Tak terasa waktu berjalan begitu saja, tanpa ada yang berubah pada Lia. Ia masih saja sibuk dengan dunia kerjanya. Setiap hari bertemankan laporan kerja.
Seminggu lagi Lia akan cuti selama tiga hari, untuk menghadiri acara pernikahan sepupunya. Ia akan pulang kampung ke kota Tanjung. Selain menghadiri pernikahan sepupunya, ia juga sekalian mengunjungi kedua orang tua dan adiknya.
Ketika waktu istirahat siang tiba, Lia yang baru saja menyelesaikan makan siangnya, menelepon sepupunya.
Tut...tut...tut...
" Halo, iya Lia. " jawab Diana.
" Iya kak, aku hanya ingin mengabarkan bahwa aku akan pulang. Kita bersama sejak kecil, kak, jadi aku mau menghadirinya. Aku berangkat hari kamis dengan penerbangan terakhir malam pukul delapan dari Jakarta. " jawab Lia.
“ Baik Lia, terima kasih atas infonya. Tapi maaf sebelumnya, apa kamu ada waktu, ada yang ingin ku bicarakan. " ucap Diana.
" Tidak mengganggu kak, ini sedang waktu istirahat siang. " jawab Lia.
" Bolehkah aku minta tolong padamu? “ tanya Diana.
“ Ada apa kak, jika dapat aku tolong, akan kuusahakan. “ jawab Lia.
“ Begini Lia, aku mohon agar kau mau menjadi pendamping pengantinku nanti, karna teman yang tadinya aku minta tolong, mendadak ada tugas dari kantornya keluar kota, jadi pada hari H ia tidak ada di sini. Gimana, apa kau bersedia? “ tanya Diana.
Sejenak Lia berpikir.
“ Tapi aku tidak pernah punya pengalaman menjadi pendamping pengantin, kak. Apa nanti tidak takut terjadi kesalahan? “ ujar Lia.
“ Tidak apa-apa dek, nanti kita sama-sama belajar, apa saja yang harus kamu lakukan, itu tidak susah kok. “ jawab Diana.
“ Baiklah kak, demi kelancaran acara kakak, aku bersedia menjadi pendamping pengantinmu, akan ku usahakan semaksimal mungkin. “ ujar Lia.
“ Terima kasih banyak ya, dek. Nanti kirim saja jadwal penerbanganmu, agar di atur siapa yang menjemputmu di bandara. “ ucap Diana.
“ Ok kak, tapi nanti aku akan di jemput si bungsu karna kepulanganku akan ku beri tahu pada mama. " ucap Lia.
" Sudah ya kak karna aku sudah mau kerja lagi. “ lanjut Siska mengakhiri percakapan dan menutup telponnya.
“ Huh.. apa yang harus ku lakukan nanti ya? “ tanya Lia dalam hati sambil memikirkan permintaan Diana tadi.
Akhirnya Lia pun melanjutkan pekerjaannya sambil memikirkan cara mendapatkan informasi tentang pendamping pengantin. Sejenak ia ingin mencari tahu pada sumber informasi di internet tapi karena sibuk pada pekerjaannya, sehingga ia lupa akan hal itu.
Malam hari, setelah Lia membersihkan diri dan makan malam setelah pulang dari kantor, dia akhirnya menelepon mamanya.
Tut...tut...tut..
“ Iya nak, apa kabarmu? “ jawab bu Lina, mamanya Lia.
“ Aku baik-baik saja, mama. Rencana kamis aku akan pulang untuk acara kak Diana. “ jawab Lia.
" Akhirnya kau jadi pulang, nak. " ucap mama Lina.
“ Tapi tadi kak Diana telpon, ia meminta aku untuk menjadi pendamping pengantinnya, ma. “ lanjut Lia.
“ Oh... jadi kamu yang akan menjadi pendamping pengantin kakakmu nanti. Kemarin tantemu memang sempat bercerita bahwa kakakmu sedang risau, temannya mendadak dapat tugas ke luar kota. Apa ada masalah, nak? “ tanya bu Lina.
“ Iya mama, aku kan belum pernah menjadi pendamping pengantin. Kira-kira, apa saja ya mama yang harus kita lakukan? “ tanya Lia.
