Malam itu, Patricia dan Lediana duduk di ruang tamu rumah mereka dengan ekspresi wajah yang penuh dengan niat jahat. Sejak kebohongan mereka tentang Glady menyebar dan menguasai pikiran banyak orang di komplek, mereka merasa semakin berkuasa. Namun, keberadaan Junik, seorang seleb jinjo yang sangat terkenal di media sosial, menjadi duri dalam daging mereka. Junik tidak hanya berpengaruh, tetapi juga memiliki pengikut setia yang jumlahnya sangat banyak. Terlebih lagi, Junik dikenal sering membongkar kebohongan orang-orang yang mencoba memanipulasi situasi untuk keuntungan pribadi mereka.
"Malam ini, kita akan menghancurkan Junik," ujar Patricia dengan senyum sinis di wajahnya. "Dia sudah terlalu lama merusak rencana kita."
Lediana mengangguk setuju. "Kita akan masuk ke live streaming-nya dan menuduhnya macam-macam. Dengan pengaruh kita, orang-orang pasti akan percaya pada kita, bukan padanya."
Mereka pun menyusun rencana dengan teliti, menyiapkan berbagai komentar tajam yang akan mereka lontarkan saat Junik melakukan siaran langsung di media sosialnya. Mereka yakin bahwa dengan serangan mereka yang terencana, Junik akan terpojok dan reputasinya akan hancur di depan penggemarnya sendiri.
Tak lama kemudian, Junik memulai siaran langsungnya. Dia tampak santai dan penuh percaya diri, seperti biasanya. Jumlah penontonnya langsung melonjak dalam hitungan detik, dan komentar dari penggemarnya mengalir deras, memuji penampilan dan kepiawaiannya dalam berbicara.
Patricia dan Lediana sudah menunggu momen yang tepat. Ketika Junik sedang membahas topik sensitif tentang etika dan kejujuran, Patricia langsung menulis komentar yang tajam. "Junik, siapa kamu berani bicara tentang kejujuran? Orang-orang seharusnya tahu bahwa kamu tidak lebih baik dari kami. Kamu juga sering memfitnah orang untuk mendapatkan perhatian!"
Tak mau kalah, Lediana juga menambahkan, "Junik, kamu munafik! Berhentilah berpura-pura menjadi orang suci. Semua orang tahu kamu hanya ingin membuat drama dan menguntungkan diri sendiri!"
Komentar-komentar itu segera muncul di layar, dan beberapa orang yang menontonnya mulai bereaksi. Beberapa penggemar Junik terkejut dengan tuduhan itu, namun lebih banyak lagi yang membela idola mereka. Namun, Patricia dan Lediana tidak berhenti di situ. Mereka terus menyerang, menulis komentar demi komentar dengan penuh kebencian.
Junik yang membaca komentar-komentar itu hanya tersenyum. Dia tahu siapa yang berada di balik akun-akun tersebut, dan dia tidak terkejut melihat Patricia dan Lediana mencoba menjatuhkannya. Namun, Junik tidak berniat untuk membiarkan mereka menang. Dia memutuskan untuk memutar balik keadaan dengan cara yang paling elegan.
"Dengar semua," kata Junik dengan suara tenang tapi penuh ketegasan. "Saya tahu ada orang-orang di luar sana yang tidak suka dengan apa yang saya lakukan. Mereka mencoba menjatuhkan saya dengan tuduhan palsu dan fitnah. Tapi saya ingin kalian tahu, saya tidak akan pernah menyerah pada mereka yang hanya bisa menyerang dari balik layar."
Junik lalu mengarahkan pandangannya langsung ke kamera, seolah-olah dia berbicara langsung kepada Patricia dan Lediana. "Kalau ada yang mau berbicara jujur, mari kita bicara dengan terbuka, bukan dengan fitnah. Kebenaran selalu akan menang, dan mereka yang bersembunyi di balik kebohongan, pada akhirnya akan terungkap juga."
Penggemar Junik yang mendengar kata-kata itu langsung bereaksi. Alih-alih terpengaruh oleh komentar Patricia dan Lediana, mereka malah semakin mendukung Junik. Dalam hitungan detik, kolom komentar langsung dipenuhi dengan dukungan untuk Junik dan serangan balik terhadap Patricia dan Lediana.
"Junik tidak pernah memfitnah siapapun, dia hanya membongkar kebenaran!" tulis salah satu penggemarnya.
"Siapa kalian berani-beraninya menuduh Junik tanpa bukti? Kalianlah yang munafik!" sahut yang lain.
Serangan balik dari penggemar Junik begitu dahsyat hingga Patricia dan Lediana tidak mampu mengendalikannya. Setiap kata yang mereka lontarkan malah menjadi bumerang yang menyerang balik ke arah mereka dengan kekuatan yang lebih besar.
