Part 14

Selagi dua pria duduk di meja makan menikmati sarapan, aku membersihkan alat-alat dapur yang baru saja kugunakan.

Aku berpura-pura sibuk berkutat di depan wastefle, namun pendengaranku siap siaga mencuri dengar obrolan mereka.

Bukannya tak sopan, tapi aku memang harus tahu apa yang sedang mereka bahas, itu supaya aku bisa lebih dulu ambil langkah sebelum pak Arsya dan asistennya itu.

Sementara mereka sama sekali tak mencurigaiku kalau aku sedang mengupingnya. Mereka pikir ini bukan urusanku, jadi dengan santainya keduanya bicara dengan nada tinggi.

"Oh ya pak, mulai hari senin Joana sudah mulai menempati meja Sheema di kantor" Itu kata Beno, yang sangat jelas bisa ku dengar. "Joana akan menggantikan tugas Sheema selama Sheema di S'pore"

"Sampai kapan dia di sana?"

"Kurang tahu pak, itu tergantung bu Prilly"

"Aku heran sama mamah, masih saja ikut campur dan mengatur urusanku. Siapa yang akan menikah denganku, siapa yang harus jadi sekertaris, mana yang cocok, mana yang baik. Pusing aku"

Beno hanya diam tak menanggapi keluhan pak Arsya. Sepertinya dia tak tahu harus ngomong apa, kalau aku di posisinya pun sama bingungnya.

Ngomong-ngomong soal Joana, Shema sempat mengirim pesan dan memperingatkanku untuk selalu hati-hati terhadap wanita itu. Bisa jadi Joana adalah mata-mata bu Prilly yang akan mengawasi kemana pak Arsya pergi.

Aku juga harus waspada tentang penyamaranku, jangan sampai Joana tahu identitasku yang sebenarnya.

"Lalu gimana dengan Afifah, kemana dia pergi? Apa sudah ada kabar?" Tanya pak Arsya, setelah tadi mereka sama-sama tak bersuara.

"Belum, pak. Semua tetangga satu kampung nona Afi, sama sekali tak memberitahu kemana nona pergi, mereka benar-benar kompak. Entah ada yang menyumpal mulut mereka, atau memang mereka sungguh-sungguh tak mengetahuinya. Satu hal yang membuat saya tak habis fikir"

"Apa?" Potong pak Arsya cepat. Dan aku, langsung pura-pura mendekat agar bisa mendengar apa yang membuat Beno keheranan.

"Ketika saya meminta foto nona Afi, tak ada seorangpun yang memilikinya, begitu juga sekolah dan tempat les nona. Sama sekali tak ada informasi yang bisa di akses"

"Kamu sudah ke sekolahnya?"

"Sudah pak, tadi sebelum ke sini, saya mampir dulu ke sekolah nona" Jawab Beno.

"Kalau memang ada yang mengatur rencana mengenai menghilangnya Afi" Ucap pak Arsya, meletakkan sendok di atas piring. "Siapa orang itu? Apa mamah, seperti yang kamu bilang? Atau kepergian Afi memang dia sendiri yang menginginkannya?"

"Kalau dugaan saya tidak mungkin nona pergi atas keinginannya sendiri pak, sebab malam itu saya sempat menelfon dan memberitahukan bahwa saya yang akan menjemputnya dua sampai tiga hari lagi, dan nona Afi bilang dia akan bersiap-siap. Yang artinya nona Afi bersedia tinggal di rumah ini"

"Jadi dugaanmu sementara, itu adalah rencana mamah?"

"Maaf pak Arsya, bukannya saya berprasangka buruk atau menuduh bu Prilly"

"Its okay, tapi buat apa juga mamah pura-pura mencari tahu soal Afi ke rumahnya?"

"Bisa jadi itu sebagian dramanya supaya kita tidak mencurigainya"

"Iya kalau Afi di biarkan pergi begitu saja, nah kalau mamah menyekapnya, gimana?"

"Nah itu yang saya takutkan, pak. Bu Prilly, sudah membungkam mulut para tetangga, maupun pihak sekolah, supaya pak Arsya tidak bisa hidup bersama nona Afi"

Ku dengar helaan nafas pak Arysa yang terasa panjang sekaligus berat.

"Pak Arsya, jangan terlalu khawatir, aku aman di rumah pak Arsya, aku sedang berlindung di bawah ketiakmu, pak" Lirih, sangat lirih. Hanya aku yang bisa mendengar suaraku.

"Coba kamu hubungi salah satu orang kepercayaan mamah, berikan penawaran menarik supaya dia bisa bekerja sama dengan kita untuk mengawasi gerak-gerik mamah, dari situ, semoga saja kita bisa mengetahui apakah mamah terlibat atas menghilangnya Afi"

"Baik bos, saya akan coba hubungi Yoyo"

"Jangan dia, dia pelayan mamah yang paling setia. Suruh yang lain saja, Farid mungkin bisa di bujuk"

"Okay, akan saya temui dia secepatnya"

"Jangan lupa juga soal temannya Afi, kalau dia sudah kembali, bawa dia ke hadapanku, aku ingin menanyakan langsung padanya"

"Siap, bos"

Pak Arsya ingin menemui Ririn? Semoga saja dia nggak menciut ketika berhadapan dengan pak Arsya..

