bab 11

Andreas mengerutkan keningnya. Ia curiga jika Jhonatan memiliki niatan lainnya. "Apa maksudnya ini?" Tanya Andreas. "Kau tidak mungkin mengkhianati Julia kan?"

Jhonatan tau jika pria di hadapannya pasti menaruh curiga padanya. "Tidak, aku hanya ingin melakukannya sebagai permintaan maaf ku karena sering mengecewakannya."

Andreas mengangguk, namun ia tidak bisa memberikannya, ia takut kena sembur oleh kedua orang tuanya, yang jelas Selena pasti menolaknya. "Aku tidak akan memberikannya. Selena pasti menolaknya."

Apa yang di katakan oleh Andreas memang benar, Selena pasti akan menolaknya. "Kau bisa membuang jika dia menolaknya."

Sebagai seorang pria ia tidak mengerti pikiran Jhonatan. "Baiklah aku akan membawanya dan aku tidak akan mengatakan pada Julia sudah pasti dia akan salah paham, tapi ini yang terakhir kalinya dan tidak yang kedua kalinya."

Jhonatan mengangguk dan tersenyum, ia senang Andreas mau membantunya. "Terima kasih."

Andreas mengangguk, ia pun beranjak dan membawa paper bagh itu.

Jhonatan tersenyum, ia berharap Selena mau menerima hadiahnya. "Selena aku harap kau menyukainya." Ia masih ingat jika Selena mengatakan begitu indah pada berlian berwarna kuning.

....

Tok

Tok

Tok

"Selena ini aku Andreas."

Selena membuka pintu kamarnya. Ia sedang berkemas-kemas. Kakaknya tidak boleh tau tentang kepergiannya itu. "Ada apa Kak?" Tanya Selena. Ia pun menutup pintu di belakangnya.

Andreas menyodorkan sebuah paper bagh. "Ini, aku dapat titipan dari Jhonatan."

"Untuk ku?" Tanya selena memastikan, ia tak percaya Jhonatan memberikannya hadiah, selama ini ia tidak pernah mendapatkan hadiah. Ia menarik sebelah sudut bibirnya, kenapa baru sekarang. Apa dengan begini ia terlihat seperti pengemis di hadapan Jhonatan. "Buang saja, aku tidak butuh."

"Tapi ini untuk mu, sebaiknya kau terima saja."

Selena menatap dingin ke arah Andreas. "Apa jika aku menerima ini aku akan terlihat pengemis di hadapan kalian? Aku tidak mau menerima apa pun yang berasal dari Jhonatan, apa kalian pikir aku akan menerima begitu saja perlakuan kalian?"

Andreas menggelengkan kepalanya. "Tidak adik, mungkin tidak seperti itu maksud Jhonatan."

"Sudahlah, O iya biar aku saja yang membuangnya." Selena membawa kotak itu dan tersenyum. Ia pun membungkusnya dengan kertas kado dan kemudian menaruhnya di paper bagh tadi dengan mengirimkan ke alamat Jhonatan.

Keesokan paginya.

Jhonatan yang sedang sarapan bersama dengan Julia, tiba-tiba seorang maid membawakan sebuah paper bagh. "Tuan, ini ada paket katanya untuk tuan," ucap wanita setengah baya itu.

Jhonatan mengerutkan keningnya, ia tidak memesan apa pun. "Mungkin salah alamat,"

"Tidak! Ini benar atas nama Tuan."

"Dari siapa sayang?" Tanya Julia.

"Aku tidak tau," ucap Jhonatan. Perasaan ia tak memesan apa pun. "Sudahlah buang saja."

"Tunggu biar aku periksa." Julia mengambil kotak di dalam paper bagh itu dan membuang kertas kadonya hingga terlihat sebuah kotak beludru.

Jhonatan menatap tajam ke arah kotak tersebut, ia langsung teringat dengan hadiahnya. "Sebaiknya kau buang saja."

"Sayang ini atas nama kamu, aku penasaran apa di dalamnya." Julia membuka kotak beludru tersebut dan terlihat sebuah cincin. "Sayang ini cincin, kau pasti memesannya untuk ku kan?"

Tidak mungkin aku mengatakan cincin itu dari Selena yang mengembalikan cincinnya pada ku.

"Aku lupa, aku pernah memesannya."

Julia beranjak, ia memeluk Jhonatan. "Terima kasih sayang, aku suka sekali."

Apa-apaan Andreas, aku menyuruhnya memberikannya pada Selena, tapi kenapa di kembalikan pada ku geram Jhonatan.

"Andreas, apa kau gila mengembalikan hadiah yang aku berikan pada Selena?!" Sentak Jhonatan. Ia begitu kesal dan marah.

