Waktu pun menjelang malam, namun mereka tidak menyadari karena terlalu asyik menonton film bersama. Suasana yang hangat dan nyaman mengelilingi mereka, membuat mereka lupa akan waktu dan segala permasalahan yang ada di luar sana. Terikat oleh cerita yang mereka saksikan, mereka menikmati momen tersebut tanpa ada kekhawatiran akan apa yang akan datang.
Namun, saat film selesai, rasa penasaran Miyu tidak bisa ditahan lagi. Ia bertanya tentang pembicaraan yang ingin disampaikan Rifan, penasaran yang terus menghantui selama menonton film. Miyu terus bertanya-tanya tentang apa yang ingin dibicarakan oleh Rifan, tak sabar untuk mengetahui jawabannya.
"Sebenarnya aku tak ingin mengatakan ini, Miyu, karena aku tak mau semuanya berakhir dengan cepat, kita baru saja memulainya," ucap Rifan dengan serius, matanya mencerminkan kekhawatiran yang mendalam, dan ekspresi wajahnya menunjukkan keraguan dan kegelisahan.
Miyu yang mendengar merasa deg-degan, detak jantungnya semakin cepat, dan matanya mencari jawaban dari tatapan Rifan. Ia pun bertanya dengan suara yang agak gemetar, "Apa maksudmu dengan 'semuanya berakhir'?" Ekspresi wajahnya mencerminkan campuran antara rasa penasaran, kebingungan, dan sedikit kekhawatiran.
"Ini adalah soal hubungan kita," jawab Rifan. Miyu terkejut karena sebelumnya mereka tidak pernah memiliki masalah yang serius.
"Ada apa dengan hubungan kita? Bukankah baik-baik saja?" tanya Miyu, mencoba mencerna situasi dengan cepat.
"Ya, kita memang baik-baik saja, tapi tidak dengan hati dan pikiranku," jawab Rifan. Miyu semakin bingung dengan perkataan Rifan yang terasa ambigu. "Ada apa dengan hatimu? Aku tak pernah melakukan hal yang membuatmu marah, kan? Aku mohon, jangan berbelit-belit, Rifan, katakan saja," ucap Miyu, dengan suara yang sedikit bergetar karena kekhawatiran dan kebingungannya yang tumbuh.
"Maaf Miyu, sepertinya hubungan kita sampai di sini saja. Aku tak bisa melanjutkannya," jawab Rifan dengan suara yang terdengar penuh penyesalan dan keputusan yang berat. Dia menundukkan kepala, ekspresinya mencerminkan rasa sedih dan perasaan bersalah.
Air mata mengalir di pipi Miyu, terkejut dan terluka mendengar pernyataan Rifan. Tangisnya memperkuat rasa kebingungan dan ketidakpercayaannya. "Apa maksudmu? Bukankah kamu yang menyatakan cinta? Kenapa memutuskannya begitu saja setelah aku menerimamu?" ucap Miyu dengan suara yang penuh emosi dan kebingungan yang mendalam.
Rifan merasa semakin terjepit dalam rasa bersalah dan penyesalannya. "Maaf Miyu, aku tahu aku salah, namun aku tak bisa melanjutkannya lagi," jawab Rifan dengan suara yang penuh dengan penyesalan dan penderitaan batin.
"Tolong beritahu alasan yang bisa membuatku bisa menerimanya. Ini tak adil jika kau memutuskannya sepihak," ucap Miyu, suaranya penuh dengan kebingungan dan rasa sakit yang mendalam, namun juga memohon untuk memahami.
"Beberapa hari ini aku selalu memikirkan tentang hubungan kita, dan aku sadar kalau hubungan kita lebih baik berhenti sampai di sini saja," jawab Rifan dengan suara yang terdengar ragu dan penuh penyesalan.
Namun, Miyu tidak menerima jawaban Rifan karena merasa terlalu berbelit-belit. Ekspresi wajahnya mencerminkan campuran antara kekecewaan, frustrasi, dan ketidakpercayaan atas keputusan yang mendadak ini.
"Kau bilang saat itu kalau kau tak bisa menjamin kesetiaan, kan?" Tanya Rifan, mencoba menjelaskan.
"Lalu kau mau mempermainkanku dengan kata-kata itu, huh!" jawab Miyu, suaranya penuh dengan emosi yang tidak terkendali.
"Bukan begitu maksudku, Miyu. Aku hanya tidak ingin ujung dari hubungan kita adalah perpisahan," tambah Rifan, berusaha meredakan kekecewaan Miyu dan menjelaskan perasaannya dengan lebih jelas.
"Tak ada yang berakhir dengan sendirinya, kau yang membuatnya berpisah!" kata Miyu dengan nada tinggi, ekspresi wajahnya mencerminkan kekecewaan dan kekecewaan yang mendalam, serta sedikit kebingungan atas apa yang terjadi.
