"Ah maaf Andreas, bukan maksud ku menyuruh mu memarahi Selena, tapi aku hanya ingin kau memperingatinya saja. Selena sepertinya masih mencintai Jhonatan."
Antara percaya dan percaya, Selena mungkin masih mencintai Jhonatan, tapi saat ini dia sudah dekat dengan seorang pria. "Kau tidak perlu khawatir, Selena tidak akan mungkin mengganggu Jhonatan. Dia sudah memiliki Mario."
Julia merasa aneh, tidak biasanya Andreas menolak perkataannya. Biasanya pria itu akan bersikap memberi peringatan pada Selena.
"Aku berharap begitu, ya sudah aku tutup dulu." Tanpa menunggu ucapan Andreas ia menutup ponselnya, sepertinya ucapannya akan sia-sia mengatakannya pada Andreas. "Andreas kenapa? Apa dia tidak peduli lagi pada ku? Pada persahabatan kita." Ia berdecak, Andreas adalah sosok hangat untuknya.
Sedangkan Andreas, pria itu menaruh ponselnya di atas nakas. Perubahan Selena membuat rasa penasaran bertambah, Selena seakan berubah seperti orang lain.
"Selena, aku harus mencari tau."
Keesokan harinya.
Selena mengerutkan keningnya, kedua telinganya terasa terganggu mendengarkan sebuah bunyi. "Emm ..."
Ia meraba di atas nakas di samping tempat tidurnya, ia merasakan bunyi itu berasal di sampingnya.
"Kapan kau akan bangun?" Tanya seorang pria.
Selena membuka kedua matanya dan seketika mata yang tadinya terasa berat malah melihat kakaknya berada di sampingnya. "Kenapa kakak bisa di sini? Kakak mau apa?" Tanya Selena.
"Tentu saja aku membangunkan mu," ucap Andreas. Semenjak kecil, ia yang selalu membangunkan Selena. Adiknya sangat susah di bangunkan meskipun sudah ada alarm.
"Apa Kakak di suruh oleh Julia mengawasi ku?" Tuduhnya. Rasa curiga terhadap Andreas tidak pernah berubah.
Andreas duduk di tepi ranjang, ia sama sekali tak berniat mengawasi Selena karena Julia. "Kau terlalu banyak pikiran." Ia mengacak-acak rambut Selena sambil terkekeh. "Cepat bangun, Mommy dan Daddy sudah menunggu mu di lantai bawah."
Andreas pun bangkit dan berlalu pergi, pria itu menutup pelan pintu kamar Selena dan sejenak menghela nafas. Selena bukan orang lain, ia merasakan Selena itu adalah adiknya. Sempat ia curigai karena Selena berubah.
....
"Selamat pagi, Mom, Dad," sapa Selena.
Andreas pun menoleh, adiknya tak menyapanya. "Apa aku rumput di sini? Kau tidak menyapa ku Selena."
Selena menoleh, ia tersenyum dengan paksaan. "Selamat pagi Kak."
Andreas pun terkekeh, ia menarik pipi Selena dengan gemas. "Emm pipi kelinci."
Selena tersenyum, ia teringat saat masa kecilnya. Andreas selalu mengatakan pipi kelinci padanya. Ia pun memakan sarapannya tanpa mengangkat wajahnya.
"Hari ini kau mau kemana Selena? Kau ingin jalan-jalan? Kakak akan menemani mu."
Mungkin tidak ada salahnya ia kembali dekat dengan kakaknya."Aku pengen ke Mall."
"Baiklah, biar Kakak mu yang kaya ini yang traktir."
"Haih, baru saja banyak uangnya sombong sekali mau mentraktir Selena," ucap Daddy Arnod meremehkan.
Drt
Selena melihat ponsel di depannya, ia langsung mengangkatnya dan menyapanyan dengan ramah. "Jay."
"Apa nanti malam kau ada waktu? Aku ingin mengajak mu makan malam."
"Aku ada waktu, nanti malam kau bisa menjemput ku." Mungkin ini cara terbaik untuknya melupakan semua tentang Jhonatan pikirnya.
"Ya sudah aku tutup dulu."
Selena pun menutup pembicaraanya.
"Selena kenapa kau menutup ponselnya? Aku ingin mengajak Jayden makan malam, hem."
"Nanti malam akan aku sampaikan pada Jayden."
"Ah baiklah, kau ini."
Setelah berbincang hangat, keluarga itu pun melanjutkan sarapannya.
....
Selena menoleh ke arah luar jendela, kini ia dan Andreas berada di sebuah kafe, selesai ke Mall ia ingin mendinginkan tubuhnya dengan meminum sebuah jus, kedua netranya pun fokus pada sepasang kekasih yang berada di seberang jalan. Sang pria menggenggam erat tangan si wanita membuat Selena merasa cemburu, begitu bahagianya sepasang kekasih itu ketimbang dirinya.
"Selena kau berada di sini?" Tanya Jhonatan. Saat berada di luar kafe, ia melihat Selena dari luar jendela yang menatap sepasang kekasih di seberang sana.
Selena menaikkan sebelah alisnya, entah mimpi apa tadi malam ia bisa bertemu dengan Jhonatan.
"Kau bersama siapa?" Tanya Jhonatan lagi. Pria itu seakan tak ingin menghentikan ucapannya.
"Jhonatan?" Andreas yang baru saja datang, langsung menyapa Jhonatan begitu melihat Jhonatan di depan adiknya. "Kau di sini?"
