WARUNG KURANG AJAR!

Dari dalam mobil, Hans tertawa. Suaranya terdengar sangat nyaring, Hans benar-benar merasa lucu. Mendengar keributan Lisa dengan penjual, membuatnya tak bisa menahan gelak yang menggelitikinya sedari tadi.

Hans tak habis pikir, waktu mereka terbuang sia-sia, bahkan dianggap saja tidak. Berdiri kedinginan dan kelaparan, tapi mendapatkan perlakuan menjengkelkan seperti itu. Lisa masih terdengar marah-marah dari earphone yang digunakannya. Namun Hans tak peduli, Ia hanya fokus menertawai nasib mereka.

Namun akhirnya tawa yang terukir indah di wajah Hans seketika menghilang, saat ia melihat wajah murung Mona yang terlihat sedih. Suasana hati Hans yang sedetik lalu bahagia langsung hancur, darahnya seakan mendidih sekarang. Mona telah mengubah posisi berdirinya, menjadi di samping kiri Milu. Ia dan Milu terlihat diam saja dan membiarkan Lisa yang meluapkan amarahnya. Wajah Milu terlihat ketakutan, ia bahkan menggigit kukunya karena gugup. Berbeda dengan Mona yang menunduk melamun dengan raut wajah sedih sambil memeluk tubuhnya sendiri.

Hans mengepalkan tangannya, emosinya benar-benar di atas awan. Tatapan matanya menjadi tajam dan penuh dendam. Hans sangat marah melihat Mona yang bersedih, bahkan ia merutuki dirinya sendiri yang sempat menertawai Mona karena menganggapnya lucu.

"Penjual kurang ajar!" Maki Hans menatap tajam penjual pria yang terlihat masih muda itu.

"Beraninya kamu membuat Panda Imut saya bersedih!" ucap Hans penuh penekanan.

Suara Lisa masih saja terdengar berdebat dengan penjual bahkan pegawainya. Itu membuat Hans semakin emosi dan bising. Hans mencopot earphone yang sedang dipakainya, lalu membantingnya ke sembarang arah.

"Arh! Kurang ajar!" teriak Hans seraya membanting earphonenya.

Dalam situasi yang memanas, sementara itu anak buah Hans yang sedari tadi duduk di bangku belakang hanya diam dan memperhatikan. Ia tidak tahu mengapa Bosnya marah, dan sepenting apa wanita yang sedang mereka pantau. Ia tidak mendengar percakapan yang terjadi di luar sana, hanya Hans dan Riko lah yang mendengarnya. Sementara dirinya sendiri, ikut menegang melihat emosi Hans yang memuncak dan terus mengumpat si penjual. Namun ia tak berani bertanya, diam adalah solusi yang terbaik sampai ia mendapatkan perintah sendiri dari Hans.

Dalam gejolak amarahnya, Hans melihat Mona yang mendekati Lisa. Hans buru-buru mencari earphone yang sempat ia buang dan mengambilnya. Karena Mona terlihat sedang berbicara di depan sana, Hans sangat ingin mendengar suara Mona. Dengan cepat Hans sudah memakai earphone itu kembali.

"Lisa ... Lisa, sudah. Ayo kita pulang saja, jangan berdebat lagi." Mona memegang kedua bahu Lisa agar ia tenang, sekaligus mengajaknya untuk pergi dari sana.

"Saya masih menunggu kata maaf keluar dari mulutnya ini!" seru Lisa menunjuk penjual dan para pegawainya yang menunduk.

"Percuma, kalau mereka niat untuk mengakui salah, perdebatan ini tidak akan terjadi. Untuk apa menunggu maaf dari mulut orang yang merasa dirinya benar. Itu buang-buang waktu, bahkan cecaran pembeli lain juga tidak di dengarkan, itu artinya mereka memang tinggi hati," sindir Mona sangat menusuk.

