Ch 09 - Menyelesaikan portal merah

Aku perlahan mulai mendapatkan kembali penglihatan ku setelah melewati portal. Aku melihat sekeliling dan mendapati diriku berada di sebuah koridor gelap yang diterangi oleh cahaya obor yang berkelap-kelip pada dinding batu. Suara angin yang berdesir melalui celah-celah dinding yang retak menambah kesan suram dan mengerikan tempat itu. Aroma lembap dan busuk menguar dari kedalaman kastil, seolah-olah tempat itu telah lama ditinggalkan dan dihuni oleh sesuatu yang tidak diketahui.

Dinding batu kastil itu tampak dingin dan keras, dihiasi dengan lumut hijau yang tumbuh subur di celah-celahnya. Di sudut jauh, aku melihat pria kurus yang sebelumnya dibully. Pria itu meringkuk di pojok tembok, gemetar ketakutan, wajahnya pucat pasi. Aku mendekatinya dengan hati-hati, mencoba untuk tidak mengejutkannya lebih lanjut.

"Kamu baik-baik saja?" tanya aku dengan suara yang tenang namun tegas, menatap pria itu yang perlahan mengangkat wajahnya dan mengangguk dengan lemah.

"Kita harus pergi dari sini," kataku sambil menoleh ke arah pintu masuk kastil yang tampak sangat besar dan megah, namun mengeluarkan aura yang menakutkan. Pintu kayu tua yang berat itu dihiasi dengan ukiran-ukiran aneh dan berkarat, serta rantai besi yang menggantung di sekitarnya. Dari balik pintu, terdengar suara samar seperti gerakan mahluk-mahluk besar yang berjalan dengan kaki yang berat, membuat suasana semakin mencekam.

Aku mengulurkan tangan kepada pria kurus itu, membantu dia berdiri. "Kamu harus ikut denganku. Aku tidak bisa melindungi mu jika kamu tetap di luar sini, sementara aku masuk ke dalam kastil."

'Inilah kenapa aku malas menyelamatkan seseorang.' Aku dalam hatiku, dan mengutuk pecahan dari pahlawan kelima.

Pria itu tampak ragu sejenak, tetapi akhirnya mengangguk dan menerima uluran tangan milikku. Mereka berdua berjalan mendekati pintu besar tersebut. Aku mendorong pintu dengan segenap tenaganya, dan pintu itu berderit keras saat terbuka, mengungkapkan kegelapan yang pekat di dalam kastil.

Langkah kami berdua berdua terdengar menggema di sepanjang lorong yang panjang dan berliku. Dinding-dinding koridor dihiasi dengan perisai-perisai tua yang sudah berkarat dan bendera-bendera yang robek, menunjukkan betapa tua dan bersejarahnya tempat ini. Sesekali, mereka melewati jendela-jendela kecil yang tertutup oleh jeruji besi, menambah kesan bahwa kastil ini lebih mirip penjara daripada tempat tinggal.

Suara langkah kami berhenti ketika kami mencapai sebuah aula besar. Aula itu dihiasi dengan banyak pilar yang tinggi dan megah, tetapi keadaan aula tersebut sangat menyeramkan. Di tengah aula, terdapat sebuah patung besar dari batu yang menggambarkan seorang ksatria yang menghunus pedang, dengan tatapan kosong yang tampak menakutkan. Cahaya obor yang berkelap-kelip di sekitar aula menciptakan bayangan-bayangan yang bergerak-gerak, seolah-olah ada mahluk yang mengintai dari kegelapan.

Aku merasakan ketegangan di udara, tetapi aku tetap berusaha tenang. "Tetaplah dekat denganku," kataku kepada pria kurus itu. "Kita tidak tahu apa yang ada di dalam kastil ini, tapi kita harus tetap waspada."

Dengan hati-hati, aku terus melangkah maju, memimpin pria kurus itu menuju bagian dalam kastil yang masih belum kami jelajahi. Aku berhenti sejenak merasa firasat yang buruk lalu melirik kebelakang melihat patung ksatria. Setelah memastikannya aku kembali berjalan.

