"Nanti kita jadi nonton filmnya?" tanya Milu.
"Gak usah deh, sudah malam. Besok kita harus kerja," jawab Lisa.
"Yaudah kalau begitu, lagian saya juga sudah lelah sekali," timpal saya seraya mengusap mata.
"Ngantuk Mona?" tanya Milu.
Saya mengangguk dan menjawab,"Iya Mil, saya kurang tidur dari semalam."
"Oh ... yaudah habis makan nanti kamu langsung tidur saja, kasihan kecapekan," ujar Milu sangat perhatian.
"Iya, rencananya begitu," timpal saya.
Lama kami menunggu pesanan yang masih di buat. Ramainya pembeli membuat pegawai kewalahan menyiapkan pesanan. Sudah lima belas menit kami menunggu sambil berdiri. Penjual kaki lima ini lumayan beruntung, warung tempat jualannya ramai didatangi pembeli. Saya tidak tahu rasanya bagaimana, karena Lisa juga belum pernah membelinya. Kata Lisa, warung ini baru saja di buka.
Tidak ada percakapan diantara kami bertiga, jujur saja karena energi kami sudah habis. Tidak ada tenaga dan emosi untuk melakukan hal lain, selain tetap diam. Milu memilih bermain dengan telepon genggamnya, sementara saya dan Lisa sedang melamun. Entah apa yang dipikirkan Lisa, tapi sedari tadi ia hanya terlihat melamun. Sementara saya, memikirkan pria kurang ajar itu. Sesekali saya edarkan pandangan ke seluruh penjuru, bahkan sampai menyipitkan dan menajamkan mata untuk menembus kegelapan. Menerawang apakah ada pria itu di balik kegelapan sana dan sedang memantau saya.
Entah mengapa, saya selalu mempunyai firasat jika pria itu ada di sekitar saya. Entah hanya cemas yang berlebihan, atau memang firasat yang kuat. Tapi saya selalu merasa ada yang mengintai, dan saya merasa pria itulah pelakunya. Tapi saat berusaha mencari sosok dirinya, tidak ada saya temukan jejaknya sedikitpun. Pria itu sudah mengatakan akan datang ke rumah saya hari ini, saya yakin ia menepati omongannya. Tadi sore saya merasa pria itu sudah berada di rumah saya, tapi sepertinya sekarang tidak. Sekarag saya merasa pria itu tidak berada di rumah saya. Entah sudah pergi atau sedang mengintai saya sekarang, tapi yang pasti saya akan aman di rumah Lisa sekarang. Saya yakin pria itu tidak akan berani masuk ke rumah Lisa.
Saat sedang bergelut dengab pikiran yang rumit, sudut mata saya menangkap sebuah mobil terparkir di tepi jalan. Mobil berwarna putih dan terlihat mahal. Mobil itu baru saja datang dan sengaja memarkirkan mobilnya di bawah pohon yang gelap. Saya terus memperhatikannya dengan tajam. Entah mengapa saya merasa aura pria itu semakin kuat. Saya kira pria itu ada di dalam mobil tersebut.
Saya merapatkan jaket yang saya kenakan. Hawa dinginnya membuat tubuh saya makin menggigil. Memeluk tubuh sendiri adalah hal yang saya lakukan sekarang. Bahkan angin malam pun sudah berhembus menyapu wajah, membuat rambut yang saya gerai sedikit berantakan. Tapi mata saya terus fokus memperhatikan mobil itu, perubahan cuaca tidak membuat saya berpaling sedikitpun. Hanya kepala yang berputar ke kanan, sementara badan tetap lurus ke depan. Jika saya memutar tubuh saya, akan terlalu ketara jika saya sedang memantau mobil tersebut. Yang belum tentu dugaan saya benar, bisa saja salah dan orang yang di dalam mobil merasa terganggu dan melabrak saya. Jangan sampai hal itu terjadi.
Jarak mobilnya cukup jauh, sekitar 20 meter dari posisi saya berdiri sekarang. Jika saya tidak salah hitung, sudah sekitar 10 menit mobil itu parkir di sana. Bahkan terlihat tidak ada pergerakan, ataupun seseorang yang keluar. Yang saya heran, mobil itu menghadap ke arah saya, itu artinya mobil itu tadinya sedang melawan arus. Karena jalan raya ini satu jalur dan sedang ramai kendaraan yang melintas. Entah bagaimana mobil itu bisa nelawan arus dan parkir di sana.
