Dua hari sejak Shema menelfonku menggunakan ponsel pak Arsya sudah berlalu, keberanianku untuk mengatakan yang sebenarnya masih belum terkumpul. Entah apa yang ku tunggu, tapi aku merasa sudah nyaman seperti ini.
Takutnya jika aku berkata jujur, pak Arsya jadi ilfil padaku atau malah membenciku.
Biar bagaimanapun, Shema memang benar, hanya saja aku belum siap kalau kemungkinan buruklah yang akan terjadi.
Mendesah pelan, aku terus mengarahkan shower di atas kepala, mencuci rambut berharap prasangka buruk yang memenuhi isi otakku turut hanyut terbawa arus.
Hingga beberapa menit berlalu sesi mandiku pun selesai.
Ku keringkan rambutku menggunakan handuk, lalu membungkusnya membuat leher jenjangku terekspose sangat jelas.
Sebelum keluar, ku lilitkan handuk lain ku untuk menutupi tubuhku, kemudian mengecek penampilanku sekali lagi.
"Afi, Afi.. Entah mimpi apa sebelumnya, kamu bisa sampai di titik ini?" Lirihku sambil menatap kedua iris mataku melalui pantulan cermin.
Kembali menarik napas panjang, ku putar knop pintu dan langsung keluar melangkahkan kaki ke arah lemari pakaian.
Aku berniat mengambil baju di dalam sana, namun tubuhku seketika tersentak ketika ku dapati pak Arsya ada di kamarku. Bukan itu saja, pria itu kini tengah menatapku dengan sorot yang tak bisa ku mengerti.
Pak Arsya! Batinku lalu menelan ludahku.
Pria itu diam, pandangannya lurus menatap ke arahku.
Astaghfirullah,, aku baru ingat kalau aku hanya mengenakan kain berwarna putih yang di lilitkan sebatas dada hingga atas lutut. Dan aku, sama sekali belum mengenakan pakaian dalam.
Spontan tubuhku berbalik, hendak kembali masuk ke kamar mandi, namun dengan tangkas pak Arsya langsung mencegatku.
"Tunggu!"
Aku berhenti sejenak, tapi kembali melangkah.
"Tunggu, Rere!" Cegatnya dengan suara datar. Nada suara yang belum pernah ku dengar selama aku di sini. "Berani kamu melangkah satu langkah saja, ku pecat kamu!"
Mendengar kalimatnya, aku pun terpaksa menghentikan langkah kakiku.
Pria yang kini ada di belakang punggungku perlahan mendekat, tampak sangat jelas dari bayangannya yang bergerak maju.
Detik berikutnya pundakku di sentuh dan tubuhku di balik dengan sedikit memaksa.
Ada apa dengan pak Arsya? Apa karena terlalu stres memikirkan istrinya dia jadi begini? dia butuh pelampiasan? Dengan aku hanya mengenakan handuk seperti ini, apakah dia akan_
No, no..
Aku yang sudah berbalik, bisa sangat jelas menatap tubuh pak Arsya yang menurutku sangat body goals.
Sungguh, aku hanya mampu menatap sepasang kakinya dengan perasaan takut di level teratas.
Satu detik, dua detik, tangannya kembali terulur kali ini menyentuh daguku untuk di arahkan ke wajahnya.
Kini, pak Arsya tengah bebas menatap wajahku yang kemungkinan memerah karena menahan takut. Tanganku bahkan gemetar saat menahan handuk di dadakku.
"Lihat aku?" Lirihnya, sebab aku memejamkan mata. Sama sekali tak punya nyali untuk menatap kilat matanya. "Buka matamu, kalau tidak kamu ku pecat!" Perintahnya lagi dengan intonasi rendah, tapi penuh penekanan.
Sejujurnya aku tak mau menuruti perintahnya, akan tetapi ancamannya itu benar-benar sudah menghantuiku.
Ketika ku buka mata, aku hanya mampu menatap dagunya.
