Telepon yang sedang anda tuju sedang dalam panggilan lain.
Khanza melihat ke layar ponselnya beberapa kali. Tetap nada yang tersambung seperti sebelumnya. Dia menghela nafas panjang. Lama-lama dadanya terasa sesak. "Segitu sibuk kah kamu, Mas sampai tidak bisa mengabari kami dulu." Khanza melirik jam di dinding, sudah menunjukkan angka 12 malam kurang. Sebentar lagi berganti hari.
Mencoba sekali lagi peruntungannya, Khanza mencoba menelepon Darren. Kali ini bukan dalam panggilan lain melainkan berdering tetapi tak kunjung di terima.
"Astagfirullah, "Khanza sampai berucap, beristighfar. "Salahkah aku sebagai istrimu mengkhawatirkanmu, Mas.
Malam semakin larut, sebentar lagi hari berganti namun Darren belum juga pulang apalagi memberinya kabar. Mata Khanza pun seolah enggan terpejam. Dia terpikir untuk menghubungi mertuanya, menanyakan apakah Darren ada disana. Setelah di pikir-pikir, Khanza akhirnya mengurungkan niatnya karena pasti mengganggu waktu istirahat mereka. Iya, jika benar suaminya ada di kediaman orangtuanya jika tidak justru akan membuat merekapun ikut khawatir dan kepikiran.
Pagi hari di kediaman orangtua Darren. Agung dan Prita sedang menyantap makan pagi. Agung yang hari ini tidak ada niat untuk datang ke perusahaan nampak santai menikmati waktu sarapannya. Namun begitu dia dan istri memang sudah biasa melakukan ritual makan bersama terutama di pagi hari walaupun keduanya mempunyai kesibukan masing-masing.
Diatas, di kamar yang di tempati Darren semalam Darren telah rapi dengan setelan kerjanya. Untung nya dia masih menyimpan beberapa potong kemeja kerja beserta jas dan juga celana panjang bahan yang bisa Darren gunakan ke perusahaan.
Didepan cermin Darren sedang merapikan penampilannya. Kemeja biru langit di lapisi jas warna membalut tubuh kekarnya. Dasi senada dengan kemeja hanya sedikit lebih gelap telah melingkar dileher nya. Rambut nya telah dia sisir rapi tak lupa sentuhan pomade sehingga rambutnya tampak klimis dan tampilan rambutnya terlihat lebih segar.
Sentuhan terakhir yang paling wajib untuk menunjang penampilan agar terlihat makin sempurna dan menambah kepercayaan diri Darren menyemprotkan parfum merk dunia dengan aroma woody yang menambah kesan maskulin.
"Perfect " gumam Darren sambil menghirup aroma parfum nya sendiri. Setelah itu dia keluar dari dalam kamarnya menuju meja makan, bergabung dengan kedua orangtuanya.
"Pagi Mom, Dad." Sapa Darren begitu Darren duduk dimeja makan. Dia lantas mengambil selembar roti tawar untuk kemudian diberi olesan selai coklat tipis-tipis diatasnya.
Kedua orangtua tidak membalas sapaan anaknya namun tetap memperhatikan aksi putranya itu. "Sudah mendingan kamu, Darren?" Tanya Agung.
Darren yang tangannya sibuk mengoles selai berhenti sejenak, "udah, Dad." Setelah itu dia tangkup kan selembar roti tawar itu menjadi dua bagian dan bersiap memasukkan nya kedalam mulutnya.
"Sudah kamu hubungi istrimu semalam?" Ny. Prita memandang datar putranya yang sepertinya sudah fit badannya.
Darren membatalkan menyuap roti tadi. Mampus, gw lupa semalam. Malah teleponan sama Chelsea. Aduh gimana nih?
Wajah kaku Darren kentara sekali terlihat saat mendapat pertanyaan dari ibunya. Dirinya tersadar dan menyesal. Harusnya tadi tidak ikut sarapan dengan kedua orangtuanya. Jadilah begini nih. Pertanyaan sepele namun berakibat fatal karena dia melupakan janji nya pada ibunya untuk mengabarkan istrinya, Khanza jika dia tidak pulang alias menginap di rumah orangtua nya.
"Tidak ngabarin? Lupa?" tembak Prita, sang ibu karena melihat wajah tegang putranya. "Kamu! Memang mengganggap sepele masalah ini, Darren."
"Sayang, " Agung menyentuh punggung tangan Prita untuk meredakan amarah istrinya itu. Dia kemudian menghadap ke Darren dan menunggu jawaban putra semata wayang nya itu.
"Maaf, Mom. Semalam Darren kelupaan karena ketiduran setelah minum obat.
Ny. Prita menaikkan kedua alisnya mendengar jawaban Darren seakan tidak percaya.
"Nanti Darren pasti kabarin Khanza, Mom. Sekarang Darren mau berangkat ke kantor dulu. Darren ingat harus mempelajari lagi hasil meeting kemarin." Darren menaruh kembali roti yang sudah siap disantap nya karena sudah kehilangan nasf* makannya.
"Loh, Darren kok sarapan nya tidak jadi kamu makan?" Tanya Agung.
"Darren mau langsung ke kantor aja, Dad. Nanti la jut sarapan di sana." Dengan terpaksa Darren membatalkan agenda makan paginya. Padahal perutnya sudah keroncongan sejak tadi. "Darren berangkat Mom, Dad." Pamitnya lalu berlalu dari meja makan tanpa salaman dengan kedua orangtuanya.
***
Khanza kesiangan karena semalam tidurnya cukup larut karena tidak bisa memejamkan matanya sampai pukul 3 pagi. Dia yang panik langsung melihat ke kamar putrinya, Naura. Membangunkannya. Rupanya sang anak telah rapi dengan setelan seragam sekolahnya tanpa dibantu siapapun.
"Duh anak Bunda sudah rapi ternyata, " ucap Khanza, menghembuskan nafas lega. Dia bersyukur sang putri sambungnya sudah siap dan rapi tanpa dibantu oleh nya.
"Iya dong, Bunda. Naura kan sudah besar. Sudah bisa semuanya sendiri." Jawab riang Naura.
Berarti Bunda bisa melepaskan kamu ya, sayang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
🌷💚SITI.R💚🌷
bagus kanza dipasang jamu bertindak naura lbh baik lepas aja biar kamu tenang
2024-10-15
0