"Aku merasa tak nyaman pada mu. Aku berharap kau ..."
Andreas menunduk, ia saja sebagai kakaknya tidak tau keberadaan Selena. "Aku juga tidak tau keberadaan Selena. Tepat saat aku pergi, Selena pun pergi. Jadi aku memang tidak tau keberadaannya."
Julia mengerutkan keningnya, jadi selama ini Selena menghilang dan tak mengatakan apa pun pada Andreas. "Apa kau sudah mencari tau keberadaannya?"
"Saat ini aku memang sedang mencarinya," ucap Andreas.
"Apa kau bisa mengatakan pada ku beradaan Selena jika sudah di temukan?"
Andreas menarik sebelah alisnya. Rasanya tidak perlu ia mengatakannya, Selena sudah pergi dan bukan dia yang mencari atau mengganggu Jhonatan. "Julia selama ini Selena sudah pergi, bukan dia yang mencari Jhonatan mu tapi Jhonatan yang mencarinya, alangkah baiknya kau coba berbicara dengan Jhonatan."
Deg
Julia menggertakkan giginya. Bisa-bisanya Andreas tidak ingin mengatakan keberadaan Selena. "Andreas, aku sahabat mu. Apa kau tega tidak mengatakannya, setidaknya cobalah untuk memahami keadaan ku. Katanya kau ingin melihat ku bahagia."
"Aku memang ingin melihat mu bahagia, tapi tidak untuk mengatakan apa pun tentang Selena." Jika Julia tau, bisa jadi Julia akan mendatangi Selena.
Julia membuang wajahnya ke arah lain. Ia menarik dalam nafasnya. "Kau ingin aku bagaimana? Sedangkan aku memperjuangkan Jhonatan. Jangan egois! Aku hanya bebicara saja."
"Cukup Julia! Sudah cukup, jangan pernah mengganggu Selena dan satu hal lagi, Selena sudah memiliki anak."
Andreas beranjak pergi, dengan wajah kesal bercampur marah. Julia seakan ingin menyalahkan adiknya.
Brak
Julia menggebrak meja di hadapannya. Ia mengepalkan kedua tangannya, kedua telinganya menyimak betul ucapan Andreas. "Apa benar Selena sudah menikah? Memiliki anak?"
Beberapa saat kemudian ia pun tersenyum. "Tapi setidaknya dia sudah bersama orang lain. Aku akan mengatakannya pada Jhonatan."
Di sisi lain.
Jhonatan menatap laporan yang menumpuk di hadapannya. Ia seakan tak memiliki nafsu untuk melihat beberapa dokumen tersebut, jangankan melihat, menyelesaikannya pun ia merasa enggan. Ia merasa malas untuk melakukannya. Sudah satu tahun ia mencari Selena, rasa penasaran tentang mantan istri yang tiba-tiba menghilang.
Ia bahkan tidak tau kepergian mantan istrinya tersebut. Selena sudah merencanakannya dengan matang hingga ia tak menaruh kecurigaan apa pun. Saat mengetahui Selena pergi, ia merasa kehilangan sesuatu, ia ingin mengambil Selena ke dalam genggamannya lagi.
"Selena sebenarnya kau ada di mana?"
Drt
Jhonatan mengambil ponsel miliknya di hadapannya. Ia pun menerima panggilan tersebut. Menurut suruhannya, Andreas sudah pulang dan beberapa jam yang lalu bertemu dengan tunangannya.
"Apa yang mereka bicarakan?"
"Sayang." Sapa Julia.
Jhonatan langsung mematikan ponselnya.
"Aku merindukan mu," ucap Julia. Ia pun mengecup pipi Jhonatan.
Julia tersenyum, ia duduk di depan Jhonatan. "Emm sayang, aku ingin bertemu dengan Selena, tapi katanya Andreas Selena pergi dan dia sudah memiliki anak."
Sejenak nafas Jhonatan seakan berhenti. Dadanya terasa nyeri dan sakit. Ia berusaha meneguk ludahnya susah payah. "Selena memiliki anak?"
"Iya." Julia mengangguk dengan wajah yang meyakinkan. Ia sangat yakin setelah ini Jhonatan tidak akan mencari keberadaan Selena.
"Selena pasti bahagia dengan rumah tangganya."
"Sudah cukup Julia, jangan mengatakannya. Aku tidak memiliki urusan dengan Selena."
Jhonatan bangkit, ia melirik Julia. "Aku masih ada urusan." Ia pun melangkah pergi namun beberapa langkah ucapan Julia sukses menghentikan langkahnya.
"Kau mencintai Selena?" Tanya Julia. Dia begitu ingin tau, tidak biasanya Jhonatan seperti ini padanya. Ia merasa Jhonatan berubah semenjak kehilangan Selena.
