Sesampainya di rumah, Bang. Hara segera membuka ikatan tali di tangan dan kaki Rintis lalu membuka plester di mulutnya.
"Awas kau nanti.." Ancam Rintis tanpa takut. Rintis segera masuk ke dalam rumah.
Sesampainya di ruang tamu, Bibi melihat Rintis menangis, tentu saja bibi begitu cemas melihatnya. "Non.. kenapa nangis?"
Rintis tidak menjawabnya kemudian berlari naik ke lantai atas.
"Pak Hara, kenapa Non Titis menangis?"
"Nggak apa-apa Bi. Biasa anak muda." Jawab Bang Hara tenang ekor matanya melirik Rintis yang kemudian masuk ke dalam kamar dan menguncinya rapat.
...
Sore itu Bang Hara sudah lepas tugas. Ia berniat menemui Rena di kediaman panglima namun di setengah perjalanan, ia tidak sengaja melihat Bang Abri pergi bersama Rena dengan motor. Keduanya nampak begitu akrab melebihi batas kewajaran. Diam-diam Bang Hara pun mengikutinya.
Di sepanjang jalan, hati Bang Hara terasa panas. Matanya membendung cairan yang memenuhi bingkai mata. Dengan jelas ia melihat Rena begitu mesra bersama sahabatnya.
Untuk kedua kalinya hatinya kembali sakit melihat motor tersebut masuk ke dalam pelataran hotel sampai kemudian Rena bergandengan tangan dengan Bang Abri.
Diam-diam Bang Hara mengikuti keduanya. Tidak sulit bagi seorang tentara melakukan hal itu dan sesampainya di pintu kamar, Bang Hara terpaku hingga detik waktu berjalan memperdengarkan suara dua insan manusia yang tengah di mabuk cinta.
Suara tersebut sungguh membuat sekujur tubuhnya terasa meriang, tenaganya seakan hilang. Bang Hara melangkah gontai dan menjauh berusaha mewaraskan hati dan pikirannya.
...
Usai sholat isya, Bang Hara duduk bersandar di dinding masjid yang tidak jauh dari batalyon dan rumah wakil panglima.
Sedari tadi perasaannya berantakan hingga membuat dadanya terasa sesak. Ingin rasanya menghajar sahabatnya namun entah kenapa hatinya memilih 'tidak peduli'
'Apa yang kurasakan?? Jika benar aku sungguh mencintai Rena, seharusnya aku sudah menghajar keduanya tapi aku lebih memilih untuk bersyukur, Tuhan menunjukkan padaku tentangnya. Setidaknya dia bukan ibu dari anak-anakku. Mungkin akan jauh berbeda jika dia adalah ibu dari anakku.'
Bang Hara mengusap wajahnya kemudian menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya perlahan hingga perasaannya sedikit tenang.
//
"Coba dulu Tis..!! Bagaimana ideku??? Bagus, kan??" Kata Latifah di seberang sana. "Jangan lupa di tunjukan..!!"
"Benar juga kamu Fa. Oke, Fa.. aku bilang ke Papa sekarang juga..!!" Rintis mematikan sambungan telepon lalu berlari menuruni anak tangga.
Saat melihat sang Papa dan juga Bang Rei yang baru pulang kerja, Rintis pun mencoba merangkai kata yang pas untuk meyakinkan Papa dan Abangnya.
"Pa.. Bang.. Titis mau bicara..!!" Kata Rintis memasang wajah sendu.
"Ada apa? Kamu nangis???"
Sebelum Rintis menjawab pertanyaan Papa Ratanca, bibi sudah datang membawakan teh hangat untuk kedua majikannya.
"Dari siang, Pak. Ini saja baru keluar dari kamar dan belum makan." Sambar bibi yang sebenarnya begitu prihatin.
"Ada masalah apa?" Tanya Bang Rei.
Secepatnya Rintis menyerahkan ponselnya pada Bang Rei. Di saat itu juga Bang Rei dan Papa Ratanca melihat Rintis di panggul kemudian di ikat dengan tali, mulutnya pun di tutup plester.
"Apa-apaan ini??" Emosi Papa Ratanca pun terpancing.
