bab 5

Andreas terdiam, ia terkejut mendengarkan ucapan Selena. "Dari mana kau tau?"

Selena tak menjawab, ia hanya tersenyum saja. "Dari mana aku tau, tidak penting untuk Kakak." Ia melihat hamparan bunga mawar di taman rumahnya itu. "Kakak tidak perlu khawatir aku tidak akan mengganggunya."

"Aku tidak akan mengganggu kehidupan kakak bersama dengan Julia, dan Kakak tidak perlu mengganggu ku. Anggap saja Kakak tidak mengenal ku."

Keesokan harinya.

Di ruang makan terlihat hangat, namun seorang pria terus saja melirik wanita di samping ibunya itu. Pria itu merasakan adiknya sedang menghindarinya, bahkan saat bertegur sapa pun adiknya tidak menyapanya seakan tak melihatnya.

Benar saja adiknya berpura-pura tidak melihatnya. "Dad, Mom aku sudah kenyang. Aku ke kantor dulu."

"Kau tidak menunggu ayah mu?"

"Tidak Mom, aku berangkat duluan." Andreas sejenak menatap Selena yang memakan sarapannya.

Nyonya Helena melirik putrinya Selena, ia merasa hubungan kakak adik itu merenggang. "Sayang sebenarnya ada apa dengan mu dan kakak mu? Mommy merasa kalian ada masalah," ucapnya. Seorang ibu pasti merasakan firasat tentang anaknya.

"Mom, aku tau kakak tidak menyukai ku. Jadi aku tidak memaksanya. Jadi jangan paksa aku Mom, Dad."

"Mommy tau sayang." Nyonya Helena mengelus surai hitam milik Selena. "Nanti Mommy akan mengajak mu keluar."

"Ya, kapan lagi kita bisa keluar Mom." Keduanya pun tertawa lepas.

....

Helena menoleh ke belakang, melihat tubuh belakangnya di depan kaca besar yang memperlihatkan seluruh tubuhnya. Kini dia memakai sebuah dress selutu berwarna putih dengan bagian depan yang di hiasi renda dan hiasan bunga tulip di bagian bawahnya.

Rambutnya pun di kuncir satu dengan hiasan dan memakai jepit rambut di bagian rambut kirinya.

"Nona sangat terlihat manis." Seorang pelayan menyanjung wajah cantik Selena. Ia akui Selena begitu cantik bahkam sangat manis. Bulu mata lentiknya seakan memperlihatkan cahaya matahari.

"Sayang kau snagat cantik."

"Aku ingin membelikan sesuatu untuk Daddy, Mom."

"Baiklah, setelah kita selesai baru mencari untuk Daddy mu," ucapnya. Ia sangat senang putrinya akahirnya kembali bersamanya.

Selena mencari bagaian kemeja, satu demi satu ia pilih dan ia bandingkan warnanya lebih cocok mana untuk ayahnya itu. Pilihannya jatuh pada merah hati. Ayahnya pasti cocok memakainya. Satu tatapannya melihat ke arah kemeja berwarna biru. Ia mengambilnya, entah kenapa ia teringat dengan Jhonatan, dulu ia sering membelikan Jhonatan kemeja bahkan di saat ulang tahunnya, ia memberikan sebuah kemeja dan dasi untuk Jhonatan.

"Selena."

Masih memegang kemeja berwarna biru itu, Selena menoleh. Ia melihat Jhonatan berdiri tak jauh darinya. Ia pun melirik seseorang dan melihat seorang wanita menghampiri Jhonatan.

"Jhonatan aku suka yang ini."

Jhonatan menoleh dan hanya mengangguk. Wanita itu pun tertuju pada Selena dan tersenyum.

Julia terpaku, ia tak menyangka bisa bertemu dengan Selena mantan istri calon suaminya. "Kau berada di sini?" tanya Julia.

"Apa kita kenal?" tanya Selena. Ia hanya kenal di masa lalu, tapi mungkim saat ini kakaknya atau Jhonatan yang menceritakannya.

"Ah tidak siapa yang tidak tau dirimu."

"Aku mantan istri calon suami mu." Selena menaruh kemeja berwarna biru itu. Dia kemudian tersenyum hangat. "Ya sudah silahkan kalian mencari keinginan kalian."

Selena melewati Jhonatan menuju ke arah ibunya. Sang ibu sedang fokus mencari sebuah dasi. Selena berpindah ke arah heels. Kedua netranya melihat jejeran heels yang berkualitas terbaik.

Ia melihat sebuah heels tidak terlalu tinggi dan berwarna putih polos. Ia menaruh heels itu dan tanpa sadar seorang pria mengulurkan tangannya membantunya memakainya.

