Bab 5

“ Maaf, apa aku boleh tanya masalah pribadi tidak? “ tiba-tiba di tengah perbincangan, Erwin berkata.

“ Pertanyaan apa dulu, kak, kok sepertinya resmi sekali. Jika masih bisa ku jawab, pasti akan ku jawab. “ ucap Lia.

“ Kamu kok sendirian ke sini. Di mana suami dan anakmu? “ tanya Erwin sambil melihat ke sekeliling.

Erwin mengira Lia sudah menikah karna menurutnya usia Lia sudah pantas untuk menikah karna Erwin pun sudah menikah.

“ He..he..he.. Aku tampak sudah tua ya sehingga kelihatan sudah punya suami. “ tanya Lia sambil tertawa kecil.

“ Bukan begitu, aku hanya bertanya saja karna teman-teman kita di sini biasanya seusia kita sudah menikah. “ jawab Erwin.

“ Aku belum menikah, kak. Mungkin belum ketemu jodohnya. Jodohnya mau ngajak main petak umpet dulu kayaknya “ jawab Lia sambil memandang hamparan laut yang luas di depannya.

“ Kamu ini ada-ada saja. Masa jodoh lagi bersembunyi. Tapi maaf ya jika pertanyaanku membuatmu sedih. “ ucap Erwin.

“ Gak apa-apa kok, kak, santai saja. Aku juga sudah mulai terbiasa kok menghadapi hal seperti itu, apalagi jika ada acara keluarga. Kapan nikah, pasti itu pertanyaan ibu-ibu apalagi jika punya anak perempuan yang sudah menikah. “ ujar Lia.

" Untung kemarin tidak ada yang memperhatikanku jadi pertanyaan julid itu tidak muncul dari ucapan para ibu yang kadang sok kenal sok dekat. " lanjut Lia.

“ Aku doakan semoga kamu cepat dapat jodoh ya. Coba kamu tidak merantau terlalu lama, mungkin kita bisa berjodoh. “ ucap Erwin sambil bergurau.

“ Itu berarti kita tidak berjodoh, kak, makanya takdirku setelah tamat kemarin, aku melanjutkan pendidikanku ke Jakarta. Terus cari kerja di sana dan.syukurnya dapat pekerjaan yang baik. Jadi keterusan deh tinggal di sana. “ jawab Lia.

" Aku juga dulu pernah tinggal di Jakarta. Aku sekolah di sana dan sempat bekerja di sana. Tapi setelah tiga tahun bekerja, orang tuaku meminta ku untuk kembali agar ada yang menemani hari tua mereka. Kebetulan saat itu ada lowongan kerja di sini. Jadi deh aku di sini sampai sekarang. " jelas Erwin.

Karena percakapan mereka sudah cukup lama, akhirnya Lia pamit pulang. Ia merasa tak enak jika dilihat orang, dia hanya berdua berbincang dengan laki-laki yang sudah beristri, takut ada yang salah menilai. Ini kota kecil, penilaian masyarakat di sini berbeda dengan kota besar yang lebih berlaku cuek pada keadaan sekitar dan tidak terlalu mencampuri urusan orang lain karena kesibukan masing-masing. Penglihatan dan penilaian orang mana bisa kita yang mengatur.

“ Aku pulang dulu ya, kak. Terima kasih atas waktunya. Salam untuk istrimu. “ ujar Lia sambil pamit berlalu meninggalkan Erwin.

“ Kamu orang yang terlalu menutup diri Lia. Coba hilangkan rasa tidak percaya dirimu jika berhadapan dengan laki-laki, pasti kamu bisa membuka dirimu. “ ucap Erwin dalam hati sambil pergi juga meninggalkan pantai itu.

Dengan kesendirian Lia saat ini, banyak yang mengira ia menutup dirinya agar tidak menjalin hubungan dengan laki-laki. Dan juga menilai Lia terlalu memilih karna status Lia sebagai orang kantoran. Padahal itu semua tidaklah benar.

