Kedatangan Gama

Glady, baru saja menidurkan kedua keponakannya untuk tidur siang. Ingatannya teringat dengan ucapan Denis kepadanya yang meminta dirinya untuk menggantikan peran kakaknya membuat Glady tak percaya. 

Air matanya mengalir membasahi kedua pipi berisinya. Kedua matanya terpejam, hatinya terasa nyeri saat Denis dengan tegas mengatakan hal seperti itu kepadanya. Bahkan Glady sendiri tidak boleh menolak permintaan papanya. 

“Usiaku masih muda, belum delapan belas tahun, hiks. Ktp saja belum buat kenapa di suruh menikah.. “ isaknya pelan takut membangunkan kedua keponakan tersayangnya. 

Sedangkan di sisi lain, Patricia dan Lediana tengah merilekskan badan mereka saat seorang pekerja mengurut punggung mereka. Patricia merasakan kenikmatan saat tubuhnya di pijit dengan begitu lembut. 

“Mama, selesai ini kita mau kemana ? “ tanya Patricia manja. 

“Ke salon langganan kita dulu deh, mama mau creambath sama haircut. Rambut mama ujungnya sudah banyak yang bercabang, mumpung anak-anak kamu di jaga sama Glady” ujar Lediana santai. 

“Mama bener, anak-anak biar Glady yang jaga. Dia kan sayang banget sama keponakannya, aku malas banget ngurusin mereka. Ella yang nangis, Riel yang ingin ini itu membuatku pusing ! “ keluh Patricia. 

“Makanya itu, manfaatkan waktu sebaik-baiknya.. “ kata Lediana santai. 

Entah mengapa rasa sayang Lediana kepada kedua putrinya sangat berbeda. Jelas-jelas Glady lah anak kandungnya, tapi perlakuannya seperti Glady yang bukan anaknya. Ketika Glady ingin pergi mengerjakan tugas bersama temannya, Lediana selalu melarang, bahkan memaksa Glady untuk mengerjakannya sendiri sambil mengasuh Gabriella. 

Membiarkan Patricia pergi kesana-kemari bersama teman-temannya tanpa melarang. Hal itu membuat Glady seperti tidak punya waktu sendiri. Namun, saat suaminya menghubungi mereka. Patricia seolah berperan sedang mengasuh putrinya yang rewel, mencoba menenangkan dengan sabar namun ketika panggilan terputus dia akan memanggil Glady yang tengah mengerjakan tugasnya untuk menenangkan Gabriella. 

Suami Patricia bekerja di kota tempat kelahirannya sebagai manager di perusahaan terbesar di kota J, sementara Patricia memilih untuk tinggal bersama kedua orang tuanya dengan dalih ada yang membantunya menjaga anak-anak. Patricia Aprilianti, wanita yang sudah menikah kini berumur dua puluh tujuh tahun menikah dengan pemuda tampan asal kota J, empat tahun yang lalu saat usianya masih dua puluh tiga tahun. 

Kala itu dia baru saja lulus sarjana, memilih menikah dengan pria yang baru dikenalnya, melahirkan dan meminta adiknya untuk mengasuh kedua anaknya. Suaminya tidak pernah tahu jika Patricia hanya menggunakan tenaga Glady sebagai pengasuh gratis anak mereka yang suaminya tahu jika adik iparnya membantu sang istri mengasuh anak-anaknya. 

“Tenang saja, disini ada Lady yang membantuku mengasuh anak-anak kita, “ kata Patricia saat itu. 

Gamaliel Dirgantara, pria tampan dari kota J bekerja sebagai manager di salah satu perusahaan berusia tiga puluh tahun menikahi Patricia karena dipaksa oleh orang tuanya yang ingin memiliki cucu di usia tuanya. Beberapa kali, Gama mengajak Patricia untuk menjenguk kedua orang tuanya di kota J, tetapi Patricia selalu menolak dengan alasan ini dan itu sehingga Gama mengalah dan mengajak kedua orang tuanya untuk mengunjungi rumah mertuanya. 

“Perjalanan ke kota J memakan waktu lima jam. Aku nggak mau ! “ tolak Patricia. 

“Tapi, orang tuaku ingin bertemu kedua cucunya. Kamu harusnya mau mengalah, kasihan kedua orang tuaku.. setiap ingin melihat kedua cucunya harus mereka yang datang, “ keluh Gama memohon agar istrinya tidak berkeras hati. 

“Tidak Gama, aku tidak mau pergi ke sana ! Kalau kamu memaksa aku yang pergi kesana, mending kamu bawa saja anak-anak kita bersama Glady ! “ ketus Patricia dan langsung memutuskan panggilannya. 