Saat mereka melangkah ke dalam aula besar, tiba-tiba patung ksatria dari batu di tengah ruangan mulai bergerak. Suara gemuruh keras terdengar saat batu-batu bergesekan satu sama lain, membuat patung itu hidup. Matanya yang kosong kini bersinar merah, dan pedang batu yang dipegangnya terangkat dengan ancaman.

"Kenapa firasatku selalu benar!" Aku segera menoleh ke pria kurus di samping. "Bisa bertarung?" tanyaku dengan nada mendesak.

Pria kurus itu menggelengkan kepala dengan ketakutan, suaranya gemetar. "Aku... aku tidak bisa..."

Melihat mata pria itu yang penuh ketakutan, aku segera memutuskan. Aku mengangkat tanganku dan menggunakan sihir untuk menciptakan kubah pelindung yang kuat di sekitar pria tersebut. "Tetap di dalam sini, jangan keluar apa pun yang terjadi," kataku tegas.

Aku berjalan perlahan untuk menghadapi patung ksatria itu, mengeluarkan pedang hitam legam dari inventory sistem karena pedang lamaku sudah tumpul.

Patung ksatria itu menggeram dengan suara batu yang mengerikan, lalu maju dengan langkah berat, setiap langkahnya mengguncang lantai aula. Aku mengambil posisi bertahan, tangan kananku menggenggam erat pedang yang kini dipenuhi energi sihir. Aku mengalirkan energi ke pedangnya, membuatnya bersinar dengan cahaya biru terang, meningkatkan ketajaman dan kekuatannya.

Patung ksatria itu mengayunkan pedangnya ke arah ku dengan kekuatan besar. Aku menghindar dengan gesit, melompat ke samping dan membalas dengan tebasan cepat yang menghantam lengan patung itu. Potongan batu terlempar, tetapi patung itu tidak berhenti. Ia menyerang lagi, lebih agresif kali ini, dengan serangkaian tebasan yang kuat.

Aku terus bergerak, menghindari serangan-serangan berat dari patung ksatria. Setiap gerakanku sangat terlatih, seperti seorang master. Maka dari itu aku tidak memerlukan pasif Weapon Master. Dengan cepat, aku melancarkan serangan balik. Aku melompat tinggi ke udara, berputar dan mengayunkan pedang ke leher patung itu. Pedangku yang dipenuhi energi sihir menebas batu dengan mudah, membuat kepala patung itu terlempar ke tanah dengan dentuman keras.

Namun, meskipun kepalanya terputus, patung itu tetap bergerak. Tubuh tanpa kepala itu menyerang dengan lebih liar, membuat aku harus lebih waspada. Aku mengerutkan kening, menyadari bahwa aku harus menghancurkan inti kekuatan patung itu.

Aku melompat mundur, menarik napas dalam-dalam, dan memfokuskan energi sihir pada pedang. Pedangku bersinar berwarna merah, energi sihir mengalir deras, membuat pedangku menjadi sedikit lebih panjang dan ujung pedang itu terlihat seperti bilah cahaya berwarna merah murni.

Aku melesat maju dengan kecepatan luar biasa dibantu dengan sihir angin dan juga buff kecepatan, menembus pertahanan patung ksatria dan menusukkan pedangnya tepat ke tengah dada patung itu.

Dengan ledakan cahaya yang menyilaukan, patung ksatria itu hancur berkeping-keping. Batu-batu yang tadinya membentuk patung itu kini berserakan di lantai aula. Aku berdiri tegak di tengah puing-puing, napasnya teratur, dan pedangnya perlahan kehilangan cahayanya, kembali menjadi pedang biasa.

Aku berbalik dan melihat pria kurus itu masih meringkuk di bawah kubah pelindung. Dengan lambaian tangan, aku menghilangkan kubah itu dan berjalan mendekat.

