Bab. 4

"Khanza," gumam Prasta. Baru saja dia mengangkat tungkai kakinya, sura dering ponsel mengurungkan niatnya. Helaan nafas berat keluar dari mulut nya. Tertera nama 'Mommy' dilayar ponselnya yang nampak menyala itu.

"Prasta dah dijalan mom, sabar!" belum sang mommy di ujung telepon berucap Prasta lebih dulu mendahului nya.

Dengan terpaksa Prasta memutar tubuhnya, kembali mendekati pintu lift menuju basement dimana mobilnya berada. "Khanza, kau kah itu?" gumamnya saat berada dalam lift. "Takdir. Takdir mungkin belum boleh mempertemukan kita jika bener itu kamu." Prasta meraup kedua wajahnya, prustasi.

Sementara itu di arena tim* zone, Khanza terus mengekor Naura yang berpindah pindah arena permainan tanpa kenal lelah. Apa baterai nya belum lowbat pikir Khanza.

Mertua calling...

("Ya Mah?")

["kalian dimana, nak?"]

("Maaf Mah, saya sama Naura lagi di mall kebetulan, mamah di rumah?")

["Iya, mamah dirumah nih! Gak taunya kosong. Kata pembantu kalian, kalian keluar tapi gak bilang mau kemana"]

("Maaf, Mah tadi Naura minta pergi ke Tim* Zone")

["Darren mana?"]

("Hm...itu....,)

["Darren kemana? Tidak ikut kalian ke mall?"]

("Mas Darren meeting, Mah")

["Hari minggu begini?!"]

["I...ya, Mah")

["Keterlaluan tuh anak, sejak kapan dia begitu?"]

("Baru pertama kali kok, Mah)

["Jangan bohong kamu, Nak"]

("Gak, Mah. Khanza gak bohong")

["Sekarang kalian ada diMall mana? Mamah mau nyusul. Sudah lama kita gak hangout bareng"]

***

Ditoko perhiasan ternama

Felicia sedang duduk disofa khusus tamu vvip menunggu Darren yang katanya sedang menuju ke toko yang sedang dia singgahi. Felicia duduk sambil melihat-lihat katalog perhiasan terbaru dengan di suguhi secangkir kopi late sesuai permintaannya.

"Sayang, kok lama sih?" Ucapnya manja. Dia lemparkan begitu saja katalog yang dipegang ke atas meja. Untung nya katalog tersebut tidak mengenai cangkir kopi yang berada diatasnya. Sang karyawan toko yang sedang menemani berdiri dibelakangnya hanya dapat menarik nafas kasar melihat kelakuan customer vvip nya. Sungguh dompetnya saja yang elit tetapi attitude nya minus umpat nya dalam hati.

"Kamu telepon tadi aku baru aja selesai meeting, Sayang. Tuan Toni saja masih didalam restoran. Gimana sudah ketemu yang kamu suka?" Darren mengalihkan kekesalan kekasihnya dengan segera menanyakan keinginan sang kekasih.

Wajah Felicia dari merengut langsung berbinar. "Ini sayang, aku mau yang ini..." Felicia kembali mengambil katalog perhiasan tadi dan segera membuka lembaran dimana incarannya berada.

Darren sedikit heran, kenapa harus melihat perhiasan lewat katalog. Bukankah biasanya nanti karyawan toko memberikan beberapa model perhiasan.

Felicia langsung mengerti keheranan Darren. Dia langsung menjelaskan maksud perkataan dan keinginannya. "Ini loh sayang perhiasan yang aku mau baru ada di katalog. Untuk memiliki nya kita harus memesan dulu."

"Ya sudah tinggal pesan, apa susahnya. " Jawab Darren enteng tanpa melihat dulu perhiasan yang kekasihnya mau.

"Benar sayang?" Mata Felicia membola mendengar jawaban kekasih tajir nya. Bahkan saking tajirnya, kekasihnya itu tidak melihat dulu perhiasan yang dia mau apalagi harganya. Karena terlalu bahagianya, Felicia bahkan tidak tahu malu mencium Darren di depan karyawan toko tersebut.

"Sayang, jangan begini," Darren langsung menjauhkan diri dari rangkulan Felicia. Dia tersenyum canggung ke arah karyawan toko yang sejak tadi memperhatikan interaksi keduanya. "Jadi, berapa lama pacar saya baru bisa membeli perhiasan yang dia suka itu, mba?"

"Kira-kira satu bulan terhitung sejak barangnya di pesan Tuan dan terlebih dahulu harus memberi down payment terlebih dahulu."