"Mungkin saja mobil ini mau putar balik, tapi karena jalanan ramai dia tidak bisa masuk. Mungkin masih menunggu kendaraan sepi, atau tukang parkir." Saya membatin dan beropini sendiri. Karena perlahan pikiran negatif saya tentang pria itu mulai hilang. Bisa saja memang bukan pria itu yang sedang di dalamnya.
"Tapi ... kenapa saya masih merasa pria itu ada di sini ... atau ini hanya ketakutan saya saja?" Pikiran saya terus beropini, hati saya juga berkecambuk gelisah sendiri.
"Mona?" panggil Milu membuat saya langsung terkejut dan menoleh ke arahnya.
"Eh?" sahut saya menegang menatap Miku yang berdiri berhadapan dengan saya.
"Kamu kenapa sih? Dari tadi melamun terus." Kritik Milu, kedua tangannya sedari tadi dilipat ke dada, sepertinya ia juga sedang kedinginan.
"Oh ... sa-saya kedinginan dan kelelahan. Capek juga dari tadi berdiri, gak sadar jadi melamun," jawab saya sedikit berbohong.
"Oh ... Iyakan lama sekali, tapi sepertinya sebentar lagi selesai," timpal Milu seraya menunjuk pegawai dengan matanya.
"Yaudah lah biarkan saja Mona melamun, kasihan dia kecapekan, mungkin Mona sekalian mengisi energinya dengan berdiam diri," sahut Lisa menimpali.
"Masalahnya kalian berdua sama-sama melamun," kesal Milu.
"Tapi kami dalam keadaan sadar kok," balas Lisa membela diri.
"Awas loh ... nanti kalian kesurupan ....." Goda Milu menakut-nakuti seraya menunjuk saya dan Lisa.
"Ih apaan sih Milu, gak lucu tahu gak sih!" Marah Lisa, raut wajahnya langsung berubah ketakutan.
Saya dan Milu langsung tertawa, Lisa memang paling penakut diantara kami bertiga. Hanya ditakut-takuti seperti itu saja, Lisa bisa sampai menangis. Terkadang saya dan Milu sering menakut-nakutinya sampai menangis.
"Sudahlah jangan bercanda terus," marah Lisa, bibirnya memanyun.
"Iya loh Lisa Sayang ...," balas Milu seraya menyubit pipinya.
"Norak!" ejek Lisa sambil menangkis tangan Milu yang menyubit pipinya.
"Yaudah sana melamun, saya mending main handphone, kalian gak bawa handphone?" tanya Milu.
"Enggak, lupa," jawab saya.
"Handphone saya lagi diisi daya," sahut Lisa.
"Oh yaudah, kalau begitu saya sendiri yang main handphone. Enak tidak bosan," ujar Mona pamer.
"Dih! Dasar norak!" ketus Lisa, sudut bibir atasnya menyungging seolah jijik.
"Biarin!" balas Milu seraya menjulurkan lidahnya.
Mereka berdua memang selalu saja ada tingkahnya yang membuat tidak akur. Yang satu diam, yang satu menggoda. Yang satu merajuk, yang satu tertawa. Begitulah mereka berdua sedari awal. Saling mengejek dan saling tersinggung.
Kami bertiga sudah tak ada obrolan, saling diam seperti tadi. Milu asik sibuk dengan handphonenya, sementara Lisa memunggungi kami memperhatikan pegawai yang sedang sibuk menyiapkan pesanan semua orang.
Sementara saya kembali lagi memantau mobil itu, masih sama posisinya. Kaca mobilnya gelap, saya tidak bisa melihat orang yang ada di dalamnya sedari tadi. Tapi tidak masalah, selama yang di dalamnya bukan pria jahat itu, saya akan merasa aman dan tenang. Tapi selama mobil itu masih di sana dan belum saya pastikan siapa yang berapa di dalamnya, mobil itu akan terus berada dalam pantauan saya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
Anonymous
Mona sebenarnya bukan ngantuk, tapi ketakutan. Hihihi/Facepalm/
2024-08-31
2