Part 8

Entah apa yang ada dalam fikiran kedua wanita itu, yang pasti mereka sama-sama terpaku dengan batin yang berbeda.

Sheema dengan seputar pertanyaan, 'kenapa dan mengapa' di dalam otaknya, sementara Afi dengan rasa was-was yang menyelimuti hatinya.

Arsya sendiri masih belum sadar bahwa dua wanita di dekatnya terdiam dengan sepasang mata saling menatap lekat-lekat.

Ketika tak ada suara dari Shema dan juga Afi, Arsya akhirnya sedikit mengangkat pandangan dan langsung menjatuhkannya tepat di wajah Sheema.

Nona Afifah... Mimik Shema tampak sangat jelas menyebut nama Afi. Dan Afi tahu itu. namun berbeda dengan Arsya yang tak faham akan mulut Shema yang bergerak tanpa mengeluarkan suara.

Tepat ketika Shema menelan ludahnya, Afifah memberikan isyarat dengan menempelkan jari telunjuk di mulutnya sekaligus menggelengkan kepala. Tanda supaya Shema tetap tutup mulut dan tak mengatakan apapun.

Kedua kalinya Shema menelan saliva kali ini sambil membalas tatapan Arsya yang tengah mengangkat salah satu alisnya karena keheranan.

"Kenapa, She?" Tanya Arsya. Pria itu lantas menolehkan wajah memindai Rere, asistennya.

"Oh ya, She.. Itu Rere, ART baru yang Beno kirimkan"

"A-Art?" Cicit Shema, kembali melirik Afifah yang lagi-lagi sedang memberikan kode dengan bahasa tubuh, menggelengkan kepala.

Mengerti dengan maksud nonanya, Shema pun diam menurut. Akan tetapi diamnya itu seraya berfikir bagaimana agar dirinya bisa bicara dengan Afifah dan menanyakan apa maksud semua ini. Sebagian dari fikirannya menebak kalau Afifah pasti memiliki alasan kuat kenapa menjadi ART di rumah suaminya sendiri, dan sebagian lagi, berfikir keras bagaimana Afifah bisa melakukan itu, maksudnya dimana Rere yang asli?

Manipulasi apa yang Afi mainkan dengan melibatkan Rere? Shema membatin masih dengan sorot tak mengerti.

Ah semua itu hanya Afi yang bisa memberikan penjelasan padanya.

"Re, ini Shema" Kata Arsya saat Afi meletakkan botol mineral di atas meja.

"Halo" Sapa Shema yang di respon senyuman oleh Afi. "Saya Shema"

"Saya R-Rere"

Keduanya saling berbalas senyum. Senyum yang terkesan getir.

"Silakan, mbak Shema!"

"Terimakasih"

"Sama-sama" Balas Afi. "Saya permisi dulu"

Arsya serta Shema mengangguk meresponnya.

Sesaat setelah kepergian Afi, Shema meminta izin untuk ke toilet. Wanita itu beranjak dari tempat duduknya setelah Arsya mengizinkannya.

Alih-alih ke kamar mandi, Shema justu mengarahkan langkahnya ke kamar ART.

Pelan ia mengetuk pintu seraya memanggil.

"Nona Afi" Lirihnya sambil melirik ke ruang tengah. Bermaksud waspada kalau bosnya tiba- tiba menghampiri.

Tak menunggu lama pintu pun terbuka, dan Afi langsung menarik tangan Shema agar masuk ke dalam kamar.

Sesuatu yang di harapkan Afi, bicara empat mata dengan orang kepercayaan sang suami.

"Kita bicara!" Ucap Afi, satu tangannya menutup pintu lalu menguncinya.

"Bagaimana bisa nona menyamar jadi Rere?" Tanya Shema tanpa basa basi. Sungguh ia ingin segera tahu apa alasan Afi yang sebenarnya.

"Dimana Rere yang asli, nona? Dan kenapa nona tahu soal Rere".

"Panjang ceritanya, tapi jangan bahas sekarang"

"Tapi nona, kenapa nona melakukan ini?" Tanya Shema begitu penasaran.

"Saya terpaksa, Shema" Jawab Afi "Bu Prily, saya mendengar dia bicara lewat telfon bahwa dia ingin menyingkirkanku"

"J-jadi nona sudah bertemu dengan bu Prilly"

"Belum, waktu itu saya melihat bu Prilly datang ke rumah ini, saya bersembunyi dan mendengar dia mengatakan itu"

"Syukurlah, nona. Nona belum bertemu bu Prilly. Sepertinya bu Prilly menentang pernikahan nona dan pak Arsya" Kata Shema, sedetik kemudian ia kembali bersuara. "Apa bersamaan dengan bu Prilly, nona juga kesini?"

"Iya, kebetulan waktu itu saya membaca majalah yang isinya mengenai kehidupan pak Arsya, di sana juga tertulis alamat rumah orang tuanya dan rumah pribadinya. Karena saya penasaran, jadi saya datang, tapi kebetulan ada Rere yang tiba-tiba bertanya padaku mengenai rumah pak Arsya. Dari situ saya mendapat ide untuk memakai identitas Rere, saya yang mengcancel Rere untuk kerja di sini. Saya takut, Shema" Pungkas Afi menjelaskan. "dan dengan begini saya bisa berlindung dari bu Prilly"

"Tapi bagaimana dengan Beno, bukankah dia yang ambil Rere? Dia pasti tahu Rere yang asli"

"Pak Beno tidak tahu, karena dia hanya meminta agency untuk mengirimkan ART sesuai dengan kriterianya"

"Dari mana nona tahu?"

