"Sah, Alhamdulillah."
Rintis menangis tersedu-sedu. Begitu juga dengan Bang Rei yang tidak sanggup menatap mata sang adik yang seakan meminta pertolongan darinya.
Papa Ratanca pasrah kemudian melepaskan genggaman tangannya dari Bang Hara yang kini telah menjadi suami dari putrinya, Rintis.
Mama Ghiza dan Bang Katana ikut menangis melihat Rintis dalam panggilan video call.
Karena Bang Hara kini secara kilat dan tanpa di duga sudah menjadi suami dari Rintis, maka ia pun juga berusaha menempatkan posisinya sebagai seorang suami.
Rintis menolak ajakan Bang Hara untuk berjabat tangan tapi Bang Hara 'memaksanya' meskipun masih dengan sikap yang lembut.
Bang Hara mendekati Rintis kemudian berdiam di atas ubun-ubun kepalanya. "Diam dan menurutlah..!! Atau kejadian yang kamu 'harapkan' itu benar-benar terjadi..!! Hmmmm.. Atau mungkin juga kamu pengen segera merasakan di bungkus Om Hara??" Bang Hara segera mengecup kening Rintis dengan lembut.
...
Usai acara tersebut di laksanakan, Bang Hara segera menemui Prada Putra.
plaaakk
"Kenapa kamu bicara seperti itu? Apa kamu sudah tidak waras?? Beraninya kamu mengorbankan atasanmu sendiri..!!!!!!" Bentak Bang Hara.
"Saya mohon maaf, Danton..!! Sungguh saya terpaksa. Saya tau Latifah sudah keterlaluan. Tapi sebentar lagi saya mau naik pangkat Pratu, saya mau nikah dengan Latifah." Jawab Prada Putra dengan gemetaran.
"Pantas tingkahmu selintutan tak karuan. Ternyata kau ada main dengan Latifah." Ucap berang Bang Hara.
"Ijin Dan, sekarang saya terjebak masalah. Saya yang mengenalkan Rintis pada senior saya, Rintis juga sedang berusaha mengenalkan pacarnya pada panglima. Kalau Latifah tau kejadiannya seperti ini, saya bisa putus dengan Latifah. Tolong saya Dan..!!" Ujar Prada Putra panjang lebar dalam ketakutannya sendiri.
plaaakk..
Lagi-lagi Bang Hara menampar wajah Prada Putra. "Lalu kau mau saya dan Rintis bagaimana?????? Pisah?????? Jungkir balik kau sekarang, biar otakmu jadi encer..!!!"
Prada Putra segera melaksanakan perintah. Memang dirinya yang sudah membuat kekacauan. Ia pun tidak lagi berani melawan.
Dering ponsel Bang Hada berbunyi, sekilas Bang Hara melihatnya namun setelah melihat si pemilik nomer telepon, ia malas untuk menanggapinya.
"Oom.. di panggil Papa..!!" Teriak Rintis dengan suara melengking nya yang khas.
"Lanjutkan sampai kakimu tidak bisa berdiri..!!" Perintah Bang Hara kemudian menghampiri Rintis.
...
"Nggak mauuuuuu..!!!!!" Rengek Rintis saat Papa Ratanca meminta Bang Hara untuk pindah tugas ke lokasi terpencil.
Awalnya Rintis tidak ingin ikut dengan Bang Hara, tapi Papanya kembali menampakan wajah murka hingga akhirnya ia pun mengakui.
"Papa terburu-buru. Sebenarnya Om Har tidak apa-apakan Titis..!!" Kata Rintis. "Titis tidak usah ikut Om Har ya Pa?"
Dua kali lipat Papa Ratanca menjadi murka. Bisa-bisanya putri kecilnya ini membuat perkara sebesar ini.
"Kau.... kauuuu..!!" Papa Ratanca meremas dadanya, agaknya darah tingginya kambuh perkara ulah Rintis yang tidak tanggung-tanggung.
Bang Rei dan Bang Hara akhirnya membantu Papa Ratanca untuk berbaring. Dengan sigap Bang Hara memanggil dokter keluarga.
:
Tak tau lagi bagaimana caranya Pak Ratanca harus mengungkapkan permintaan maaf dan rasa malunya yang luar biasa akibat ulah putri bungsunya.
"Har, Papa ikhlas kalau kamu ingin membatalkan dan melepas putri Papa. Papa akui Rintis memang nakal dan ceroboh, daripada dia juga merepotkanmu. Papa tau rasanya 'momong bocah', kalau kamu tidak punya hati yang lapang, sehari saja kamu bisa stroke mendadak. Wanita biasa saja masih membuat migrain, apalagi yang seperti Rintis." Kata Papa Ratanca pasrah sembari menggenggam erat tangan Bang Hara.
