"Aduh... Suara meringis kesakitan keluar dari bibir Tiara.
Luka lebam yang ia Terima dari Rein membuatnya kesulitan untuk beranjak dari tempat tidurnya.
Namun ia harus kuat, ia harus bangkit.
Tiara lalu melangkah kan kakinya menuju kamar mandi. Tiara mengguyur seluruh badannya dengan air hangat agar rasa sakit bisa sedikit berkurang.
Tiara menangis.. Menangisi keadaannya yang terjebak oleh pernikahan tanpa rasa cinta.
Tiga tahun bersama membuat Tiara tidak bisa memilah, antara cinta atau pengabdian terhadap suaminya.
Setelah mandi dan bersiap Tiara mulai membuka aplikasi novelnya. Ia berniat ingin melihat sejauh mana pencapaiannya dalam menulis novel.
Saat ia membuka handphone nya.
Ia menerima surel yang menyatakan bahwa begitu banyak pembaca yang ia Terima dan mereka memberikan rating yang bagus.
Tentu membuat penilaian yang bagus juga untuk dirinya.
Ia menerima dua puluh delapan juta per novel.
Dikalikan tiga puluh novel yang telah ia terbitkan di setiap aplikasi berbeda.
Di lima platform novel semuanya memberikan rating yang bagus.
Ia pun membuka surelnya lagi.
Betapa terkejutnya dirinya kalau tulisannya di bayar dengan seharga empat milyar dua ratus juta rupiah.
"Ya ampun, apakah aku mimpi? Gumam Tiara dalam hatinya.
Dengan tangan yang bergetar ia mencoba memindahkan dana tersebut kedalam rekening pribadi miliknya. Tak berselang berapa lama, notifikasi pemberitahuan bahwa dana telah sukses di transfer ke rekeningnya.
Mata tiara kembali membelalak karena apa yang selama ini ia kerjakan ternyata membuahkan hasil yang positif untuknya.
Ia bangkit dari tempat duduknya dan berniat ingin keluar rumah untuk membeli sebuah laptop agar dapat memudahkannya dalam membuat karya yang lebih banyak lagi.
Tapi seketika ia mengurungkan niatnya, ia membatalkan kepergiannya mengingat begitu banyak luka lebam di sekujur tubuhnya yang bisa jadi dapat mengundang perhatian banyak orang.
Akhirnya ia memutuskan membeli lewat aplikasi online shop. Dalam beberapa saat pesanan yang ia beli lewat aplikasi online shop pun tiba.
"Permisi... Permisi. Teriak kurir ojol.
"Iya ada apa ya Tuan? Tanya security rumah mewah tersebut.
" Maaf Tuan, saya ingin bertanya apakah benar disini rumah nyonya Tiara? Tanya kurir tersebut keheranan karena mendapat orderan antar paket kerumah besar bak istana.
"Iya benar Tuan.. beliau adalah nyonya kami. Jawab security dengan tegas.
"Begini Tuan maksud dan tujuan saya kemari ingin mengantarkan paket pesanan nyonya Tiara." Sambil menyodorkan kotak tersebut ke security.
"Silahkan Tuan tanda tangan di kolom penerima barang. Kurir memberi isyarat.
"Baik terimakasih Tuan, Kurir kembali ramah pada security yang tampang galaknya tak ketulungan.
"Hmmm ya.. Sama-sama.
Jawab security dengan tampang garang
"Kalau security nya saja punya tampang galak begitu, bagaimana nyonya Tiara? Pasti galaknya minta ampun.
Gumam kurir dalam hatinya sambil bergidik ngeri.
"Bibi Inah, ini ada paket katanya pesanan nyonya.
Security menyodorkan kotak ke bibi Inah.
"Oh baik nanti saya sampaikan ke nyonya. Terimakasih Tuan Tejo. Jawab bi Inah ramah..
Tuan Tejo mengangguk.
...****************...
Tok.. Tok.. Tok
Pintu di ketok.
"Non ini ada kiriman paket untuk non saya simpan di atas meja ya non. Bibi Inah memanggil Tiara dengan panggilan non, karena Tiara yang memintanya. Bagi Tiara bibi Inah sudah seperti orang tua baginya.
"Iya bibi.. Nanti Tiara ambil, simpan disitu aja dulu. Jawab tiara.
Tiara mengambil paket yang ia beli lewat online shop..
Ia tak sabar ingin unboxing laptop barunya itu.