"Aku bersama dengan Julia di sini, berarti kau bersama dengan Selena?"
Andreas mengangguk, ia tak mungkin menyuruh Jhonatan dan Julia duduk bersamanya. "Ah iya."
"Wah Andreas, Selena kau juga di sini?"
Selena memutar bola matanya dengan jengah. Ia hendak berdiri dan menatap ke arah kakaknya, sudah pasti kakaknya akan menyuruh mereka bergabung. "Kak aku pulang dulu."
"Tunggu Selena." Andreas berlari mengejar langkah Selena yang begitu cepat. "Adik tunggu."
Sampailah di mobilnya dan ia menahan lengan Selena. "Kenapa pergi?"
"Apa Kakak sengaja mendatangkan mereka hanya untuk memperlihatkan kemesraan mereka? Aku capek Kak!" Keluhnya. Sebenarnya ia tau bahwa kakaknya tidak mungkin melakukannya.
Andreas menggelengkan kepalanya. "Tidak Selena, tidak seperti itu. Kakak tidak menghubungi mereka. Ya sudah kau ingin pergi, kita pergi." Andreas mengalah, ia tidak ingin berdebat dengan Selena.
Sesampainya di rumahnya.
Dengan wajah kesal, Selena meninggalkan Andreas. Selama di perjalan Selena sama sekali tidak membuka suaranya.
"Selena kau kenapa sayang?" Tanya Mommy Helena. Wajah putrinya sudah pasti terjadi sesuatu.
"Tanyakan saja pada Kakak, Mom."
Helena melirik Andreas, entah apa lagi yang di lakukan oleh putranya tersebut. "Kau apakan Selena?" Tanya nyonya Helena.
"Mommy aku tidak melakukan apapun," ucap Andreas. "Tadi kami ke kafe dan tidak sengaja bertemu dengan Jhonatan dan Julia."
"Hah!" Mommy Helena menghela nafas. Sepertinya ia harus mengirimkan Selena ke luar negeri supaya hidup dengan damai. "Ya sudah aku akan berbicara dengan adik mu. Andreas kau tidak ingin kembali ke Amerika?"
Andreas terdiam, sebenarnya ia memang memiliki urusan di sana. Tetapi karena ingin menemani Selena ia tak jadi untuk kembali. "Mungkin besok aku kesana Mom," ucap Andreas.
"Mommy akan mengantar makan siang untuk Daddy mu, kau jaga Selena."
"Iya Mom."
Nyonya Helena melenggang pergi sambil membawa sebuah kotak bekal yang di berikan oleh maid tadi. Ia tidak bisa berbicara di rumah, karena Andreas jarang keluar mungkin dengan bebricara berdua di kantor tidak akan ada yang tau kepergian Selena.
...
"Sayang."
Daddy Arnod yang sedang fokus memeriksa laporan pun mendongak. "Sayang kau kesini, aku merindukan mu."
Kasih sayang Daddy Arnod tak pernah pudar, dimana pun berada dia selalu menunjukkan sisi romantisnya pada sang istri.
"Masakan mu pasti enak."
"Sayang aku ingin secepatnya kita membawa Selena pergi, kau tau sendiri. Selena tidak akan tenang selama masih ada di kota ini, mungkin dengan menghirup udara bebas, Selena bisa bahagia. Aku khawatir dengan kandungannya."
"Apa kita kirimkan saja Selena ke Jerman?"
"Ide yang bagus, aku ingin Selena bahagia. Aku akan mengatur keberangkatannya. Tapi bagaimana kelau Andreas tau?"
"Besok dia akan melakukan penerbangannya ke Amerika."
"Aku akan mengurusnya, sayang kau bisa menyuapi ku kan?"
Mommy Helena terkekeh, ia pun menyuapi Daddy Arnod dengan penuh cinta.
Sementara itu, acara makan siang di sebuah restoran terasa hambar. Jhonatan merasa tak nyaman dan tak semangat untuk makan siang. Ia terus teringat dengan sikap Selena yang ingin menjauh darinya.
"Sayang kau kenapa? Apa makanannya tidak enak?"
"Tidak! Ini enak, aku teringat sesuatu, aku memiliki urusan. Kau makan sianglah dulu, aku harus pergi."
"Kau mau kemana?"
"Aku pulangnya tidak akan malam," ucap Jhonatan. Dia tidak ingin mengatakannya.
"Apa karena pertemuan tadi?" Julia bertanya-tanya padahal ia sudah pindah dari tempat yang tadi, sesungguhnya ia juga sedikit kesal bertemu dengan Selena.
....
Jhonatan melihat beberapa kalung berlian. Pandangannya jatuh pada cincin berlian berwarna kuning. "Aku ingin yang ini," ucap Jhonatan.
Pelayan toko itu pun membungkus berlian tersebut dengan kotak beludru berwarna biru. Ia mulai mencari nomor seseorang dan mulai melakukan panggilannya. Ia menyuruh seorang pria itu menemuinya di sebuah kafe.
"Andreas."
"Iya, kenapa kau menghubungi ku? Apa terjadi sesuatu pada Julia?"
"Tidak! Aku ingin kau memberikannya pada Selena." Jhonatan menaruh sebuah pepar bagh.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments
s
memiliki Jayden*
2024-07-08
0
Asiana Tyas
sdh cerai,baru mau nunjukin perhatian...telat ferguso
2024-07-04
2
Yunia Spm
Jhonatan membangongkan
2024-07-03
0