"Dasar pencari perhatian! Kami tahu kalian hanya ingin menghancurkan Junik karena dia mengungkap kebohongan kalian!" seorang penggemar Junik berteriak melalui komentarnya.
“Huuu, caperrrrrrr !! “ sorak yang lainnya.
Patricia yang awalnya penuh percaya diri mulai merasa panik. Dia tidak menyangka bahwa serangannya akan dibalas dengan begitu keras. "Apa yang harus kita lakukan?" bisiknya pada Lediana, yang juga mulai kehilangan kata-kata.
"Kita tidak bisa kalah di sini," jawab Lediana dengan suara bergetar. "Kita harus terus menyerang, jangan sampai mereka berpikir kita takut."
Namun, setiap komentar yang mereka kirim hanya membuat situasi semakin buruk. Para penggemar Junik tidak memberikan mereka kesempatan untuk menarik napas. Mereka terus mengirimkan komentar-komentar pedas yang mempermalukan Patricia dan Lediana di depan ribuan penonton.
"Kalian pikir bisa menjatuhkan Junik? Salah besar! Kalianlah yang akan hancur!" tulis seorang penggemar lainnya dengan penuh semangat.
Junik, yang sejak awal sudah siap dengan segala kemungkinan, hanya duduk santai di depan kameranya sambil tersenyum puas. Dia tahu bahwa apa yang terjadi sekarang adalah hasil dari niat jahat Patricia dan Lediana yang berbalik menjadi senjata makan tuan. Mereka mungkin berpikir bisa menghancurkannya, tapi mereka lupa bahwa kebenaran dan dukungan penggemar adalah kekuatan yang jauh lebih besar dari fitnah murahan.
“Hehe, semangat dong buat kalian yang ingin menjatuhkan aku. Tapi kita lihat siapa yang akan kalah malam ini ! “ ucapnya tersenyum dalam hati saat melihat beberapa komentar negatif yang menyerang dirinya.
Patricia dan Lediana tidak tahu harus berbuat apa. Serangan dari penggemar Junik semakin tak terkendali, dan mereka tidak bisa lagi menahan malu. Apa yang awalnya mereka rencanakan sebagai serangan untuk merusak reputasi Junik, kini berubah menjadi bumerang yang menghantam mereka tanpa ampun.
Lediana yang biasanya keras kepala kini mulai merasa gentar. "Ah, apa kita harus berhenti,nak ? Ini tidak akan berakhir baik untuk kita."
"Tidak mah, kita tidak boleh menyerah!" Patricia berusaha menyemangati dirinya sendiri, meskipun dia tahu di dalam hatinya bahwa situasi ini sudah diluar kendali.
Namun, saat mereka kembali mencoba menulis komentar, mereka menemukan bahwa akun mereka sudah diblokir dari live streaming Junik. Ini adalah pukulan terakhir yang membuat mereka tidak bisa lagi membalas. Mereka terjebak dalam situasi yang mereka ciptakan sendiri, tanpa bisa melakukan apa-apa selain menonton kekalahan mereka yang memalukan.
Setelah live streaming berakhir, Junik menutup kameranya dan menyandarkan tubuhnya ke kursi. Dia merasa lega karena sekali lagi, dia berhasil mengatasi musuh-musuhnya tanpa harus mengotori tangannya sendiri. Kebenaran memang selalu memiliki cara untuk menang, dan kali ini, Patricia dan Lediana merasakannya dengan cara yang paling menyakitkan.
“Junik dilawan ! “ katanya bangga dan tersenyum senang karena followersnya kembali melenjit.
Sementara itu, di rumah Lediana, suasana berubah menjadi sangat tegang. Patricia yang biasanya penuh dengan rasa percaya diri kini duduk di sudut ruangan dengan wajah yang pucat dan tangan gemetar. Lediana berdiri tak jauh darinya, matanya berkaca-kaca karena malu dan takut.
"Kita harus melakukan sesuatu," bisik Lediana, suaranya penuh dengan ketidakpastian.
"Tidak ada lagi yang bisa kita lakukan, mah" jawab Patricia dengan suara lemah. "Kita kalah."
“Tidak ! Kita belum kalah, hanya saja kita kekurangan orang untuk mengalahkannya ! “ kata Lediana dengan tajam.
Kata-kata itu menggema di dalam ruangan, membawa serta kesadaran pahit bahwa mereka telah kalah dalam permainan yang mereka mulai sendiri. Mereka mencoba menggunakan kebohongan untuk menghancurkan orang lain, tapi pada akhirnya, mereka sendiri yang hancur.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Anthy Gladis Rafifah
up lagi dongg thorr
2024-08-11
0