingin jujur khawatir menyakiti hati seorang ibu. Liana juga merasa berdosa kalau harus mengatakan kebohongan.

"Jangan sungkan, sayang. Katakan saja!" bu Ameena mengusap pipi menantunya.

"Sebenarnya..., kami hanya butuh lebih banyak waktu untuk saling mengenal lebih dekat, maa." begitulah akhirnya kata yang keluar dari bibir Liana.

"Jika ada hal buruk yang Haris lakukan padamu, katakan pada mama, ya. Jangan ada yang ditutupi." begitu pesan mama mertuanya.

"Iya, maa. Terimakasih..."

"Sejujurnya Liana, mama senang sekali kamu menjadi istri Haris. Hanya saja jalannya yang sukar, dan kondisi ini pasti membuat kamu tak nyaman. Tapi percayalah, nak. Di dunia ini tidak ada sesuatu yang terjadi begitu saja. Semua adalah takdir yang sudah Allah tetapkan." tutur bu Ameena.

Liana hanya mengangguk sambil tersenyum. Dia memang sudah menanamkan mindset seperti yang diutarakan mertuanya. Dan kini dia sedang berusaha menjalani semua sesuai alur yang sudah digariskan.

"Kapan-kapan kamu menginap di rumah mama ya. Mama sudah minta izin sama kakek, dan kakek bilang boleh." ujar bu Ameena.

"Iya, maa..." Liana mengangguk pasti.

Setelah cukup lama ngobrol di kamar, bu Ameena dan Liana akhirnya turun. Liana melihat pemandangan yang berbeda di ruang keluarga. Kakek Sudibyo tampak sangat menikmati kebersamaannya dengan menantu dan cucu-cucunya. Ada rasa lega di dalam hatinya. Dan untuk pertama kalinya juga, dia melihat Haris tersenyum saat menggoda Karin.

"Jodohkan saja dia dengan salah satu bodyguard kakek. Daripada ulangan nilainya jelek terus..." begitu kata Haris.

"Enak saja!! Ogah ya...!!" balas Karin tak terima. "Orang ulangan dadakan, dan belum ada persiapan. Wajarlah...!!" Karin kekeh membela diri.

"Itu artinya, kamu tidak belajar setiap hari. Pasti buka buka waktu ada tugas saja." sahut papanya.

"Enggak, kok...!!" balas Karin.

"Nggak salah...!" sahut mamanya.

"Mama, iih...!!" keluh si Karin.

Liana menikmati kehangatan keluarga di hadapannya itu dalam diam. Dia tidak peduli dengan suaminya sendiri yang tak menganggapnya ada.

"Liana...!" panggil kakek Sudibyo.

"Iya, kek?" balas Liana sambil mendekati sang kakek.

"Karin, kalau mau bisa belajar sama kakak ipar kamu." ujar kakek kemudian.

"Oke." Karin mengacungkan ibu jarinya. "Tapi nanti setelah kakak-kakakku ini pergi honeymoon..." celetuknya.

Sang papa sontak mencubit pipi Karin, karena gemas dengan celotehan putri keduanya itu.

"Masih kecil kamu itu...!!" ujar papanya.

Bu Ameena dan kakek tertawa. Liana hanya tersenyum simpul. Dan Haris kembali pada mode dinginnya sejak Liana bergabung bersama keluarganya.

......................

