Glady kini tengah menemani kedua keponakannya di dalam kamar Gabriel. Bocah itu kini sedang bercerita tentang kekesalannya di sekolah. Glady dengan setia mendengarkan cerita keponakannya itu, agar Gabriel tidak mendengar suara orang tuanya yang sedang bertengkar dengan keras.
Glady tahu, jika urusan seperti ini pasti kedua orang tuanya akan pasang badan. Sore itu, Glady berniat akan membawa kedua keponakannya jalan-jalan di taman terdekat. Dirinya juga malas di rumah di saat seperti ini.
“Kerjakan tugasmu, nanti kita pergi ke taman ! “ seru Glady menyenangkan hati Gabriel yang tentang badmood.
“Benel ? Jajan gondok ya ! “ pekik Gabriel semangat.
“Gondok ? “ Gabriel mengangguk kuat. “ Mana ada jajanan gondok, “ kata Glady heran.
“Iiihhh ada yaaa, jajanan gondok. Yang ici na ada mojalela ! Yang bulat panjang ada tucuk cate naaaa… “ jelas Gabriel.
“Oooo, itu corndog bukan gondok, Gabriellll.. “
“Nah, itu bibi ! Gondok nama na… “ kata Gabriel semangat.
“Serah kamu lah, ayo kerjakan. Jam empat sore kita ke taman ! “ kata Glady meminta keponakannya untuk segera menyelesaikan tugas dari guru.
Gabriel mengangguk, dia mulai mengerjakan tugasnya yang membayar hutang piutang. Glady dengan sabar menjelaskan kepada keponakannya itu mengenai pengurangan.
Lambat laun Gabriel mengerti maksud gurunya yang memakai istilah hutang dibayar tunai. Dia mengerjakannya tanpa kesusahan membuat Glady tersenyum melihat kepintaran keponakannya.
“Celecai !!! Mali kita pelgi belmain ! “ seru Gabriel senang dan langsung merapikan bukunya lalu menyimpannya di dalam tas sekolah.
“Bibi Ladyboy ayo ! “ seru Gabriel. Glady tersenyum dan mengangguk. Ketiganya pun keluar dari kamar Gabriel menuju pintu depan.
Gabriel yang mendengar suara kedua orang tuanya hanya menaikan pundaknya, lalu memasang wajah tanpa ekspresi. Glady mengira, Gabriel akan menanyakan kenapa orang tuanya bertengkar, namun saat melihat tatapan tanpa ekspresi Gabriel membuat Glady diam dan meneruskan jalan mereka.
Dengan mengendarai sepeda listriknya, Glady membawa kedua keponakannya menuju taman bermain yang tak jauh dari rumahnya. Untungnya lagi, Glady mengenakan gendongan hipseat untuk keponakan bayinya. Tak lupa sweater tebal dan topi hangat untuk Gabriella agar bayi itu tidak kedinginan.
“Udala mana kini yang kau hilup ? “ nyanyinya.
“Udara bebas ! “ seru Glady.
“Hujan dimana kini yang kau peluk ? “ lanjut Gabriel menyanyikan lirikan lagu “kota”.
“Hujan nggak bisa di peluk, bisanya dirasakan ! “ sahut Glady yang tetap fokus dengan jalannya.
Gabriel mengangguk. Dia semakin mengeratkan pegangannya , sesekali dia menyapa ibu-ibu yang bergosip ria. Glady terkekeh geli saat keponakannya itu mendapat panggilan baru yang lebih menggelikan.
Gabriel tak mau ambil pusing yang terpenting orang-orang mengenal dirinya hingga mereka berhenti di parkiran sepeda listrik. Gabriel turun lebih dulu, badannya yang sedikit gentong membuatnya kesulitan untuk turun.
“Bibi, cepeda na di tulunin dikit. Gabli nda nyampe nih kaki na.. “ kata Gabriel yang masih berusaha menjulurkan kaki kirinya ke bawah.
Glady menoleh, dia terkekeh pelan. “ Makanya panjangin tuh kaki, bukan besarin badan doang. Jadi nggak imbang ! “ seru Glady membuat Gabriel kesal, namun Glady tetap membantu keponakannya untuk turun.
Glady duduk di salah satu kursi taman, memeluk Gabriella yang tertidur di gendongannya. Udara sore yang sejuk membuat suasana taman begitu nyaman. Anak-anak bermain riang di sekitar, dan suara tawa mereka menyebar di udara. Glady tersenyum, menikmati momen kebersamaan ini.
Di kejauhan, Gabriel berlari-lari bersama teman-temannya, wajahnya berseri-seri. Dia berusia empat tahun, penuh energi dan semangat. Setiap kali melihatnya tertawa, hati Glady terasa hangat. Gabriel adalah keponakannya yang paling disayangi, dan melihatnya bahagia adalah kebahagiaan tersendiri baginya.