*

*

*

*

Langit semakin gelap, Patricia dan Lediana baru saja keluar dari salon kecantikan langganan Lediana. Keduanya tampak fresh tak lupa beberapa paper bag berada di tangan keduanya masing-masing. 

“Sudah gelap, ayo pulang ! “ ajak Lediana kepada putrinya. 

“Ayo, mah ! “ sahut Patricia senang. 

Dari kejauhan seseorang melihat Patricia dan Lediana dengan menekukan kedua alisnya. Tatapannya beralih melihat nama salon kecantikan dimana keduanya keluar. 

“Hey, Bro ! Lo ngapain liatin salon kecantikan ? Jangan bilang lo mau pergi kesana, “ ledek pria tampan berjas navy menepuk pundak temannya itu. 

Pria tampan itu tak menanggapi ledekan temannya, dia berjalan begitu saja melewati temannya membuat pria berjas navy melongo. 

“Woyyyyy !! Tungguin gueeee ! Ya elaaaaahhhh ! “ pekik pria itu kesal. 

“Lu berisik banget, Za ! “ ketus pria tampan dengan wajah kesal saat orang-orang menatap mereka. 

“Ya, maaf hehe.. Eh, lo jadi ke rumah mertua lo ? “ Pria itu mengangguk. 

“Kenapa nggak tinggal sendiri sih, lo kan kaya. Masa beli perumahan sendiri nggak mampu.. “ ujar Reza heran dengan sahabatnya yang tidak pernah mau membeli rumah untuk keluarga kecilnya. 

“Masalahnya bini gue nggak tahu, Za. Lo tau kan bini gue tiap kali gue ajak ke rumah dia selalu nolak. “ 

Reza tak habis pikir, bagaimana bisa seorang istri menolak untuk pergi ke rumah mertuanya. ‘disini sangat aneh, ‘pikir Reza. 

“Alasan bini lo, apa ? “ tanya Reza saat keduanya duduk di salah satu restoran sebelum Reza pulang ke hotel setelah bertemu kliennya. 

“Perjalanan yang memakan waktu lima jam, membuatnya tak mau.. “ jawabnya lesu. 

“Nah, ini nih ! Aneh ! Anehhhh jawaban bini lo ! Ketemu mertua biar kata orang jauh tetap trabasssss ! Lah ini gimana sih, niat jadi menantu Mami Ganesha nggak sih bini looooo, Gamaaaaa !! “ pekik Reza kesal sekaligus gemas dengan tingkah sahabatnya itu. 

Gama sontak menutup mulut sahabatnya dengan tisu, “ berisik anj** ! “ umpat Gama kesal. 

“Sudahlah, ayo kita pesan makanan habis itu pulang. Gue kangen sama anak-anak gue, “ ujar Gama saat Reza mengambil tisu yang menyumpal mulutnya. Reza mengangguk kesal. 

*

*

*

*

Suara ketukan terdengar begitu keras, Denis yang sedang menonton di ruang tamu terlihat mengerutkan keningnya. Tak lama muncul Lediana yang datang bersama Gabriel dan Glady yang menggendong Gabriella tengah menangis keras. 

Semakin keras suara tangisan Gabriella, semakin kencang juga ketukan pintu yang membuat keluarga itu saling pandang. 

“Hantu, hantu apa yang bisa ketok pintu lumah ? “ tanya Gabriel menatap Glady bingung. 

“Hantu leak ! “ sahut Lediana spontan membuat kening Gabriel mengerut. 

“Ngetuknya gimana, nek ? Leak kata bibi Ladyboy nda punya tangan dan kaki ? “ tanya Gabriel polos membuat Lediana tersadar dengan ucapannya. 

“Pake kepala ! “ sahut Lediana kepalang malu. 

Tok ! Tok ! Tok ! 

“Papa, buka pintunya ! “ titah Lediana kepada suaminya itu. 

“Ck ! Siapa sih, mengetuk pintu malam-malam ! “ kata Denis kesal, karena waktu nontonnya harus terganggu. 

‘Ceklek ! ‘

“Sia—, Gama ?! “ kata Denis terkejut saat melihat menantunya membawa koper di tangan. Mendengar nama daddy nya di sebut, Gabriel langsung berlari ke arah pintu rumah. Sementara Lediana dan Glady memilih duduk di sofa. 

“Daddyyyyy !! “ pekik Gabriel senang. 

“Ah, masuk nak ! “ kata Denis datar tanpa senyum sedikitpun. 

“Iya, pah ! “ sahut Gama dan langsung menggendong putra sulungnya yang memeluk lehernya dengan erat. 

Glady yang melihat kedatangan kakak iparnya mendadak canggung, dia kembali teringat dengan ucapan papanya membuat Glady semakin canggung. 

‘Masa gue disuruh nikah sama om-om sih.. ‘

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!