Bab. 19

Khanza yang hanya sempat mencuci muka serta menyikat gigi. Untung lah dia sedang berhalangan jadi tak terlalu masalah kesiangan bangun. Setelah merapikan rambut anaknya, satu hal yang tidak bisa dilakukan Naura sendiri ternyata, Khanza membawa putri sambungnya itu kemudian ke meja makan. Disana, sang pembantu telah menyiapkan sarapan pagi berupa nasi goreng sosis kesukaan Naura hal yang biasa Khanza masak namun kali ini tidak.

"Maaf ya, Sayang Bunda tidak sempat membuat sarapan untuk Naura." Sesal Khanza saat mulai menyendokkan sepiring nasi goreng untuk Naura.

"Gak apa-apa, Bunda." Jawab Naura dengan sedikit senyum. Kentara sekali Naura yang sedikit kecewa namun dua tutupi dengan senyuman. "Bunda, Daddy mana? Belum bangun ya semalam? Soalnya sampai Naura tidur, Daddy belum pulang dari anter nenek." Naura baru ngeh ayahnya tidak ikut sarapan bersamanya.

Khanza menarik sudut bibirnya, "Sudah berangkat pagi-pagi sekali tadi. Kebetulan Naura belum bangun, Sayang. Lagi, terpaksa Khanza berbohong karena rasanya tidak mungkin memberitahukan jika ayahnya semalam tidak pulang.

Naura hanya angguk-angguk kepala. "Ayo, Bunda! Naura sudah selesai."

Nasi goreng di piring masih banyak tersisa. Rupanya karena tidak sempat memasak untuk putrinya, Naura pun jadi tidak selera makan jika bukan hasil masakan nya.

Khanza mengantarkan Naura sekolah dengan menggunakan mobil yang memang di peruntukkan mengantar jemput sekolah. Itu semua di fasilitasi oleh Darren. Sejak beberapa minggu menikah, Khanza di sekolahkan di sekolah mengemudi yang cukup ternama di kota tersebut. Hal tersebut bukan tanpa alasan. Semenjak Naura dekat dengan Khanza, putri Darren itu sangat lengket dengan ibu sambungnya tersebut. Karena itulah sekarang Khanza mahir mengemudi namun dia tetap memiliki batasan.

Gerbang megah Sekolah SD Ceria Cendikia Terpadu sudah terlihat bahkan sejak beberapa ratus meter. Bangunan tinggi nan elit tempat Naura menimba ilmu pendidikan dasar merupakan yayasan dibawah naungan yayasan Cendikia Terpadu yang mencakup sekolah dasar, SMP hingga jenjang SMA dimana keluarga Darren merupakan donatur terbesar.

Tak hanya Naura yang diantarkan sekolah menggunakan mobil. Banyak murid SD Ceria Cendikia Terpadu lainnya diantarkan mobil-mobil mewah bahkan sebagian besar diantar menggunakan mobil yang identik menggunakan jenis sliding door yang harganya diatas milyaran rupiah, lain dengan yang dibawa Khanza yang merupakan mobil jenis sedan karena kepraktisan saat di bawa namun tetap bukan merupakan mobil yang murah mobil yang dibeli oleh suaminya. Tapi terkadang jika Khanza berhalangan mengantar, sopir yang di pekerjakan Darren menggunakan mobil lainnya yakni mobil jenis mpv tentunya dengan tipe sliding door juga.

Setelah sampai, Khanza memarkirkan mobil sedikit lebih jauh dari gerbang sekolah. Hak itu dikarenakan banyaknya mobil yang mengantar murid berhenti tepat di depan gerbang. Untunglah mereka yang mengantar kebanyakan para supir pribadi yang begitu mengantar anak majikannya langsung pergi lagi. Beda dengan Khanza yang turut turun, mengantarkan Naura sampai pintu gerbang. Terkadang Khanza juga ikut masuk kedalam sekolah karena ada keperluan dengan guru.

