JANGAN BERNEGATIF SEBELUM CERITA USAI..!!
🌹🌹🌹
"Mana testpack nya. Saya mau lihat..!!" Pinta Bang Hara.
Karena terlalu penasaran dan antusias, Bang Hara sampai melupakan bahwa mereka berdua sedang berdiri di bawah teriknya matahari.
Rintis yang masih meraba-raba saku bajunya akhirnya tidak kuat lagi hingga ambruk menimpa dada Bang Hara dengan kasar.
"Astaghfirullah.. Neeeng..!!!"
...
Bang Hara terus memperhatikan testpack di tangannya.
"Ini mah samar, Neng. Masa iya kamu hamil??? Apa iya ada warning setengah. Hamil benar atau tidak sih, Neng?" Gumam Bang Hara sampai menerangi benda kecil tersebut dengan lampu ponselnya. "Kalau sudah begini, siapa yang rusak? Neng Rin, testpack nya atau saya??"
Rintis tak lagi menjawab sampai akhirnya Bang Katana masuk ke dalam ruang kesehatan Kompi.
"Abaaaang, mau kebab donk..!!" Pinta Rintis sembari merengek pada Abangnya.
"Mana ada kebab disini??? Bisa dapat tahu goreng saja sudah syukur..!!" Jawab Bang Katana meskipun tidak tega juga melihat adiknya yang pucat.
"Ken.. menurutmu apa hasilnya?" Bang Hara menyerahkan sebuah benda kecil pada juniornya.
"Apa nih Bang?? Tipis amat??" Bang Katana membolak-balik benda kecil di tangannya. Agaknya kakak kandung Rintis itu tidak pernah melihat benda tersebut.
"Kau ini lahir dari abad keberapa. Masa tidak tau??"
"Apa lah Abang ini, benda tidak ada hubungannya dengan militer pun Abang tanyakan." Bang Katana segera membuang benda kecil tersebut ke dalam tong sampah dengan entengnya.
"Keeenn..!!!!!!! Itu testpack..!!!!!!" Bentak Bang Hara.
"Haaaahh???? Apa hasilnya, Bang???" Bang Katana segera mencari kembali benda tersebut dan melihat sekali lagi bentuk dari sebuah testpack.
"Samar." Jawab Bang Hara singkat.
"Samar tuh bagaimana, Bang???? Goal atau tidak?????" Tanya Bang Katana penasaran. "Terus kalau yang ini???" Bang Katana mengeluarkan benda yang sama dari saku celananya lalu menunjukkan pada Bang Hara.
Mata Bang Hara membulat besar menatap mata junior nya. Seketika Bang Hara mendorong dan menghantam kedua bahu juniornya itu.
"Wanita mana yang sudah membuatmu menjadi bodoh???" Bentak Bang Hara. "Kau setua ini, pendidikan mu bukan main-main. Bengal soal wanita saja kau paham. Masa kau tidak paham benda seperti ini???????"
"Aku nggak tau, Bang..!!"
"Apa maksudmu bilang nggak tau" Suara Bang Hara semakin menggelar.
"Jangan teriak, Titis mual..!!" Pinta Rintis.
Bang Hara yang emosi masih belum bisa menguasai diri. Tangan itu melayang nyaris menampar wajah Bang Katana.
"Ooommm.. jangan..!!!" Pinta Rintis akhirnya membuat amarah Bang Hara melunak. Ternyata hanya suara Rintis yang mampu membuat hatinya bergetar.
Tangan Rintis meraih tangan Bang Hara. Bak kerbau di cocok hidungnya, Bang Hara segera kembali menghampiri Rintis.
"Nggak.. nggaaaakk, sayaang..!! Saya nggak teriak lagi dah. Saya tutup mulut..!!" Ucapnya kemudian mengecup kening sang istri dengan lembut namun ekor matanya menatap tajam kearah Bang Katana. "Setelah ini, segera ke ruangan saya..!!"
...
