DILEPASKAN.

"Lepaskan!" berontak saya.

"Diam, kalau tidak saya akan semakin kasar!" ucapnya memberi peringatan.

Mendengar perilakunya semakin kasar, saya takut. Saya diam tidak melawannya seperti tadi. Pria itu sudah mengubah posisi memeluk saya dari belakang. 

"Tuhan, tolong saya ...," lirih saya dalam hati.

"Kamu gemetar ...," ucapnya lembut.

"Tidak perlu takut, tenanglah," lanjutnya.

Apapun kalimat penenang yang keluar dari mulutnya, tidak akan mengubah apapun. Mana mungkin saya bisa tenang bersama pria jahat seperti dia. 

"L-lepaskan saya ...," mohon saya terbata.

"Tidak mau ...," tolaknya.

"Saya m-mohon ...," mohon saya.

Pria itu terdengar bernapas kasar, dan hening sejenak. Kemudian berkata,"Berjanjilah untuk merahasiakan ini."

"I-iya ... s-saya tidak akan mengatakannya dengan siapapun ...," janji saya.

"Baiklah ... saya akan pulang. Besok saya akan ke sini lagi," ucapnya lalu mengecup pipi kiri saya.

Pria itu akhirnya pergi dan melepaskan pelukannya. Saya menoleh ke belakang, ia memakai sepatunya memunggungi saya dengan duduk di tepi ranjang. Tubuh saya masih gemetar dengan hebat, ketakutan saya sudah di ambang tidak wajar.

Saya teringat yang dikatakannya, ia akan kembali lagi besok. Apa itu benar-benar akan dilakukannya? Saya benar-benar takut sekarang. Oh ... satu lagi, video dan foto telanjang saya masih ada di hanphonenya. Saya harus memintanya untuk menghapus itu semua.

Ketika pria itu melangkahkan kakinya menuju pintu, saya langsung menghentikan langkahnya,"T-tunggu."

Pria itu berhenti dan menoleh ke belakang, saya menghampirinya sambil terus dalam mode siaga. Tepat di depan tubuhnya, saya melihatnya terus merangkai senyum.

"Ada apa?" Tanyanya sambil membelai pipi kiri saya. Suaranya dalam dan lembut, menenangkan. 

Saya menjawab,"H-hapus foto itu."

"Foto apa?" tanyanya.

"S-saya ...," jawab saya seraya kedua tangan terus menutupi dada.

Siapa sangka, pria itu mengeluarkan hanphonenya. Iya menunjukkan foto dan video yang sempat diambilnya, kemudian memberikan handphonenya kepada saya.

"Hapus ...," perintahnya.

Pria ini ingin saya menghapusnya sendiri, tentu saja saya menyetujuinya. Saya ambil handphone itu dan menghapus seluruh foto dan video saya. Saya juga menghapusnya di file sampah. Miris rasanya melihat semua foto dan video itu. Tapi apa boleh buat, semuanya sudah terjadi.

"Sudah?" tanyanya.

Saya memberikan handphonenya kembali sebagai jawaban. Saya sudah menghapusnya, tapi saya masih ragu. Bisa saja pria ini masih menyimpan salinannya di tempat lain.

"Saya mau pulang, tidurlah." Pamitnya langsung berlalu meninggalkan saya. Pria itu membuka kunci kamar yang sedari tadi ia simpan, saya mengikutinya dari belakang. Pria itu keluar tanpa menoleh sedikitpun, setelah ia sudah menghilang ditelan kegelapan, saya segera mengunci pintunya.

Saya bersandar dibalik pintu, badan tetap saja gemetar dan air mata mengalir. Apa yang baru saja saya alami, pria jahat seperti apa yang sebenarnya saya tolong.

Baju saya sudah terpasang saat saya terbangun. Sedangkan semua bukti foto dan video tadi, saya benar-benar telanjang tanpa sehelai benang pun. Itu berarti pria itu sempat melepas seluruh pakaian saya, dan memasangkannya kembali. Tapi mengapa saya tidak menyadarinya? Apa saya benar-benar tertidur pulas? Memang saya akui, ketika saya tertidur, maka saya sudah seperti orang mati. Sulit terbangun dan tersadar walaupun ada bom yang meledak. Hal itu menjadi kesempatan yang sangat bagus untuk pria itu melancarkan aksinya.

"Untung saja saya tidak diperkosa ...," ucap saya bersyukur.

