Part 10

"Urusan apa yang sudah selesai? Pesan buat siapa itu?" Dari sebrang telfon, Prillya memberondong dua pertanyaan sekaligus, Shema sendiri terhenyak mendengar pertanyaan itu.

Pesan? Apakah aku salah mengirim pesan? Batin Shema.

"Halo, Shema! Kenapa diam, hah?"

Sedikit gugup, Shema menelan ludahnya sendiri.

"I-ini bu, maksudnya u-urusan soal paspor milik saya, bu"

"Kok saya nggak percaya sama kamu, ya" Selidik wanita dari balik telfon. "Kamu nggak bohong, kan?"

"Tidak bu. Saya baru selesai mengurus dokumen kepergian saya di Imigrasi"

"Okay, saya akan percaya sama kamu, tapi beri tahu dimana alamat orang yang sudah papah saya tabrak?"

"M-maksud ibu?"

"Rumah gadis malang itu" Tegas Prilly penuh penekanan.

Lebih baik ku beritahu saja, Ririn pasti akan menyelesaikannya.

"Shema!" Sentaknya dengan nada tinggi. Bahkan Shema sampai menutup mata saking kerasnya suara Prilly.

"Jelambar bu"

"Kirim alamat rumahnya lewat pesan, sekarang!"

Panggilan di tutup oleh Prilly.

Sedetik kemudian, Shema berniat mengirim alamat lengkap rumah Afi, tapi ketika sepasang netranya mendapati pesan yang ia kirim ke Afi beberapa menit lalu ia tercenung. Pasalnya dia tak salah mengirimkan pesan.

"Aku nggak salah kirim, kenapa bu Prilly bisa tahu soal pesan yang ku kirim ke nomor nona Afi? Apalagi nona membalasnya" Sepersekian detik perasaannya mendadak was-was. "Duh.. Gimana ini?"

"Atau jangan-jangan_" Dia menggantung kalimatnya sejenak.

"Astaga, apa ponselku di sadap sama bu Prilly? Bagaimana caranya? Kapan dia melakukannya"

"Oh my God!! Untung saja sudah ku ubah nama nona Afi menjadi 'No. Ne' di kontakku"

"Aku harus lebih hati-hati lagi" Shema mendengkus lirih, kemudian buru-buru mengetik pesan yang akan ia kirim ke Prilly, setelahnya ia mengemudikan mobilnya mencari counter ponsel.

"Aku harus beli ponsel yang lain demi bisa berhubungan dengan nona, dan ponsel jadul mungkin lebih baik "

****

Di tempat lain namun di waktu yang sama, Prilly merasa frustasi karena tak mendapatkan informasi apapun mengenai Afifah, dia lantas berniat pergi ke rumah putranya untuk menanyakan langsung pada Arsya, sebab beberapa waktu lalu, saat dia ingin memperjelas, dia tak dapat bertemu dengan Arsya karena mendadak ada urusan sedangkan Arsya sendiri masih berada di kantor.

Pernikahan sang putra yang belum ia ketahui benar-tidaknya, sungguh membuatnya sangat terusik.

"Kabur kemana gadis itu?" Prilly bertanya-tanya di tengah menyetirnya. "Apa benar yang di katakan para tetangganya kalau dia pergi ke luar pulau? Kalau iya itu bagus, putraku bisa terhindar dari gadis itu, tapi aku tetap harus memastikannya. Aku tidak terima putraku satu-satunya menikah dengan gadis yang asal usulnya nggak jelas. Apalagi, katanya ibunya meninggal gara-gara kena AIDS. Ish ish... Amit-amit" Ia bergidik ngeri.

"Bisa-bisanya papah menjodohkan Arsya dengan gadis yang jauh dari kata layak. Apa kata teman-teman sosialitaku nanti" Wanita itu masih bicara sendiri dengan nada datar khas miliknya "Aku akan terima gadis mana saja meski miskin sekalipun, tapi tidak dengan dia. Sudah miskin, ibunya mantan pelacur, entah cantik atau enggak. Memalukan!"

Hampir satu jam berkendara, tahu-tahu mobilnya sudah sampai di kawasan elit milik Arsya. Begegas Prilly membuka pintu gerbang menggunakan remot yang dia juga memilikinya selain Arsya.