“ Oh.. tentang hal itu, kamu hanya harus memastikan segala keperluan pengantin perempuan selama acara pemberkatan agar tidak kurang sesuatu apa pun, seperti cincin nikah. Biasanya mempelai perempuan akan menitipkan itu pada pendamping pengantinnya ketika akan berangkat dari rumah. Nanti saat akan pemberkatan, kau berikan cincin itu pada pengantin wanita. Setelah selesai pemberkatan itu, tugasmu selesai. Di acara resepsi nanti sudah ada WO yang mengkoordinasi acara. “ jelas mama Lina.
“ Terima kasih ya mama atas penjelasannya. Sekarang aku sudah mengerti. Jadi enak nanti pada saat acara, aku tidak bingung. Aku pulang kamis malam ya mama, minta tolong si bungsu nanti menjemput, aku juga sudah memberi info pada kak Diana tadi. “ ujar Lia.
“ Baik nak, nanti mama info kan ke si bungsu dan Diana. Jaga kesehatanmu, ya. “ jawab mama Lina.
“ Ok mama, aku tutup dulu ya. Selamat istirahat. “ ujar Lia sambil menutup telpon mengakhiri percakapan dengan mamanya.
“ Hah... akhirnya ketemu solusinya. Aku bisa tenang tidur malam ini. “ ucap Lia dalam hati kemudian tidur menuju mimpi.
Akhirnya, kamis pun tiba. Hari ini Lia pulang kerja tepat waktu karna ia akan pulang kampung. Ia juga sudah menyelesaikan pekerjaannya untuk laporan besok dan sudah ia serahkan pada pak Rudi tadi sekalian izin cuti jumat besok dan senin nanti.
“ Kris, aku pulang dulu ya. ‘ pamit Lia pada Krisa.
“ Eh... tumben pulang on time nih. “ tanya Krisa.yang sedang menunggu jemputan calon suaminya.
“ Besok aku akan cuti dua hari, jadi boleh dong pulang sesuai aturan jam kerja yang berlaku. “ jawab Lia sambil tersenyum.
“ Gaya mu itu Lia, seperti karyawan teladan.Tapi jangan lupa oleh-oleh ya. “ ujar Krisa.
“ Gampang la itu. Tapi jangan rindukan diriku ya, karna rindu itu berat dan takutnya mas Fenri mu cemburu. " ujar Lia bercanda.
" Oala..siapa juga yang rindu dirimu, tak sudi la yo. Ada mas Fenri yang patut dirindukan. " timpal Krisa.
" Tapi semoga di sana kamu nanti ketemu calon ya, siapa tahu teman SMP atau SMA. " ucap Krisa.
" Kalo teman TK atau SD gimana. " Lia menimpali candaan Krisa.
" Iya kalo masih ingat sama kamu. Yang dulu kamu imut-imut tapi sekarang jadi amit-amit. " timpal Krisa.
" Ya sudah, kita lihat nanti aja ya. Semoga harapanmu bisa terjadi. Aku duluan, met menunggu pangeran berkuda besimu. “ pamit Lia meninggalkan Krisa.
Lia melangkah menuju kontrakannya untuk mengambil koper dan bersiap menuju bandara. Sampai di kontrakannya, ia sedikit berberes merapikan dapur agak saat pulang nanti, semua terlihat bersih dan rapi.
Setelah semuanya beres, Lia segera mandi dan berkemas untuk pergi. Kemudian ia memesan taxi online yang akan mengantarnya ke bandara.
Hari sudah malam tapi suasana bandara masih ramai. Sambil menunggu waktunya naik ke pesawat, Lia memainkan ponselnya. Ia sibuk memandangi status teman-temannya.
Ada rasa gelisah di hati Lia ketika menemukan beberapa temannya sekolah memajang foto anak mereka.
Sebenarnya terkadang ia malas untuk pulang kampung karna akan timbul pertanyaan dari siapa saja saat bertemu dengannya.
" Kapan nikah? " itu adalah pertanyaan yang menurut Lia terlalu basa basi untuk mencampuri pribadi orang lain.
Sekarang panggilan menaiki pesawat sudah terdengar. Ia bergegas antri untuk memasuki pesawat.
Akhirnya Lia pun tiba di kampung halamannya, tiba di rumah dengan baik setelah tadi di jemput si bungsu di bandara.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
santhylidia
terimakasih atas support nya /Pray/
2024-08-13
1
✿ O T A K U ✿ᴳᴵᴿᴸ࿐
Menunggu ceritamu menjadi terkenal di seluruh dunia, semangat terus thor! 💪
2024-08-13
2