Saya yakin pria itu tidak menodai saya, karena saya merasa tubuh saya tidak ada tanda-tanda dinodai. Pria itu hanya memeluk dan meraba-raba tubuh saya. Entah apa motif yang akan ia lakukan. Tapi yang pasti, sekarang saya ingin melanjutkan tidur. Karena besok saya harus bekerja, kejadian ini harus saya lupakan. Jika saya melanggar janji dan melaporkannya dengan siapapun, saya takut pria itu semakin nekat. Saya harus bersikap santai dan tenang, agar saya tetap selamat. Seperti perintah yang selalu pria itu ucapkan.

...

Pagi telah tiba, cahaya mentari masuk dari celah lubang angin. Ayam tetangga terdengar masih berkokok, membangunkan semua mahluk yang mendengarnya. Angin menyentuh bulu roma, menyentuh kulit dan menyejukkan tubuh. Foto Ayah dan Bunda masih terpajang rapi di dinding, menyegarkan mata dari situasi memaksa tidur tadi malam. Walau tidur tak nyenyak dan nyaman, selalu tersedar. Berjaga sepanjang malam, mengkhawatirkan pria itu kembali lagi. Tapi syukurnya tidak, pria itu menepati janjinya. Sejak mata terbuka, pemandangan kamar berserak masih sama seperti semalam. Saya membiarkannya, dan pergi mandi, bersiap untuk berangkat kerja.

Jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi, waktu yang tepat untuk saya berangkat kerja seperti biasa. Tanpa sarapan dan hanya minum teh manis hangat, sudah mengisi kekeroncongan dan meredam riuhnya suara perut saya yang sedang bernyanyi. Maklum, saya bukan manusia yang bisa sarapan di pagi hari, perut saya langsung mules. Saya sudah selesai bersiap, dan segera berangkat kerja. Memakai seragam kerja dan rambut yang dikucir satu. Menggendong tas di punggung yang berisi jaket dan handphone serta dompet. Dengan jantung yang berdegub, saya mengunci semua pintu dan jendela. Harus benar-benar memastikan siapapun tidak boleh masuk. Sebelum berangkat, saya sudah mengecek berkali-kali seluruh ruangan, sudah dipastikan pria itu tidak ada bersembunyi.

Saya berjalan sampai ke depan gang, ditemani matahari yang mulai mengintip di ufuk timur. Hawanya membuat saya menggigil dan memeluk tubuh sendiri. Suara kendaraan mulai riuh memenuhi pekarangan rumah, para tetangga terlihat sedang memanaskan kendaraan mereka sebelum beraktivitas. Jalanan aspal tiga meter ini juga mulai dilalui kendaraan, siap membawa pengendaranya ke tujuan. Saya sudah sampai ke jalan raya dan naik angkutan kota setelahnya. Sehari-hari saya berangkat dan pulang kerja menaiki angkutan kota. Sesekali naik taxi online ketika sedang bermain dengan Milu dan Lisa.

Sepanjang jalan saya gemetar, kejadian semalam masih menghantui saya. Saya juga selalu mengedarkan pandangan ke sekitar, bisa saja pria itu mengikuti saya dan tiba-tiba naik ke angkutan kota. Tapi ternyata saya aman, sampai ke tujuan dengan selamat.

Saya bergegas masuk ke kantor, siap untuk bekerja. Kejadian ini harus selalu saya rahasiakan. Karena saya juga takut untuk mengatakannya dengan siapapun. Bukan hanya takut dengan pria itu, tapi juga takut tidak akan ada yang percaya dan membantu saya.

"Mona?" panggil Lisa saat saya berjalan di koridor.

Saya menoleh ke belakang dan menyahut,"Hey Lisa."

"Kamu kok aneh sih, dipanggilin dari luar diam saja," gerutunya, lalu kami berjalan bersama menuju ruang loker.

"Maaf ya, saya tidak kedengaran. Tapi saya baik-baik saja kok Lisa," pungkas saya.

"Kalau kamu sakit izin saja," saran Lisa.

Saya membuka tas gendong dan memasukkannya ke loker, begitu juga Lisa. Loker kami saling bersebelahan.

"Saya tidak sakit. Hanya kurang tidur, saya gak bisa tidur tadi malam," balas saya.

"Kamu suka sekali bergadang, jangan dibiasakan!" nasehat Lisa.

"Saya nonton film, seru soalnya. Jadi keterusan sampai pukul 3 pagi. Mau tidur juga sudah mau Shubuh, jadi tidur ayam deh," ucap saya berbohong disertai tawa dan dibalas Lisa.

"Yaudah, minum kopi dulu sana. Nanti kamu gak tahan ngantuknya," saran Lisa.

"Iya nanti deh," tolak saya.

Saya melihat ke arah pintu, lalu bertanya dengan Lisa,"Milu belum datang?"

"Belum, mungkin masih diperjalanan," jawab Lisa.

"Yaudah ayo kita mulai kerja," ajak saya diangguki Lisa.