Episodes
1 Tamu Asing
2 Ayah Jatuh Sakit
3 Kembalinya Ibu Tiri
4 Pelukan Terakhir
5 Jaminan Hutang
6 Rumah Baru
7 Keluarga
8 Menikah Lagi
9 Bimbang
10 Keputusan
11 Calon Istri Kedua
12 Istri Calon Suamiku
13 Kamar Pengantin yang Terabaikan
14 Suami Menyebalkan
15 Kesedihan Kakek
16 Benih Kecemburuan
17 Honeymoon...??!!!!
18 Istri di Atas Kertas
19 Teman
20 Semakin Akrab
21 Tak Tenang
22 Perasaan Damar
23 Kado untuk Liana
24 Salah Pilih Rival
25 Ada Apa Sebenarnya?
26 Mencari Pak Wira
27 Tak Seperti Biasanya
28 Maaf, ibu...!
29 Vanya Frustasi
30 Rencana Haris
31 POV : Haris
32 Rasa Nyaman
33 Maunya Kamu
34 Perubahan Haris
35 Kembali Asing
36 Damar Berulah
37 Jeritan Hati Rosa
38 Jangan Menyentuhku
39 Cerai
40 Reward
41 Kembali ke Rumah
42 Suasana Baru
43 Aku akan Kembali
44 Aku akan Melindungimu
45 Ingin Jadi Satu-satunya
46 POV : Liana
47 Firasat
48 Pertemuan
49 Menghindar
50 Membawa Liana Pergi
51 Mesra dan Gelisah
52 Hamil
53 Ketemu
54 Hukuman dari Kakek
55 Ketakutan Liana
56 Vanya Lagi
57 Luka Kecil
58 Perdarahan
59 Flashback
60 Sang Pelaku
61 Mencintai Rosa
62 Haris Cemburu
63 Pengusik Datang Lagi
64 Akhir Sebuah Penantian
65 Demam
66 Mendatangi Kakek Sudibyo
67 Juan...!!
68 Berpisah Saja
69 Takut Kehilangan
70 Takut Keblabasan
71 Insiden di Swalayan
72 Sakit Lagi
73 Kabar Bahagia
74 Bukan Perempuan Bayaran
75 Permainan Dimulai
76 Apa Dia di Pihakku?!...
77 Nasihat Kakek
78 Bumil Posesif
79 Ancaman
80 Sebuah Video
81 Permintaan Maaf
82 Klarifikasi
83 Tiba-tiba Ingin
84 Kabar Duka
85 Kamera Tersembunyi
86 Ngidam Day
87 Perkara Melon
Episodes

Updated 87 Episodes

1
Tamu Asing
2
Ayah Jatuh Sakit
3
Kembalinya Ibu Tiri
4
Pelukan Terakhir
5
Jaminan Hutang
6
Rumah Baru
7
Keluarga
8
Menikah Lagi
9
Bimbang
10
Keputusan
11
Calon Istri Kedua
12
Istri Calon Suamiku
13
Kamar Pengantin yang Terabaikan
14
Suami Menyebalkan
15
Kesedihan Kakek
16
Benih Kecemburuan
17
Honeymoon...??!!!!
18
Istri di Atas Kertas
19
Teman
20
Semakin Akrab
21
Tak Tenang
22
Perasaan Damar
23
Kado untuk Liana
24
Salah Pilih Rival
25
Ada Apa Sebenarnya?
26
Mencari Pak Wira
27
Tak Seperti Biasanya
28
Maaf, ibu...!
29
Vanya Frustasi
30
Rencana Haris
31
POV : Haris
32
Rasa Nyaman
33
Maunya Kamu
34
Perubahan Haris
35
Kembali Asing
36
Damar Berulah
37
Jeritan Hati Rosa
38
Jangan Menyentuhku
39
Cerai
40
Reward
41
Kembali ke Rumah
42
Suasana Baru
43
Aku akan Kembali
44
Aku akan Melindungimu
45
Ingin Jadi Satu-satunya
46
POV : Liana
47
Firasat
48
Pertemuan
49
Menghindar
50
Membawa Liana Pergi
51
Mesra dan Gelisah
52
Hamil
53
Ketemu
54
Hukuman dari Kakek
55
Ketakutan Liana
56
Vanya Lagi
57
Luka Kecil
58
Perdarahan
59
Flashback
60
Sang Pelaku
61
Mencintai Rosa
62
Haris Cemburu
63
Pengusik Datang Lagi
64
Akhir Sebuah Penantian
65
Demam
66
Mendatangi Kakek Sudibyo
67
Juan...!!
68
Berpisah Saja
69
Takut Kehilangan
70
Takut Keblabasan
71
Insiden di Swalayan
72
Sakit Lagi
73
Kabar Bahagia
74
Bukan Perempuan Bayaran
75
Permainan Dimulai
76
Apa Dia di Pihakku?!...
77
Nasihat Kakek
78
Bumil Posesif
79
Ancaman
80
Sebuah Video
81
Permintaan Maaf
82
Klarifikasi
83
Tiba-tiba Ingin
84
Kabar Duka
85
Kamera Tersembunyi
86
Ngidam Day
87
Perkara Melon

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!