Part 5

"Astaghfirullah" tubuhnya berjengit karena kaget, kemudian berbalik untuk mencari tahu siapa yang ada di balik punggungnya.

"Maaf mbak, mengagetkan embak"

Afifah menelan salivanya sebelum merespon.

"Si-siapa kamu?"

"Maaf, saya hanya ingin bertanya, apa benar rumah ini milik pak Arsya Atmajaya?"

"I-iya betul" Afifah tergagap karena masih panik. "K-kamu siapa?"

"Saya ART baru yang akan bekerja di rumah pak Arsya, mbak" Sahutnya ramah.

"ART baru?"

"Iya"

Ini kesempatanku untuk bersembunyi di rumah pak Arsya. Bu Prilly pasti tidak akan curiga padaku, dan pastinya tidak pernah menyangka kalau aku wanita yang sedang dia cari.

Afifah membatin.

"Mbak!" Panggil gadis yang membawa koper.

"I-iya"

"Mbak siapa, kenapa berdiri di sini?" Tanyanya.

"Maaf mbak, pak Arsya tidak jadi mempekerjakan embak karena sudah ada ART di rumah kami"

"Loh, kok gitu? Memangnya embak ini siapa?"

"Aku istrinya pak Arsya" Jawab Afifah sedikit ragu sebenarnya.

Wanita yang berdiri di hadapan Afifah terbengong, dari wajahnya yang tersirat, Afifah tahu kalau calon ART itu tak percaya. Diapun langsung membuka resleting tasnya dengan tangan gemetar.

"Kalau embak nggak percaya, aku punya bukti kalau aku adalah istrinya pak Arsya" Afifah meraih buku nikah yang selalu ia bawa di dalam tasnya. Itu dia lakukan karena selalu ingin memandang wajah tampan Arsya di buku itu.

"Ini buku nikah kami" Tangannya menyodorkan buku dan memperlihatkan identitas yang tertulis di salah satu lembaran berwarna putih, juga foto yang tertempel di sana.

Sementara si calon ART mencermati buku itu dengan saksama.

Benar memang, di sana tertulis nama Arsya Atmajaya, dan seketika itu dia langsung percaya.

"Embak percaya, kalau aku ini istrinya?"

"Iya mbak, maaf saya tidak tahu"

"Nggak apa-apa, maaf juga kami tidak jadi mempekerjakanmu"

"Iya, mbak nggak apa-apa. Kalau gitu saya permisi"

"Tunggu, mbak" Cegat Afi meraih tangan wanita yang tak dia ketahui siapa namanya.

"Iya mbak ada apa?"

"Boleh nggak, saya minta tolong?"

"Minta tolong apa, mbak?" Tanyanya tak mengerti.

"Nama kamu siapa?"

"Nama saya Rere, mbak"

"Ok Rere, tolong jangan beri tahu agensimu atau pak Arsya kalau kamu nggak jadi kerja di sini, jangan beri tahu siapapun juga kalau yang membatalkannya itu aku, istrinya pak Arsya. Kalau bisa, kamu pindah agensi aja, dan lupakan soal ini"

"Jika kamu nggak mau, aku bisa saja buat kamu tidak bisa bekerja di manapun, tahu kan maksudku?"

Merasa di ancam oleh orang kaya, si calon ART pun mengangguk tanpa ragu.

"Ini aku kasih pesangon, itung-itung buat ganti rugi" Lanjut Afi menyerahkan lima lembar uang seratus ribuan. "Ingat, orang kaya bisa melakukan apapun" Secepat kilat Afi mengambil foto gadis itu di ponselnya. "Kalau kamu berani macam-macam, aku bisa melakukan apapun dengan foto kamu ini, mengerti"

Takut-takut dan sedikit ragu, dia menerima sodoran uang dari Afifah lalu segera pergi.

Sesaat setelah kepergian calon ART yang asli, Afifah menarik napas lega. Setidaknya satu masalah selesai, dan dia akan segera pulang untuk mengambil koper yang sudah siap untuk di boyong.

Karena sebelumnya ada pemberitahuan dari Sheema kalau dia akan menjemputnya, jadi Afifah sudah mengemasi pakaiannya yang akan di bawa ke rumah sang suami.

"Aku harus pulang dan segera kembali ke sini"

*****

Sorenya, Arsya yang sudah pulang ke rumahnya berulang kali menatap jam di pergelangan tangan. Ia tengah menunggu ART baru yang katanya akan datang hari ini.

Hingga waktu semakin petang, Arsya akhirnya meraih ponsel yang ia letakkan di atas meja ruang keluarga.

"Beno, kamu dimana?" Arsya menelfon untuk menanyakan kenapa ARTnya tak kunjung datang.

"Saya di apartemen, bos. Ada apa?"

"ART baru, kenapa belum sampai? Kamu sudah menyuruhnya untuk datang hari ini kan?"

"Sudah, bos. Di tunggu saja, mungkin sebentar lagi"

"Sebentar lagi gimana? Ini sudah jam lima sore"

"Saya juga kurang tahu, bos. Coba saya tanyakan dulu ke agensinya"

Tiba-tiba telinga Arsya mendengar bel berbunyi, otomatis memantik atensinya terlempar ke arah gerbang.

"Tunggu sebentar Ben, sepertinya ada yang datang"

"Mungkin itu ART baru, bos"

"Ya, mungkin saja" Sahut Arsya lalu melangkah keluar. "Ini ku tutup dulu"

"Baik bos"

Sambungan terputus, kaki Arsya yang jenjang membuatnya mampu melangkah lebar-lebar.

"Permisi, apa benar ini rumah pak Arsya?" Tanya seorang wanita setelah gerbang terbuka.