Saya bekerja sebagai cleaning service di sebuah Perusahaan besar yang ada di Jakarta. Saya, Milu dan Lisa sudah bekerja selama dua tahun. Bahkan kami diterima kerja di hari yang sama, jadi kami sudah saling mengenal sejak awal bekerja, karena sama-sama satu angkatan kerja.

Saya mengepel lantai, sementara Lisa menyapu lantainya. Kami mulai dari ruang masuk lantai satu atau lobi. Banyak karyawan kantor yang berlalu lalang. Tidak heran, saya dan Lisa terkadang harus membersihkan ulang.

"Guys ...," panggil Milu sambil berlari masuk ke lobi menemui saya dan Lisa.

Saya terkejut mendengar teriakannya dengan wajah Milu yang dipenuhi keringat. Milu bertanya,"Saya terlambat gak?"

"Ini pukul berapa sekarang?" tanyanya sangat panik.

Lisa melihat jam tangannya dan menjawab,"Pukul 7:45 WIB."

"Syukurlah, masih ada 15 menit lagi. Kirain sudah terlambat. Telat bangun saya,sudah begitu busnya terjebak macet. Terpaksa lari sampai kantor," jelas Milu.

"Memangnya kamu gak bawa handphone untuk lihat jam?" tanya saya.

"Bawa, tapi gak sempat lihatnya. Jam tangan juga ketinggalan," jawab Milu.

"Yaudah sana absen, nanti malah terlambat kebanyakan ngobrol," ujar Lisa.

"Iya, saya langsung bersihin lantai dua ya. Kita bagi tugas, biar cepat selesai." Seru Milu langsung berlari meninggalkan kami berdua. Saya dan Lisa menggeleng melihat tingkahnya, hampir setiap hari Milu selalu saja datang diakhir waktu. Dan tak jarang ia terlambat.

Cleaning service di Perusahaan ini ada 25 orang, 15 pria dan 10 wanita. Setiap lantai dibagi menjadi dua orang, terkadang tiga orang. Tergantung kesulitan pekerjaannya. Kami semua bergantian membersihkan lantai, terkadang saya juga membersihkan lantai lainnya.

Semua pekerjaan sudah kami lakukan, tinggal istirahat makan siang. Lalu pekerjaan lainnya kami lanjutkan setelah istirahat, shalat, dan makan. Seperti biasa, makanan para pekerja sudah di siapkan di kantin. Para pekerja tinggal mengantre untuk mendapatkan makan siang. Ada petugas yang menuangkan nasi beserta lauk pauknya untuk kami. Setelah mengantre, saya, Milu dan Lisa mencari tempat duduk dan makan di meja yang sama.

Terpopuler

Comments

Anonymous

Anonymous

Awas! Nanti pasti ini cowok makin jahat! Itu kamuflasenya.

2024-08-31

2

lihat semua
Episodes
1 AWAL DARI KESENGSARAAN.
2 TANGAN BERBULU.
3 SALING MENGANCAM.
4 PENASARAN.
5 DILEPASKAN.
6 SEMBUNYI DI RUMAH LISA.
7 MEMANTAU DAN MENJAGA.
8 TATA CARA MINUM.
9 Memantau Mobil.
10 LISA MENGAMUK!
11 WARUNG KURANG AJAR!
12 SUARA MENGEJUTKAN!
13 DENGAN PENULIS NURUL NUHANA.
14 MONYET YANG SEBENARNYA!
15 PRIA DI BAWAH LANGIT JAKARTA.
16 SAHABAT SMA.
17 DENGAN PENULIS NURUL NUHANA.
18 MUNTAH!
19 MEMINJAM TELEPON GENGGAM.
20 MASAKAN YANG LEZAT.
21 UGAL-UGALAN YANG MENGANCAM NYAWA!
22 LARI DARI KEJARAN TITAN.
23 PERLAWANAN SENGIT MENUJU KEMATIAN.
24 DIBEKAP DAN DIBORGOL DI MOBIL.
25 ADIK YANG GILA.
26 DILECEHKAN RIKO!
27 DITOLONG PRIA MISTERIUS ITU.
28 BERSEMBUNYI BERSAMA SINGA.
29 SAYA BUKAN PELACUR!
30 BERBOHONG DEMI RIKO!
31 ANCAMAN UNTUK BERDAMAI.
32 BERSENANDUNG DALAM KETENANGAN.
33 TERKEPUNG GEROMBOLAN PRIA JAHAT!
34 PENEMBAKAN DAN MEMBUNUH GEROMBOLAN MUSUH!
35 DENGAN PENULIS NURUL NUHANA.
36 HANS KHAWATIR.
37 MENGOBATI LUKA MONA.
38 MENERIMA AMUKAN MONA!
39 HAMPIR KECELAKAAN.
40 MONA KEMBALI TANTRUM.
41 KAMAR MEWAH.
42 KENAPA HOTEL DI TENGAH HUTAN? HOTEL YANG MENCURIGAKAN!
43 MINUM SUSU PENENANG KESEDIHAN.
44 DIMARAHIN KARENA SARAPAN.
45 SIAPA YANG PELAKU DAN KORBAN? BENARKAH HANS PELAKU PEMERKOSAAN?
46 DENGAN PENULIS NURUL NUHANA.
47 MENUNTUT BUKTI.
48 BUKTI DIBERIKAN DENGAN DERAI AIR MATA.
49 MEMBERI PERINGATAN KEPADA PRIA MISTERIUS ITU.
50 DENGAN PENULIS NURUL NUHANA.
51 MINUM OBAT.
52 MENAHAN MALU.
53 DENGAN PENULIS NURUL NUHANA.
54 AFIRMASI POSITIF.
55 EMOSI DI PAGI HARI.
56 SARAPAN DENGAN DEBAT.
57 MENJADI SESEORANG YANG TAK DIANGGAP.
58 RUANGAN INDAH YANG MEMBUAT TAKJUB.
59 PINTU APA ITU? PINTU AJAIB?
60 UJUNG KORIDOR PERSIMPANGAN.
61 MOBIL GANTUNG.
Episodes

