Selesai membersihkan diri sekaligus sholat, Afi keluar kamar hendak ke dapur. Ia akan mencari sesuatu yang bisa di kerjakan. Entah itu mencuci piring atau mengelap meja, apa saja yang penting melakukan pekerjaan.
Untung saja almarhum ibunya selalu mengajarkan pekerjaan rumah tangga sejak dia duduk di kelas empat SD, dan pada saat SMK dia di tinggal sang ibu untuk selamanya.
Karena sudah terbiasa melakukannya sendiri, dia pun pandai mengurus pekerjaan rumah termasuk memasak. Masakannya bahkan sangat enak sampai-sampai dia begitu percaya diri kalau pak Arsya,nanti akan menyukai setiap masakannya.
"Rere?" Panggil Arsya. Rere, yang tak lain adalah Afifah spontan berbalik, dan pandangan mereka langsung bertemu.
"I-iya pak?"
Melihat Rere atau Afi yang tampak begitu menawan, Arsya menelan ludahnya.
Pria mana yang tidak terpesona melihat wanita cantik dengan rambut di cepol tinggi, dan memperlihatkan leher jenjangnya yang putih mulus? Meski hanya seorang ART, tapi dia tampak begitu anggun.
"Pak Arsya butuh sesuatu?" Suara Afi lembut. Arsya yang membatu agak tersentak karena terkejut.
"Ah iya, saya sudah pesan makanan, tapi maaf kalau pesanan saya nanti nggak sesuai seleramu, tadi pas saya mau tanya ke kamu, sepertinya kamu sedang mandi jadi saya pesankan ayam goreng untukmu"
"Tidak apa-apa pak, apa saja pasti saya makan"
"Kalau begitu siapkan alat makan karena pesanan kita sudah datang"
"Baik, pak" Afi lantas mengambil piring serta sendok lalu menatanya di meja makan. Tidak lupa ia menuangkan segelas air yang sudah tersedia di atas meja, sementara Arsya beranjak menuju ruang tamu.
Tak hanya Arsya, Afi pun terpesona dengan penampilan Arsya yang mengenakan kaos berkrah warna biru serta celana cargo pendek. Rambutnya yang setengah basah, menambah kesan seksi pada diri pria itu.
"Pak Arsya, apa jadinya kalau bapak tahu aku ini istrimu?"
"Huuhh,, semoga saja nggak ada yang tahu penyamaranku"
Tahu-tahu Arsya sudah kembali ke ruang makan dengan membawa totebag berisi makanan.
"Tolong siapin ya, nanti kita makan sama-sama. Ada hal penting yang ingin saya sampaikan" Kata Arsya, agak canggung menatap Afifah.
"Saya makan di meja ini, pak?" Afifah memastikan.
"Iya, kenapa? Kamu nggak mau?"
"Bukan begitu pak, saya hanya tak enak hati makan satu meja dengan majikan"
"Kamu ada-ada saja. Memangnya nggak boleh majikan makan bareng ARTnya?"
"Setahu saya memang begitu, pak" Cicit Afifah.
"Tapi saya nggak sepertu itu, sudah biasa kalau saya makan di rumah opa saya"
"Opa?" Dahi Afi mungkin mengkerut tajam.
"Bukan opa opa korea, tapi opa saya. Ayahnya mamah"
"Oh"
"Okay, kamu siapkan dulu, saya ke kamar sebentar"
"Baik, pak"
*****
Selang lima menit, semua makanan sudah tersaji di meja makan. Afifah berdiri menyandarkan pinggang di sisi meja, bermain ponsel selagi menunggu Arsya.
Hatinya sebenarnya was-was, takut jika Rere yang asli mengadu ke agensinya, lalu pihak agency menghubungi Beno, akan tetapi masih ada secercah harapan kalau Rere pasti akan menepati janjinya dan takut dengan ancamannya.
