Khodam Junik

Jonathan dan Patricia masih merasakan getirnya kekalahan mental yang mereka alami beberapa hari lalu saat berhadapan dengan Junik, si selebjin. Mereka masih teringat betapa mudahnya Junik menghancurkan mereka dengan kata-katanya yang tajam dan penuh keyakinan. Namun, mereka tidak mau menyerah begitu saja. Kali ini, mereka membawa bala bantuan—Lediana, ibu Patricia, yang dikenal dengan keberaniannya.

Lediana tidak terima putrinya dipermalukan dan diolok-olok oleh tetangga mereka. Ia bertekad untuk memberi pelajaran pada Junik. "Kita harus meluruskannya! Dia tidak bisa seenaknya merendahkan kita," kata Lediana dengan suara penuh tekad.

Jonathan dan Patricia mengangguk setuju. Mereka bertiga berjalan dengan langkah pasti menuju rumah Junik yang berada di sebelah kanan rumah mereka. Di dalam hati, mereka berharap kali ini bisa memenangkan pertempuran mental yang sangat penting ini.

Saat mereka tiba di depan rumah Junik, mereka disambut dengan senyum sinis yang sudah biasa Junik tampilkan. "Kembali lagi? Belum kapok?" tanyanya dengan nada mengejek.

Lediana maju dengan penuh percaya diri. "Kau sudah terlalu jauh, Junik. Menyebarkan video dan mempermalukan keluarga kami. Aku tidak akan tinggal diam."

Junik hanya tertawa kecil. "Oh, aku hanya menunjukkan kebenaran. Bukankah itu yang selalu dikatakan oleh orang-orang baik?"

Lediana tidak terpengaruh oleh tawa Junik. "Apa yang kau lakukan bukanlah kebaikan. Kau hanya mencari sensasi dan popularitas dengan merusak nama baik orang lain."

Junik memiringkan kepalanya, seolah mempertimbangkan kata-kata Lediana. "Sensasi? Mungkin. Tapi kebenaran tetaplah kebenaran, mau kau suka atau tidak."

Jonathan merasa darahnya kembali mendidih. "Kau tidak berhak menghakimi kami. Kau tidak tahu apa-apa tentang kami."

Junik mendekatkan wajahnya, tatapannya begitu tajam dan menusuk. "Oh, aku tahu lebih banyak dari yang kalian kira. Aku tahu bahwa kalian semua berusaha menutupi keburukan dengan topeng kebaikan. Tapi topeng itu sudah kusobek, dan semua orang bisa melihat wajah aslimu."

Lediana merasa amarahnya memuncak. "Kau tidak berhak bicara seperti itu tentang keluargaku!"

Junik mengangkat tangannya, seolah meminta mereka untuk tenang. "Lediana, kau mungkin merasa sebagai ibu yang melindungi anak-anakmu. Tapi kenyataannya, kau hanya menambah masalah. Kau mendukung kebohongan dan kepalsuan."

Kata-kata itu membuat Lediana terdiam, merasakan serangan mental yang begitu kuat. Junik melanjutkan dengan nada yang lebih tegas. "Kau tidak bisa selalu melindungi mereka dari konsekuensi perbuatan mereka. Patricia adalah orang dewasa yang seharusnya bertanggung jawab atas tindakannya sendiri. Dan Jonathan, kau pikir uang dan kekuasaan bisa menyelesaikan segalanya? Kau salah besar."

Lediana merasa kakinya mulai gemetar. Ini adalah pertama kalinya dia merasakan kekuatan mental dari kata-kata Junik. Patricia dan Jonathan juga terlihat goyah. Mereka semua merasakan tekanan yang begitu kuat dari kehadiran Junik.

Junik melanjutkan dengan lebih lembut, tetapi tetap tajam. "Kalian semua harus menghadapi kenyataan. Tidak ada yang bisa melindungi kalian selamanya dari akibat perbuatan kalian sendiri. Kebenaran akan selalu menang, dan orang-orang akan melihat siapa kalian sebenarnya."

Lediana merasakan kekuatan dalam kata-kata Junik, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia merasa kalah. Dia tidak bisa membalas kata-kata Junik yang penuh keyakinan dan kebenaran. Dia melihat ke arah Patricia dan Jonathan, berharap menemukan dukungan, tetapi mereka juga terlihat hancur.

Dengan perasaan kalah, Lediana berbalik dan berjalan cepat kembali ke rumah, diikuti oleh Patricia dan Jonathan. Mereka merasa terhina, tetapi juga sadar bahwa Junik benar. Mereka tidak bisa terus bersembunyi di balik kebohongan dan topeng.

Di dalam rumah, Lediana duduk dengan wajah yang penuh kelelahan dan kesedihan. “Mama tidak tahu harus bagaimana lagi, adanya Junik sangay berbahaya disini. Bisa-bisa dia membongkar semua kebusukan kita, " katanya pelan, suaranya bergetar.