"Apa dosanya kalau saya tidak tau tentang benda ini, Bang??"
Bang Hara mendadak geram mendengar jawaban iparnya. Entah sungguh pria itu tidak tau atau hanya pura-pura tidak tau.
"Darimana datangnya benda itu kalau tidak ada perempuan yang mengirimnya. Kau... Berbuat apa sama perempuan di luar sana..!!" Raut wajah geram Letnan Trihara menambah rasa mencekam dalam ruang kerja Bang Hara.
"Sayaaaaaa......."
Panggilan telepon masuk pada ponsel Bang Hara. Terlihat Letnan Abrileo menghubunginya. Dengan menarik nafas panjang, Bang Hara berusaha berbesar hati untuk mengangkat panggilan telepon tersebut.
"Ada apa?"
"Aku sudah dua hari ada di Batalyon. Kamu dimana?" Tanya Bang Abri.
"Di kantor Kompi." Jawab Bang Hara singkat saja, sungguh hatinya begitu malas berurusan dengan pria yang lebih pantas menjadi musuhnya itu.
"Aku bawa Rena. Kau belum menyelesaikan urusan dengannya........."
Bang Hara mematikan panggilan teleponnya. Nyeri di hatinya kembali begitu terasa namun segala rasa sakit itu terhapuskan oleh hadirnya Rintis di dalam hidupnya.
"Ada apa Bang?" Tanya Bang Katana sedikit cemas melihat raut wajah seniornya.
"Kita tunda urusan kecerobohanmu..!! Kamu dampingi saya bertemu dengan Abri dan Rena." Perintah Bang Hara.
Meskipun Bang Katana tidak paham dengan apa yang terjadi namun dirinya tetap mengikuti arahan dari seniornya.
...
Bang Hara bertemu dengan Rena untuk pertama kalinya setelah kejadian itu. Baru saja membuka pintu ruang kerjanya, Rena secepatnya berlari dan memeluk Bang Hara dengan erat namun dengan cepat pula Bang Hara menolaknya.
"Rena minta maaf..!!" Kata Rena dan berusaha kembali memeluk Bang Hara lagi tapi Bang Hara menolaknya hingga kemudian ada seseorang yang menyela dan memeluknya.
"Abaaaang.." Rintis bergelayut manja memeluk Bang Hara dengan wajahnya yang pucat. Sontak Bang Hara balas memeluk dalam kepanikannya.
"Kenapa kesini, Neng. Saya bilang tunggu sebentar." Ucapnya sungguh panik sembari mengusap tubuh Rintis disana sini.
"Badan Eneng sakit semua, si dedek juga kangen sama Papanya, pengen di usap di rumah. Minta es krim..!!" Rintis menyandarkan kepalanya di dada bidang Bang Hara.
Bang Hara tertegun sejenak mendengar sapaan baru itu. Agaknya hatinya mulai meleleh sekaligus berbunga-bunga.
"Eeehh.. ada Mbak Rena. Putrinya Panglima, kan??" Rintis mengedarkan senyumnya. "Maaf ya mbak, saya nggak tau mbak Rena mau datang. Tau begitu biar Abang bisa jemput."
Bang Hara hendak menjawabnya tapi siapa sangka ada cakar harimau yang sudah menancap di sisi pinggangnya.
"Begitu kah?" Tanya Rena penuh harap.
"Iya mbak." Jawab Rintis dengan wajah meyakinkan. "Tapi saya nggak paham nih kenapa Abang nggak mau jemput Mbak Rena. Coba jawab, Bang..!!" Desak Rintis semakin menancapkan cakarnya.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
Yayuk Bunda Idza
buah simalakama tu bang ..pahit semua
2024-09-27
1
Yane Kemal
Mantul
2024-09-15
1
Mika Saja
😂😂😂 kapten hara,maju slah mundur jg slah, jwad kena cakar harimau tdk jawab jg kena cakar,,😂😂
2024-09-04
2