"Warung mereka ini memang tidak mau di beli, makanya sangat buruk melayani pembelinya. Merasa makanannya sangat dibutuhkan karena ramai yang beli, jadi dengan sikap jutek dan lantamnya itu merasa itu hal yang baik untuk di perlihatkan kepada pembeli. Penjual sama pegawainya sama, sama-sama kurang ajar. Sudah tidak perlu di beli, warung tidak tahu terima kasih seperti ini tidak perlu di beli!" cecar Mona mengkritik ikut meluapkan emosinya.

"Ayo pergi!" ajak Mona menarik bahu Lisa.

"Lain kali pegawainya diajarin senyum!" sindir Mona penuh penekanan dengan wajahnya yang tajam.

Mona melihat ke arah Milu yang berdiri ketakutan di belakangnya, lalu mengajaknya,"Ayo Milu, kita pulang!"

Saat Mona dan kedua temannya berjalan meninggalkan warung itu, para pembeli lainnya yang sedari tadi mengantre juga ikut pergi. Mulai dari orang yang makan di meja, ojek online, ibu-ibu, remaja, dll. Semuanya pergi meninggalkan lokasi karena ikut emosi, namun yang berani mengutarakan hanya Lisa dan Mona. Memang sudah banyak keluhan yang di dengar Mona, bahkan sebelumnya ojek online juga banyak yang protes mengapa pesanannya lama sekali, namun respon penjual dan pegawai tetap sama, kurang ajar. Warung tersebut hanya menyisakan beberapa orang yang sedang makan, sementara yang menunggu sambil berdiri sudah pergi semuanya.

"Kamu gadis yang pemberani Mona," Puji Hans setelah mendengar dan melihat Mona yang berani mengangkat bicara.

Namun kini Mona sudah pergi meninggalkan lokasi kejadian, bayangan dirinya dengan kedua temannya perlahan hilang di kegelapan malam di ujung sana, hingga mereka berbelok ke kanan, di mana masuk ke jalan rumah Lisa.

Suasana hati Hans sudah tenang, suara Mona benar-benar doktrin untuk otaknya. Membuatnya bahagia karena Mona adalah dopamin untuk Hans. Namun rasa marahnya masih ada untuk penjual warung itu. Yang sekarang terlihat sedang kebakaran jenggot dan merutuki karyawannya karena kehilangan seluruh pembeli dalam waktu singkat, padahal pesanan yang di masak mereka sudah sangat banyak. Namun ditinggalkan begitu saja, bahkan yang makan di meja juga sudah pergi meninggalkan mereka. Benar-benar hanya tinggal pemilik dan pegawainya yang kurang ajar.

Riko terlihat berjalan kembali ke mobil dengan raut wajah yang kesal. Sangat tercetak jelas di wajahnya, jika ia emosi. Namun Hans belum mengetahui hal apa yang membuat anak buahnya ini emosi, apakah karena pemilik dan pegawainya itu juga. Riko masuk ke mobil, wajahnya masih saja di tekuk. Hans masih memantaunya dengan senyum, karena Hans masih merasa senang hati. Di amatinya Riko yang diam dan napasnya memburu, ia terlihat sedang menetralkan perasaan. Ketika sudah terlihat tenang, barulah Hans mempertanyakan keadaan Riko.

"Ada apa Riko?" tanya Hans.

"Emosi Bos lihat penjualnya. Dari tadi ingin saya tonjok, tapi saya tahan," jawabnya.

"Saya juga emosi, tenanglah dulu." Ucap Hans dengan posisi santainya yang bersandar di kursinya.

"Teo?" panggil Hans.

"Iya Bos?" sahut pria yang sedari tadi sedang duduk di belakang dengan kemeja dan celana serba hitamnya.

"Saya tidak mau melihat warung sialan itu masih berdiri di situ besok!" perintah Hans santai namun terdengar menekan.

"Baik Bos," jawab Teo.

"Manusia kurang ajar yang berani-beraninya membuat Mona sedih!" ucap Hans, menatap tajam ke warung makan tersebut, namun bibirnya masih mengukir senyum. Bisa dibilang itu senyum penuh arti, entah kejahatan atau kebaikan.

