Ch 11 - Festival Olahraga

Hari Festival Olahraga.

Seluruh sekolah dipasang anti sihir, jadi semua orang yang ada didalam sana tidak ada yang bisa menggunakan sihir sama sekali. Olahraga ini sangat mementingkan fisik yang terlatih dari pada orang yang mengandalkan sihir.

Festival olahraga sekolah akhirnya tiba, dan lapangan sekolah dipenuhi oleh murid-murid dari kelas satu hingga kelas tiga. Mereka semua mengenakan pakaian olahraga, menciptakan pemandangan yang penuh warna dan semangat. Bendera dan spanduk bertebaran di sekeliling lapangan, dan suasana riuh rendah dengan suara canda tawa serta teriakan semangat.

Aku berdiri di tepi lapangan, mengamati kerumunan murid yang berkumpul. Pandanganku tertuju pada Chris yang terlihat berada di tengah-tengah kerumunan gadis-gadis. Chris, dengan gaya khasnya, sedang menggoda mereka dengan cara yang konyol, membuat para gadis tertawa geli. Namun, tak lama kemudian, seorang guru perempuan datang dan dengan tegas mengusir Chris dari sana.

Chris, yang tidak terlihat jera, langsung melihat aku dan datang ke arahku dengan senyum lebar di wajahnya. "Ikki, bagaimana kalau kita bertaruh? Siapa yang kalah dalam lomba hari ini harus mencukur rambutnya sampai botak!" tantangnya dengan antusias.

Aku menggelengkan kepala dan langsung menolak, "Tidak, aku tidak tertarik dengan taruhan seperti itu, Chris."

Namun, sebelum aku sempat berkata lebih lanjut, ketua kelas mereka, seorang pria bersemangat dengan rambut merah yang mencerminkan semangatnya, tiba-tiba menyela. "Aku menerima tantangan itu!" katanya dengan penuh semangat, membuat semua laki-laki di kelasnya mengikuti dengan sorakan mendukung.

"Ya, kami juga ikut!" teriak beberapa siswa laki-laki dari kelas ku, menambah semangat dan antusiasme yang sudah membara di lapangan.

Aku hanya bisa menghela napas, sedikit khawatir dengan perkembangan yang tiba-tiba ini. "Baiklah, kalau kalian memang ingin begitu, tapi aku tidak ikut" kataku.

Namun teman sekelas malah menyemangati ku dan membuatku untuk lebih percaya. "Kenapa Ikki, apa kamu ingin menjadi pengecut? Kita akan menang, tenang saja!" Seru mereka yang terlihat bersemangat dengan mata yang berapi-api.

"Baiklah." Aku menghela napasku menjawab secara terpaksa agar mereka tidak terus mendorongku lebih jauh.

Chris tertawa keras, puas dengan reaksi yang dia dapatkan. "Baiklah, ini akan menjadi pertandingan yang seru! Siap-siap saja kelas kalian akan kalah dan banyak yang botak!"

Festival olahraga dimulai dari kelas satu terus kelas dua baru kelas tiga. Setiap satu lomba tiap kelas bergantian untuk lomba yang sama.

Festival olahraga berlanjut dengan semangat yang semakin membara. Setelah murid-murid kelas satu dan dua menyelesaikan lomba pertama mereka, kini giliran kelas tiga untuk bertanding. Lomba pertama yang akan diikuti oleh aku adalah lomba tim, yaitu lari estafet. Aku ditempatkan sebagai pelari terakhir, yang bertugas untuk membawa timnya mencapai garis finis.

Lomba dimulai dengan Shun sebagai pelari pertama. Shun, meskipun berusaha sekuat tenaga, berlari dengan kecepatan yang lambat. Teman-teman sekelasnya memberikan dukungan penuh dari pinggir lapangan, berteriak-teriak memberi semangat. Aku melihat Shun dengan cemas, berharap dia bisa mempertahankan jarak.

'Bukannya kelas kita semua tahu bahwa Shun tidak pandai olahraga, tapi kenapa dia ikut dalam olahraga tim yang sulit?' Aku bertanya dengan heran dalam hatiku.