Sedikit was-was tapi yakin kalau Ririn akan bisa menutup mulutnya rapat-rapat. Ya semoga saja.

"Oh ya, pak?" Ucap Beno, membuatku persekian detik kembali siaga. "Itu si Rere, kenapa bisa secantik itu? Maksud saya, apa pak Arsya tidak terusik dengannya?" Lanjutnya berbisik sambil melirik ke arahku yang pura-pura sibuk.

"Apa maksud kamu?" Ku lirik picingan mata pak Arsya membuat Beno seketika memberingsut takut.

"M-maaf sebelumnya, pak. Dia tidak kurang ajar terhadap bapak, kan?" Tanyanya serius. Tentu saja masih dengan nada berbisik. Sepasang ekor matanya kembali mencuri pandang ke arahku.

"Kurang ajar gimana maksud kamu, Ben?"

Sebelum menjawab, Beno mencoba bersikap santai. "Anu pak, dia kan cantik. Sekarang lagi musim ART menggaet majikannya, dia nggak gitu kan pak?"

"Jangan berprasangka buruk padanya, dia gadis baik-baik"

"Sekali lagi maaf, pak. Dalam situasi seperti ini, apa pak Arsya tidak tergoda dengannya, aku saja tadi sempat tegang begitu melihatnya saat Rere membukakan pintu untukku?"

"Beno?" Sentak pak Arsya membuatku kaget.

"Fikiranku memang sedang kacau, tapi aku masih waras untuk tidak menyukai seorang ART. Lagi pula aku sudah menikah. Ya meskipun di jodohkan, dan Afi, nggak tahu sekarang ada dimana, aku tetap menghargai pernikahanku karena itu adalah amanat kakek. Selain itu pernikahan bukan untuk di jadikan mainan, semuanya akan di pertanggung jawabkan di hadapan Tuhan. Harap mengerti soal itu, Beno"

Tentu saja Beno mengerut mendengar kalimat panjang pak Arysa, dan entah kenapa hatiku justru menghangat mendengarnya.

"Rere" Panggil pak Arsya. "Re"

Panggilnya lagi.

"Iya pak?" Sahutku berlari ke ruang makan.

"Beresin ini, kami sudah selesai sarapan"

"Baik, pak" Aku melirik Beno yang juga sedang melirikku.

Pria ini ternyata mesum juga..

Pak Arsya bangkit, lalu melangkah ke ruang tengah. Beno sendiri masih menatapku sambil tersenyum geli.

"Kenapa senyum-senyum, pak?"

"Kamu sudah punya pacar belum? Masih single kan?"

"Kenapa memangnya?"

"Kita bisa jalan-jalan kalau kamu libur"

"Maaf ya pak, pak Beno ini bukan tipe saya"

"Memangnya tipe cowok kamu kayak gimana?" Beno sedikit menegakkan posisi duduknya. Bersiap mendengar jawabanku.

"Tipe cowok saya itu harus tampan, tinggi, dan_" aku sengaja menggantung kalimatku sedikit agak lama.

"Dan apa?" Tanya Beno penasaran. "Aku tampan, aku juga tinggi, punya karir mentereng pula" Pria yang tadinya duduk kini berdiri. "Lihat, aku jauh lebih tinggi dari pada kamu, harusnya aku masuk ke kriteria cowok idaman kamu, Re"

"Tetep enggak, pak"

"Lalu?" Alis Beno menukik tajam.

"Pria itu harus CEO, pak"

"What?" Beno tercengang dengan mulut menganga.

"Ada apa, Ben?" Teriak pak Arsya dari ruang tv.

"Tidak ada apa-apa, bos" Jawabnya.

Aku mengangkat tumpukan piring kotor dan membawanya ke wastafle.

Ketika aku kembali ke ruang makan untuk mengambil sisa gelas kotor, Beno pergi menyusul bosnya seraya menggerutu.

"ART saja tipenya CEO? Memangnya dia tahu apa itu CEO? Ada-ada saja si Rere"

Aku tersenyum, faham betul kalau pria seperti pak Beno pasti hanya bercanda. Sebab sempat ku dengar, kalau dia berpacaran dengan Shema.

Mereka berdua terlibat cinta lokasi karena sering bertemu, berdiskusi, dan saling berbagi keluhan terutama untuk urusan pekerjaan.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

Lyzara

Lyzara

prasaan baru sebentar bc, tau tau bersambung

2024-08-15

0

Sugiharti Rusli

Sugiharti Rusli

wah Beno hati" nih, rahasia kamu uda dipegang bu bos🤭🤭😏

2024-08-13

0

N I A 🌺🌻🌹

N I A 🌺🌻🌹

hati2 ben si rere bukan sembarang art😂😂😂😂😂😂

2024-08-11

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!