"Kumohon, dengarlah aku dulu, Miyu. Bukan aku yang ingin berpisah darimu. Hanya saja, hubungan kita berakhir karena tak ada kesetiaan darimu," jawab Rifan, suaranya penuh dengan penyesalan dan harapan untuk dipahami.
"Kau menyalahkanku begitu!" bentak Miyu, emosinya semakin terpancing, ekspresi wajahnya menunjukkan kekecewaan yang mendalam.
"Bukan begitu, aku hanya ingin memperbaiki semuanya. Aku ingin kita kembali menjadi teman seperti dulu, aku ingin memperbaiki diriku agar lebih baik sehingga kita bisa bersama dengan lebih setara," tambah Rifan, mencoba menjelaskan dengan suara yang penuh harapan untuk masa depan yang lebih baik.
"Aku tak masalah walau dirimu pecundang, anak yang selalu dibully. Aku tidak peduli dengan semua itu," kata Miyu dengan suara yang tegas, ekspresi wajahnya menunjukkan keberanian dan ketegasan dalam mendukung Rifan.
"Namun aku peduli, Miyu. Karena aku merasa hanya sebagai seorang pecundang. Kau berkata tak bisa menjamin kesetiaan. Aku yakin jika aku bukan pecundang, kau tidak akan berkata seperti itu, kan?" jawab Rifan, terbawa emosi yang jelas terlihat dari ekspresi wajahnya, mencerminkan perasaan frustrasi dan kekecewaan yang dalam atas pernyataan Miyu.
Miyu, mendengar Rifan hanya terdiam dan terus menangis, tak bisa berkata-kata lagi. Ekspresi wajahnya mencerminkan kebingungan, penyesalan, dan rasa sakit hati yang mendalam karena situasi yang rumit ini. Ia menyesal telah mengatakan hal tersebut karena merasa mulai menyukai Rifan dengan sepenuh hatinya.
Rifan langsung menyadari bahwa perkataannya terlalu berlebihan. Ia segera memeluk Miyu dengan erat, mencoba menenangkan dan menghiburnya.
"Maaf, aku terlalu berlebihan. Tapi tolong mengerti aku, Miyu. Setelah aku setara denganmu, mari kita perbaiki hubungan kita. Namun untuk sekarang, lebih baik hubungan kita sebatas teman saja. Aku tidak ingin ada perpisahan lagi di antara kita. Lebih baik memperbaiki semuanya dari awal," ucap Rifan sambil mengusap lembut Miyu yang berada dalam pelukannya, ekspresi wajahnya mencerminkan penyesalan yang mendalam atas kesalahannya.
Waktu pun berlalu, malam sudah semakin gelap. Rifan merasa bertanggung jawab untuk mengantar Miyu pulang, "Sudah semakin gelap, aku akan antarmu pulang," ucap Rifan dengan suara yang penuh perhatian.
Namun Miyu ingin menginap, "Bolehkah aku bersamamu satu malam saja?" ucap Miyu sambil mengusap air matanya yang berlinang. "Bagaimana dengan orang tuamu?" tanya Rifan dengan penuh kekhawatiran.
Miyu mengambil handphone dan mengabari orang tuanya bahwa ia tidak bisa pulang malam ini. Rifan merasa terharu dan tidak tega melihat Miyu masih menangis, sehingga ia setuju untuk Miyu menginap. Ia berniat untuk memberikan dukungan dan kenyamanan kepada Miyu.
"Ya sudah, kalau begitu kita istirahat saja," kata Rifan sambil mengusap air mata di pipi Miyu dengan lembut, mencoba memberikan kehangatan dan ketenangan pada situasi mereka berdua, sambil mengajak Miyu menuju kasur untuk beristirahat.
"Kalau begitu kau tidur ya, kalau butuh sesuatu panggil saja, aku ada di sofa nanti," ucap Rifan dengan suara lembut, mencoba memberikan kenyamanan pada Miyu dengan tulus.
"Bisakah kau tidur bersamaku, biarkan aku dekat denganmu kali ini saja," pinta Miyu pada Rifan dengan suara penuh kerinduan, ekspresi wajahnya memperlihatkan kebutuhan yang mendalam akan kedekatan dan dukungan.
Rifan, yang awalnya terkejut dengan permintaan Miyu, merasa hangat dan tersentuh melihat kerentanannya. Meskipun sedikit ragu, ia tidak bisa menolak saat melihat betapa besar pengaruhnya terhadap perasaan Miyu.
"Baiklah, aku akan tidur bersamamu kali ini," ucap Rifan dengan nada hangat, sambil naik ke kasur bersama Miyu. Ekspresi wajahnya mencerminkan perasaan campuran antara kewaspadaan dan kehangatan, memastikan bahwa Miyu merasa aman dan diberi perhatian sepenuhnya.
Mereka pun tidur saling berhadapan
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
piyo lika pelicia
satu iklan untuk kakak
2024-06-18
0
piyo lika pelicia
sabar miyu aku tau itu sangat menyakitkan
2024-06-18
0
thor
Miyu kalian belum halal😭
2024-06-16
0