Patricia duduk di samping ibunya, menundukkan kepalanya. "Mungkin... mungkin kita memang harus menghadapi kenyataan. Tapi, Cia tidak mau kalah mah. Kita harus mencari cara untuk menghancurkan Junik sih Seleb Jin dan khodamnya, " katanya dengan suara serak.

Jonathan hanya bisa mengangguk, merasakan beban yang semakin berat di pundaknya. Mereka bertiga duduk dalam keheningan, merenungkan kata-kata Junik yang begitu tajam dan menghancurkan. Mereka tahu, mereka harus mengubah cara mereka menghadapi dunia. Tidak ada lagi tempat untuk kebohongan dan kepalsuan. Kebenaran harus dihadapi, seberat apapun itu. Dan malam itu, mereka belajar bahwa tidak ada yang bisa melawan kekuatan dari kebenaran yang sebenarnya.

“Tidak akan aku biarkan dia menghancurkan karirku, aku harus memikirkan ini dengan sangat matang ! “ kata Jonathan dalam hatinya.

*

*

*

*

Gabriel masih merajuk di sudut ruangan, wajahnya menunjukkan ketidakpuasan yang dalam. Geon dan Ganesha, kakek dan neneknya, berusaha membujuk cucu laki-laki mereka untuk berbicara. Namun, semua usaha mereka seakan sia-sia. Gabriel hanya duduk diam, menolak untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka.

"Gabriel, sayang, bicara dong sama kakek dan nenek. Apa yang kamu inginkan?" tanya Geon dengan suara lembut, berusaha menyentuh hati kecil Gabriel.

Namun, Gabriel hanya menggelengkan kepala, air mata menggenang di sudut matanya. Gama, ayah Gabriel, merasa hatinya hancur melihat putranya seperti itu. Dia melangkah mendekat, duduk di sebelah Gabriel, mencoba meraih tangannya yang kecil.

"Gabriel, Daddy di sini. Apa yang kamu mau, Nak?" tanya Gama dengan suara bergetar.

Gabriel akhirnya memandang ayahnya dengan mata penuh harap. "Daddy, Gabli mau Daddy dan Bibi Ladyboy menikah. Gabli mau kelualga na lengkap."

Gama terdiam, perasaannya campur aduk. Dia melihat ke arah Glady yang juga menatapnya dengan tatapan sendu. Situasi ini sangat rumit, apalagi rumor yang disebarkan oleh mantan istrinya membuat keadaan semakin kacau. Bagaimana mungkin mereka bisa menikah dalam keadaan seperti ini?

Geon, yang menyadari kebingungan putranya, mencoba memberikan saran. "Gama, mungkin yang terbaik adalah membereskan semua rumor itu terlebih dahulu. Jika kau bisa membersihkan namamu dan Lady hingga dapat menyelesaikan masalah ini, maka pernikahanmu dengan Lady akan lebih mudah diterima oleh masyarakat."

Ganesha mengangguk setuju. "Benar, Gama. Kita harus meluruskan semua kesalahpahaman ini dulu. Baru setelah itu, kita bisa bicara tentang pernikahan."

Gama menghela napas panjang, merasa beban di pundaknya semakin berat. Dia tahu bahwa saran ayahnya benar. Namun, melihat harapan di mata Gabriel membuatnya semakin bingung. "Tapi, bagaimana aku bisa menjelaskan ini semua kepada Gabriel? Dia masih terlalu kecil untuk memahami semua ini."

Glady, yang sejak tadi hanya diam mendengarkan, akhirnya angkat bicara. "Abang, kita harus berjuang untuk Gabriel dan Gabriella. Jika ini yang dia inginkan, kita harus mencoba. Lady siap membantumu mengatasi semua rumor itu."

Gama menatap Glady dengan penuh rasa syukur. "Terima kasih, Glady. Aku tahu ini tidak mudah untukmu."

Glady menggeleng, tersenyum kecil. "Apa pun untuk kebahagiaan Gabriel."

Gama merasa hatinya sedikit lega. Dia tahu bahwa jalan di depan masih panjang dan berliku, tetapi dengan dukungan dari keluarga, dia merasa lebih kuat. "Baiklah, aku akan mulai membereskan semua rumor itu. Kita akan meluruskan semuanya, demi Gabriel."

Geon dan Ganesha tersenyum bangga melihat tekad putra mereka. "Itulah semangat yang kami harapkan, Gama. Kami akan selalu mendukungmu."

Gabriel, yang mendengar percakapan itu, merasa sedikit lebih tenang. Dia merangkak mendekat dan memeluk ayahnya dengan erat. "Daddy, janji ya, kita akan jadi kelualga yang bahagia."

Gama membalas pelukan Gabriel, merasa hatinya menghangat. "Daddy janji, Nak. Kita akan berjuang bersama."

Dengan tekad yang baru, Gama siap menghadapi semua rintangan yang ada. Demi Gabriel, demi keluarga yang utuh dan bahagia. Dan di saat itu, dia merasa bahwa apapun yang terjadi, mereka akan mampu melewatinya bersama.

Terpopuler

Comments

LISA

LISA

Semangat y utk Gama & Lady segera luruskan rumor itu..

2024-08-08

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!