"Bonjen, kita naik ayunan-ayunan, yuk!" seru Gabriel kepada temannya. Mereka berdua berlomba menuju ayunan yang kosong. Glady memperhatikan dengan seksama, memastikan Gabriel selalu dalam pengawasannya.
Setelah beberapa saat bermain, Gabriel mendekati Glady dengan napas terengah-engah. "Bibi Glady, Gabli haus. Gabli mau minum dan corndog" pintanya dengan mata bersinar penuh harap.
Glady tersenyum dan mengangguk. "Tentu saja, sayang. Ayo kita beli," jawabnya sambil merapikan posisi Gabriella yang masih tertidur pulas.
Mereka berjalan menuju kios di sudut taman. Gabriel menggenggam tangan Glady erat-erat, tidak ingin terlepas. Di kios, mereka melihat berbagai macam minuman dan makanan ringan dipajang. Gabriel memilih es teh blackcurrants kesukaannya dan corndog yang terlihat begitu menggiurkan.
"Ini, teh blackcurrants dan corndog untukmu," kata penjual sambil menyerahkan pesanan mereka. Gabriel tersenyum lebar dan mengucapkan terima kasih dengan sopan.
Mereka kembali ke kursi taman, dan Gabriel duduk di sebelah Glady. Sambil menikmati corndog-nya, Gabriel bercerita tentang permainan yang dia mainkan bersama teman-teman baru yang dia temui. Glady mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali tersenyum mendengar celotehannya yang lucu.
"Bibiku paling baik," kata Gabriel tiba-tiba sambil memeluk Glady. "Telima kasih cudah ajak Gabli ke taman hali ini. Cetles na Gabli hilang seketika, uhhhh lega naaaa !! “
Glady merasa haru mendengar ucapan Gabriel. "Bibi juga senang bisa bersama kamu, sayang. Kamu anak yang luar biasa," jawabnya sambil membelai rambut Gabriel.
Sore itu, di taman yang dipenuhi tawa anak-anak dan kehangatan keluarga, Glady merasa hidupnya begitu berarti. Bersama Gabriel dan Gabriella, dia menemukan kebahagiaan dalam momen-momen sederhana. Dan disitulah, di tengah hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari, cinta dan kebersamaan menjadi harta yang paling berharga. Namun, perkataan Denis terngiang di ingatan Glady.
“Tidak mungkin aku menikahi kakak ipar hanya untuk menggantikan peran kak Cia. Papa dan mama sangat memaksaku, ada apa sebenarnya ? “
*
*
*
*
*
Malam harinya, keluarga Denis sudah duduk di meja makan. Glady masih sibuk dengan Gabriella yang rewel selama mereka makan. Gama yang melihat itu mengerutkan keningnya, bukannya istrinya yang mengasuh anak mereka kenapa sehari dia di sini lebih sering Glady yang mengasuh. Apa yang dia tidak ketahui selama ini ?.
Gama melihat istrinya yang makan tanpa peduli suara rengekan sang putri. Patricia makan dengan tenang menikmati olahan daging yang dimasak oleh Gama.
Selain tampan Gama bisa memasak berbagai olahan, membuat dia terlihat begitu sempurna di mata wanita lain namun berbeda dengan Patricia yang tahu pekerjaan Gama hanyalah seorang manajer berbeda dengan Dion yang merupakan wakil direktur perusahaan ternama di LN.
“Ekheeee ! “ rengek Gabriella membuat Glady kelimpungan. Dia segera bangkit berdiri bersiap membawa Gabriella keluar, namun tindakannya dihentikan oleh Gama.
“Anak kita nangis dan kamu sudah selesai makan. Tolong, ambil alih. Kasihan Glady belum makan dari tadi, “ titah Gama kepada istrinya.
“Kamu aja kenapa sih ! Aku masih kenyang ! “ ketus Patricia.
“Loh, aku belum selesai. Kalau kamu kan udah, “ sahut Gama heran dengan sikap istrinya.
“Biarkan saja, Gama. Lagian, Lady nggak kerepotan kok. Ya, kan sayang ? “ tanya Lediana lembut kepada putrinya.
“Nggak bisa gitu ma, Gabriella itu anak Gama dan Cia bukan anak Glady. Kasihan Glady kerepotan, belum makan juga.. “ sentak Gama tak suka saat mertuanya malah membela istrinya.
Glady yang mendengar pembelaan kakak ipar dibuat terharu karena selama ini tidak ada yang membelanya. Saat dia kelimpungan mengurus Gabriella, tidak ada yang membantunya. Orang tuanya saja tidak peduli, bahkan mereka hanya mau mengasuh saat Glady pergi sekolah, saat pulang sekolah Glady sudah harus mengasuh Gabriella dan Gabriel.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
A R
iya ada rahasia apa sih smp mrk tega gitu sama glady
2024-08-02
3
A R
gondok 🤣🤣🤣
2024-08-02
0
Baek chanhun
next Mbak 💪💪
2024-08-02
0