Ibu Bidan tersenyum melihat ketegangan Bang Hara saat menemani Rintis di ruang pemeriksaan.
Meskipun saat itu Bang Hara sudah berusaha tenang tapi tetap saja hal itu membuatnya begitu tegang.
"Bagaimana Bu, goal atau tidak??" Tanya Bang Hara penasaran.
"Kalau di lihat dari semua gejala dan HPHT Bu Rintis, Alhamdulillah Ibu Rintis sedang mengandung." Jawab Bu Bidan.
"Alhamdulillah Ya Allah..!!" Refleks Bang Hara bersujud syukur bahkan matanya sampai berkaca-kaca mendengarnya.
Perasaan Rintis sampai berdesir melihat reaksi Bang Hara atas kehamilannya, ternyata suaminya itu begitu bahagia mendengar bahwa beliau akan menjadi seorang ayah.
...
Sebuah mobil memasuki pelataran rumah praktek ibu bidan. Danki Kompi serbu itu meminta seorang mudinya untuk membawa mobil karena begitu mencemaskan kehamilan sang istri.
"Tolong kamu bawa motor saya ya..!!" Perintah Bang Hara kemudian mengangkat Rintis dengan hati-hati. "Nanti setelah kembali ke rumah, tolong kamu pergi ke toko peralatan kesehatan dan beli kursi roda..!!" Perintahnya lagi.
"Siap Dan. Ijin.. ibu sakit??" Tanya mudi Kompi.
"Nggak, Alhamdulillah saya jebol gawang. Saya takut perutnya banyak goncangan, jadi biar tidak banyak gerak dan jalan kesana sini.." Kata Bang Hara.
"Cckk.. Titis masih bisa jalan, Bang. Tidak usah beli kursi roda..!!" Protes Rintis.
"Nggak, Neng..!! Abang nggak mau ambil resiko apapun. Ini anak pertama kita, kalau sampai ada apa-apa sama kamu dan anak kita.. Abang bisa gila." Jawab Bang Hara.
"Tapi kalau Abang seperti ini, Titis yang malu..!! Titis juga bisa gila.. masa mau berbuat apapun pakai di awasi..!!"
"Bukan di awasi. Abang hanya mengurangi resiko buruk. Cuaca disini dingin, jalanan berbatu, kegiatanmu banyak sekali. Mana mungkin Abang diam saja."
Kini Rintis yang terdiam, rasanya tidak ada gunanya berdebat dengan Danki kompi serbu. Jangankan Rintis, mudinya pun tidak berani lagi bertanya.
...
Hari sudah sangat malam saat Rintis dan Bang Hara tiba di rumah dinas. Hati-hati sekali Bang Hara mengangkat Rintis hingga masuk ke dalam rumah.
"Kenapa Abang perlakukan Titis seperti korban tabrakan??" Tanya Rintis.
"Sebenarnya memang korban tabrakan, Neng. Tapi lebih pas kalau di bilang korban serempetan." Jawab Bang Hara. "Sudahlah..!! Tolong biarkan pikiran dan hati Abang tenang. Punya bumil tuh rasanya nggak karuan. Takut istri terpeleset, takut istri kedinginan, takut istri cepek, takut istri lapar.. pokoknya banyak takutnya."
Rintis berganti mendongak menatap mata Bang Hara. Sebersit rasa nyaman namun sekaligus penasaran sungguh mengganggu jalan pikirnya.
"Abang masih cinta nggak sih, sama Mbak Rena??" Tanya Rintis.
Bang Hara melirik Rintis kemudian membuka pintu setelah susah payah memutar kuncinya. Langkah kakinya berjalan masuk ke dalam kamar lalu merebahkan sang istri di atas tempat tidur.
"Kamu ini memang benar-benar ya. Menurutmu Abang masih cinta atau tidak??"
"Iya..!! Abang lihat matanya aja seperti pengen cium, pengen ajak tidur Mbak Rena." Jawab Rintis.
"Huuusshh.. ngomong apa itu??? Pikirannya kenapa buruk sekali sih, Neng..!!" Tegur Bang Hara.
"Abang jangan bohong ya, mata Abang tuh seperti menunjukan kalau Abang kangen, pengen.............."
Secepatnya Bang Hara mengecup bibir Rintis dengan lembut. "Mana ada Abang kangen sama perempuan lain. Asal njeplak aja kamu, Neng."
"Abang enam tahun kenal sama Mbak Rena, sedangkan kita hanya enam jam saja, besoknya langsung menikah." Omel Rintis masih tidak terima.
"Dengan yang enam tahun kenal saja belum tentu jadi jodoh. Tapi jika Tuhan mengarahkan dengan yang enam jam pertemuan, di titipkan anak juga di dalamnya, tentu hati akan lebih berat ke enam jam pertemuan." Jawab Bang Hara.
"Berarti terpaksa donk, Bang." Rintis semakin kesal dan sengit mendengarnya.
"Dan nyatanya kamu belum paham bagaimana rasa itu bisa menyentuh dasar hati kita." Kata Bang Hara. "Mungkin sekarang saatnya Abang membuatmu mengerti, alasan Abang tidak bisa melepaskan kamu."
"Caranya??"
Bang Hara mengecup kening Rintis hingga kemudian bibir itu menyusuri lekuk hidung dan berhenti di bibir sang istri. "Bagaimana Abang tidak cinta, bagaimana tidak tergila-gila jika Tuhan telah mengirim 'surga' pelepas dahaga."
"Sungguh???"
"Sembah sungkem, sayang..!! Abang benar-benar bertekuk lutut menangani berkah dari Tuhan yang satu ini..!!" Jawab Bang Hara jujur kemudian kembali mendekati Rintis dan mengarahkan kedua lengannya untuk memeluknya.
Rintis pun akhirnya menurut dan tidak melawan dengan apapun yang di lakukan Bang Hara padanya.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
mudahlia
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
2024-09-15
1
Mika Saja
mba Nara ini mah kynya pengalaman pribadi nih.....pak suaminya plng seneng klo LG mood ngambeknya,plng seneng berkata manis dan beromantis biar balik LG mood senengnya,,,, bahagia selalu mba Nara
2024-09-07
1
putri
🥰🥰🥰🥰🥰🥰
2024-09-07
1