Saat tiba dirumahnya, alexa menjatuhkan tubuhnya di sofa, hari ini menjadi hari paling menyebalkan dalam hidupnya. Aksa makin menjadi-jadi, perlakuan aksa tidak lagi manusiawi semenjak kejadian siang tadi, alexa dijadikan seperti pembantu yang harus selalu ada, membawa tas mereka, membeli apapun keperluan yang mereka inginkan, serta harus mengerjakan tugas dari mereka.
" Galak amat tuh muka " titah aidan. Kakak kedua alexa, jarak umur mereka hanyalah setahun.
Alexa menatapnya dengan raut wajah malas sambil mendengus kesal, kedua tangannya terlipat didada. Untuk saat ini alexa malas berbicara, energinya terkuras habis karena meladeni aksa. Melihat muka kakaknya saja dia sudah kesal karena teringat kelakuan aidan yang tidak jauh beda dengan aksa.
" Kayaknya lo suka banget sama sekolah lo yang sekarang " sindir aidan.
" DIAM LO !! "
Dihari pertama alexa masuk sekolah ia sudah merengek ingin pindah lagi, namun sayangnya orang tua mereka tidak mengizinkan. Aidan pun tidak tau apa alasan alexa mendesak kedua orang tua mereka agar memindahkan dirinya dari sekolah itu. Aidan yakin betul bahwa terjadi sesuatu dengan alexa disana, karena beberapa hari itu alexa sering pulang dengan wajah kesal, Maya memerah seperti ingin menangis.
" Makanya denger apa yang gw bilang, lo sih sok-sok an mau beda sekolah, gak nyamankan sekarang "
" Gw lagi gak mood untuk bicara sekarang " ucap alexa ketus.
" Terus barusan lo ngapain ?? Kentut ?? "
Alexa memejamkan matanya, ia tidak ingin amarahnya terpancing kembali.
" Ada apa ini ?? " tanya alterio.
Mulutnya berisi donat yang di ambil dari kulkas, keberadaan kedua adiknya di ruang tengah memancing dirinya untuk menghampiri mereka. Alterio heran melihat wajah alexa dan bertanya-tanya apa sebenarnya yang terjadi pada adik bungsunya.
" Lo apain adik kesayangan gw, hah ? " tanya alterio pada aidan.
" Gw gak lakuin apa-apa kedia, mukanya udah kusut dari sananya " jawab aidan.
Raya menoleh saat mendengar suara kakak pertamanya, dan ia melihat donatnya ditangan alterio.
" KAK RIOO !! " teriak alexa.
" Apasih xa, gw ada didepan lo gak usah teriak-teriak kayak gitu " sahut alterio berusaha menutup telinganya.
Alexa adalah manusia paling sering berteriak dirumah mereka.
" Itu milik gw, ngapain lo makan tanpa izin "
Alexa menghentakkan kakinya kelantai, dia kesal karena donat yang sengaja ia sisakan malah dimakan oleh alterio. Saking kesalnya alexa tidak bisa membendung air matanya lagi, sudah cukup dia menahan kesabarannya seharian akibat kelakuan manusia.
" Gw benciii ama kalian !! " titah alexa.
Alterio dan aidan saling memandang, tidak biasanya alexa menangis apalagi soal makanannya diambil. Alterio adalah anak pertama dari 3 bersaudara, dia berkuliah disalah satu universitas terbaik. Saat ini ia sedang libur semester dan punya banyak waktu untuk bersantai dirumah.
" Parah sihh, kakak mana yang tega membuat adiknya menangis " titah aidan.
Alterio langsung duduk disamping adiknya, meskipun dia sering menjahilinya namun tetap saja dia tidak tega melihat adik bungsunya menangis. Alterio memberikan sisa donat yang tertinggal hanya setengah kepada alexa, dia pikir alexa menangis karena donat itu. Namun tangisannya semakin pecah, dia tidak mau makan sisa donat dari alterio.
