Alena langsung merebahkan tubuhnya kasar kekasur empuknya
"Brengsek!." Marah Alena mengingat Marvin sudah memegang tangannya dua kali, untung saja kamar Alena didesign agar kedap suara
"Tapi kenapa gw nggak bisa langsung marah dan nggak ada niatan sama sekali buat ngelukain dia," gumam Alena "apa gw suka sama dia?." Imbuhnya bertanya pada dirinya sendiri
"Nggak! nggak! nggak boleh!," marah Alena frustasi pada dirinya sendiri "gw harus nunggu Buddy." Imbuhnya lagi, setelah ia bertarung dengan hati dan pikirannya, ia langsung masuk kedalam kamar mandi untuk berendam dan sekaligus membersihkan tubuhnya.
Berlian dan Valen langsung masuk kedalam mansion
Mereka tahu Alena sudah ada didalam mansion karna mereka sudah melihat mobil Alena terparkir dengan rapi
"Eh Non, udah pulang." Sapa Bibi 1 yang melihat Berlian dan Valen masuk
"Iya Bi, Alena dimana?." Tanya Berlian
"Itu Non, Nona Alena tadi pulang langsung masuk kekamar, sampai sekarang belum keluar." Jawab Bibi 2
"Yaudah, kita keatas dulu." Pamit Valen langsung menuju lantai dua
Saat didepan kamar Alena, Berlian dan Valen merasa ragu untuk masuk, namun mereka memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar Alena, karna mereka juga khawatir dengan keadaan Alena
Tok tok tok, Berlian mengetuk pintu kamar Alena
"Lena, ini gw sama Valen." Ucap Berlian
"Kita boleh masuk nggak?." Imbuh Berlian bertanya
Alena didalam kamar yang mendengar langsung menyahut
"Masuk!." Sahut Alena dari dalam kamar
"Lena, kita boleh masuk?." Tanya Valen
"Gw bilang masuk ya masuk!." Kesal Alena, karna ia sudah merasa menjawab tapi Berlian dan Valen masih saja bertanya
"Kita masuk ya?." Imbuh Berlian meminta izin
"Lu berdua udah gw suruh masuk napa kaga masuk masuk sih, malah minta izin mulu." Kesal Alena dari dalam yang tak dapat didengar oleh Belian dan Valen
Ia langsung tersadar dari kebegoannya sendiri
"**** banget sih gw, orang kamar gw kedap suara." Gumam Alena memukul jidatnya pelan dengan tangannya, meruntuki kebodohan dan kebegoan yang plus plus
Ia langsung berdiri dan membukakan pintu untuk Berlian dan Valen
"Masuk." Suruh Alena pada Berlian dan Valen setelah membukakan pintu
"Lu nggak papa kan?." Tanya Berlian yang sudah masuk dan duduk disofa kamar Alena
"Nggak tuh." Jawab Alena cuek
"Lah tadi lu kenapa langsung cabut?." Tanya Berlian
"Iya, kaga biasanya lu cabut gitu aja, biasanya juga kalo ada cowo yang berani nyentuh lu, lu langsung patahin tuh tangan." Ucap Valen
"Nggak tau." Jawab Alena menaikkan dua bahunya
"Aneh lu." Cibir Berlian dan Valen
"Atau jangan jangan lu suka ya ama si Marvin." Ucap Valen menggoda Alena
"Emang iya?." Batin Alena
"Nggak." Jawab Alena santai
"Elah kalo lu suka, bilang aja kali, nggak usah malu." goda Berlian
"Lu belum pernah ngerasain gimana rasanya pisau tersayang gw kan?," ucap Alena mengeluarkan pisaunya "kalau belum markicob." Lanjut Alena
"Eh kaga kaga, elah becanda kali, ama sepupu sendiri gitu lu." Ucap Berlian takut akan ketajaman pisau Alena
Tiba tiba Bibi datang mengetuk pintu kamar Alena
"Non, ada orang yang mau ketemu sama, Non." u
Ucap Bibi didepan pintu
Valen langsung membuka pintu dan bertanya
"Siapa, Bi?." Tanyanya
"Kurang tahu Non, katanya temen Non di kampus." Jawab Bibi
"Yaudah suruh tunggu aja dibawah." Suruh Valen, Bibi langusung pergi dengan sopan
"Kenapa?." Tanya Berlian
"Tadi katanya ada temen kita yang mau ketemu." Jawab Valen
"Siapa? orang kita aja nggak ada temen."
"Tau, mending kita temuin aja." Ajak Valen
"Hmmm." Dehem Alena keluar dari kamar, diikuti Berlian dan Valen
Saat mereka sudah sampai diruang tamu, mereka melihat Marvin dkk duduk disofa dengan santai
"Ngapain?." Tanya Valen datar
"Eh nggak, kita cuman mau minta maaf aja." Jawab Jovian
"Iya, kita mau minta maaf soal yang tadi pagi, karna udah ngintipin kalian di roftop, dan gangguin kalian." Ucap Adrian panjang lebar menjelaskan kesalahannya, lalu menyenggol lengan Marvin
"Gw mau minta maaf sama lu Lena, gw salah, gw udah lancang mengang tangan lu." Ucap Marvin, entah kenapa didalam hantinya ia sangat merasa menyesal
"Gw sih nggak papa, cuman jangan kalian ulangi lagi." Ucap Berlian tersenyum hingga membuat Adrian berdebar
"Aduh senyumnya bisa dikurangin nggak sih ini kadar gulanya, diabetes gw jadinya." Batin Adrian meleleh dengan senyuman Berlian
"Lu mau kan maafin gw?." Tanya Marvin membuat kedua temannya bingung
"Kenapa nih bocah, kaga biasanya kek gini." Batin Jovian
"Lah dia beneran sungguh sungguh." Takjub Adrian, karna selama ia mengenak Marvin, ia baru pertama kali melihat Marvin meminta maaf dengan tulus
"Iya gw maafin." Jawab Alena datar
"Yaudah kalo gitu, kita pamit pulang dulu." Pamit Jovian
"Udah sono pulang." Usir Valen
"Buset Neng, sante kaga lu usir, gw juga sadar diri." Ucap Jovian
Marvin dkk langsung keluar dari mension Alena dkk menuju mansion mereka
🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼
~BERSAMBUNG~
LIKE, COMMENT, KASIH RATE 5
JANGAN LUPA VOTE & TAMBAHKAN FAVORITE
JANGAN LUPA👆
SEE YOU NEXT EPISODE 😉
BYE~
AUTHOR SAYANG KALIAN💕💕
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments
Imam Sutoto Suro
luar biasa thor lanjutkan seruuuu
2022-12-18
0
Yuni Verro
kacau ini mah gelo
2022-04-28
0
BINTANG PENGHACUR
terlalu rumit pembantunya
2021-12-13
0