"Kayak sama siapa aja mba harus dengan DP dulu. Bukankah kita customer vvip disini," Darren sedikit tidak terima dengan ucapan karyawan tadi.

"Mohon maaf Tuan memang sudah seperti itu. Bukan hanya Tuan saja yang di kenakan aturan ini, tapi customer vvip lainnya juga, Tuan. Dan minimal DP nya seperempat dari harga."

Dengan sedikit dongkol Darren mengeluarkan black card nya. Kartu yang tidak sembarang orang memilikinya.

"sekian ratus juta ya, Tuan." Karyawan menerima kartu yang disodorkan Darren dengan hormat tak lupa menyebutkan nominal harga yang haruskan dikeluarkan.

"Berapa?" Kaget Darren.

"Sekian ratus juta, Tuan." Kembali karyawan toko menyebutkan nominal seperempat harga yang akan di bayar melalui black card nanti.

"Memang berapa harga aslinya?" Darren shock. Tidak menyangka harga perhiasan yang kekasihnya inginkan. Tangannya mengendurkan lilitan dasi yang terasa mencekik lehernya.

Sementara Felicia pura-pura memasang wajah polos atas keterkejutan Darren begitu karyawan toko menyebutkan nominal minimal uang yang harus dikeluarkan kekasihnya itu. "Kenapa, Sayang?" tanya nya dengan wajah tidak bersalahnya.

Darren mencondongkan tubuhnya kearah Felicia lalu berbisik, "sayang kamu gak bilang kalau harga perhiasan nya ratusan juta." Bukan Daren tidak memiliki sejumlah harga perhiasan tersebut tetapi ini merupakan nominal terbesar yang dia gelontorkan untuk kekasihnya dan dia takut akan mengganggu keuangan perusahaan. Sebelum sebelumnya ketika membelanjakan kekasihnya barang-barang branded semuanya masih ada bisa dia handle tanpa ayahnya tahu, selaku Presiden Direktur. Apalagi dalam beberapa bulan ini terhitung sudah beberapa kali kekasihnya meminta dibelikan barang barang mahal. Bisa bisa jika dibiarkan seperti itu Agung Prayoga selaku ayahnya sekaligus presiden direktur itu mengendus perbuatan nya.

"Kenapa sayang? Kamu keberatan membelikan aku kalung berlian itu?" dengan sengaja Felicia menjawab pertanyaan Darren dengan mengeraskan suaranya.

Darren gelagapan dengan jawaban kekasihnya dengan suara sedikit lantang sehingga otomatis karyawan toko tadi mendengar nya bahkan mungkin karyawan toko yang sedang berjaga didepan mendengar nya walaupun samar- samar.

"Bukan gitu sayang," Darren menekan omongannya, kembali menjawab sambil berbisik. Giginya sedikit bergemeletuk saking kesalnya namun memasang senyum dipaksakan ketika karyawan toko memperhatikan nya.

"Sudah berapa kali kamu meminta barang barang mahal akhir akhir ini, nanti ayah bisa saja tahu." Tetap Darren berbicara sambil berbisik.

"Jadi kamu tidak ikhlas sayang sudah membelanjakan aku barang barang mahal?" Kembali Felicia menjawab pertanyaan Darren dengan suara lumayan kencang walaupun tidak sekencang tadi karena melihat raut wajah kekasihnya yang mulai emosi. Namun tekad nya tetap kuat ingin dibelikan kalung berlian yang sudah di incarnya sejak lama.

Darren tidak mampu berkata-kata lagi akibat reaksi yang ditunjukkan kekasihnya.

Mommy's Calling....

Untung lah dering ponsel menyelamatkan nya. Terlihat sang ibu menelepon nya yang mau tidak mau dia harus mengangkatnya. "Sebentar, mommy telepon." Darren menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya bermaksud agar Felicia untuk diam sementara. Dia lalu bergegas menjauhkan diri untuk menerima panggilan telepon dari ibunya, Ny. Prita.

("Ya, mom?")

["Dimana kamu?!"]

("meeting, mom")

["Dimana?!!"]

("Plaz* Indonesia Mall")

["Bohong kamu!"]

("Beneran, Mom. Kalo mommy gak percaya, mommy bisa datang kesini,")

["Tidak perlu. Kamu susul mommy kesini di lantai 6, ada Khanza dan Naura disini"]

("Mak...sud mommy istri sama anakku di...sini??")

"Kenapa, Sayang?"

Terpopuler

Comments

🌷💚SITI.R💚🌷

🌷💚SITI.R💚🌷

lanjuut

2024-10-15

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!