Kemarahan Gama

Gama menatap kosong ke arah layar komputernya, tangannya menggenggam erat telepon yang masih dalam genggamannya. Pikiran dan emosinya berkecamuk, mencoba mencerna semua yang baru saja dia dengar dari Reza, sahabat lamanya yang kini masih bertugas di kota yang sama dengan mantan mertuanya. Sebuah fitnah besar sedang menyebar, dan itu membuat darahnya mendidih. Namun, di saat yang sama, dia tahu bahwa ledakan emosi tidak akan membantunya menyelesaikan masalah ini.

"Gama, aku tahu ini berat. Tapi kamu harus tetap tenang," suara Reza terdengar dari ujung telepon, penuh simpati namun juga tegas. 

"Aku paham bagaimana perasaanmu, tapi kita perlu strategi untuk menghadapi ini. Emosi tidak akan membawamu ke mana-mana."

Gama menarik napas panjang, mencoba meredam amarah yang membakar di dadanya. Reza benar, dia tidak bisa membiarkan kemarahan menguasainya. "Aku mengerti, Reza. Tapi apa yang mereka lakukan… mereka sudah melewati batas."

"Aku tahu, Gama," jawab Reza. "Dan itu sebabnya kita harus pintar dalam menangani ini. Aku sudah bicara dengan beberapa rekan di sini yang tinggal satu kompleks dengan mantan mertuamu. Mereka punya informasi yang mungkin bisa membantu kita."

Gama terdiam, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu. "Apa yang mereka tahu?"

Reza berhenti sejenak, seolah memilih kata-katanya dengan hati-hati. "Mereka mengatakan bahwa rumor yang menyebar ini bukan hanya dari keluarga mantan mertuamu saja, tapi juga melibatkan pihak lain yang berusaha memanfaatkan situasi ini untuk keuntungan pribadi mereka."

Gama merasakan gelombang kemarahan kembali membanjiri dirinya. "Siapa mereka, Reza? Siapa yang berani melakukan ini?"

"Menurut informasi yang aku dapat, ada seorang tetangga yang dikenal cukup berpengaruh di komunitas tersebut—orang ini dikenal sebagai 'Seleb Jinjo.' Dia tampaknya memiliki kekuatan untuk mempengaruhi opini publik di sana," Reza menjelaskan. "Aku sudah mendengar desas-desus tentangnya sebelumnya, dan sekarang tampaknya dia terlibat dalam menyebarkan fitnah ini."

"Seleb Jinjo?" Gama mengulang dengan nada tak percaya. "Apa dia seseorang yang bisa kita ajak bicara? Mungkin kita bisa mengubah arah opini jika kita bisa mendekatinya."

Reza menghela napas sebelum menjawab. "Itu yang sedang aku coba cari tahu. Jika kita bisa meyakinkan dia untuk berpihak kepada kita, itu bisa mengubah segalanya. Tapi, kita harus sangat berhati-hati. Orang seperti dia tidak akan mudah diyakinkan."

Gama menutup matanya sejenak, mencoba membayangkan langkah selanjutnya. "Aku tidak bisa melakukan ini sendirian. Reza, aku butuh bantuanmu, dan mungkin bantuan Daddy juga untuk menenangkan situasi ini sebelum semakin memburuk."

"Aku akan melakukan apa saja yang bisa aku lakukan dari sini, Gama. Tapi ingat, langkah pertama yang harus kita ambil adalah mengendalikan berita ini sebelum menyebar lebih jauh. Jika tidak, situasi ini akan semakin sulit dikendalikan," Reza menambahkan.

"Ya, aku paham," jawab Gama, suaranya mulai stabil. "Aku akan bicara dengan Daddy dan melihat apa yang bisa kami lakukan dari sisi kami. Tapi tolong, teruslah cari tahu lebih banyak tentang Seleb Jinjo itu. Mungkin dia kunci dari semuanya."

Reza setuju dan mereka pun mengakhiri panggilan telepon. Gama kemudian menghubungi Geon, ayahnya, yang selalu menjadi sosok yang bijak dalam menghadapi masalah seperti ini.

"Dad, kita perlu bicara," kata Gama saat Geon mengangkat teleponnya.

"Ada apa, Nak?" jawab Geon, suaranya terdengar waspada.

Gama menceritakan semua yang dia dengar dari Reza, mulai dari rumor yang beredar hingga keterlibatan Seleb Jinjo. Geon mendengarkan dengan seksama, tidak memotong pembicaraan putranya sama sekali. 