Setelah gerbang terbuka mobil pun masuk. Wanita itu keluar dan langsung memasuki rumah putranya tanpa mengetuk pintu lebih dulu. Selain remot pagar, dia juga memiliki kunci rumah.

"Loh, siapa kamu?" Tanya Prilly ketika ada seorang wanita di ruang tengah.

"Bu!" Respon Afi sedikit tercenung.

Kaget sudah pasti, tapi yang paling parah adalah rasa takut yang tiba-tiba naik drastis.

Dia yang sedang membersihkan sofa yang berdebu, langsung berdiri dengan tangan saling bertaut, serta kepala sedikit tertunduk seakan sedang menutupi ketakutannya.

"Kamu siapa?" Ulang Prilly, nadanya sangat ketus, selaras dengan ekspresi di wajahnya yang terkesan sinis.

"Saya ART di sini, bu" Jawab Afi, takut-takut. Sekuat tenaga ia berusaha menormalkan detak jantungnya yang berdetak sangat kuat.

"Baru?" Tanyanya masih dengan ekspresi datar.

"Iya bu, baru beberapa hari"

Tatapan mata Prilly benar-benar menghujam, menelisik tubuh Afi yang tinggi semampai tapi sayang wajahnya tampak kusam, dan itu membuat Afi kian ketakutan.

"Siapa namamu?" Tanyanya lagi.

"Nama saya Rere, bu"

"Kerja yang benar, jangan genit sama majikan!"

"Baik bu" Balas Afi menundukkan kepala penuh ramah. Bersamaan dengan itu, bunyi ponsel yang ada di tangan Prilly terdengar sampai ke telinga Afi. Spontan diapun melirik benda itu yang kini sedang di hadapkan tepat di wajah Prilly.

Detik berikutnya, masih dengan raut wajah dingin tak tersentuh Prilly berkata.

"Buka gerbang, calon istri anak saya datang" Diam sejenak, Afi berusaha mencerna kalimat wanita di hadapannya kemudian melirik ke arah luar.

"Tunggu apa lagi?" Sentaknya ketika Afi hanya termenung dengan pikiran bercabang.

"B-baik, bu" Dia akhirnya melangkahkan kaki sedikit berlari.

Selang lima menit, Afi kembali masuk membawa beberapa paper bag dari wanita bernama Silvia. Wanita cantik dengan rambut mengeriting, serta penampilan yang di lengkapi aksesoris yang melekat di tubuhnya seakan sangat serasi bila di sandingkan dengan pria bernama Arsya.

Detik itu juga kepercayaan diri Afi menurun hingga di level paling bawah.

Mungkinkah dia bisa menaklukan hati Arsya, atau mampukah dia bersaing dengan Silvia dan menjadi wanita satu-satunya di hati pria yang sudah menjadi suaminya.

"Ah, sepertinya kemungkinan itu sangat kecil" Gumam Afi menciut. Tangannya bergerak meletakkan barang bawaannya di atas meja makan. Oleh-oleh dari Silvia yang isinya adalah makanan kesukaan Arsya.

"Rere!" Teriak Prilly, dua wanita beda generasi itu saat ini sedang duduk di ruang tengah sembari mengobrol.

"Iya, bu!" Afi yang berada di ruang makan segera berlari menghadap ibu dari majikannya.

"Ada lemon?" Prilly sedikit mendongak.

"Ada, bu!"

"Buatkan kami lemon tea ice, jangan terlalu manis"

"Baik, bu!"

Ketika Afi hendak berbalik, namanya kembali di panggil.

"Rere!" Kali ini Silvia yang menyebut namanya.

"Iya, mbak"

"Apa kamu bilang? Mbak?" Sambar Prilly menatap Afi dengan sinis. "Nona, panggil dia nona, dia juga akan menjadi majikanmu nantinya"

"B-baik bu" Jawabnya. "Ada apa, nona?" Jari-jari Afi yang menyatu teremas sangat kuat. Ada sedikit geram dalam hatinya atas sikap yang di tunjukkan oleh Prilly.

Afi pikir mentang-mentang dia orang kaya, dia jadi begitu berkuasa.