" Gw gak mau makan bekas lo!! " alexa mengambil tas sekolahnya lalu beranjak pergi meninggalkan mereka berdua.
" Biasanya alexa gak pernah nangis kalau dijahili, kenapa sekarang beda ya ?? " tanya alterio pada aidan.
" Mungkin dia punya masalah disekolahnya, kan beberapa hari yang lalu dia merengek minta pindah sekolah lagi "
" Kalau gitu lo selidiki cepat apa yang terjadi, siapa tau ada yang ngebully dia disekolahnya " perintah alterio.
" Mana mungkin ada yang berani gangguin dia, secara kan dia orangnya galak banget. Prinsipnya aja ' senggol dikit langsung bacok !! ' " jelas aidan.
" Betul juga, mana mungkin adik segalak itu dibully. Mungkin dia lagi pms, kan moodnya sering gak jelas kalau lagi menstruasi " titah alterio.
Sesampai di kamarnya alexa langsung mengunci pintu lalu membuang tubuhnya ke kasur. Seharian itu kesabarannya dihajar habis-habisan, tidak disekolah maupun dirumahnya terapi saja ada yang membuatnya kesal.
" Masa hidup gw gini-gini terus sampai tahun depan, yang ada gw bisa gilaa " alexa mengacak kasar rambutnya.
Dia bingung bagaimana cara dia bisa lepas dari genggaman aksa, ia merasa hidupnya tidak seseru dulu lagi sebelum mengenal geng beatles.
...----------------...
Alexa mengusap keringatnya yang bercucuran dipelipisnya, saat itu matahari sangat terik, dia dan clarissa duduk dipinggir lapangan menyaksikan kelas mereka bertanding sepak bola melawan kelas 11 mipa 1. Kebetulan sekali jadwal olahraga alexa bersamaan dengan geng Beatles. Bagi siswi dikelas alexa hal itu adalah keberuntungan bagi mereka, akan tetapi sebaliknya bagi alexa hal itu adalah mala petaka baginya.
" Cihh, kenapa sih siswi disini, setiap lihat aksa pasti bakalan teriak histeris ? " tanya alexa.
" Ya karena dia ganteng, lo gak nyadar ? " clarissa balik bertanya.
Alexa menggeleng, baginya aksa dan anak beatles lainnya hanya memiliki ketampanan rata-rata. Tidak perlu berlebihan untuk memuja apalagi berteriak histeris saat bertemu dengan mereka, karena hal seperti itu bakal membuat aksa dan yang lainnya besar kepala.
" Mungkin karena lo membencinya terlebih dahulu, makanya dimata lo dia gak ada apa-apanya " tukas clarissa.
Sekilas pandangan alexa menuju kepada aksa, diam-diam dia memperhatikan aksa. Aksa menepi dan mengambil ponselnya didalam sakunya, sepertinya dia sedang mengetik pesan.
Drrrrrtttt. Ponselnya bergetar, alexa sudah menebak bahwa itu pesan dari aksa. Ia pun membuka ponsel dan membaca pesannya.
...Laksa...
" Beliin minum untuk kami !! "
Alexa berdecak, makin kesini permintaan aksa makin banyak, tidak untuk dirinya namun untuk semua siswa yang sedang bermain, alexa mengajak clarissa ke kantin, sebenarnya clarissa tidak mau tapi dia kasih melihat alexa sendirian.
" Seriusan sedus ?? " tanya clarissa melihat alexa membeli air mineral sedus.
Alexa hanya mengangguk, dia mengangkat air sedus itu sendiri.
" Dia mintanya untuk kami, berarti untuk semua siswa disana "
" Pakai uang lo pribadi ??? "
" Nggak, kemarin dia udah transfer uang ke gw "
Kemarin alexa memarahi aksa karena dia hanya menyuruh membeli ini dan itu tanpa memberikan uang sepeserpun. Sedangkan alexa adalah manusia yang penuh perhitungan, dia menuntut kerugiannya kepada aksa. Aksa terpaksa mengirim uang detik itu juga agar alexa berhenti mengoceh. Sekarang alexa tidak perlu takut lagi ketika disuruh membeli sesuatu karena aksa sudah memberinya uang dengan nominal lumayan banyak.
