Satu minggu kemudian.
Daddy Arnod merasa sedih karena ia harus berpisah dengan putri tercintanya. Dia harus kembali ke Italia dan melanjutkan pekerjaan. Padahal ia masih ingin bersama dengan putrinya.
Berkali-kali ia menghela nafas dan merasa berat untuk meninggalkannya. Dia selalu berpikir semua kesalahannya menjadi seorang ayah yang tak berguna.
"Putri ku maafkan Daddy."
"Daddy selalu meminta maaf pada ku. Maka dari itu aku akan memaafkan Daddy." Selena tersenyum. Ia pun memeluk Daddy Arnod.
"Jaga dirimu baik-baik." Daddy Arnod mencium kening Selena berulang kali.
"Daddy juga, aku titip mommy dan kakak."
Daddy Arnod mengurai pelukannya, dia mencium kedua cucunya dengan bergantian.
Setelah itu, dia pun masuk ke dalam mobil yang akan mengantarkannya ke bandara. Selena terasa berat namun ia harus menjalaninya sendirian. Alangkah baiknya jika ia bersama dengan seseorang yang menemani hari-harinya.
Mengingat hidupnya yang terasa sepi, ia pun bergegas masuk ke dalam. Tanpa dia sadari seorang pria turun dari mobilnya dan menuju ke penjaga gerbang.
Penjaga gerbang pun membukakan pintu, dia mengantarnya masuk ke dalam dan memberitaukan pada wanita setengah baya.
"Nyonya katanya ada tamu, dia teman nyonya," ucap seorang wanita setengah baya.
"Teman ku?" Tanya Selena. Setaunya, tidak ada satu pun orang yang mengetahui keberadaannya kecuali kedua orang tuanya. Dia pun bergegas keluar sambil menggendong Kenzo.
"Siapa?" Tanya Selena. Dia hanya melihat bahu pria itu yang membelakanginya sambil duduk di sofa.
Deg
Melihat postur tubuhnya, tentu saja Selena merasa kenal. Bibirnya bergetar jantungnya terasa berhenti berdetak. "Ka-kau,"
"Ini aku Selena mantan suami mu."
Selena memeluk erat Kenzo ia merasa pria itu mendatanginya ingin mengambil kedua anaknya. Pria itu seakan mengatakan bahwa dirinya telah menemukan sesuatu. "Apa mau mu datang kesini? Aku sudah tidak memiliki urusan dengan mu," ucap Selena dengan nada dingin.
"Aku ingin kau mengakui sesuatu."
Pria berjas hitam yang tak lain sekertaris Jhonatan menghampiri Selena. Dia memperlihatkan sebuah vidio dan pengakuan seorang dokter.
"Kau tidak bisa mengelaknya."
Selena memejamkan kedua matanya. "Mereka memang anak-anak mu, tapi jangan ambil mereka dari ku."
Jhonatan menunduk, kemudian menarik dalam nafasnya. Dengan langkah lebar ia menghampiri Selena dan memeluknya. Jantungnya terasa berhenti berdetak, semua kesalahannya tidak bisa di maafkan. Seharusnya ia mempertahankan Selena, tapi ia takut bahwa ia mengikat Selena akan membuat penderitaan dua kali baginya.
"Maafkan aku Selena. Aku tidak menuntut mu untuk memaafkan aku, tapi aku ingin kau tidak menjauhkan diri ku dengan anak-anak ku. Aku ingin menjadi sosok ayah baginya."
"Cukup!" Selena merasa keberatan. Ia tidak ingin putranya jatuh pada Julia. "Kau sudah punya Julia, kenapa kau tidak memiliki anak darinya? Bahkan aku tau dan mengerti suatu saat nanti kau akan memiliki anak dengan Julia dan melupakan anak-anak mu dari ku. Bukankah aku selama ini menjadi wanita yang paling kau benci?"
Jhonatan menatap dalam kedua netra Selena yang mengobarkan api kebencian padanya. "Aku memang membenci mu, tapi kaulah alasan penyesalan terdalam ku Selena. Aku tidak ingin kejadian masa lalu terulang."
Jhonatan merasa lalai menjadi sosok ayah. Ia tidak ingin melihat Selena terbujur kaku dengan anak di dalam rahimnya. Ia menyesali perbuatannya yang tidak mengakui keberadaan anaknya.
"Lupakan kami, kau bisa memiliki anak dengan Julia. Kau bisa pergi."
"Aku akan pergi, tapi besok aku akan datang lagi. Aku harap kita berbicara berdua." Jhonatan menatap wajah Selena begitu lekat. Ia merasakan bahagia dan sedih. Menjadi ayah tapi ia tidak bisa merasakan bagaimana sosok seorang ayah.