"Titis di perk**a Om Hara." Kata Rintis.
"Apaaaa??? Dimana Hara?? Panggil dia sekarang..!!!!!" Perintah Bang Rei.
Papa Ratanca terdiam, agaknya beliau syok berat hingga tidak sanggup berkata-kata.
"Tadi keluar, Bang..!!"
Tak lama terdengar suara motor Bang Hara. Tak membuang waktu lagi, Bang Rei segera menghampiri sahabatnya kemudian menarik jaketnya dan menyeret sahabatnya itu ke ruang tamu.
"Ada apa sih Rei??" Tanya Bang Hara yang sebenarnya memang tidak paham dengan permasalahan yang sedang di permasalahkan.
Papa Ratanca sudah berdiri membawa parang. Bang Rei pun sudah melepas ikat pinggangnya.
Kepribadian seorang Hara membuatnya tetap tenang menghadapi situasi yang mungkin begitu membahayakan nyawa.
"Beraninya kamu mengacak-acak adik saya..!!" Ucap Bang Rei sudah penuh aura geram.
Parang panjang di tangan Papa Ratanca sudah nyaris mengayun tapi melihat begitu tenangnya ekspresi dan sikap seorang gadis yang baru saja di 'perk*sa' membuat Bang Hara hanya bisa menghela nafas panjang. Kejadian hari ini pun sudah memberikan pelajaran berharga baginya bahwa enam tahun kebersamaan bukan menjadi jawaban bahwa kesetiaan dan cinta akan menyertainya juga.
"Apa ada buktinya??" Tanya Bang Hara sembari melirik Rintis yang sedang tersenyum penuh kelicikan.
Bang Rei mengambil ponsel milik Rintis lalu menyerahkan ponsel tersebut pada Bang Hara. Dengan segera Bang Hara melihatnya. Letnan satu itu kembali membuang nafas panjang.
'Ternyata video tadi, pasti si Ifa temannya Rintis yang turut membuat kegaduhan ini.'
"Saya bisa minta tolong di panggilkan Prada Putra?? Dia ada disana tadi." Pinta Bang Hara.
~
"I_jin Panglima, saya tidak di tempat." Ucapnya tegas namun sedikit ada keraguan.
"Baiklah, sebenarnya Putra adalah saksi utama. Tapi jika Pak Ratanca dan Rei tidak percaya dengan saya, silakan berikan sanksi apapun pada saya. Saya akan menerimanya." Jawab Bang Hara.
"Kalau kau tidak melakukan sesuatu yang buruk, lantas kenapa kau perlakukan anak saya seperti itu. Putra yang kau bilang saksi utama juga tidak menguatkan posisimu." Bentak Pak Ratanca. Jelas sekali pria tersebut begitu takut.
Bang Hara memilih diam pasalnya ia pun merasa kasihan dengan ulah bengal putri Pak Ratanca yang ternyata di sinyalir mengikuti sebuah kelompok tersebut. Bang Hara cemas kelompok tersebut akan membuat Pak Ratanca syok dan kecewa.
"Saya akan menerima sanksi apapun." Ucap tegas Bang Hara.
Pak Ratanca kini sungguh benar-benar syok. Istrinya masih berada di luar kota dan besok baru akan kembali pulang sedangkan Katana putranya sedang dalam penugasan.
"Nikahi Rintis..!!" Perintah Papa Ratanca.
"Titis nggak mau nikah, Pa."
"Diam kau, Rintis..!!!" Bentak Bang Rei setengah mati ikut pusing.
Kekesalan Bang Rei begitu menjadi, ia sampai menghajar sahabatnya karena tidak terima dengan apa yang di lakukan Hara pada adiknya.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
Mika Saja
rintis mknya dipikir dl ya seblm bertindak,disini bang hara sdng kecewa jd MLS untuk berdebat akhirnya pilih diam dan bonusnya dpt istri😂😂
2024-08-29
1
putri
🤣🤣🤣🤣🤣
2024-08-29
1
Nining Dwi Astuti
baru ngeh nama ank ketigaY katana dah kaya nama pedang aj🤣🤣✌️, titis siap2 di ospek sm om Hara🤣🤣🤣🤣
2024-08-29
1