Senyum Bang Hara tersungging tipis. "Saya laki-laki, Pa. Pantang ingkar janji. Baik dan buruknya Rintis, dia adalah istri saya sekarang. Saya mohon ijin untuk membawa Rintis ke tempat dinas yang baru, ijinkan saya untuk mendidiknya. Biarkan waktu dan pengalaman yang akan mengajarinya." Jawab Bang Ratanca.
"Bawalah, Le..!! Papa merestui..!!"
Bang Rei nyaris tak sanggup berucap apapun lagi. Ekor matanya melirik Rintis yang masih menangis di temani Bibi.
"Cepat kau bawa dia pergi, kepalaku sakit mikir Rintis..!! Nanti disana ada Katana..!!"
"Sebelumnya, bolehkah saya mengajukan permohonan?? Untuk hal ini saya akan sangat berterima kasih..!!" Pinta Bang Hara.
"Apa itu Le?" Tanya Papa Ratanca.
"Begini Pa. Saya akan jujur tentang sesuatu.......!!!"
***
Sepuluh hari berlalu, Bang Hara sudah menyelesaikan berkas kepindahan nya. Hari itu tanpa disangka Rena menemuinya di Batalyon dan Bang Hara menghindarinya.
"Abaaang.. tunggu..!!! Kenapa Abang menghindari Rena?????" Tegur Rena setelah beberapa waktu lamanya tidak bertemu Bang Hara.
"Maaf, saya sibuk..!!" Bang Hara kembali menghindar.
"Baang..!!!" Rena berlari kemudian memeluk Bang Hara. "Apa salah Rena??"
Secepatnya Bang Hara melepaskan pelukan wanita yang ia anggap sudah mati dalam hidupnya.
"Kenapa sih Bang??? Bukannya Abang mau pindah?? Rena ikut Abang ya?" Tanya Rena.
"Kamu dan saya sudah memilih jalan masing-masing. Mulai sekarang kita pun harus fokus dengan pasangan hidup kita." Kata Bang Hara.
Bang Hara berbalik badan dan menjauh dari Rena. "Kamu sudah memilih Abri..!!" Jari telunjuknya menunjuk perut Rena. "Dia sudah menanam benihnya disini, kan??"
Bak tersambar petir perasaan Rena begitu terpukul, hatinya begitu sakit saat Bang Hara mengetahui rahasia besarnya.
"Rena?? Kamu disini?? Bapak mencarimu..!!" Kata Bang Abri.
Tak ada wajah kecanggungan ataupun rasa bersalah sedikitpun dari seorang Abrileo.
"Apa kabar Har, cepat sekali sudah mau pindah saja? Lalu kapan kalian mau nikah?" Tanya Bang Abri yang mungkin hanya sekedar basa basi.
"Sudah kubatalkan, silakan kalian melanjutkan..!!" Jawab Bang Hara.
Tak lama Rintis keluar dari toilet sembari merapikan gelungan cepolnya dengan sedikit gelisah.. Paham istri kecilnya nampak kerepotan, Bang Hara pun segera mendekatinya.
"Kenapa, Neng?" Tanya Bang Hara.
"Resletingnya nyangkut, Om."
Bang Hara melirik ke arah punggung Rintis, ia hendak membantunya tapi Rintis mundur menghindarinya.
"Siniii..!!" Bang Hara menarik kembali lengan Rintis tapi lagi-lagi Rintis menghindar. "Apa kau mau laki-laki yang ada disini mendadak juling karena melihat punggungmu yang belang??" Omel Bang Hara sembari mendorong Rintis ke sudut toilet.
Namun kemudian Bang Hara meneguk saliva dengan susah payah. Entah kenapa sekarang hatinya mendadak gelisah. Jujur sepuluh hari berumah tangga, baru kali ini Bang Hara sungguh bisa memperhatikan paras wajah istri kecilnya dari jarak dekat.
"Sepertinya harus di bereskan di kamar, Neng..!!" Kata Bang Hara.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
mudahlia
bang hara bnyak alasan
2024-09-15
1
Murni Zain
Cpt bereskan bang Hara, biar engga bnyk tingkah neng Rintis. 😍
2024-08-29
1
Setyaningsih
daun muda itu memang meresahkan ya bang ehhhh 🤣🤣🤣
2024-08-29
1