"Di dalam paperbag warna ungu ada kacang almond kesukaan tante Prilly, taruh di wadah dan bawa kesini"

"Baik, nona"

"Satu lagi" Kata Silvia, nadanya sedikit ramah namun tetap terkesan angkuh. "Jam berapa Arsya pulang?"

"Kalau senin sampai kamis jam tujuh malam, kalau jum'at jam lima sudah sampai rumah" Mendengar jawaban Afi, otomatis mata Silvia melirik jam yang tergantung di dinding.

"Sebentar lagi berarti"

"Betul, nona"

Saat ini jam memang sudah menunjuk pada pukul setengah lima. Itu artinya setengah jam lagi Arsya akan sampai di rumah.

"Apa ada yang lain lagi?" Tanya Afi sebelum benar-benar membalikkan badan.

"Itu saja, cukup" Balas Silvia. Afi pun langsung pergi menuju dapur.

Tak butuh waktu lama, minuman serta kacang almond pesanan Prilly dan Silvia pun siap. Afi sedikit malas sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi, ini sudah menjadi pilihannya, menyamar menjadi ART di rumah suaminya.

"Silakan, bu Prilly, nona!"

"Hmm" Jawab Prilly. Benar-benar tak ada kesan hangat sedikitpun.

"Saya ke dapur dulu, bu"

Bukannya merespon, dua wanita itu malah kembali sibuk dengan obrolan seriusnya. Afi yang merasa tengah di bicarakan, dia berinisiatif untuk menguping obrolan mereka.

Wanita itu berdiri di samping lemari kaca tempat untuk penyimpanan berbagai macam koleksi moge dan mobil mainan milik Arsya.

"Benar-benar nggak ada yang tahu dia kemana, tante?"

"Nggak ada sayang, tante dan anak buah tante sudah tanya-tanya ke semua tetangganya, tapi mereka bilang nggak tahu, mereka hanya tahu gadis malang itu pergi membawa koper, dan nggak tahu kemana tujuannya"

"Kira-kira kemana ya, tante?"

"Entahlah, tante juga nggak tahu" Afi masih diam sambil mencuri dengar pembicaraan mereka.

"Pas tante tanya ke sekolah tempatnya mengajar juga mereka bilang nggak tahu. Jangankan kemana dia pergi, fotonya saja pihak sekolah nggak ada yang menyimpannya, aneh kan?"

"Masa si tente, apa jangan-jangan itu memang sudah di rencanakan gadis itu"

"Tante juga was-was soal itu. Takutnya ini kerjaan Arsya, dia tahu kalau tante nggak merestui pernikahannya, jadi dia menyembunyikan gadis itu dari tante"

"Katanya mereka belum menikah, tante" Sergah Silvia.

"Iya, maksudnya kalau benar mereka menikah, syukur-syukur berita pernikahan itu nggak benar"

"Tapi kalau benar gimana, tante?"

"Kita cari sampai dapat wanita yang sudah Arsya nikahi, kita lenyapkan saja dan buang jasadnya ke laut"

Mendengar kalimat yang keluar dari mulut Prilly, rasa takut dalam diri Afi samakin menggelora. Dia bahkan sampai tak mampu berdiri tegap bak tak memiliki tulang. Ponsel yang sedang ia pegang di tangannya untuk merekam pun jatuh seketika.

Prang...

"Suara apa itu tante?" Tanya Silvi, keduanya kompak menoleh ke arah dapur.

Di sana, secepat kilat Afi mengambil kembali ponsel yang sempat jatuh dan langsung melangkah menuju dapur.

Dengan jantung bergetar serta keringat dingin yang sudah membanjiri tubuh, Afi berusaha menormalkan ekspresi di wajahnya seraya menyimpan ponselnya.

Sangat berharap Prilly tak tahu isi di dalam ponsel miliknya.

Bersambung

Terpopuler

Comments

Sugiharti Rusli

Sugiharti Rusli

ada sih yah ibu yang segitu ambisinya sampai mau melenyapkan nyawa orang yang jadi penghalang tujuannya

2024-08-13

0

Asri

Asri

aih, jahat banget rencananya. mana hp sheema sdh disadap

2024-08-08

1

Ainisha_Shanti

Ainisha_Shanti

jahat juga ibu pak Arsya ni

2024-08-06

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!