Tuan Arnod memegang bahu Nyonya Helena. Istrinya menangis terus menerus setelah keluar dari kamar Selena.
"Apa kau dengar perkataan putri kita? Rasanya aku tidak yakin, bagaikan mimpi. Putri kita sudah dewasa dia tidak mengejar lagi Jhonatan."
Tuan Arnod pun tersenyum, tidak bisa ia pungkiri jika ia juga senang dengan perkataan Selena. Sebagai seorang ayah, mana mungkin ia merasa senang ketika putrinya menderita dan bahkan mengejar pria yang tak mencintai. "Aku senang, aku bersyukur putri kita sudah dewasa, tapi aku sedih karena di saat kehamilannya dia tidak bersama dengan suaminya."
Nyonya Selena menggenggam erat tangan tuan Arnod. "Kita yang akan menjaganya, cucu kita tidak akan kekurangan kasih sayang."
Tuan Arnod memeluk nyonya Helena. Ia begitu senang putrinya kini menyadari tindakannya. Selama ini sebagai orang tua, mereka mati-matian membahagiakan Selena.
Tok
Tok
Tok
"Mom, Dad, apa Selena boleh masuk?"
"Iya sayang. Duduklah di sini," ucap Mommy Helena. Dia memberikan jarak dengan tuan Arnod. Selena pun duduk di tengah-tengah kedua orang tuanya.
"Daddy, Mommy, maaf mengganggu. Selena ingin berangkat besok pagi ke kota," tuturnya. Ia berpikir lebih cepat lebih baik.
"Baiklah sayang, kebetulan kakak mu menanyakan kabar mu."
Selena merasa gelisah, ia teringat dengan ucapannya pada sang kakak yang sudah kelewat batas.
"Selena kau baik-baik saja sayang?"
"Aku baik-baik saja Mom, aku ingin secepatnya meninggalkan rumah ini," ucap Selena. Berada di rumah Jhonatan dan peninggalan neneknya membuatnya semakin merasakan sakit hati."
Nyonya Helena mengangguk, ia harus memberikan yang terbaik untuk Selena. "Iya Sayang, Mommy akan mebantu mu bersiap-siap."
Nyonya Helena membawa Selena ke kamarnya, dia pun membantu Selena merapikan beberapa pakaiannya dan memasukkannya ke dalam koper.
"Sayang kau yakin?" tanya nyonya Helena. Ia tidak ingin keputusan Selena membuatnya menderita sendiri.
Selena tersenyum, ia tau apa yang tengah di pikirkan oleh kedua orang tuanya. Ibunya pasti khawatir dan takut ia menyesal. "Iya Mom."
"Anak manis."
....
Keesonkan harinya.
Selena menatap di seluruh ruangan itu, meskipun hati ini masih terasa sakitnya. Ia tidak peduli lagi, yang jelas ia akan membawa kedua orang tuanya pergi ke tempat yang aman.
"Sayang." Nyonya Helena menjemput putrinya di dalam kamarnya. Kemudian ia menarik koper milik Selena.
"Iya Mom."
Dengan hati yang berat, Selena melepaskan semua kenangan yang pernah ia isi di rumah ini. Kini ia harus pergi menyisakan luka yang mendalam.
Selena masuk ke dalam mobil, kemudian Nyonya Helena masuk di kursi depan bersama dengan tuan Alberto.
Selena membuang wajahnya ke arah luar. Ternyata memcintai lebih menyakitkan. Ia mengelus perutnya dan tersenyum. Kini ia akan menjadi ibu tunggal untuk anaknya.
Hanya butuh beberapa jam, ia pun sampai di sebuah rumah mewah berlantai dua. Seorang penjaga membukakan pintu untuk Nyonya Helena dan kemudian membantu melebarkan pintu Selena saat hendak turun dari mobilnya.
"Selamat datang Nyonya, Tuan dan Nona Selena." Seorang maid menghampiri mereka.
Selena langsung memeluk wanita setengah baya itu yang menemani hari-harinya bersama sang ibu. Ia berterima kasih karena telah menyayanginya dan mencintainya.
"Saya senang Nona akhirnya pulang."
Selena mengangguk, sepasang insan itu pun menatap haru pada wanita di depannya.
Pada malam harinya.
Ruang makan yang dulunya sepi kini tampak ramai, sering kali Selena meneriaki ayahnya dengan kesal karena selalu membawa nama baiknya yang menjadi bahan candaan. Ayahnya mengingatkan pada masa kecil Selena.
Nyonya Helena pun tak kalah tertawa, bagaimana ia mengingat Selena sewaktu kecil yang menggemaskan.
"Apa Andresan menghubungi mu? Katakan padanya kalau adiknya sudah pulang."