Deg
Kedua tangan Jhonatan mengepal erat. Ia menoleh, "Kau bicara apa? Siapa yang mencintai Selena?"
Jhonatan pun melanjutkan langkahnya dan meninggalkan Julia.
Julia mengeraskan rahangnya. Jika memang benar sudah tumbuh cinta di hati Jhonatan, ia tidak akan memaafkan Selena. Ia tidak akan menyerahkan Jhonatan lagi, sudah cukup baginya hidup tanpa Jhonatan. Ia menderita karena kehilangan Jhonatan.
Sedangkan Jhonatan, ia bingung harus kemana. Padahal seharusnya ia fokus pada dokumennya bukan malah pergi. Perkataan Julia membuat dadanya teras panas. "Aku tidak mempercayainya. Selena menikah? Memiliki anak? Hah!"
Jhonatan menghubungi Andreas dan beberapa menit Andreas pun mengangkat panggilannya.
"Ada apa? Aku tidak memiliki hubungan apa pun dengan mu dan Julia."
Jhonatan ingin membalasnya namun panggilannya malah di putuskan sepihak. Padahal ia hanya ingin menanyakan kebenarannya.
....
Pada malam harinya.
Sebuah anggur merah itu menemaninya. Ia menatap anggurnya dan meneguknya, ucapan Julia terngiang-ngiang di pikirannya. Ia selalu mengelaknya karena tidak mungkin mencintainya.
"Hey Jho," sapa Ansel. Dia duduk di samping Jhonatan yang jaraknya beberapa senti saja.
"Kau kenapa? Bertengkar dengan Julia?" Tanya Giordhan. Di lihat dari wajahnya, banyak awan gelap menyelimutinya.
Jhonatan menghela nafas. "Minumlah, aku hanya ingin di temani oleh kalian."
Ansel menatap Giordhan, ia meminta penjelasan namun Giordhan malah menaikkan kedua bahunya pertanda dia saja tidak tau apa yang terjadi.
"Oke, aku minum." Ansel mengambil sebuah botol anggur, kemudian menuangkannya.
"Kapan kau akan menikah dengan Julia?" Tanya Giordhan. "Lebih cepat lebih baik, usia mu sudah kepala tiga."
"Kau jangan menasehati Jhonatan, kau saja kepala tiga masih gak laku-laku." Semprot Ansel. Dia menoleh ke arah Jhonatan, sepertinya sahabatnya itu galau tujuh turunan. "Sebenarnya kenapa?"
"Julia mempertanyakan aku jatuh cinta atau tidak pada Selena."
Ansel meneguk segelas anggur di tangannya. "Lalu? Kau jatuh cinta atau tidak. Kau tidak mungkin mencintai Selena."
"Iya mana mungkin, kau sudah menceraikannya." Sahut Giordhan.
"Sekalipun kau jatuh cinta pada Selena, dia tidak akan kembali. Dia sudah pasti bahagia dengan kehidupannya." Cecar Ansel.
Melihat perubahan wajah Jhonatan, kedua matanya bagaikan elang. Giordhan langsung menutup mulut Ansel.
Saat Ansel ingin membuka tangan Giordhan yang membekap mulutnya, mereka langsung mendengarkan sebuah pecahan gelas. Sontak mereka terkejut dan menatap Jhonatan.
Pria itu pun bangkit dan sepatah kata apa pun pergi meninggalkan mereka.
"Dia kenapa?" Tanya Ansel. Sahabatnya itu terlihat tidak jelas. "Kau juga, kenapa membekap mulut ku? Aku hanya mengatakan apa yang ada bukan yang tidak ada."
"Kau tidak lihat wajah Jhonatan, sepertinya dia marah." Giordhan merasa tak yakin dengan pemikirannya. Ia ingin mengatakannya tapi ia takut dugaannya salah.
"Memangnya kenapa? Apa karena kita membahas Selena? Dia kan benci sekali pada Selena. Giliran di tinggalkan malah marah, giliran ada masih di abaikan, salahnya dia sendiri."
"Tapi aku bersyukur Selena tidak mengejar Jhonatan, biar dia bahagia dengan Julia. Tapi aku lihat wajah Julia aku seperti melihat keanehan."
"Keanehan apa?" Tanya Giordhan.
"Emm dia seperti kekurangan vitamin," ucap Ansel, saking seriusnya ia sampai tertawa terbahak-bahak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments
Eka Uderayana
betul itu.... salah sendiri....yahok-yahok deh loh Jo... kasihan dehh 🤪
2024-12-12
0
fiza
selina jgn blk dgan johanthan...pilih lain,watpe ko lahir blk tapi pilih suami gitu,🙄..
2024-08-29
2
s
bukannya giordino ya?
2024-07-08
0