"Dah, Sayang! Belajar yang rajin ya!" Khanza mencium kening Naura setelah sebelumnya putrinya mencium punggung tangannya, takdzim.

"Dah, Bunda!" Naura melambaikan tangan sampai ke dalam gerbang. Setelah itu dia masuk ke dalam bersama teman namun bukan teman satu kelasnya.

"Hai, moms Naura kesiangan nih hari ini?"

Khanza menengok dan baru menyadari salah satu wali murid menyapanya. "Eh iya nih mom Ilona. Kesiangan juga?"

"Ah gak, Mom. Cuma lagi nunggu Mom aja." Panggilan status karena mereka masih di lingkungan sekolah.

Khanza mengerutkan keningnya. Ada apa gerangan dirinya sampai di tunggui.

Sebelum tanya terucap, Audy, perempuan yang menyapa Khanza menyela, "ngopi cantik yuk, mom! Aku lagi bete nih dirumah. Mobilmu masukin ke dalam. Nanti aku minta izin deh sama satpam sekolah."

"Oh, oke!" Khanza tidak bisa menolak ajakan Audy, wali murid adik kelas Naura namun berteman dekat putrinya itu.

Setelah mendapat izin, Khanza memasukkan mobil kedalam parkiran sekolah untuk kemudian ikut bersama ke dalam mobil yang kebetulan namanya sama dengan pemiliknya, Audy hanya beda di huruf akhir.

Mobil berharga milyaran yang di kendarai Audy membelah padatnya jalan ibukota. Tempat yang dituju mereka adalah kafe sekaligus coffe shop. Tak sampai setengah jam, mereka telah sampai di kafe tujuan.

Lokasi kafe tak jauh dari area perkantoran sehingga keadaan disana lumayan ramai pengunjung yang kebanyakan di isi oleh para karyawan karyawati yang sedang breakfast atau sekedar ngopi tanpa ditemani pendamping nya baik pantry, roti maupun snack. Tok hanya kopi.

Audy mengajak Khanza duduk di luar kafe, dimana terdapat dua kursi single di bawah tenda yang menghadirkan suasana cozy dan sejuk. Mata di manjakan pemandangan para pejalan kaki terutama para pekerja yang hendak ke kantor dengan style atau outfit smart casual di padu padankan dengan pakaian formal.

"Lumayan cuci mata, moms. Bosen lihat suami terus di rumah, haha." Canda Audy.

"Toni dengar bisa ngamuk, Dy." celetuk Khanza, tahu Audy hanya bercanda. Setahu Khanza mereka adalah pasangan bucin. Dia tahu suami Audy bernama Toni yang merupakan asisten pribadi kakak lelaki Audy itu tetapi tidak tahu nama kakak lelaki Audy.

"Jangan dong, haha...Bisa repot baein nya, Za." Audy merubah panggilannya menjadi nama masing-masing karena memang mereka seumuran. Yang membedakan hanyalah usia anak mereka. Ilona , putri Audy hanya setahun lebih muda dari Naura. Audy bertanya dalam hati dulu, dirinya saja menikah muda dengan Toni. Apa kabar Khanza yang usianya hampir sama dengan kakak laki-laki nya namun mempunyai putri sudah seusia SD.

"Jangan kamu ribut lagi sama kakak laki-laki kamu, Dy." Tebak Khanza.

"Ck, gak sih! Cuma males aja aku sama orangtua aku, Za. Ributin masalah abang yang tidak kunjung mau kawin, eh nikah maksudnya. Padahal mami sama papi aku udah nyiapin jodoh buat abang aku. Dasar emang abang Lintang, masih Gamon ( gagal move on) aja sama masa lalu nya."

"Lin_tang...?" gagap Khanza.

"Iya, Lin_tang...."

Terpopuler

Comments

🌷💚SITI.R💚🌷

🌷💚SITI.R💚🌷

lanjuut

2024-10-15

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!