"Kau baik-baik saja?" tanyaku sambil mengulurkan tangan.

Pria itu mengangguk, masih gemetar tetapi tampak lebih tenang. "Ya... terima kasih. Kamu menyelamatkanku."

Ikki tersenyum tipis. "Ayo, kita harus melanjutkannya. Tempat ini mungkin masih penuh dengan bahaya."

Dengan pria kurus di sisiku, aku terus melangkah lebih dalam ke dalam kastil yang mengerikan itu. Aku benar-benar ingin langsung bertemu boss nya lalu membunuhnya dan keluar dari tempat mengerikan ini.

Setelah berjalan lebih dari satu jam di dalam kastil yang gelap dan mencekam, aku tiba-tiba merasakan kekuatan kematian yang amat kuat datang dari balik sebuah pintu yang baru saja kami lewati. Aku berhenti sejenak, merasakan getaran aneh yang menggetarkan tulang-tulang ku.

'Sialan, hanya aura kematian setingkat ini membuatku takut?' Aku bertanya pada diriku sendiri.

Dengan segera, aku menyuruh pria kurus yang mengikuti untuk berhenti.

"Tunggu di sini," kata ku dengan tegas, "Aku akan memeriksanya. Tetaplah di balik kubah pelindung ini." Dengan lambaian tangannya, aku sekali lagi menciptakan kubah pelindung yang kuat untuk melindungi pria kurus tersebut.

Aku kemudian berjalan kembali menuju pintu kayu yang telah kami berdua lewati. Pintu itu dihiasi dengan pahatan yang hampir tak terlihat lagi, ditelan oleh waktu dan keusangan. Dengan hati-hati, aku membuka pintu tersebut, dan pemandangan yang menakjubkan dan mengerikan terbentang di depan mataku.

Ruangan itu luas, dengan dinding batu tinggi yang dihiasi oleh taplak dan bendera yang lusuh. Di ujung ruangan, terdapat singgasana besar yang megah, dan di atas singgasana itu duduk seorang raja. Mahkota berkilauan di kepalanya, menunjukkan statusnya sebagai penguasa. Dia mengenakan armor berwarna merah menyala, dengan pedang panjang merah yang bersandar di samping singgasananya. Matanya memancarkan cahaya merah yang mengintimidasi.

"Dia terlalu kuat untukku, aku tidak tahu apa bisa menang tanpa kehilangan anggota tubuhku atau tidak." Aku tersenyum lalu mengeluarkan pedang hitam legam ku kembali.

Raja itu menoleh ke arah ku dan berteriak dengan suara yang keras dan tidak enak didengar, suara yang bergema di seluruh ruangan, memekakkan telinga ku. Tanpa ragu, aku segera mengambil posisi bertahan, siap untuk segala kemungkinan yang terjadi.

"Berisik bajingan!" Aku kesal karena pendengarku hilang seketika setelah mendengarnya berteriak.

Raja itu bergerak dengan kecepatan yang luar biasa, pedangnya berayun dengan kekuatan besar dan ketajaman yang mematikan. Aku menghindar, tapi tidak cukup cepat. Aku merasakan pedang itu menyentuh lenganku, meninggalkan luka yang dalam. Meskipun terluka, aku melawan dengan gigih, menggunakan kombinasi sihir dan teknik pedang yang aku miliki.

Lingkaran sihir berwarna hitam muncul dari bawah kaki sang raja, rantai hitam keluar dari bawah lantai dan menghentikan pergerakan raja. Tapi tidak lama, sihir milikku langsung lenyap saat dia berteriak lagi.

Setelah berteriak raja itu kembali melesat ke arahku, dentuman pedang terdengar saat pedang kami beradu. Aku terdorong mundur karena perbedaan kekuatan yang sangat besar. Aku merasa lemah padahal aku sudah menggunakan buff pada diriku sendiri dan kekuatanku sudah meningkat sangat banyak dengan buff itu.