"Rere yang bilang sendiri, dia juga mengatakan belum bertemu dengan pak Beno"

"Ah aku lega, nona"

"Tolong jaga rahasia ini setidaknya sampai saya bisa meyakinkan pak Arsya kalau ibunya ingin membunuhku, juga menunggu waktu yang pas buat saya jujur ke pak Arsya"

"Okay nona, saya mendukung rencana nona, tapi bagaimana dengan bu Prilly yang akan mencari tahu soal pernikahan kalian? Beliau akan mendatangi kantor KUA dan memperjelas hubungan kalian?"

"Kalau begitu, besok pagi kamu datangi KUA, bilang untuk jangan memberitahu informasi apapun kepada bu Prilly"

"Tapi saya yakin bu Prilly tidak berhenti di situ, dia pasti punya cara supaya pihak KUA memberikan informasi yang dia inginkan. Dia juga pasti akan mencari nona ke rumah nona"

"Ini tugasmu, Shema. Saya yakin kamu bisa"

Shema diam, memepertimbangkan perintah Afi.

"Begini saja" Ujar Afi dengan tatapan serius.

"Bilang saja ke pihak KUA kalau berkas pernikahannya di ambil lagi sama saya, bilang juga kalau kami belum jadi menikah. Kamu juga harus ke sekolah tempat saya ngajar untuk menghapus semua data-data tentangku termasuk foto. Mungkin ada beberapa guru yang menyimpan foto saya, suruh mereka menghapusnya dan jangan sampai tersebar ke siapapun. Pastikan bu Prilly benar-benar tidak tahu seperti apa wajah saya, juga pak Arsya dan pak Beno"

"Baik nona"

"Kamu ke rumah saya juga, ceritakan pada Ririn tentang semua ini, katakan padanya untuk tidak memberikan informasi apapun mengenai saya. Siapapun, baik bu Prilly atau pak Arsya yang mencari saya, suruh Ririn untuk mengatakan kalau dia tidak tahu kemana saya pergi"

"Saya mengerti, nona"

"Lakukan secepatnya"

"Baik" Sahut Shema.

"Terimakasih, Shema"

"Tapi nona harus hati-hati, bu Prilly orangnya nekad, nggak cuma sekali dua kali dia berambisi, dan ambisinya itu harus terpenuhi. Dan maaf, saya tidak bisa membantu nona lagi setelah ini"

Mendengar kalimat Shema, Alis Afi menukik tajam. "Kenapa?"

"Saya di tugasi bu Prilly untuk bertukar posisi dengan Joana di Singapura"

"Kenapa?"

"Bu Prilly merasa saya mengkhianatinya karena sayalah yang urus pernikahan kalian, dia murka, lalu melarang saya untuk tidak lagi ikut campur dengan urusan pak Arsya, termasuk soal pekerjaan, dia akhirnya menempatkan saya disana, nona"

"Kamu sedih?" Tanya Afi ketika ada buliran bening jatuh dari pelupuk mata Shema.

"Saya tidak bisa jauh dari keluarga, nona. Kalau saya tidak menuruti bu Prilly, dia akan memecat saya. Saya tidak punya pilihan lain karena saya adalah tulang punggung keluarga"

Afi mengusap lengan Shema untuk menguatkan. "Saya tahu perasaanmu, saya janji akan secepatnya memulangkan kamu, dan bekerja seperti biasa dengan pak Arsya"

"Terimakasih, nona"

"Sama-sama. Doakan saya tetap aman berada di dekat pak Arsya"

"Pasti nona"

"Jangan lupa" Afi mengingatkan. "Besok pagi segera urus semuanya sebelum bu Prilly mendatangi KUA, sekolah, dan juga rumah saya"

"Iya, nona"

"Tetap waspada, jangan sampai ada yang tahu"

"Siap" Balas Shema tanpa ragu. "Nona juga harus hati-hati. Saran saya, jika nona sudah tidak bisa melakukan apapun, lebih baik beritahu pak Arsya yang sebenarnya. Katakan padanya kalau mamahnya ingin melenyapkan nona"

"Iya, Shema. Kalau saya sudah Punya bukti bahwa bu Prilly ingin membunuh saya, saya akan jujur ke pak Arsya"

"Iya, nona"

Lalu hening, baik Afi maupun Shema hanya diam saling menatap. Beberapa saat kemudian Shema menghambur ke pelukan Afi.

Afi sendiri langsung membalas pelukan Shema.

"Nona orang baik, pasti ada jalan keluar untuk masalah ini, nona" Kata Shema, lalu mengurai pelukannya. "Lusa saya berangkat, jaga diri nona baik-baik"

"Ya, kamu juga"

Shema mengangguk, sebelum keluar dari kamar Afi, Wanita itu menghapus pipinya dan menetralkan perasaan yang sedikit emosional.

"Saya permisi, nona"

"Iya"

Tangan Shema bergerak memutar kunci pintu, lalu membuka dan langsung keluar. Bergegas ia melangkah menuju ruang tengah.

Bersambung

Terpopuler

Comments

Sugiharti Rusli

Sugiharti Rusli

semoga aja identitas si Afi aman yah

2024-08-13

0

Lyzara

Lyzara

wah wah kerja sm yg bgus

2024-08-05

0

Salim S

Salim S

ibunya s arsya ngeri ya kaya psikopat..semoga sheema bisa mengelabuhi s nenek lampir dam arsya percaya sama afi...

2024-08-04

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!