Ketika Shun akhirnya menyerahkan tongkat estafet kepada Riki, posisi mereka berada di belakang beberapa tim lainnya. Namun, Riki, dengan kecepatan dan kekuatannya, langsung melesat seperti angin. Dia berlari dengan kecepatan yang luar biasa, mengejar dan melewati beberapa pelari dari tim lain. Sorakan dari penonton semakin keras saat Riki mendekati garis serah tongkat berikutnya.

"Aku tidak tahu bagaimana perasaan mereka yang dikejar olehnya."

Teman sekelas mereka menerima tongkat estafet dari Riki. Meski tidak secepat Riki, dia berlari dengan stabil dan memastikan tidak ada kesalahan dalam penyerahan tongkat. Ini cukup untuk membuat mereka tetap berada di posisi yang kompetitif. Ketua kelas, yang menunggu di posisi berikutnya, bersiap dengan penuh semangat.

Ketika ketua kelas menerima tongkat estafet, dia berlari menuju ke arah ku sambil berteriak, "Ikki, kita bisa menang ini!" Suaranya penuh semangat, membangkitkan semangat semua orang di tim mereka.

Aku berdiri di garis serah, siap menerima tongkat estafet. Ketua kelas berlari dengan kecepatan yang stabil dan penuh semangat, dan ketika dia mencapai padaku, serah terima berjalan lancar. Aku menerima tongkat estafet sebagai pelari kedua dari depan, aku bisa saja mengejarnya tapi aku lebih baik mempertahankan posisi yang sudah aku dapatkan dari ketua kelas.

Dengan napas yang teratur, aku berlari di belakang posisi pertama, mempertahankan posisi kedua sampai mencapai garis finis. Aku tahu bahwa mempertahankan posisi ini adalah kunci untuk memberi tim mereka peluang terbaik untuk menang secara keseluruhan.

Setelah lomba estafet selesai, aku menarik napas lega, senang bahwa mereka bisa menyelesaikan lomba dengan baik. Teman-temannya berkumpul di sekitar, memberikan selamat dan berterima kasih atas usaha keras mereka.

Aku merasa bersalah karena tidak mengeluarkan semua kemampuanku, mereka juga memberiku semangat dan menyemangati ku karena bisa mengambil posisi kedua.

Lomba kedua, yang juga merupakan lomba tim, dimulai tidak lama kemudian. Namun, kali ini aku tidak ikut serta. Riki, ketua kelas, dan beberapa teman sekelas lainnya yang berpartisipasi. Aku tetap di pinggir lapangan, melihat mereka berusaha lalu memberi mereka tepuk tangan.

Ketika lomba tim kedua berakhir, giliran lomba individu dimulai. Aku tidak ikut apapun pada lomba individu karena ini adalah pilihan sendiri, tapi aku tidak memilihnya sama sekali. Ketua kelas juga hanya memilih lomba tim, karena lomba tim satu dan dua sudah selesai saatnya berganti pada lomba individu.

"Nanti juga akan ada lomba tim lagi kan?" Aku bertanya pada ketua kelas.

Ketua kelas menjawabnya dengan semangat, "Tentu saja dan kita akan tetap menang dari kelasnya Chris!" Ketua kelas mengepalkan tangannya dengan mata yang berapi-api.

Lomba individu pertama dimulai dengan Shun, yang harus menghadapi lomba lari. Meskipun Shun mencoba yang terbaik, dia hanya mampu mendapatkan posisi kelima. Aku menggeleng-gelengkan kepala dan bertanya-tanya dalam hati, mengapa Shun memilih untuk berpartisipasi dalam lomba yang begitu berat padahal dia tidak terlalu pandai dalam olahraga.

Kemudian, tiba giliran Riki untuk mengikuti lomba individu kedua, di mana peserta harus mengambil apa pun yang tertulis di selembar kertas yang ditempatkan di tengah lapangan. Riki, dengan cepatnya, berlari menuju kertas tersebut dan berhasil menjadi yang pertama sampai di sana. Namun, alih-alih membaca isinya, Riki justru tertawa-tawa sendiri, menyebabkan kebingungan di antara teman-temannya.