Pertarungan itu sangat sengit. Setiap serangan dari raja memaksa aku untuk menggunakan seluruh kemampuanku. Aku melompat, berguling, dan menyerang balik dengan kecepatan dan kekuatan yang menakjubkan. Namun, raja itu terlalu kuat. Pedang merahnya memotong udara dengan suara mendesis, menimbulkan luka demi luka di tubuh ku.

"Ini portal peringatan A kan?" tanyaku yang sedang dalam pertarungan.

Setelah bertarung selama beberapa menit cara berpedang raja tidak setajam sebelumnya dan dia juga menderita banyak luka olehku, tapi tidak separah aku.

Akhirnya, aku melancarkan serangan terakhir. Aku menyalurkan seluruh energi sihir ke pedangku, membuatnya bersinar terang. Aku menyerang raja dengan tebasan mematikan, mengenai tepat di jantungnya. Raja itu terhuyung dan akhirnya jatuh dengan suara yang berat, darah mengalir dari tubuhnya.

Namun, kemenangan itu tidak datang tanpa harga. Aku terjatuh ke lututku, kehilangan satu lengan kiri dan mata kanan terluka parah. Tubuhku penuh dengan luka dan darah, napasku juga terengah-engah.

\[Strength meningkat sebanyak 5\]

\[Agility meningkat sebanyak 3\]

\[Vitality meningkat sebanyak 27\]

\[Endurance meningkat sebanyak 8\]

\[Magic meningkat sebanyak 7\]

\[Stamina meningkat sebanyak 14\]

\[Pain Tolerance meningkat sebanyak 12%\]

\[Physical Resistance meningkat sebanyak 8%\]

Tiba-tiba, seluruh kastil berubah. Dinding yang retak dan gelap menjadi baru lagi, cahaya terang memenuhi ruangan. Itu semua hanyalah sebuah ilusi. Raja yang baru saja aku kalahkan bangkit kembali, namun kali ini ia tampak berbeda. Dia tidak lagi mengintimidasi, melainkan tersenyum dengan penuh rasa terima kasih.

"Terima kasih," kata raja itu dengan suara yang lembut. "Kau telah membebaskan kami dari kutukan ini."

Aku melihat sekeliling dan melihat banyak orang di ruangan itu, namun mereka tampak tidak melihatnya sama sekali. Hanya raja yang tampaknya menyadari kehadirannya. Aku mulai menyembuhkan diriku dengan sihir healing luka-luka yang aku alami mulai sembuh dengan cepat. Lengan yang hilang dan mata yang terluka kembali seperti semula, berkat sihir penyembuhan yang luar biasa.

"Aku sepertinya lebih cocok menjadi healer dari pada petarung." Aku bercanda pada diriku sendiri.

\[Misi Selesai\]

\[Anda mendapatkan Pasif Anti Magic\]

Aku merasa tubuhku dilindungi oleh sebuah kubah tidak terlihat dan itu hanya akan aktif saat ada serangan sihir yang mendekat.

Portal muncul di ruangan tersebut setelah ilusi itu berakhir. Aku berteriak pada pria kurus yang ada di luar, "Masuklah! Kita sudah bisa keluar!"

Pria kurus itu berlari masuk ke dalam ruangan, wajahnya penuh dengan ketakutan tetapi juga harapan. Meskipun aku masih penuh dengan darah, aku tetap mencoba menunjukkan senyumku padanya agar dia tidak khawatir. Semua luka-luka ku juga telah sembuh, dan aku merasa lebih kuat dari sebelumnya.

Kami berdua melangkah menuju portal, siap untuk kembali ke dunia nyata setelah mengatasi tantangan besar di dalam kastil tersebut.