Wajah Selena berubah dongkol, ia ingat kakaknyq juga membela Julia pada waktu itu. Bahkan saat kakaknya meninggal pun, kakanya tidak mau menemuinya.
"Tidak perlu Mom, tidak perlu mengatakannya. O iya Mom, aku ingin kehamilan ku di rahasiakan juga pada kakak. Aku tidak ingin membuat mereka khawatir dan membuat ku tak nyaman."
Selena pun bangkit, ia merasa tak nyaman untuk melanjutkan makanannya. "Aku kenyang Mom, aku ke atas dulu."
"Kenapa dengan Selena?" tanya nyonya Helena.
"Turuti saja kemauannya, kita tidak bisa memaksanya yang bukan keinginannya, kita sebagai orang tuanya hanya mendukung demi kebaikannya dan menjaganya," ucap tuan Albert.
...
Selena menyandarkan kepalanya ke sisi jendela. Ia teringat kejadian masa lalunya, ia ingat betapa kakaknya membela Julia pada waktu itu. Sekalipun kakaknya tidak menyukainya, tapi ia menyukai kakaknya. Ia selalu berusaha membuat sang kakak dekat dengannya.
"Kakak, aku tau kau sudah bertemu dengan Julia bahkan mungkin kau sudah jatuh cinta padanya."
Hatinya perih, ternyata seorang kakak membenci karena sikapnya. "Aku tetap menyayangi mu dan kalian."
Ceklek
"Selena." Tuan Arnod masuk dan ingin menyampaikan sesuatu. "Daddy ingin berbicara serius, kau yakin ingin bercerai tanpa mengatakan kehamilan mu. Kau sudah memantapkan pilihan mu, kau harus berpikir panjang dan lebar Selena."
"Iya Dad, lebih cepat lebih baik. Aku sudah memantapkan pilihan ku."
"Baiklah."
"Kau beristirahatlah." Tuan Arnod pun keluar, ia bersyukur kehamilan Selena tidak rewel tidak seperti saat istrinya hamil Selena yang tidak bisa makan apa pun kecuali di inginkan sang buah hati.
....
Di tempat lain.
Seorang wanita menatap pria di depannya. Kini dia berada di prancis. "Apa kau tidak menghubungi Selena?" tanya wanita itu. Dia baru beberapa waktu kenal dengan pria itu ketika pria itu berpapasan dengan Jhonatan dan mulai akrap dengannya pada saat ia di tolong oleh kakak Selena, Andreas.
"Tidak, maafkan adik ku. Setelah aku tau kisah masa lalu mu, ternyata adik ku yang salah karena sudah memaksa Jhonatan. Kau wanita yang baik." Andreas kagum pada wanita di depannya bahkan tidak berniat balas dendam. Wanita ini sudah menceritakan bahwa di pergi ke prancis demi kebahagian Jhonatan dan Selena, namun Jhonatan malah menemukannya.
"Kau terlalu memuji ku."
"Ya sudah kita lanjutkan makannya." Julia tersenyum hangat.
Setelah makan malam dengan Andreas, dia menemui Jhonatan di Apartementnya karena sudah janji akan menemuinya setelah pulang menemui temannya.
"Jhonatan kau belum tidur? Maaf aku datang malam."
"Iya, O iya kau senang bertemu dengan teman mu?"
Julia mengangguk, mana mungkin ia mengatakan kalau trmannya adalah kakak dari Selena, Andreas. "Iya, maaf aku tidak makan malam dengan mu."
"Tidak apa-apa."
"Kapan kau pulang? kasihan Selena Jhonatan. Dia pasti merindukan mu."
"Baiklah aku akan menghubunginya karena kau memintanya."
Julia mencubit lengan Jhonatan. "Kau ini, gombal sekali."
"Kau harus ikut aku pulang Julia."
"Tapi Selena pasti salah paham. Aku tidak mau membuatnya sakit hati."
"Inilah kebaikan mu, kau selalu menjaga perasan orang lain Julia."
Julia tersenyum, ia pun memeluk Jhonatan. "Kau meyakinkan diriku pada aku saat menyerah dan memiliki keberanian. Aku tidak masalah menjadi simpanan mu Jhonatan."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments
dori
wkwkw ternyata udh jd simpanannya. pasti selena blm tahu. untung skrg dia mau menceraikan kl gak makin sengsara dlm ketidak tahuan diduakan
2024-11-25
0
pipi gemoy
lucu si Jo
kebaikan katanya 👻
2024-11-08
0
Dewi Kasinji
gak ada wanita baik yg mau jadi simpanan pria beristri , walaupun dulu pria itu kekasihnya. kalo gak punya tujuan
2024-07-04
3