" Wahh aksa makin parah, cewek sekecil itu dipaksa ngangkat seduss air mineral, mana jalannya oleng lagi " celetuk zaidan melihat alexa berjalan menuju lapangan.
Hampir seluruh tubuhnya tertutupi oleh dus dan jalannya tidak stabil lagi. Aksa mengernyit saat melihat alexa, tanpa berpikir panjang aksa berlari menghampiri alexa, takut tiba-tiba gadis itu tidak kuat lagi lalu menjatuhkan dus air itu.
" Loo gilaa ?? " ucap aksa seraya mengambil alih dus minuman tersebut.
" Loo yang gila, ngapain nyuruh gw beli air sebanyak ini !!! " sungut alexa, tubuhnya terasa pegal mengangkat dus seberat belasan kilo itu.
" Heh, gw gak nyuruh lo buat beli sebanyak ini yahh. Kapan sih lo bisa pakai otak lo buat mikir ?? " aksa berdecak kesal.
" Udah ahh kebanyakan bacot lo !! Pinggang gw sakit tauu " alexa bergegas meninggalkan lapangan, takut aksa menyuruhnya lagi.
...----------------...
Alexa beari keluar kelas saat bel pulang berbunyi, siang itu iya bertekad untuk kabur dari aksa. Ia ingin menikmati hari tanpa penindasan, sebelum pulang alexa singgah terlebih dahulu di warung kecil dekat sekolah untuk membeli cilok kesukaannya.
" Ehh nona alexa " sapa pak mamat.
Meskipun baru tiga kali kesana tapi alexa sudah dikenal oleh pedagang cilok tersebut.
" Bungkus satu seperti biasa yah pak "
" Bentar yah non "
Pak mamat harus menyiapkan pesanan siswi-siswi lain sebelum pesanan alexa. Dagangan pak mamat selalu diborong oleh murid dari dua sekolah. Elysia High School dan Alexander high school, yang hanya berjarak beberapa meter.
Alexa memandang sekitarnya, tidak sengaja ia beradu pandang dengan seorang siswa, ini bukan pertama kalinya dia melihatnya, siswa itu selalu ada disaat dia membeli cilok. Dari badge yang terjahit dibajunya jelas dia bukan murid dari Elysia High School. Siswa itu tersenyum tipis nampaknya dia anak yang baik.
" Pelanggan baru yahh pakk ? "
" Iyaa den, pelanggan cantik ini namanya, nona alexa "
Siswa itu hanya menggelengkan kepala, kalau dipandang penampilan alexa terlihat seperti siswi pada umumnya, tidak ada yang mencolok darinya.
" Lo anak yahh ? Gw gak pernah ngelihat lo sebelumya "
" I-iya gw siswi pindahan "
" Elysia High School ?? "
Alexa hanya mengangguk diam merasa gugup saat di dekati.
" Kenalin nama gw Edgar, anak sekolah sebelah. Tapi gw sering nongkrong di warung ini dan setiap pulang sekolah gw selalu duduk disini "
" G-gw alexa "
" Non alexa ngobrol aja dulu ama den edgar, hitung-hitung buat nambah temennya, kalau mau dijadiin pacar juga gak papa " goda pak mamat.
" Pak mamat ada-ada aja " alexa berdecak pelan, pipinya memerah karena salting.
Alexa tidak tahu mengapa dirinya merespon setiap perkataan edgar, pembawaan yang tenang dan tutur kata yang lembut membuatnya nyaman dengan sosok edgar. Edgar bertanya banyak hal kepada alexa salah satunya, mengapa alexa ingin pindah ke Elysia High School. Alexa hanya memandang wajah tampan edgar dia menyesal karna tidak memilih Alexander high school.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments