Sudah tujuh hari Atmajaya meninggalkan istri, anak, menantu serta cucunya.
Selama tujuh hari itu pula, tak seorangpun yang teringat dengan Afifah. Bahkan belum ada yang memberitahunya bahwa Atmajaya sudah tiada.
Kesibukan Afifah juga seakan membuatnya melupakan kakek dari suaminya itu. Ia mengira kalau sang kakek pasti sudah sembuh mengingat tak ada yang mengabarinya. Dugaannya di perkuat ketika ia menjenguknya di rumah sakit, salah satu suster yang menjaga Atmajaya mengatakan kalau kondisinya sudah semakin membaik.
"Arsya, apa kamu sibuk, nak?" Tanya neneknya.
Arsya yang sedang duduk di balkon kamarnya, langsung melipat laptop di atas pangkuan kemudian menaruhnya di atas meja.
"Nenek, ada apa?"
"Punya waktu sebentar? Nenek ingin bicara"
"Untuk nenek, pasti ada" Dia tersenyum dengan kepala terdongak, menatap wanita tua yang masih berdiri di dekatnya. "Duduklah nek, aku memiliki banyak waktu untuk nenek"
Setelah duduk, sang nenek masih bergeming dengan pandangan lurus menatap jalan raya. Arsya yang melihatnya tersenyum seraya menunggu neneknya bicara.
"Bagaimana kamu setelah menikah?" Tanyanya to the point. Persekian detik ia teringat kalau dirinya maupun Beno belum memberitahu Afifah mengenai kakek.
"Nenek sudah tahu?" Tanyanya, Arsya membetulkan posisi duduk lalu mengambil napas panjang dan mengeluarkannya secara perlahan.
"Kakekmu yang memberi tahu nenek. Kapan kamu akan memperkenalkan istrimu ke kami?"
"Tapi dia_"
"Nenek sudah tahu semuanya Arsya, dan siapapun istrimu, dia adalah gadis pilihan kakek"
"Tapi aku tidak tahu siapa dia nek, aku tidak mencintainya"
"Tahu pepatah jawa?" Tanya sang nenek menolah ke samping kiri, Arsya sendiri langsung merespon dengan bahasa tubuh. Menggeleng.
Si nenek menyunggingkan senyum lebar lalu berkata. "Tresno jalaran soko kulino. Kamu tahu apa artinya?"
"Tidak, nek. Memang apa artinya?" Terlihat jelas gurat serius di wajah Arsya.
Sebelum menjawab, nenek bernama Indah itu lagi-lagi tersenyum sambil menatap bola mata cucunya yang teduh.
"Cobalah hidup dengannya. Karena terbiasa, cinta itu pasti akan hadir"
"Apa itu artinya, nek?"
"Hmm" Wanita itu mengangguk. "Kalau kamu sudah hidup dengannya, nenek yakin kamu akan jatuh cinta padanya, kakek bilang dia gadis yang baik, cantik, dan pastinya wanita yang tepat buat kamu, kakek juga bilang dia menyukaimu"
Mendengar ucapan sang nenek, bibir Arsya tersungging. Ada ketidak percayaan atas kalimat neneknya.
"Mana mungkin dia menyukaiku, nek. Kami saja belum saling kenal, dan parahnya, aku sama sekali tak tahu seperti apa wajahnya"
"Kamu tidak tahu seperti apa, dia?" Sang nenek terkejut.
"Iya, nek. Saat itu kakek menyuruhku buru-buru datang untuk menikah, sedangkan yang mengurus pernikahan kami itu Sheema, aku sama sekali tak melihat wajahnya karena ada rasa tak rela untuk menikahinya, gadis itu juga terus menunduk"
"Benar-benar belum melihatnya?" Tanya Indah menegaskan.
"Belum nek. Setelah ijab, aku langsung ke bandara"
"Astaga, lucu sekali" Respon nenek di iringi seulas senyum.
"Lucu apanya nek?" Kesal Arsya, merasa kalau sang nenek tengah meledeknya.
"Selera kakekmu itu tinggi, dan kakek bilang istrimu sangat cantik, jadi kamu jangan khawatir soal rupa. Dia sangat manis, sepertinya memang gadis yang baik, buktinya kakek bisa menyadari kehadirannya padahal saat itu kakek koma"
"Maksud nenek? Apa nenek sudah bertemu dengannya?"
"Belum si" Sahut Indah melempar pandangan ke atas langit yang gelap tanpa bintang. "Tapi nenek percaya dengan kakekmu. Dan kamu tahu?" Katanya menghirup udara dalam-dalam. "Saat kakek koma, suster mengatakan ada gadis yang datang namanya Afifah"
"Oh, ya?"