Saat di buka, Tiara tersenyum karena akhirnya setelah tiga tahun menikah dengan Rein. Tak sepeserpun uang yang ia pegang. Jangankan membeli laptop, untuk membeli skincare saja Tiara tidak bisa membelinya.
Sementara Tania, selalu bergelimang harta dari Rein.
Tiara membuat karya barunya, ia semangat dan antusias. Beberapa novel baru telah terbit setelah tiga hari tak keluar kamar. Luka lebamnya juga sudah memudar. Ia memberanikan diri keluar dari kamarnya itu.
"Non... Apakah butuh sesuatu? Tanya bibi Inah keheranan melihat Tiara yang berjalan menuju dapur.
"Tidak bibi.. saya hanya ingin buat kopi saja
Jawab Tiara sangat ramah kepada bibi Inah.
"Non kan bisa minta bibi buatkan lalu nanti bibi antar ke kamar. Tawar bibi Inah.
"Nggak apa-apa bibi.. Tiara juga udah bosan dikamar terus beberapa hari ini. Sambil mengelus tangannya yang masih kelihatan memar.
"Non apakah Tuan Rein memukul Non Tiara lagi? Tanya bi inah penuh cemas.
Tiara hanya mengangguk.
Mata bi inah berkaca-kaca.
"Bibi kasian pada Non Tiara, kenapa Non memaksakan diri untuk tetap tinggal jika memang itu menyakiti Non Tiara. Ucap bi inah yang sedih melihat kondisi Tiara yang semakin hari semakin tersiksa karena ulah Tuannya Rein.
" Nggak apa-apa.. bibi jangan sedih. Bila tiba saatnya kalau aku dan Rein sudah tidak berjodoh, pasti kami akan berpisah. Ucapnya seraya tersenyum pada bibi Inah sambil merangkul pundaknya.
" Bibi.. Sudah berapa hari Tuan Rein tak pulang? Tanya Tiara karena baginya Rein sudah terbiasa seperti itu.
" Sudah tiga hari Non.. Jawab bibi Inah mantap.
Tiara hanya mengangguk tanda paham
"Ya udah bi, Tiara ke kamar dulu ya.. Nanti tolong makanan Tiara di bawa ke kamar aja.
Ucap Tiara sopan pada bibi Inah.
"Baik Non.. Nanti bibi siapkan.
Bibi Inah menganggukkan kepala.
Tiara melanjutkan perjalanannya di dunia sastra dan kembali menghasilkan karya-karya baru. Kini karya barunya sudah menghampiri dua puluh novel.
Notifikasi surel berbunyi. Lagi dan lagi pembayaran novel telah sukses di kirim ke dalam akunnya.
Tiga milyar empat ratus dua puluh juta rupiah.
Lagi-lagi nilai fantastis mengalir masuk ke rekening Tiara dengan aman.
"Terima kasih Tuhan, tak henti-hentinya engkau berikan nikmat kepada hamba. Gumamnya penuh rasa syukur.
Seminggu telah berlalu. Kini sekujur tubuh Tiara sudah membaik seperti sediakala. Tiara melakukan aktifitas nya seperti biasa dan menyempatkan diri membuat cerita novel terbarunya.
Saat Rein pulang, lagi dan lagi kebisingan rumah itu mulai terdengar karena hobi Rein yang suka teriak-teriak dan mencari masalah pada Tiara.
...****************...
"Tiara... Tiara! Siapkan sepatu booth ku sekarang, weekend ini aku mau hangout bersama teman-teman ku. Teriak Rein memerintahkan tiara.
"Iya mas, akan Tiara siapkan." Dengan gesit Tiara sudah mempersiapkan yang di perlukan suaminya itu. Rein hanya menatapnya dengan penuh kebencian.
"Mas jika di ijinkan minggu ini aku mau pulang ke rumah kampung halaman ku mas. Sudah lama aku tak mengunjungi orang tuaku mas. Apakah boleh aku pulang mas? Tanya tiara penuh kecemasan, tapi ia tetap harus kuat mendengar jawaban dari Rein. Ijin atau pun tidak, yang terpenting ia sudah memberitahu niatnya itu.
"Pulanglah, jika perlu tak usah kembali lagi. Jawabnya Rein ketus dan tak sedikitpun menoleh ke arah Tiara.
Tiara hanya mengangguk dan menarik nafas dalam-dalam. Ia harus kuat menghadapi suaminya yang mempunyai watak sekeras kulit buaya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments
Jeni Safitri
Cinta atau apa sih tiara mau aja di siksa
2024-11-20
0
Tsuyuri
Buat pengen jadi bagian dari cerita ini.
2024-07-31
2