Episodes
1 Ch 01 - Dunia Baru
2 Ch 02 - Portal
3 Ch 03 - Pendapatan
4 Ch 04 - Portal terbuka
5 Ch 05 - Tes untuk menjadi hunter peringkat C
6 Ch 06 - Melawan ratusan death knight
7 Ch 07 - Liburan ke pantai
8 Ch 08 - Festival kembang api
9 Ch 09 - Menyelesaikan portal merah
10 Ch 10 - Kembali ke sekolah setelah libur panjang
11 Ch 11 - Festival Olahraga
12 Ch 12 - Perkembangan
13 Ch 13 - Perkembangan selesai
14 Ch 14 - Liburan musim dingin
15 Ch 15 - Liburan musim dingin 2
16 Ch 16 - Kelulusan
17 Ch 17 - Ujian masuk
18 Ch 18 - Portal peringkat B
19 Ch 19 - Pembantaian High Orc
20 Ch 20 - Raja High Orc
21 Ch 21 - Ujian peringkat
22 Ch 22 - Ujian peringkat bagian 2
23 Ch 23 - Ujian peringkat selesai
24 Ch 24 - Hari pertama di akademi
25 Ch 25 - Kakak perempuan
26 Ch 26 - Taruhan
27 Ch 27 - Perjanjian
28 Ch 28 - Menara
29 Ch 29 - Menara 2
30 Ch 30 - Menara selesai
31 Ch 31 - Kembali ke akademi
32 Ch 32 - Ujian Semester Satu
33 Ch 33 - Pembentukan Tim
34 Ch 34 - Masalah
35 Ch 35 - Masalah selesai
36 Ch 36 - Perkumpulan tim
37 Ch 37 - Poin Akademi
38 Ch 38 - Kerja sama tim
39 39 - Cemburu
40 Ch 40 - Persiapan dan serangan
41 Ch 41 - Terjebak di dalam portal
42 Ch 42 - Badai salju
43 Ch 43 - Kastil
44 Ch 44 - Pecahan keempat
45 Ch 45 - Segel kedua
46 Ch 46 - Ingatan dan kekuatan baru
47 Ch 47 - Pertemuan
48 Ch 48 - Pelatihan para dewan
49 Ch 49 - Star Field
50 Ch 50 - Perasaan yang nyata
51 Ch 51 - Kencan
52 Ch 52 - Pelajaran Star Field Academy
53 Ch 53 - Pelajaran Star Field Academy 2
54 Ch 54 - Pelajaran Star Field Academy 3
55 Ch 55 - Pelajaran Star Field Academy 4
56 Ch 56 - Pelajaran Star Field Academy selesai
57 Ch 57 - Pembentukan tim kembali
58 Ch 58 - Anggota tim baru
59 Ch 59 - Sesuatu yang sulit di hadapi
60 Ch 60 - Piramida
61 Ch 61 - Pertarungan sengit
62 Ch 62 - Keputusasaan
63 Ch 63 - Piramida bawah tanah
64 Ch 64 - Kekuatan lama yang kembali
65 Ch 65 - Rasa lelah
66 Ch 66 - Mimpi indah
67 Ch 67 - Perjalanan ke area satu
68 Ch 68 - Area satu
69 Ch 69 - Area dua dan peningkatan
70 Ch 70 - Kembali kerumah
71 Ch 71 - Rencana dan latihan
72 Ch 72 - Cara yang seharusnya dilakukan
73 Ch 73 - Pertandingan kedua semi final
74 Ch 74 - Pertarungan setelah pertandingan
75 Ch 75 - Ayah mertua?
76 Ch 76 - Kemenangan Final
77 Ch 77 - Pertandingan arena
78 Ch 78 - Pertandingan Arena 2
79 Ch 79 - Pertandingan arena 3
80 Ch 80 - Pertandingan arena 4
81 Ch 81 - Keputusan dewan
82 Ch 82 - Teori Sihir
83 Ch 83 - Teori Sihir selesai
84 Ch 84 - Kelas Warrior
85 Chapter 85 - Liburan musim dingin
86 Ch 86 - Desa
Episodes