Aku menghela napas dan bergumam dalam hati, memikirkan bahwa menjadi yang pertama tidak selalu berarti menang. Teman-teman sekelasnya mulai berteriak pada Riki, mendorongnya untuk membaca isinya. Akhirnya, Riki membaca isi kertas tersebut, dan gelak tawa pun terdengar dari sekeliling lapangan.

Setelah serangkaian lomba individu selesai, saatnya bagi mereka untuk kembali ke lomba tim. Aku tidak memilih apapun karena sebenarnya aku tidak ingin ikut kedalam lomba apapun yang ada, namun karena lomba tim adalah pilihan ketua kelas dia selalu memilihku untuk berpartisipasi.

Setelah serangkaian lomba yang telah dimulai, saatnya untuk istirahat sejenak. Di tengah-tengah keramaian kantin, teman-teman kelasnya Chris mendekati teman sekelas ku dengan nada bergurau.

"Hey! Kelas kalian nampaknya tertinggal beberapa poin dari kami, ya? Mungkin semua pria di kelas kalian harus botak dulu sebelum kalah dengan sangat memalukan," goda salah satu murid dari kelas Chris, disambut dengan tawa dan senyuman jahil dari teman-temannya.

Tapi ketua kelas dengan tegas, menentang usulan tersebut. "Kalian tidak akan mengalahkan kami dengan trik konyol seperti itu," katanya dengan ekspresi yang serius namun penuh semangat. Dia bahkan berteriak untuk memulai pertandingannya, namun guru datang dan mengingatkannya untuk istirahat sejenak.

Ketua kelas terlihat sedih karena tidak dapat langsung memulai pertandingannya, namun semangatnya tidak surut. Dia masih memiliki tekad yang kuat untuk membawa kelasnya menuju kemenangan.

Sementara itu, di sisi lain kantin, aku dengan tenangnya memilih beberapa roti dan susu kotak untuk dinikmati sebagai camilan istirahatnya. Aku tidak terpengaruh oleh perdebatan antara kelas Chris dan kelasnya sendiri, tetapi tetap fokus pada kebutuhan pribadinya saat ini.

Lomba tim berikutnya adalah memasukkan bola ke dalam keranjang dengan cara dilempar. Meskipun tidak mudah, kelas aku menunjukkan kerja sama yang solid dan semangat yang tinggi. Mereka bekerja sama dengan baik, saling mendukung, dan akhirnya berhasil mendapatkan posisi kedua.

Setelah banyak lomba kelompok, posisi kelas aku akhirnya berada di atas kelas Chris. Namun, ada satu lomba terakhir yang harus kelas aku hadapi: perebutan posisi kedua melawan kelas lain yang memiliki poin yang sama.

Lomba perebutan posisi kedua adalah tarik tambang. Aku, meskipun tidak terlalu serius menarik tambangnya, tetap berpartisipasi. Teman-teman sekelasnya, dengan semangat yang tak kenal lelah, menarik dengan sekuat tenaga. Tali tambang terasa berat, namun semangat mereka lebih kuat. Dengan kerjasama yang luar biasa, kelas aku berhasil memenangkan lomba tarik tambang tersebut.

"Ya! Kita menang!" teriak ketua kelas dengan penuh semangat, diikuti oleh sorak-sorai kegembiraan dari teman-teman sekelasnya. Aku tersenyum, merasa bangga meskipun aku tidak memberikan upaya penuh.

Setelah kemenangan mereka, beberapa teman sekelas ku mendatangi Chris dan teman-temannya. Mereka membawa alat cukur, mengingat taruhan yang dibuat sebelumnya.

Chris, yang biasanya penuh percaya diri, kali ini terlihat sedikit gugup. "Oke, oke, kami kalah. Tapi jangan sampai botak, ya!" katanya sambil tertawa kecut.

"Jangan khawatir, Chris. Kami hanya akan memangkas sedikit saja," balas ketua kelas dengan senyuman lebar, meskipun nadanya penuh dengan semangat kemenangan.

Teman-teman sekelas ku mulai memangkas rambut Chris dan beberapa murid lainnya. Suasana penuh dengan canda tawa dan olok-olok ramah. Meski Chris dan teman-temannya kalah, mereka tetap menerima kekalahan dengan sportif dan bergabung dalam kesenangan yang ada.