Updated 61 Episodes

1
AWAL DARI KESENGSARAAN.
2
TANGAN BERBULU.
3
SALING MENGANCAM.
4
PENASARAN.
5
DILEPASKAN.
6
SEMBUNYI DI RUMAH LISA.
7
MEMANTAU DAN MENJAGA.
8
TATA CARA MINUM.
9
Memantau Mobil.
10
LISA MENGAMUK!
11
WARUNG KURANG AJAR!
12
SUARA MENGEJUTKAN!
13
DENGAN PENULIS NURUL NUHANA.
14
MONYET YANG SEBENARNYA!
15
PRIA DI BAWAH LANGIT JAKARTA.
16
SAHABAT SMA.
17
DENGAN PENULIS NURUL NUHANA.
18
MUNTAH!
19
MEMINJAM TELEPON GENGGAM.
20
MASAKAN YANG LEZAT.
21
UGAL-UGALAN YANG MENGANCAM NYAWA!
22
LARI DARI KEJARAN TITAN.
23
PERLAWANAN SENGIT MENUJU KEMATIAN.
24
DIBEKAP DAN DIBORGOL DI MOBIL.
25
ADIK YANG GILA.
26
DILECEHKAN RIKO!
27
DITOLONG PRIA MISTERIUS ITU.
28
BERSEMBUNYI BERSAMA SINGA.
29
SAYA BUKAN PELACUR!
30
BERBOHONG DEMI RIKO!
31
ANCAMAN UNTUK BERDAMAI.
32
BERSENANDUNG DALAM KETENANGAN.
33
TERKEPUNG GEROMBOLAN PRIA JAHAT!
34
PENEMBAKAN DAN MEMBUNUH GEROMBOLAN MUSUH!
35
DENGAN PENULIS NURUL NUHANA.
36
HANS KHAWATIR.
37
MENGOBATI LUKA MONA.
38
MENERIMA AMUKAN MONA!
39
HAMPIR KECELAKAAN.
40
MONA KEMBALI TANTRUM.
41
KAMAR MEWAH.
42
KENAPA HOTEL DI TENGAH HUTAN? HOTEL YANG MENCURIGAKAN!
43
MINUM SUSU PENENANG KESEDIHAN.
44
DIMARAHIN KARENA SARAPAN.
45
SIAPA YANG PELAKU DAN KORBAN? BENARKAH HANS PELAKU PEMERKOSAAN?
46
DENGAN PENULIS NURUL NUHANA.
47
MENUNTUT BUKTI.
48
BUKTI DIBERIKAN DENGAN DERAI AIR MATA.
49
MEMBERI PERINGATAN KEPADA PRIA MISTERIUS ITU.
50
DENGAN PENULIS NURUL NUHANA.
51
MINUM OBAT.
52
MENAHAN MALU.
53
DENGAN PENULIS NURUL NUHANA.
54
AFIRMASI POSITIF.
55
EMOSI DI PAGI HARI.
56
SARAPAN DENGAN DEBAT.
57
MENJADI SESEORANG YANG TAK DIANGGAP.
58
RUANGAN INDAH YANG MEMBUAT TAKJUB.
59
PINTU APA ITU? PINTU AJAIB?
60
UJUNG KORIDOR PERSIMPANGAN.
61
MOBIL GANTUNG.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!