Andreas yang mendapatkan tuduhan pun tak terima. "Aku tidak melakukannya, mungkin itu karena Selena yang mengembalikannya. Ya sudah aku tutup dulu, o iya aku titip Julia."

Selena yang hendak mengantarkan kepergian kakaknya dan ia berniat untuk bertemu yang terakhir kalinya, tangannya yang hendak mengetuk pintu membeku di udara. Ternyata yang di khawatirkan kakaknya sampai saat ini hanyalah Julia, dia hanyalah tokoh figuran.

Ia membalikkan tubuhnya dan sama sekali tak berniat pamitan.

"Selena apa kau sudah menemui kakak mu?" Tanya mommy Helena.

Selena tersenyum getir. "Kakak sepertinya menghubungi seseorang jadi aku tidak ingin mengganggunya."

Daddy Arnod menatap Selena. Ia tidak ingin berpisah dengan putrinya, tapi apa yang harus ia lakukan. Selena masih belum ingin menikah.

"Mom, Dad."

Andreas memeluk mommy Helena kemudian daddy Arnod. Kemudian dia memeluk Selena.

"Selena jaga kesehatan mu."

"Iya Kak."

Selena mengurai pelukannya, setelah kakaknya pergi kini gilirannya.

....

Sudah beberapa jam berlalu, Selena pun melipat pakaiannya untuk di masukkan ke koper. Setelah membereskan semua barang-barangnya, ia pun menyeret kopernya menuju ke luar kamar.

"Sayang kau sudah selesai bersiap-siap?" Tanya mommy Helena.

"Iya Mom."

Daddy Arnod menghela napas panjang. Selena akan melanjutkan kehidupannya di swiss.

Sepanjang perjalanan Selena memilih diam, daddy Arnod dan mommy Selena kadang saling menatap. Mereka juga tak membicarakan apa pun. Kini mereka harus berpisah dengan putri mereka.

Kini sampailah di bandara. Mommy Helena dan daddy Arnod bergantian memeluk Selena. Sebagai orang tua mereka berusaha membahagiakan putrinya tapi tidak untuk berpisah.

"Maafkan kami sayang, kami sebagai orang tua belum bisa membahagiakan mu."

"Selena yang belum bisa membahagiakan Daddy dan Mommy. Tolong jaga kesehatan kalian. Selena akan sering menghubungi kalian."

Satu tahun kemudian.

Di temani dengan seorang pelayan wanita yang berumur 53 tahun, Selena menjalani kesehariannya hingga melahirkan seorang putra dan seorang putri. Siapa sangka dia di karunia dua anak oleh Tuhan. Sungguh kebahagiaan yang sempurna. Lika liku kehidupannya yang penuh tangisan kini berbuah kebahagiaan.

Mommy Helena dan daddy Arnod hanya menjaganya saat melahirkan. Kedua orang tuanya memang memaksa untuk tinggal lebih lama namun Selena tidak memperbolehkannya, ia hanya ingin menjalani kehidupannya dengan bahagia. Sedangkan Jayden, pria itu sering mengunjunginya dan menjadi temannya.

"Sayang." Selena mencium pipi gembul putrinya. Ia memberi nama Keysa atau di panggil dengan Kekey sedangkan putranya ia beri nama Kenzo yang di panggil dengan Enzo.

Kenzo begitu anteng tidur sedangkan Keysa masih berjaga.

"Nyonya muda biar saya saja yang menjaga nona," ucap Ana.

"Terima kasih Bi, biar aku saja yang menjaganya."

Kini Keysa pun tidur, Selena menguap. Sejenak ia melihat jam di ponselnya yang telah menunjukkan jam 1 dini hari. Ia pun tidur di samping putrinya.

Sementara itu, di tempat lain Andreas yang sudah pulang di sambut hangat oleh kedua orang tuanya.

"Mommy, Daddy aku merindukan kalian." Andreas memeluk kedua orang tuanya. "Dimana Selena? Aku sangat merindukannya. Selena sama sekali tidak mengangkat panggilan ku. Apa terjadi sesuatu?"

"Tidak!"

"Oh berarti Selena berada di kamarnya, aku akan membangunkannya." Andreas melewati kedua orang tuanya. Ia tak sabar memberikan hadiah yang ia beli untuk Selena.

"Andreas, Selena sudah pergi."

Deg

Andreas menahan langkah kakinya. Dia memutar tubuhnya dan menatap kedua orang tuanya. "Pergi?"

Terpopuler

Comments

Eka Uderayana

Eka Uderayana

heemmmmm... sudah jauh... baru merasakan kehilangan....

2024-12-12

0

Dewi Kasinji

Dewi Kasinji

Andreas LBH sayang sahabatnya daripada adiknya

2024-07-04

5

Holipah

Holipah

lanjut Thor banyak2 😅

2024-05-07

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!