Jodoh, kita manusia tak akan tahu, siapa yang terpilih menjadi pendamping hidup kita sampai akhir usia kita. Bahkan ada yang kadang menyangka dapat menikah sekali seumur hidup, pada kenyataannya harus berpisah karna jodohnya tidak panjang. Ada yang menikah karna keduanya saling mencintai. Tapi ada juga yang menikah karna perjodohan. Dalam perjodohan, ada yang akhirnya keduanya bisa saling mencintai seiring berjalannya waktu. Ada juga yang merasa bertepuk sebelah tangan.

Memang lebih baik di cintai dari pada mencintai. Tapi lebih baik lagi jika keduanya saling mencintai dan tidak pernah mengkhianati janji suci yang telah diucapkan.

Kadang manusia melihat rumput tetangga lebih menarik jika setelah sekian lama berumah tangga, terjadi perubahan pada pasangannya terutama perubahan bentuk fisik.

Kini saatnya tiba, Lia harus kembali ke Jakarta untuk menghadapi rutinitasnya sehari-hari.

“ Aku pamit pulang ya, mama papa. Doakan selalu yang terbaik untukku. Maaf aku belum bisa membahagiakan papa dan mama sampai saat ini. “ pamit Lia pada mama Lina dan papa Leo.

“ Hati-hati di jalan ya. Masalah itu jangan terlalu kau pikirkan. Nanti ada saatnya. Yang penting kau sehat tidak kurang suatu apapun dan pekerjaanmu baik “ ucap mama Lina.

“ Jaga kesehatanmu, jangan hanya pekerjaan yang kau urusi terus, harus ada istirahatnya. “ ujar papa Leo melanjutkan ucapan istrinya pada Lia.

“ Segera beri kabar bahagia ya kak. “ lanjut si bungsu sambil membantu mengangkat tas Lia ke mobil.

“ Kalau itu, doakan lah, dek “ jawab Lia.

“ Aku pamit ya. “ ucap Lia sambil memeluk kedua orang tuanya kemudian berlalu menuju mobil yang mengantarnya ke bandara untuk kembali ke Jakarta.

Keesokan harinya, Lia berencana hanya akan diam di kontrakannya saja karna besok dia baru masuk kerja. Ia berencana ingin mengistrahatkan badannya sehabis liburan kemarin.

Awalnya ia membuka laptopnya untuk melihat apa ada pekerjaan yang di kirim ke emailnya dan melihat apa pekerjaanya besok. Setelah selesai berkutat dengan laptopnya, kini ia mengutak atik ponselnya. Ia iseng mengamati beberapa status temannya di sosial media.

Ada yang sedang berkeluh kesah dengan keadaan yang di hadapi, ada yang sedang menyampaikan berita sukacita, ada yang sedang menawarkan sesuatu dan masih banyak aktifitas lainnya.

Begitulah Lia, ia tidak aktif di sosial media, hanya untuk keisengannya saja melihat keadaan orang lain tanpa mengomentarinya.

Kemudian ia pergi ke dapur untuk melihat apa yang bisa diolah untuk jadi makan siangnya.

Ketika ia membuka lemari stok kebutuhan bulanannya, ternyata ada beberapa barang yang sudah habis.

“ Aku sebaiknya ke supermarket aja kali, mumpung libur. Sekali-sekali sekalian sambil makan di sana dan sambil cuci mata. “ ujar Lia dalam hati.

Kemudian Lia pun berangkat menuju mall yang ada supermarketnya di dekat kontrakannya. Setibanya di sana, dia mulai memilih barang yang ia butuhkan sambil melihat catatan yang tadi sudah disiapkannya. Ia jarang sekali membeli barang yang kurang ada manfaatnya bagi dia.

Setelah berbelanja, Lia berencana mampir ke food court untuk makan siang.

" Mari kita sekali-sekali makan di mall. " ucapnya dalam hati.

Ketika sedang berjalan menuju arena food court, tiba-tiba ada yang memanggilnya.

“ Lia..Lia...” teriak suara itu memanggilnya.

Kemudian Lia pun mencari sumber suara tersebut. Ternyata yang memanggil adalah Jeni, teman sekantornya yang sekarang di tugas kan di cabang perusahaan.

Apa pertemuan Lia dan Jeni yang tak terduga dapat membawa hal yang tak terduga juga pada kehidupan Lia ???

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!