"Kita balik, tidak perlu mengikuti Mona. Cari restaurant, saya mau makan!" perintah Hans kepada Riko.

"Baik Bos!" jawab Riko.

Saat Hans dengan kedua anak buahnya pergi mencari tempat makan lain, begitu pun dengan Mona. Mereka berhasil menemukan penjual ayam penyet yang lain di sebelah gang rumah Mona. Tak perlu menunggu waktu lama, pesanan mereka sudah selesai dan segera pulang. Dalam perjalanan pulang, Lisa dan Mona masih saja terbawa emosi.

"Kesal sekali tahu gak! Rasanya ingin saya bakar tempat makan mereka!" geram Mona.

"Sama, ingin saya jambak tadi rambut mereka semua!" timpal Lisa.

"Untung saja ada penjual lain di sekitar sini ya," sahut Milu.

"Masih bernasib baik kita, malam ini bisa makan," balas Mona.

"Sudahlah ayo, Mama saya sudah menunggu di rumah. Kasihan sendirian, pasti Mama juga khawatir sama kita," ujar Lisa mempercepat langkahnya.

Mona dan Milu ikut mengejar Lisa, memang mereka sudah terlalu lama keluar rumah. Adzan Isya pun sudah berkumandang menemani perjalanan pulang mereka. Ini semua karena warung itu, waktu mereka jadi terbuang sia-sia.

Terpopuler

Comments

Anonymous

Anonymous

Haduh! Kayanya warungnya mau dibakar deh itu sama Hans/Chuckle/

2024-08-31

2

lihat semua
Episodes
1 AWAL DARI KESENGSARAAN.
2 TANGAN BERBULU.
3 SALING MENGANCAM.
4 PENASARAN.
5 DILEPASKAN.
6 SEMBUNYI DI RUMAH LISA.
7 MEMANTAU DAN MENJAGA.
8 TATA CARA MINUM.
9 Memantau Mobil.
10 LISA MENGAMUK!
11 WARUNG KURANG AJAR!
12 SUARA MENGEJUTKAN!
13 DENGAN PENULIS NURUL NUHANA.
14 MONYET YANG SEBENARNYA!
15 PRIA DI BAWAH LANGIT JAKARTA.
16 SAHABAT SMA.
17 DENGAN PENULIS NURUL NUHANA.
18 MUNTAH!
19 MEMINJAM TELEPON GENGGAM.
20 MASAKAN YANG LEZAT.
21 UGAL-UGALAN YANG MENGANCAM NYAWA!
22 LARI DARI KEJARAN TITAN.
23 PERLAWANAN SENGIT MENUJU KEMATIAN.
24 DIBEKAP DAN DIBORGOL DI MOBIL.
25 ADIK YANG GILA.
26 DILECEHKAN RIKO!
27 DITOLONG PRIA MISTERIUS ITU.
28 BERSEMBUNYI BERSAMA SINGA.
29 SAYA BUKAN PELACUR!
30 BERBOHONG DEMI RIKO!
31 ANCAMAN UNTUK BERDAMAI.
32 BERSENANDUNG DALAM KETENANGAN.
33 TERKEPUNG GEROMBOLAN PRIA JAHAT!
34 PENEMBAKAN DAN MEMBUNUH GEROMBOLAN MUSUH!
35 DENGAN PENULIS NURUL NUHANA.
36 HANS KHAWATIR.
37 MENGOBATI LUKA MONA.
38 MENERIMA AMUKAN MONA!
39 HAMPIR KECELAKAAN.
40 MONA KEMBALI TANTRUM.
41 KAMAR MEWAH.
42 KENAPA HOTEL DI TENGAH HUTAN? HOTEL YANG MENCURIGAKAN!
43 MINUM SUSU PENENANG KESEDIHAN.
44 DIMARAHIN KARENA SARAPAN.
45 SIAPA YANG PELAKU DAN KORBAN? BENARKAH HANS PELAKU PEMERKOSAAN?
46 DENGAN PENULIS NURUL NUHANA.
47 MENUNTUT BUKTI.
48 BUKTI DIBERIKAN DENGAN DERAI AIR MATA.
49 MEMBERI PERINGATAN KEPADA PRIA MISTERIUS ITU.
50 DENGAN PENULIS NURUL NUHANA.
51 MINUM OBAT.
52 MENAHAN MALU.
53 DENGAN PENULIS NURUL NUHANA.
54 AFIRMASI POSITIF.
55 EMOSI DI PAGI HARI.
56 SARAPAN DENGAN DEBAT.
57 MENJADI SESEORANG YANG TAK DIANGGAP.
58 RUANGAN INDAH YANG MEMBUAT TAKJUB.
59 PINTU APA ITU? PINTU AJAIB?
60 UJUNG KORIDOR PERSIMPANGAN.
61 MOBIL GANTUNG.
Episodes