"Benar, apa kamu ART baru?"

"Iya, pak. Saya ART baru yang di pilih pak Beno untuk bekerja di sini"

"Okay, masuklah" Pinta Arsya membuka lebar pintu gerbang lalu sedikit bergeser agar wanita itu bisa masuk.

"Terimakasih, pak"

"Sama-sama" Jawabnya.

Afifah, terpaksa menyamar sebagai ART karena merasa nyawanya terancam. Entah sampai kapan dia lakukan, yang jelas untuk sementara ini secara tak langsung ia berlindung di bawah kekuasaan Arsya.

Dia juga akan mencari tahu seperti apa sosok suaminya, jika pria itu baik seperti yang di katakan kakek Atmajaya saat Afi menjenguknya di rumah sakit, maka Afi akan mencoba jujur kalau dia adalah Afifah. Namun jika Arsya adalah pria arogan dan juga kejam, Afi pun akan menyerah, melupakan pernikahannya dan pergi dari kota ini untuk melarikan diri dari Prillya. Ibu mertuanya.

"Siapa namamu?" Tanya Arsya.

"N-nama?" Afi dan Arsya berjalan bersisian memasuki rumah.

"Iya, kamu punya nama, kan?"

"N-nama saya_" Afi menggantung kalimatnya, ia meneguk ludahnya dengan susah payah. "Nama saya Rere, pak" Lanjutnya di iringi jantung berdebar.

"Rere?" Balas Arsya. "Nama yang bagus" Arsya kemudian tersenyum sopan.

"Nah Rere, ini kamar kamu, jika butuh sesuatu katakan saja padaku" Lagi, Arsya kembali tersenyum, membuat Afifah semakin jatuh hati.

"Terimakasih, pak"

"Hmm.. semoga betah, ya"

"Iya, pak"

Ketika pria itu hendak berbalik, Afi segera mencegahnya.

"Oh iya pak, malam ini mau masak apa?" Tanyanya agak ragu.

"Nggak usah masak, kamu baru saja datang, pasti cape. Lebih baik bereskan barang-barang kamu, mandi, nanti aku pesan makanan siap saji"

"Begitu ya pak"

Arsya mengangguk meresponnya "Saya ke kamar dulu, ya"

"Pak Arsya!" Afi, lagi-lagi mencegahnya.

"Iya, ada apa?" Kening Arsya mengernyit.

"Ada siapa saja di rumah ini, pak?" Tanya Afi hati-hati.

"Untuk sekarang saya hanya sendiri, tapi beberapa hari lagi istri saya akan datang"

Mendengar kata istri, Afi menelan ludahnya pelan. Ia merasa kalau apa yang kakek katakan memang benar. Cucunya adalah pria yang baik, buktinya dia mengakui kalau dirinya sudah beristri.

"Kapan, pak? M-maksud saya, kapan istri bapak akan datang?"

"Entahlah, saya perlu membenahi dan mungkin sedikit merubah interior di kamar saya menjadi lebih veminim, saya juga harus menyiapkan kebutuhannya seperti pakaian maupun kebutuhan wanita yang lain"

"Baik, pak. Maaf banyak tanya" Kata Afi tak enak hati.

"Nggak apa-apa, saya suka orang yang banyak tanya"

"Tolong bantu saya menyiapkan semuanya, ya" Imbuhnya. "Sudah tidak ada lagi yang ingin kamu tanyakan?"

"Sudah tidak ada pak"

"Baiklah, saya ke kamar dulu"

"Baik, pak"

Seperginya Arsya dari hadapannya, Afi memasuki kamar yang sudah tertata rapi. Meski hanya kamar untuk ART, tapi ruangannya lumayan luas, isinya juga bukan dari harga yang murah, simple tapi mewah.

"Kamar untuk ART nya saja sebagus ini, bagaimana kamar pak Arsya?" Lirihnya menyunggingkan senyum.

Mendadak ingatannya tertuju pada kata-kata Arsya beberapa menit lalu.

"Pak Arsya memintaku membantu menyiapkan semuanya? Apa dia memang benar-benar menerimaku sebagai istrinya?"

"Aahh" Afi mengusap wajahnya berulang-ulang. "Jangan berfikir yang manis-manis dulu Afi, pertempuran ini baru saja di mulai. Jangan senang dulu! Ingat, mamahnya mengincar nyawamu"

Mendesah lirih, Afi menarik kopernya ke arah lemari. Ia mulai mengeluarkan baju-bajunya untuk di masukkan ke dalam sana.

Setelahnya, wanita itu mengamankan identitas berikut buku nikah di dalam koper, mengunci resleting koper dengan kode rahasia, kemudian memasukan koper itu ke dalam lemari di shaf paling bawah.

"Aku harus mengirim surat pengunduran diri ke sekolah, juga ke tempat kursus" Afi lalu mengelurkan laptop dari dalam ransel.

Dia duduk di tepian ranjang, membuka laptop dan menyalakannya, kemudian mengirim draft yang tersimpan di file pribadinya.

"Alhamdulillah, selesai. Akan ku sembunyikan laptop ini, jangan sampai pak Arsya tahu kalau aku membawa benda ini, huffttt" Afi melirik jam di tangannya. "Sudah hampir maghrib, aku akan mandi terus sholat"

Bersambung

Terpopuler

Comments

Sugiharti Rusli

Sugiharti Rusli

si Arsya ga memeriksa lagi apa identitas calon art barunya tuh🤔🤔🤔

2024-08-13

0

Lyzara

Lyzara

lnjut lagi kak

2024-08-02

0

Puspita

Puspita

semoga Arsya gk sengaja ketemu surat nikah mereka 🥰

2024-08-02

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!