"Jho,"

Jhonatan mendongak, entah kenapa ia ingin sekali memakaikan heels itu di kaki Selena. Wajah cantiknya seakan menghipnotis dirinya untuk mendekatinya. "Ah, aku ingin membantu mu."

"Terima kasih." Selena bangkit dari sofa putih itu, ia kemudian berbicara dengan pelayan itu.

"Mommy aku sudah selesai."

"Iya sayang." Kedua mata Nyonya Helena melihat Jhonatan di belakang Selena. Ia menetralkan wajahnya yang seakan ingin membakar Jhonatan.

"Iya sayang, ayo kita pulang."

Setelah melihat punggung Selena menjauh, ia mencari-cari sosok Julia. Pria itu pun menghampiri Julia yang melihat ke arah kemeja.

"Jhonatan sepertinya kemeja ini dan dasi ini cocok untuk mu." Julia mengambil berwarna kuning dan dasi polos berwarna kuning kotak-kotak putih.

"Iya terserah mu,"

Julia memberikannya pada pelayan toko itu, kemudian menuju ke arah tas. Sedangkan Jhonatan ia mengambil kemeja yang pernah Selena pegang tadi dan tersenyum tipis, ia memberikan pada seorang pelayan wanita.

"Aku ingin ini."

....

"Selena apa kau tidak apa-apa bertemud dengan Jhonatan?" tanya nyonya Helena.

Sepertinya Mommy hanya melihat Jhonatan saja batin Selena.

"Memang kenapa Mom? Apa masalahnya?" Walaupun terasa nyilu tapi tidak seperti dulu, ia merasa tidak sesakit saat bersama dengan Jhonatan.

"Sayang, Mommy yakin kau akan mendapatkan pria yang mencintai mu." Nyonya Helena mengusap lengan Selena dan tersenyum hangat.

"Mommy ada di sini?" tanya seorang pria. Pria bernama Andreas itu melirik Selena yang bahkan tidak menyapanya.

"Oh aku mengajak adik mu jalan-jalan, kau makan siang?"

"Iya," ucap Andreas. Ia tidak menyangka berpapasan dengan Selena dan ibunya. Tanpa di minta ia pun duduk dan memanggil seorang pelayan wanita kemudian memesan sesuatu.

Nyonya Helena menatap Selena, ia takut putrinya merasa risih.

"Selena aku boleh ikut makan siang bersama?"

"Iya kak."

Andreas tersenyum, ia pun ikut makan siang. "Selena makanlah."

Selena menatap udang itu, dadanya terasa terhimpit. "Terima kasih Kak,"

Nyonya Helena tersenyum, ia berharap anak-anaknya akur dan hidup dengan rukun.

"O iya And, tadi Mommy dan Selena bertemu dengan Jhonatan di butik."

"Di butik? Bersama siapa Mom?"

"Sendirian mungkin, Mommy tidak melihat siapa pun di sampingnya,"

Andreas beralih menatap Selena seakan mengamati wajah Selena dan menebak isi hati dan pikirannya.

"Tidak terjadi sesuatu aku dan Jhonatan."

"O iya Mommy mau ke toilet dulu sebentar."

Setelah melihat nyonya Helena menjauh, Andreas menatap Selena kembali. "Kau bertemu dengan Jhonatan dan Julia?"

"Iya," jawab Selena dengan jujur. "Tapi Mommy sepertinya tidak menyadari kehadiran Julia. Dia hanya melihat Jhonatan saja, kenapa? Apa kau khawatir Mommy tau teman mu adalah istri dari mantan adik mu?"

"Tidak bukan begitu Selena ...."

"Kakak kau tenang saja, sekalipun mommy dan dad tau, mereka tidak akan menghalangi mu berteman dengan Julia."

"Selena apa kau membenci ku?"

"Tidak," jawab Selena dengan jujur. "Aku tidak membenci Kakak, tapi aku tidak ingin dekat dengan Kakak karena Kakak teman Julia dan Julia berkaitan dengan Jhonatan, jadi kesimpulannya aku tidak ingin dekat dengan siapa pun yang memiliki hubungan dengan Jhonatan dan Julia termasuk Kakak."

"Aku harap Kakak menjaga batasnya."

Terpopuler

Comments

s

s

Selena*

2024-07-08

1

guntur 1609

guntur 1609

bagua tuh selena abngmu harus di tegasin. dia seharusnya masih memiirkan nasib adiknya. sanggup dia menghancurkan adiknya demi sahabatnya. makan tuh sahabat brengsekmu

2024-07-06

1

anfi rucs

anfi rucs

sukurin emang enak di jauhi adik sendiri

2024-07-05

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!