Updated 61 Episodes

1
AWAL DARI KESENGSARAAN.
2
TANGAN BERBULU.
3
SALING MENGANCAM.
4
PENASARAN.
5
DILEPASKAN.
6
SEMBUNYI DI RUMAH LISA.
7
MEMANTAU DAN MENJAGA.
8
TATA CARA MINUM.
9
Memantau Mobil.
10
LISA MENGAMUK!
11
WARUNG KURANG AJAR!
12
SUARA MENGEJUTKAN!
13
DENGAN PENULIS NURUL NUHANA.
14
MONYET YANG SEBENARNYA!
15
PRIA DI BAWAH LANGIT JAKARTA.
16
SAHABAT SMA.
17
DENGAN PENULIS NURUL NUHANA.
18
MUNTAH!
19
MEMINJAM TELEPON GENGGAM.
20
MASAKAN YANG LEZAT.
21
UGAL-UGALAN YANG MENGANCAM NYAWA!
22
LARI DARI KEJARAN TITAN.
23
PERLAWANAN SENGIT MENUJU KEMATIAN.
24
DIBEKAP DAN DIBORGOL DI MOBIL.
25
ADIK YANG GILA.
26
DILECEHKAN RIKO!
27
DITOLONG PRIA MISTERIUS ITU.
28
BERSEMBUNYI BERSAMA SINGA.
29
SAYA BUKAN PELACUR!
30
BERBOHONG DEMI RIKO!
31
ANCAMAN UNTUK BERDAMAI.
32
BERSENANDUNG DALAM KETENANGAN.
33
TERKEPUNG GEROMBOLAN PRIA JAHAT!
34
PENEMBAKAN DAN MEMBUNUH GEROMBOLAN MUSUH!
35
DENGAN PENULIS NURUL NUHANA.
36
HANS KHAWATIR.
37
MENGOBATI LUKA MONA.
38
MENERIMA AMUKAN MONA!
39
HAMPIR KECELAKAAN.
40
MONA KEMBALI TANTRUM.
41
KAMAR MEWAH.
42
KENAPA HOTEL DI TENGAH HUTAN? HOTEL YANG MENCURIGAKAN!
43
MINUM SUSU PENENANG KESEDIHAN.
44
DIMARAHIN KARENA SARAPAN.
45
SIAPA YANG PELAKU DAN KORBAN? BENARKAH HANS PELAKU PEMERKOSAAN?
46
DENGAN PENULIS NURUL NUHANA.
47
MENUNTUT BUKTI.
48
BUKTI DIBERIKAN DENGAN DERAI AIR MATA.
49
MEMBERI PERINGATAN KEPADA PRIA MISTERIUS ITU.
50
DENGAN PENULIS NURUL NUHANA.
51
MINUM OBAT.
52
MENAHAN MALU.
53
DENGAN PENULIS NURUL NUHANA.
54
AFIRMASI POSITIF.
55
EMOSI DI PAGI HARI.
56
SARAPAN DENGAN DEBAT.
57
MENJADI SESEORANG YANG TAK DIANGGAP.
58
RUANGAN INDAH YANG MEMBUAT TAKJUB.
59
PINTU APA ITU? PINTU AJAIB?
60
UJUNG KORIDOR PERSIMPANGAN.
61
MOBIL GANTUNG.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!