Updated 86 Episodes

1
Ch 01 - Dunia Baru
2
Ch 02 - Portal
3
Ch 03 - Pendapatan
4
Ch 04 - Portal terbuka
5
Ch 05 - Tes untuk menjadi hunter peringkat C
6
Ch 06 - Melawan ratusan death knight
7
Ch 07 - Liburan ke pantai
8
Ch 08 - Festival kembang api
9
Ch 09 - Menyelesaikan portal merah
10
Ch 10 - Kembali ke sekolah setelah libur panjang
11
Ch 11 - Festival Olahraga
12
Ch 12 - Perkembangan
13
Ch 13 - Perkembangan selesai
14
Ch 14 - Liburan musim dingin
15
Ch 15 - Liburan musim dingin 2
16
Ch 16 - Kelulusan
17
Ch 17 - Ujian masuk
18
Ch 18 - Portal peringkat B
19
Ch 19 - Pembantaian High Orc
20
Ch 20 - Raja High Orc
21
Ch 21 - Ujian peringkat
22
Ch 22 - Ujian peringkat bagian 2
23
Ch 23 - Ujian peringkat selesai
24
Ch 24 - Hari pertama di akademi
25
Ch 25 - Kakak perempuan
26
Ch 26 - Taruhan
27
Ch 27 - Perjanjian
28
Ch 28 - Menara
29
Ch 29 - Menara 2
30
Ch 30 - Menara selesai
31
Ch 31 - Kembali ke akademi
32
Ch 32 - Ujian Semester Satu
33
Ch 33 - Pembentukan Tim
34
Ch 34 - Masalah
35
Ch 35 - Masalah selesai
36
Ch 36 - Perkumpulan tim
37
Ch 37 - Poin Akademi
38
Ch 38 - Kerja sama tim
39
39 - Cemburu
40
Ch 40 - Persiapan dan serangan
41
Ch 41 - Terjebak di dalam portal
42
Ch 42 - Badai salju
43
Ch 43 - Kastil
44
Ch 44 - Pecahan keempat
45
Ch 45 - Segel kedua
46
Ch 46 - Ingatan dan kekuatan baru
47
Ch 47 - Pertemuan
48
Ch 48 - Pelatihan para dewan
49
Ch 49 - Star Field
50
Ch 50 - Perasaan yang nyata
51
Ch 51 - Kencan
52
Ch 52 - Pelajaran Star Field Academy
53
Ch 53 - Pelajaran Star Field Academy 2
54
Ch 54 - Pelajaran Star Field Academy 3
55
Ch 55 - Pelajaran Star Field Academy 4
56
Ch 56 - Pelajaran Star Field Academy selesai
57
Ch 57 - Pembentukan tim kembali
58
Ch 58 - Anggota tim baru
59
Ch 59 - Sesuatu yang sulit di hadapi
60
Ch 60 - Piramida
61
Ch 61 - Pertarungan sengit
62
Ch 62 - Keputusasaan
63
Ch 63 - Piramida bawah tanah
64
Ch 64 - Kekuatan lama yang kembali
65
Ch 65 - Rasa lelah
66
Ch 66 - Mimpi indah
67
Ch 67 - Perjalanan ke area satu
68
Ch 68 - Area satu
69
Ch 69 - Area dua dan peningkatan
70
Ch 70 - Kembali kerumah
71
Ch 71 - Rencana dan latihan
72
Ch 72 - Cara yang seharusnya dilakukan
73
Ch 73 - Pertandingan kedua semi final
74
Ch 74 - Pertarungan setelah pertandingan
75
Ch 75 - Ayah mertua?
76
Ch 76 - Kemenangan Final
77
Ch 77 - Pertandingan arena
78
Ch 78 - Pertandingan Arena 2
79
Ch 79 - Pertandingan arena 3
80
Ch 80 - Pertandingan arena 4
81
Ch 81 - Keputusan dewan
82
Ch 82 - Teori Sihir
83
Ch 83 - Teori Sihir selesai
84
Ch 84 - Kelas Warrior
85
Chapter 85 - Liburan musim dingin
86
Ch 86 - Desa

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!