Selena membatu, dia langsung terduduk di lantai sambil memegang erat baby Kenzo. Batinnya tertekan, pikirannya terguncang, kedua air matanya pun mengalir. "Aku tidak bisa menyerahkan mereka."
Bibi Anye pun mengambil alih Kenzo. "Nyonya tenang saja, tidak akan terjadi apa pun pada Nyonya. Saya akan menjaga Nyonya dan tuan muda."
Sedangkan Jhonatan, pria itu sedang menahan air matanya, dadanya terasa sesak dan seakan sulit untuk bernafas. Ia merenggangkan dasinya dan selalu menarik dalam nafasnya. Rasa panas itu terus berkobar di ulu hatinya. Hatinya dan dadanya seperti terbakar.
Kedua netranya tak bisa ia pejamkan sedikit pun. Dia hanya berdiam, bibirnya terasa berat dan kelu. Dia sering mengusap air matanya dan berulang kali ia mengutuk dirinya sendiri karena kebodohannya. Ia kira setelah hidup kembali, sebelum kejadian kebakaran itu Selena belum hamil, ternyata ia salah. Selena hamil dan justru mengandung anaknya.
Sama halnya dengan Selena, dia tidak bisa memejamkan kedua matanya. Dia menatap kedua anaknya dan terua mengusap air matanya. Rasanya kesakitan yang pernah ia alami semakin dalam melukai hatinya.
Tak terasa waktu telah berlalu, kini matahari mulai menyinari bumi, cahayanya yang begitu indah menyelinap masuk melewati sela-sela jendela kaca dan menembus kaca bening.
Selena mengepalkan kedua tangannya dan menarik dalam nafasnya lalu menghembuskan nafasnya.
Tok
Tok
Tok
Sebuah ketukan pintu tiga kali membuat Selena memutar tubuhnya kebelakang dan membuka pintu. Semalaman dia mengunci pintu dan hanya ingin sendiri.
"Nona." Wanita setengah baya itu memeluk Selena. Dia tidak mengerti apa yang terjadi, tapi ia tau Selena sedang tidak baik-baik saja. "Hadapilah Nona, bukan waktunya Nona bersedih dan takut. Nona tidak bisa menghindarinya tapi harus menghadapinya."
"Iya Bi."
"Di luar ada pria tadi malam. Dia menunggu Nona."
Selena mengangguk dan terus menguatkan hatinya.
Selena duduk sambil menghadap pria di hadapannya yang tampak kacau.
"Selena aku ..."
"Kita sudah berpisah, kita tidak mungkin bersama. Aku sudah memiliki kehidupan dan kau juga memiliki kehidupan Jhonatan. Aku ingin kau tetap merahasiakan anak mu dan menganggap semuanya tidak terjadi."
"Apa maksud mu aku harus menyembunyikan mereka dari dunia ini??" Tanya Jhonatan tak mengerti. Padahal sudah jelas mereka adalah buah hatinya, darah dagingnya, tentu saja dunia harus tau.
"Bagaimana perasaan Julia? Kau tidak ingin melihatnya kecewa kan?"
"Kecewa atau tidak dia harus menerimanya kalau aku sudah memiliki anak." Tegas Jhonatan. Dia tidak akan menyembunyikan apa pun. "Mereka anak-anak ku, mereka harus memiliki kehidupan yang jelas." Seandainya saja Selena hidup kembali dan mengingat apa yang terjadi, ia ingin mengetahui apa yang di bicarakan oleh Selena dan Julia. Apakah Julia mengatakan tentang kehamilamnya pada Selena? Ia bimbang antara yakin dan tidak. Ia tidak memiliki bukti menuduh Julia mengatakan yang tidak-tidak pada Selena.
"Jhonatan, aku tidak akan pernah memperlihatkan kedua anak ku pada dunia bahwa mereka adalah anak-anak mu. Kalau kau masih ingin bertemu dengan mereka, kau tidak boleh mengakui mereka."
"Ini kejam Selena, mereka akan kecewa."
"Bagaimana kalau aku menceritakan bahwa sebenarnya dulu mereka tidak di harapkan oleh ayahnya. Di saat mereka berada di dalam perut ku, ayahnya sibuk mencari kekasih lamanya dan tidak memperdulikannya." Selena beranjak, wajahnya begitu tegas. "Jangan mengatakan aku kejam, jika kamu pernah berbuat kejam."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments
pipi gemoy
Selena 🌹👍🏼
2024-11-08
0
fiza
yes2!!!...bagua salena.. pertahanan..
2024-08-29
1
guntur 1609
bagua tuh selena. biar dia berjuang dulu
2024-07-06
1