"Iya Arsya, dan kakek langsung tersadar. Nenek yakin gadis itu memang membawa berkah untuk kita, karena istrimulah nenek bisa bercanda, bicara, dan menemani kakekmu di sisa usianya, padahal saat kakek koma, nenek sempat berfikir kalau kami tidak akan pernah bercanda lagi, tapi ternyata Allah memberi kesempatan itu meski hanya sebentar. Istrimu sudah memberikan kebahagiaan buat nenek"
"Ckck bisa-bisanya nenek bilang begitu"
"Nenek serius, sayang" Ucapnya meyakinkan. "Dan kamu harus tahu, kakekmu itu tidak pernah berbohong, kalau dia bilang cantik, berarti cantik, tak hanya kakek, suster yang sudah melihatnya juga mengatakan hal yang sama"
"Cantik kan relatif, nek. Bagi kakek cantik, bagi suster itu juga cantik, tapi belum tentu bagi aku cantik juga, iya kan?"
"Makannya segera temui dan bawa dia kemari, nanti kita nilai sama-sama"
"Tapi papa sama mamah gimana, apa mereka akan setuju?"
"Papahmu nenek yakin setuju jika memang itu pilihanmu, tapi mamahmu, hmm.." Nenek menggelengkan kepala. "Bisa saja menentang. Kamu tahu kan kalau mamahmu sudah menjodohkanmu dengan Silvia"
"Nah itu masalahnya, nek"
"Jangan khawatirkan hal itu, lambat laun Prilly pasti setuju" Indah mengusap lengan Arsya, sebelum kemudian bangkit.
"Sudah malam, tidurlah" Perintahnya. "Jangan lupa, segera boyong istrimu ke rumahmu, selamat malam" Tambahnya lalu pergi meninggalkan Arsya yang masih duduk mematung, dengan raut bingung.
"Selamat tidur, nek" Balasnya.
"Afifah?" Desis Arsya setelah sang nenek benar-benar sudah tak terlihat, pria itu berdiri, lalu melipat tangannya di dada. "Siapa namanya? U_ Ufaira Berlian Afifah? Itu kah namanya?"
"Berlian?" Gumamnya sambil mengingat-ingat. "Sepertinya bukan"
***
Hari ini langit tampak begitu cerah, warna biru serta matahari yang begitu terik membuat orang-orang merasakan gerah. Tak sedikit orang berbondong-bondong membeli milkshake dingin untuk meredakan rasa haus efek dari cuacanya yang terlampau panas.
Arsya yang sudah menginap di rumah orang tuanya selama tujuh hari, sore ini dia akan pulang ke rumahnya.
Rumah pribadi yang sudah ia bangun dari hasil kerja kerasnya selama ini.
Di rumah itu Arsya tinggal bersama Beno, akan tetapi hari ini Beno akan pindah dan tinggal di apartemen miliknya karena Arsya ada rencana memboyong Afifah ke rumahnya. Selain itu, akan ada ART yang sudah di pesan oleh Beno untuk membantu Arsya dan Afifah.
Di depan rumah yang cukup megah, Afifah berdiri di balik pintu pagar yang tak tertutup
sebab baru saja ada sebuah mobil yang memasuki rumah berlantai tiga itu. Sesaat kemudian sesosok wanita paruh baya keluar dari dalam mobil, lalu berjalan ke arah pintu gerbang untuk menutupnya lagi, Afifah buru-buru berjongkok supaya keberadaannya tak di ketahui olehnya.
Afi melihat kalau wanita high class itu sedang bicara melalui ponsel yang menempel di salah satu telinganya.
"Iya sayang, tante mau konfirmasi sama Arsya. Kalau sampai berita itu benar, tante nggak segan-segan buat melenyapkan wanita yang sudah bernai menikahi Arsya. Tante akan membunuhnya kalau perlu"
Kalimat itulah yang ia dengar, yang sontak membuat Afi detik itu juga di serang rasa takut. Ia bahkan terduduk luruh di tanah saking lemasnya.
"D-dia mau membunuhku?" Lirih Afifah dengan keringat dingin yang sudah membanjiri sekujur tubuh. "Lebih baik aku pergi dari sini dan keluar dari hidup pak Arsya, aku tidak mau membahayakan nyawaku sendiri"
Ketika Afifah hendak berbalik, dia malah merasa kalau nyawanya kian terancam jika dia pergi. Sudah pasti wanita bernama Prilly akan mencarinya kemanapun dia pergi.
"Tidak, aku yakin dia akan menemukanku" Afifah menoleh ke rumah bercat silver. Ia lantas menelan ludahnya dengan susah payah. Saat kepanikannya kian bertambah, tiba-tiba saja ada seseorang yang menepuk pundaknya pelan.
"Astaghfirullah" Tubuhnya berjengit karena kaget, kemudian berbalik untuk mencari tahu siapa yang ada di balik punggungnya.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
Sugiharti Rusli
siapa tuh yang menepuk pundak si Afifah
2024-08-13
0
Asri
prilly lupa ceritanya dengan adam dan zidan 😮💨
2024-08-02
1
Ainisha_Shanti
syukurlah Afifah mendengar ada yang ingin melenyapkan nyawa nya kerana Arsya sudah menikahinya.
2024-07-31
0