"Lihat mataku!" Tekannya lagi.
Ya Tuhan... Ada apa ini??
Butuh waktu setidaknya lima detik untuk aku bisa mempertemukan netra kami.
Entah sudah berapa kali aku menelan ludahku yang terasa getir, aku benar-benar takut saat melihat sorot dingin dari sepasang mata pak Arsya.
Cukup lama mata kami saling bersirobok, dan pak Arsya hanya diam membatu, tahu-tahu dia sedikit mendekatkan wajahnya ke wajahku. Otomatis kedua mataku reflek terpejam.
"Bapak mau apa?" Tanyaku dengan sepasang mata tertutup rapat.
Tak ada jawaban dari pria di depanku ini.
Karna penasaran, aku memberanikan diri membuka mataku kembali.
Sorot itu ku lihat masih dingin.
Bertahan hingga satu menit, tiba-tiba pak Arsya melepaskan daguku, lalu tanpa mengatakan sepatah kata, dia membalikkan badan dan langsung keluar dari kamarku tanpa menutup pintunya.
Sesaat setelah kepergiannya tubuhku luruh, lantas terduduk di lantai masih dengan kedua tangan menyentuh dadaku.
Astaghfirullah? Apa yang terjadi denganku? Kenapa bisa sampai pria itu masuk ke kamar?
Menarik napas panjang, aku bangkit setelah kurang lebih lima menit bersimpuh.
Ku langkahkan kaki dengan gontai menuju pintu, menutupnya, lalu berjalan ke arah lemari.
Ku raih satu stel piyama serta pakaian dalam kemudian langsung memakainya.
Sungguh aku seperti tak punya muka di hadapan pak Arsya. Jika saja pria tampan itu bukan suamiku, sudah pasti harga diriku tercoreng.
Selesai memakai baju, ku lepas lilitan handuk di kepalaku.
Duduk di tepi ranjang, ku tarik laci nakas untuk mengambil hairdryer yang ku simpan di sana.
Tunggu!!
Aku terhenyak saat mendapati laci tak serapi sebelumnya, padahal yang ku tahu laciku ini selalu rapi, bahkan aku sangat hafal seperti apa posisi pengering rambut ini tergeletak.
"Jangan-jangan_" Dengan cepat aku berlari menuju lemari pakaian, ku keluarkan koper lalu ku buka kode sandinya.
"Syukurlah, laptop beserta buku nikah masih aman di tempat semula" Desisku lega.
"Tapi ada apa dengannya? Apa yang membuatnya seperti itu?"
Benar-benar pertanyaan itu seakan berhasil mengusik ketenanganku.
****
"Selamat pagi, pak?" Sapaku ramah, ketika pak Arsya memasuki ruang makan.
"Pagi" Sahutnya datar. Pria itu seperti tengah menahan kesal.
Seperti biasa, aku melayaninya setiap kali pak Arsya makan. Hanya sebatas menyidukkan nasi, lalu sayur beserta lauk dia sendiri yang akan mengambilnya.
"Saya minta maaf untuk kejadian tadi malam, pak. Saya lupa mengunci pintu kamar saya. Saya janji hal ini tidak akan terjadi lagi"
Pria itu tak meresponku, dia tetap fokus pada sarapannya, satu lagi, wajahnya terkesan kaku, kering, dan dingin tak tersentuh.
"Selamat makan, pak!" Ucapku lalu memasuki dapur.
Tidak biasanya pak Arsya bersikap dingin padaku.
Aku termenung, menatapnya dari dapur pria berjas hitam yang tengah begitu lahapnya menikmati sarapan yang ku sajikan.
Kenapa mendadak hatiku resah?
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
💗vanilla💗🎶
knp afifah yg minta maaf
2024-11-17
0
Lyzara
kira2 ada apa dengan pak arsya. apakah dia sudah tau. dri mn dia tau. dr shema kah
2024-08-15
0
sryharty
susah bin bingung pasti berada di posisi Afi,
2024-08-14
0