Festival olahraga sudah selesai dan semua orang kembali kerumahnya masing-masing.

Episodes
1 Ch 01 - Dunia Baru
2 Ch 02 - Portal
3 Ch 03 - Pendapatan
4 Ch 04 - Portal terbuka
5 Ch 05 - Tes untuk menjadi hunter peringkat C
6 Ch 06 - Melawan ratusan death knight
7 Ch 07 - Liburan ke pantai
8 Ch 08 - Festival kembang api
9 Ch 09 - Menyelesaikan portal merah
10 Ch 10 - Kembali ke sekolah setelah libur panjang
11 Ch 11 - Festival Olahraga
12 Ch 12 - Perkembangan
13 Ch 13 - Perkembangan selesai
14 Ch 14 - Liburan musim dingin
15 Ch 15 - Liburan musim dingin 2
16 Ch 16 - Kelulusan
17 Ch 17 - Ujian masuk
18 Ch 18 - Portal peringkat B
19 Ch 19 - Pembantaian High Orc
20 Ch 20 - Raja High Orc
21 Ch 21 - Ujian peringkat
22 Ch 22 - Ujian peringkat bagian 2
23 Ch 23 - Ujian peringkat selesai
24 Ch 24 - Hari pertama di akademi
25 Ch 25 - Kakak perempuan
26 Ch 26 - Taruhan
27 Ch 27 - Perjanjian
28 Ch 28 - Menara
29 Ch 29 - Menara 2
30 Ch 30 - Menara selesai
31 Ch 31 - Kembali ke akademi
32 Ch 32 - Ujian Semester Satu
33 Ch 33 - Pembentukan Tim
34 Ch 34 - Masalah
35 Ch 35 - Masalah selesai
36 Ch 36 - Perkumpulan tim
37 Ch 37 - Poin Akademi
38 Ch 38 - Kerja sama tim
39 39 - Cemburu
40 Ch 40 - Persiapan dan serangan
41 Ch 41 - Terjebak di dalam portal
42 Ch 42 - Badai salju
43 Ch 43 - Kastil
44 Ch 44 - Pecahan keempat
45 Ch 45 - Segel kedua
46 Ch 46 - Ingatan dan kekuatan baru
47 Ch 47 - Pertemuan
48 Ch 48 - Pelatihan para dewan
49 Ch 49 - Star Field
50 Ch 50 - Perasaan yang nyata
51 Ch 51 - Kencan
52 Ch 52 - Pelajaran Star Field Academy
53 Ch 53 - Pelajaran Star Field Academy 2
54 Ch 54 - Pelajaran Star Field Academy 3
55 Ch 55 - Pelajaran Star Field Academy 4
56 Ch 56 - Pelajaran Star Field Academy selesai
57 Ch 57 - Pembentukan tim kembali
58 Ch 58 - Anggota tim baru
59 Ch 59 - Sesuatu yang sulit di hadapi
60 Ch 60 - Piramida
61 Ch 61 - Pertarungan sengit
62 Ch 62 - Keputusasaan
63 Ch 63 - Piramida bawah tanah
64 Ch 64 - Kekuatan lama yang kembali
65 Ch 65 - Rasa lelah
66 Ch 66 - Mimpi indah
67 Ch 67 - Perjalanan ke area satu
68 Ch 68 - Area satu
69 Ch 69 - Area dua dan peningkatan
70 Ch 70 - Kembali kerumah
71 Ch 71 - Rencana dan latihan
72 Ch 72 - Cara yang seharusnya dilakukan
73 Ch 73 - Pertandingan kedua semi final
74 Ch 74 - Pertarungan setelah pertandingan
75 Ch 75 - Ayah mertua?
76 Ch 76 - Kemenangan Final
77 Ch 77 - Pertandingan arena
78 Ch 78 - Pertandingan Arena 2
79 Ch 79 - Pertandingan arena 3
80 Ch 80 - Pertandingan arena 4
81 Ch 81 - Keputusan dewan
82 Ch 82 - Teori Sihir
83 Ch 83 - Teori Sihir selesai
84 Ch 84 - Kelas Warrior
85 Chapter 85 - Liburan musim dingin
86 Ch 86 - Desa
Episodes