Tiba-tiba ponsel yang sudah ia senyapkan berkedip, sebuah panggilan dari Beno, orang kepercayaan Arsya.
"Pak Beno? Ada apa dia menelfonku?" Afi melirik ke arah tangga, memastikan sosok Arsya masih lama-lama berada di kamar.
Dengan gerak cepat Afi melangkah menuju dapur yang di skat dengan tembok setengah dinding.
Meski dapur dan ruang makan terpisah, tapi area dapur masih bisa di lihat dari ruang tempat makan.
"Assalamu'alaikum?" Sapa Afi dengan suara rendah.
"Wa'alaikumsalam" Balasnya.
"Ada apa, pak?"
"Maaf nona, Sheema tidak jadi menjemput nona besok. Ada hal yang harus di kerjakan pak Arsya"
"Oh ya, nggak apa-apa"
"Kalau tidak ada halangan, dua atau tiga hari lagi saya yang akan jemput nona"
"Baik" Bersamaan dengan jawaban Afi, tiba-tiba saja Arsya memasuki ruang makan, tak mau ketahuan, dia pun langsung mematikan panggilan secara sepihak.
"Ayo Re, kita makan" Ucap Arsya lalu menarik salah satu kursi makan.
Afi sendiri langsung kembali ke ruang makan.
"Duduklah" Titah Arsya.
"Iya, pak"
Pelan, Afi menarik kursi dan mendudukinya.
"Kamu pilih sendiri yang kamu suka, ya" Ujar pria yang tengah menyiduk cap cay kesukaannya. "Nggak perlu canggung, nanti kalau istri saya sudah datang, kamu bisa nggak makan bareng kami, tapi tergantung istri saya maunya gimana"
Afifah manggut saja merespon kalimat Arsya.
Keduanya mulai menyuapkan nasi ke mulutnya.
"Rere, kamu sudah tahu kan, peraturan bekerja di sini" Kata Arsya di tengah-tengah mengunyah. "Mengenai gaji, juga liburnya"
"Sudah, pak"
"Hmm" Kepala Arsya terangguk dengan tangan kembali menyuap sendok ke mulutnya. "Untuk lebih jelasnya lagi, bisa kamu tanyakan ke istri saya kalau dia sudah datang. Dia yang akan mengatur segalanya, nanti"
"Kapan tepatnya istri pak Arsya datang?" Tanya Afifah, hanya ingin mencocokkan ucapan Arsya dan Beno.
"Setelah semuanya siap. Kalau enggak sabtu, minggu. Kebetulan saya nggak ke kantor"
Kemudian hening. Suara sendok yang beradu dengan piring, seakan tak mengusik pendengaran keduanya.
"Oh ya, Rere, besok sore kamu ke Central plaza ya, temui saya di lantai dua"
"M-mau ngapain pak?" Afi menghentikan tangannya yang hendak meraih gelas.
"Bantu pilihkan pakaian buat istri saya"
"K-kenapa saya?"
"Kamu kan perempuan, jadi bisa nyoba baju yang mau saya beli, sepertinya ukurannya sama dengan kamu, soalnya berat serta tinggi badan istri saya juga kurang lebih sekamu"
"Tapi, pak_"
"Udah nggak usah tapi-tapi, saya hanya meminta kamu memilih baju dan mencobanya. Nanti saya yang akan menilai bagus tidaknya"
"Baik kalau itu yang bapak mau" Tak ada pilihan lain Afipun menuruti perintah Arsya.
"Nanti kamu boleh pilih satu yang kamu suka"
"Tidak perlu, pak"
"Nggak apa-apa, anggap saja bonus"
Afi terdiam, berfikir kalau pria sebaik Arsya, mungkinkah mudah kena rayuan wanita-wanita cantik di luar sana? Wanita yang mungkin seprofesi dengannya?
"Tidak mungkin" Ucap Afifah, meski lirih, namun masih bisa tertangkap oleh telinga Arsya.
"Apanya yang nggak mungkin, Re?"