"Aku mengerti situasinya," kata Geon akhirnya. "Kita harus bertindak cepat sebelum ini lepas kendali. Kita bisa mulai dengan mengeluarkan pernyataan resmi untuk meredam rumor yang beredar, tapi kita perlu bukti kuat untuk mendukung pernyataan itu."

"Itulah masalahnya, Dad. Kita belum punya cukup bukti, dan rumor ini sudah mulai menyebar seperti api," Gama mengeluh, merasa frustrasi.

Geon berpikir sejenak sebelum menjawab. "Kalau begitu, kita harus menggunakan pendekatan lain. Kita perlu membujuk orang-orang yang memiliki pengaruh di lingkungan itu untuk berpihak kepada kita, atau setidaknya tidak menyebarkan kebohongan lebih jauh."

"Reza mengatakan ada seorang seleb di sana yang mungkin bisa membantu kita," kata Gama, mengingat apa yang dikatakan sahabatnya. "Tapi dia juga memperingatkan bahwa orang ini tidak mudah diyakinkan."

Geon mengangguk pelan. "Kita harus mencoba, Gama. Di saat seperti ini, kita tidak bisa memilih cara yang sempurna. Kita harus melakukan apa saja yang kita bisa untuk melindungi nama baik keluarga kita."

Gama menghela napas, merasa sedikit lebih tenang setelah mendengar nasihat ayahnya. "Baik, Dad. Aku akan bicara dengan Reza lagi dan melihat apa yang bisa kami lakukan."

Setelah menutup telepon, Gama mencoba mengumpulkan pikirannya. Dia tahu bahwa ini bukan sekadar pertarungan untuk membersihkan namanya sendiri, tetapi juga untuk melindungi orang-orang yang dia sayangi, terutama Glady. Dia tidak bisa membiarkan fitnah ini menghancurkan hidup mereka.

Beberapa jam kemudian, Reza menelepon kembali dengan kabar terbaru. "Gama, aku sudah berbicara dengan beberapa orang lagi di sini. Tampaknya Seleb Jinjo ini memiliki hubungan yang cukup dekat dengan Ketua RT di sana, dan Ketua RT sudah mendengar semua rumor ini. Dia bahkan sudah mempertimbangkan untuk memanggil Glady kembali ke kota ini untuk memberikan penjelasan."

Gama terkejut mendengar hal itu. "Apa? Mereka ingin memanggil Glady kembali? Itu bisa membuat situasi semakin rumit."

"Benar," jawab Reza. "Tapi di sisi lain, jika kita bisa membuat Seleb Jinjo berpihak kepada kita, dia bisa membantu meredakan situasi ini sebelum Glady terlibat lebih jauh."

Gama merasakan kekhawatiran yang semakin besar. "Reza, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Jika mereka memanggil Glady kembali, itu bisa menghancurkan segalanya."

"Aku mengerti, Gama. Tapi kita tidak bisa membiarkan mereka mengambil kendali. Kita harus bertindak cepat dan memastikan bahwa kebenaran yang keluar, bukan fitnah," kata Reza, suaranya penuh determinasi.

Gama setuju, meski hatinya dipenuhi kekhawatiran. Dia tahu bahwa langkah-langkah yang akan diambil selanjutnya sangat penting dan bisa menentukan nasib mereka semua. Namun, dia juga tahu bahwa dengan dukungan dari Reza dan ayahnya, serta tekad yang kuat untuk melawan fitnah ini, dia masih memiliki peluang untuk membalikkan keadaan.

"Baik, Reza. Kita akan lakukan ini bersama-sama. Aku akan bicara dengan Daddy lagi dan mulai merancang langkah-langkah selanjutnya," kata Gama akhirnya, suaranya penuh tekad.

"Bagus. Kita akan melewati ini, Gama," jawab Reza, memberikan semangat kepada sahabatnya.

Gama menutup telepon dengan perasaan campur aduk. Dia tahu bahwa ini adalah saat yang paling menegangkan dalam hidupnya, tetapi dia juga tahu bahwa dia tidak sendirian. Dengan bantuan dari orang-orang yang peduli padanya, dia akan menghadapi badai ini, dan dia tidak akan berhenti sampai kebenaran terungkap.

......***......

🗣️ : Woyyyy salah paham !!! Salahhhh😭

Terpopuler

Comments

A R

A R

junik bkn nya ada rekaman nya kan

2024-08-12

0

LISA

LISA

Wah jdi makin rumit nih..semangat y Gama..cpt bereskan rumor itu

2024-08-12

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!