Updated 86 Episodes

1
Ch 01 - Dunia Baru
2
Ch 02 - Portal
3
Ch 03 - Pendapatan
4
Ch 04 - Portal terbuka
5
Ch 05 - Tes untuk menjadi hunter peringkat C
6
Ch 06 - Melawan ratusan death knight
7
Ch 07 - Liburan ke pantai
8
Ch 08 - Festival kembang api
9
Ch 09 - Menyelesaikan portal merah
10
Ch 10 - Kembali ke sekolah setelah libur panjang
11
Ch 11 - Festival Olahraga
12
Ch 12 - Perkembangan
13
Ch 13 - Perkembangan selesai
14
Ch 14 - Liburan musim dingin
15
Ch 15 - Liburan musim dingin 2
16
Ch 16 - Kelulusan
17
Ch 17 - Ujian masuk
18
Ch 18 - Portal peringkat B
19
Ch 19 - Pembantaian High Orc
20
Ch 20 - Raja High Orc
21
Ch 21 - Ujian peringkat
22
Ch 22 - Ujian peringkat bagian 2
23
Ch 23 - Ujian peringkat selesai
24
Ch 24 - Hari pertama di akademi
25
Ch 25 - Kakak perempuan
26
Ch 26 - Taruhan
27
Ch 27 - Perjanjian
28
Ch 28 - Menara
29
Ch 29 - Menara 2
30
Ch 30 - Menara selesai
31
Ch 31 - Kembali ke akademi
32
Ch 32 - Ujian Semester Satu
33
Ch 33 - Pembentukan Tim
34
Ch 34 - Masalah
35
Ch 35 - Masalah selesai
36
Ch 36 - Perkumpulan tim
37
Ch 37 - Poin Akademi
38
Ch 38 - Kerja sama tim
39
39 - Cemburu
40
Ch 40 - Persiapan dan serangan
41
Ch 41 - Terjebak di dalam portal
42
Ch 42 - Badai salju
43
Ch 43 - Kastil
44
Ch 44 - Pecahan keempat
45
Ch 45 - Segel kedua
46
Ch 46 - Ingatan dan kekuatan baru
47
Ch 47 - Pertemuan
48
Ch 48 - Pelatihan para dewan
49
Ch 49 - Star Field
50
Ch 50 - Perasaan yang nyata
51
Ch 51 - Kencan
52
Ch 52 - Pelajaran Star Field Academy
53
Ch 53 - Pelajaran Star Field Academy 2
54
Ch 54 - Pelajaran Star Field Academy 3
55
Ch 55 - Pelajaran Star Field Academy 4
56
Ch 56 - Pelajaran Star Field Academy selesai
57
Ch 57 - Pembentukan tim kembali
58
Ch 58 - Anggota tim baru
59
Ch 59 - Sesuatu yang sulit di hadapi
60
Ch 60 - Piramida
61
Ch 61 - Pertarungan sengit
62
Ch 62 - Keputusasaan
63
Ch 63 - Piramida bawah tanah
64
Ch 64 - Kekuatan lama yang kembali
65
Ch 65 - Rasa lelah
66
Ch 66 - Mimpi indah
67
Ch 67 - Perjalanan ke area satu
68
Ch 68 - Area satu
69
Ch 69 - Area dua dan peningkatan
70
Ch 70 - Kembali kerumah
71
Ch 71 - Rencana dan latihan
72
Ch 72 - Cara yang seharusnya dilakukan
73
Ch 73 - Pertandingan kedua semi final
74
Ch 74 - Pertarungan setelah pertandingan
75
Ch 75 - Ayah mertua?
76
Ch 76 - Kemenangan Final
77
Ch 77 - Pertandingan arena
78
Ch 78 - Pertandingan Arena 2
79
Ch 79 - Pertandingan arena 3
80
Ch 80 - Pertandingan arena 4
81
Ch 81 - Keputusan dewan
82
Ch 82 - Teori Sihir
83
Ch 83 - Teori Sihir selesai
84
Ch 84 - Kelas Warrior
85
Chapter 85 - Liburan musim dingin
86
Ch 86 - Desa

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!