"Hah?" detik itu juga Afi di serang rasa gugup. Dia menatap bosnya yang juga sedang menatapnya dengan sorot menyelidik.
"Enggak, pak. I-ini tadi ayamnya kayak masih mentah, ternyata bukan. Saya yang salah lihat" Mendengar ucapan Afi, sejenak Arsya menatal ayam yang sedang Afi santap.
Pria itu mengatupkan bibir namun giginya tetap bergerak mengunyah makanan yang ada di dalam mulut.
Afifah sendiri merasa malu.
"Kalau aku nggak fokus begini, cepat atau lambat penyamaranku pasti akan ketahuan" Batin Afifah.
****
Di sebuah apartemen, Prillya sedang mengintimidasi Sheema, sebab beberapa waktu lalu dia memergoki wanita yang menjadi sekretaris Arsya itu tengah bicara melalui telfon dengan seseorang.
Sheema mengatakan dirinya akan menjemput istri dari bosnya.
Entah bos yang mana, yang jelas Prillya memiliki firasat kalau Arsya benar-benar menikahi gadis pilihan ayah mertua.
"Kalau Arsya memang tidak menikahinya" Pungkas Prillya dengan tatapan membulat. "Katakan dimana dia tinggal? Aku akan bertanya langsung ke gadis itu"
"Saya kurang tahu, bu. Saya hanya di suruh mengurus dokumen persyaratan nikah sama pak atmajaya, tapi saya tidak tahu apakah mereka sudah menikah atau belum" Dusta Sheema takut-takut.
"Lalu dimana dokumen itu?"
"Waktu itu saya serahkan semua ke KUA"
"KUA mana?"
Meski ragu, tapi Sheema terpaksa memberitahu Prillya.
"Ingat, jangan bilang ke Arsya kalau saya mengunjungi gadis itu, berani kamu mengadu akan saya pecat kamu"
"B-baik, bu" Setelah mendengar sahutan Sheema, Prillya meninggalkan apartemen milik Sheema. Sheema yang panik, hendak menghubungi Beno untuk memberitahukan bahwa Prillya akan segera tahu dimana Afi tinggal.
Namun, karena Prillya belum benar-benar keluar dari apartemen, secara tak sengaja dia mendengar Sheema memanggil nama Beno. Wanita itu pun mengurungkan niatnya untuk pergi, ia memilih menguping obrolan Sheema dari balik telfon.
"Oohh.. Jadi begini ya, kelakuan kamu di belakang saya?" Cercah Prilly dengan tatapan menghujam.
Sheema yang tadinya menempelkan ponsel di telinganya, kini menjauhkan benda itu lalu menyembunyikannya di balik punggung.
"B-bu Prilly"
"Kenapa? Kamu fikir saya benar-benar sudah keluar dari apartemenmu?" Sudut bibirnya tersungging sinis, kemudian kembali berucap "Berani kamu sama saya?"
Sheema hanya diam dengan raut wajah merah padam. Ia menelan salivanya yang seakan tercekat.
"Besok pagi kamu pergi ke Singapura, urus bisnis keluarga saya di sana. Kalau tidak mau segera angkat kaki dari perusahaan Atmajaya group"
"T-tapi, bu"
"Jika kamu menolak ke Singapura, tandanya kamu minta di pecat" Setelah mengatakan itu Prillya langsung pergi meninggalkan Sheema yang membatu.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
tiara officiall
Arsya menurutku tll baik jadi majikan.untumg aj art nya istrinya sendiri,klu enggak,gak baik itu akibatnya.masak beli baju art nya disuruh cobain,kan itu utk baju istrinya
2024-11-01
0
Sugiharti Rusli
si kakek Atmaja sebetulnya tahu ga yah sifat menantunya yang arogan
2024-08-13
0
Asri
prillya masih aja sombong dan semena2 kayak dulu. kenapa gak bisa berubah baik kayak saudaranya 😮💨
2024-08-02
2