"Kenapa kamu menyuruh saya diam, sementara saya sedang memberitahu jawaban atas kebingunganmu," ujarnya.
"Kembalikan!" pinta saya sambil menyodorkan tangan.
"Tidak mau, barusan kamu membentak saya," tolaknya.
Saya baru ingat, tadi ia mengatakan kepada saya untuk meminta kunci itu dengan sopan, saya harus menurutinya.
"Saya mohon, kembalikan kuncinya," mohon saya melirih.
"Tidak mau. Saya sudah berubah pikiran," jawabnya tak peduli.
"Kalau kamu tidak mau, saya akan teriak!" peringatan saya.
Pria itu tersenyum kecut, wajahnya benar-benar seperti psikopat. Lalu ia mengatakan,"Lakukan saja. Kita memiliki banyak bukti foto telanjangmu."
"Kenapa kamu melakukan itu? Padahal tadi kamu bilang, kamu tidak melakukan hal senonoh kepada saya. Lalu apa itu, kamu memotret tubuh saya yang tanpa busana!" ujar saya menangis.
"Saya hanya membohongimu, agar kamu tenang," jawabnya santai.
"Kamu saja yang terlalu pulas tertidur, sehingga tidak sadar saya sedang bergerilya di tubuhmu. Jadi itu bukan salah saya," serunya membela diri, namun sangat terdengar licik.
"Biadab!" maki saya.
"Terserah, saya hanya ingin berkunjung. Kebetulan saja kamu sedang tertidur nyenyak. Apa salahnya saya ikut tidur denganmu," serunya tak tahu malu.
"Dasar brengsek! Tidak tahu malu!" maki saya.
"Kamu masih membela diri dengan alasanmu yang kriminalitas dan mesum itu!" teriak saya.
"Tsttt ...," pria itu mengode diam dengan jari telunjuk kirinya di depan bibir.
"Jangan berisik, atau kamu mau saya lebih krminal dari ini?" tanyanya menekan.
Saya menghapus air mata, saya harus tenang. Pria ini harus dilawan dengan ketenangan dan lembut. Itu yang berulang kali ia katakan, dan ini demi keselamatan saya.
"Apa maumu?" tanya saya dengan tenang.
"Berkunjung." Jawabnya, lagi-lagi alasan yang sama dan terdengar memuakkan.
"Untuk apa?" tanya saya.
"Berkenalan denganmu," jawabnya sambil meletakkan senter ke atas kasur.
"Saya sudah memberikan nomor telepon kepadamu, kenapa harus senekat ini. Kamu bisa menghubungi saya melalui handphone jika ingin berkenalan," jelas saya tegas.
"Tidak mau. Saya ingin berkenalan secara langsung denganmu," tangkasnya.
Pria ini benar-benar kriminal. Saya menyesal menolongnya tadi. Andai saya tahu ini semua akan berakhir seperti ini, tidak akan mau saya menolongnya.
"Kriminal sepertimu memang tidak sepantasnya ditolong!" cela saya.
"Terima kasih atas bantuanmu. Saya hanya penasaran dengan kamu, itu saja. Tapi memang cara saya sedikit kriminal," pungkasnya.
"Sedikit? Kalau yang kamu lakukan ini sedikit, lantas yang banyak seperti apa?" tanya saya mencecar.
Benar-benar tidak habis pikir, aksi gila seperti ini masih dibilang sedikit kriminal. Lalu bagaimana yang banyak kriminal?
"Kamu pasti sudah sering melakukannya kan!" cecar saya.
"Kamu banyak sekali bertanya, jangan mencecar saya seperti itu," balasnya.
"Duduklah dengan tenang, lalu kita akan mengobrol dengan santai," bujuknya.
"Santai? Gadis yang kamu sandra di rumahnya sendiri, lalu kamu suruh untuk tenang?" tanya saya geram.
"Gila kamu ya!" maki saya.
Pria itu terlihat menahan emosinya, saya sedikit takut melihat ekspresi dinginnya. Saya juga takut pria ini tiba-tiba melakukan serangan nekat.
"Duduklah, jangan sampai saya kasar denganmu!" tegasnya menatap tajam.
Aura wajah dan tatapannya berubah menjadi dingin dan kejam. Suara beratnya tidak lagi lembut, tegas dan datar.
"Kamu tidak dengar?" tanyanya menekan melihat saya hanya diam.
"Apa saya harus menyeretmu untuk duduk di sini!" tuturnya mengerikan.
"Duduklah ...," pintanya seketika lembut.
Padahal satu detik yang lalu suaranya meninggi dan tegas, kenapa bisa langsung berubah menjadi lembut begitu. Benar-benar pria yang aneh dan sulit ditebak. Saya harus terus waspada.
"Duduklah di sini ...," pintanya menepuk kasur di samping kanannya.
"Tidak mau ...," tolak saya lirih.
"Kenapa tidak mau?" tanyanya.
Saya diam tidak menjawab. Saya gemetar sambil terus memilin jari-jemari yang basah akan keringat. Bahkan melihat wajahnya saja, saya takut.
Pria itu berjalan mendekati saya, saya langsung mundur dan mentok ke dinding. Tangan saya bersiaga melindungi dada. Mata saya terpejam dan menunduk saking ketakutannya.
Napas pria ini berdesir menghembus pucuk kepala saya. Tubuh tinggi dan tegapnya semakin membuat tubuh kecil saya terintimidasi.
Pria ini berkata dengan lembut seraya tangan kanannya menangkup wajah saya,"Saya tidak akan menyakiti kamu. Jangan takut."
Saya tetap gemetar ketakutan dan tak mau melihatnya. Bahkan tubuh saya membeku, tak bisa berkutik sedikitpun. Mau berteriak pun rasanya lidah ini kelu.
"Siapa nama kamu?" tanyanya lembut.
Ibu jarinya membelai pipi saya yang mendongak, namun saya tetap diam tanpa melakukan apapun. Saya benar-benar ketakutan, walaupun sebelumnya sempat memberanikan diri untuk melawannya. Ditambah, saya takut akan ancaman foto dan video telanjang saya. Saya takut pria ini menyebarkannya.
"Jawablah," pintanya.
"J-Jala ...," jawab saya berbohong.
"Nama yang bagus Mona," pujinya.
Deg!
Apa katanya, Mona? Darimana pria ini tahu nama saya? Berarti pertanyaan tadi adalah pertanyaan jebakan.
"Kenapa berbohong?" tanyanya.
"Tidak perlu berbohong, kamu sudah dua kali membohongi saya. Pertama kamu bilang, orang tuamu sedang tidak ada di rumah, nyatanya orang tuamu sudah meninggal." jelasnya membuat mata saya langsung melotot menatapnya.
"Darimana kamu tahu?" tanya saya.
"Dari tetanggamu," jawabnya tetap tersenyum, tidak merespon tatapan melotot saya.
"Jangan ganggu saya, ambil apapun yang kamu mau dari rumah ini. Dan berjanjilah jangan pernah mengganggu saya lagi!" ujar saya seraya mendorong dadanya.
Pria itu tertawa dan langsung memeluk tubuh saya dengan erat sambil berbisik di telinga kiri,"Kalau saya mau kamu, bagaimana?"
"Ambil barang apapun, dan jangan ganggu saya!" teriak saya sambil terus berusaha kabur dari pelukannya.
"Saya mau kamu, saya tidak mau barang apapun di rumahmu ini," tolaknya.
"Jangan saya!" tukas saya.
"Saya tetap mau kamu," kelakarnya dan tiba-tiba menggelitiki perut saya.
"Ark!" jerit saya merasa geli.
"Jangan!" mohon saya.
"Berhenti?" mohon saya.
"Saya mau kamu, Mona ...," ucapnya terus tertawa dan menggelitiki.
Saya merasakan geli, namun tidak ikut tertawa bersamanya. Ini benar-benar tidak lucu, kelakuannya seperti anak kecil.
"Berhenti Brengsek!" Umpat saya.
"Plak!"
Satu tamparan keras berhasil saya daratkan di pipi kirinya. Pria itu sontak terdiam sambil memegang pipinya. Senyum menyungging terukir di sudut bibirnya. Sementara saya spontan melindungi diri, bersiaga melindungi diri. Napas saya semakin memburu dan keringat terus menetes di sekujur tubuh.
Pria itu kemudian menatap saya dengan tersenyum, namun tatapannya seakan membunuh. Dan tiba-tiba saja tangan kanannya meremas lengan kiri saya dengan sangat kuat, tangan yang saya buat benteng perlindungan berhasil ia singkirkan dengan mudah.
"Ark!" saya menjerit merasakan sakitnya lengan saya.
"Lepaskan, sakit!" mohon saya sembari menyingkirkan tangannya.
Pria itu terus tersenyum dan menatap dengan tajam. Wajahnya benar-benar seperti psikopat yang saya tonton di film. Kenapa saya juga harus mengalami apa yang pemeran film alami. Saya tidak mau berurusan dengan kriminal apalagi psikopat.
"Lepaskan!" pinta saya terus mencakar lengannya.
"Arh!" jerit saya ketika pria ini semakin memperkuat remasannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
Anonymous
Psikopat sih ini cowok!/Angry/
2024-08-31
2