Pada malam harinya.
Julia menemui Jhonatan di Apartementnya. Dia memeluk Jhonatan dari arah belakang dan menyandarkan kepalanya di punggungnya.
"Natan ada yang ingin aku katakan pada mu."
Pria yang memegang segelas cairan merah itu meneguknya hingga tandas. Seharusnya suasana hatinya sedang senang, sedang bahagia, tapi sayangnya ia tak bisa menemukan kebahagiaan dan kenyamanan itu.
"Sebenarnya kakaknya Selena berteman dengan ku."
Jhonatan merasa tertarik, lantas ia membuka lilitan tangan di pinggangnya itu. "Semenjak kapan?"
"Sudah lama, aku dan Andreas berteman sebelum kau menemui ku. Bahkan Andreas pun sudah tau tentang hubungan ku dengan mu. Dia hanya berharap aku dan kamu bisa hidup bahagia." Julia tersenyum, ia begitu senang bertemu dengan Andreas.
Bukannya senang, Jhonatan malah merasa aneh pada dirinya. Jadi selama ini Andreas sudah tau hubungannya bahkan hubungannya saat ini dengan Julia.
Aku harus bertemu dengan Andreas batin Jhonatan.
Entah kenapa ia takut Andreas mengatakan yang tidak-tidak pada Selena. Setidaknya ia sudah menuruti Selena yang tentunya tidak akan bahagia dengannya, setidaknya ia sudah melepaskan Selena dan memberikannya kebebasan, setidaknya ia melepaskan Selena dengan baik-baik.
Maafkan aku Selena batin Jhonatan.
Julia memeluk erat Jhonatan, ia bersyukur di cintai oleh Jhonatan bahkan ketika pria itu menikah, cintanya padanya masih sama, dia tidak mengingkari janjinya padanya.
Keesokan harinya.
Andreas baru saja sampai, dia duduk di depan Jhonatan. Karena tadi Jhonatan menghubungi Andreas dan mengajaknya bertemu.
"Apa ada sesuatu yang ingin kau katakan?" tanya Andreas dengan nada santai. Mungkin karena pria di depannya sudah tau mengenai pertemanannya dengan Julia atau sebaliknya.
"Bagimana kabar Selena?" tanya Jhonatan.
Andreas mengerutkan keningnya. Kedua telinganya mungkin salah dengar. "Selena? Kau menanyakan kabar adi ku?"
"Iya, bagaimana kabarnya?"
"Dia baik, Selena baik," ucapnya. Walaupun ia pernah melihat Selena mual dan saat ia menanyakannya, adiknya hanya mengatakan masuk angin karena tadi malam tidur dengan membuka jendela kamarnya. "Kenapa kau menanyakan Selena? Kau tidak mungkin memiliki perasaan."
Bukan perasaan, lebih tepatnya rasa bersalah batin Jhonatan.
"Aku tau kau berteman dengan Julia?"
Deg
Dada Andreas terasa panas. Ia menduga pria di depannya mungkin karena cemburu. "Aku dan Julia tidak ada hubungan apa-apa. Kami hanya berteman saja."
"Aku tau, aku berterima kasih karena kamu sudah berteman dengan Julia. Di saat aku tidak ada kau menemaninya, aku berterima kasih pada mu. Aku minta maaf karena menyakiti adik mu, mengabaikannya."
"Bukan salah mu, salah Selena yang memaksa pada orang yang tidak mencintainya."
Seperti tersindir dengan ucapan Andreas, Jhonatan terdiam namun ia tau Andreas tidak mungkin menyindirinya.
"Aku titip Julia, bisa saja aku tidak ada di saat ia butuhkan."
"Hah? Kau mencintai Julia atau tidak? Kau tidak ada cemburunya sama sekali pada Julia saat dekata dengan ku?"
Jhonatan menggelengkan kepalanya, ia merasa lebih nyaman jika ada orang lain yang mengawasi Julia.
"Tidak, justru aku berterima kasih karena kau juga ingin menjaganya untuk ku. Aku mempercayai mu."
Andreas tersenyum, ternyata Jhonatan tak seburuk yang ia kira. Ia kira Jhonatan akan salah paham padanya karena kebanyakan pria salah paham jika kekasihnya berteman dengan pria lain.
"Selena tau kalau aku berteman dengan Julia." Tutur Andreas.
"Apa dia mengatakan sesuatu?"
Andreas menggelengkan kepalanya. Tidak ada yang penting, Selena tidak mengatakan apa pun. "Dia hanya bilang, dia tidak ingin memiliki hubungan yang erat karena menyangkut Julia dan Julia menyangkut dirimu. Jadi dia membatasi hubungan persaudaraan kita."
Raut wajah Jhonatan seperti memikirkan sesuatu, entah apa yang dia pikirkan saat ini.
"Jhonatan terima kasih karena mempercayai ku." Andreas pun tersenyum. Dia meneguk sebuah jus di depannya itu.
Pada malam harinya.
Jhonatan mengantarkan Andreas ke kediaman mantan mertuanya. Dia membuka pintu mobilnya dan tanpa sadar melihat seseorang di balkon dengan sebuah susu di tangannya. Kedua netranya menatap segelas susu seperti memainkannya. Seolah ada yang menarik dari susu itu.
"Ayo masuk dulu," ucap Andreas.
"Iya segelas jus." Tanpa merasa canggung Jhonatan masuk, ia ingin membina hubungan baik dengan mertuanya, lagi pula setelah bercerai tidak ada yang nama mantan mertua baginya.
Jhonatan duduk dan Andreas menyuruh maid rumahnya untuk membuatkan segelas jus.
Andreas berpapasan dengan Selena di pertengahan anak tangga. Tanpa bertegur sapa Selena melewati Andreas seakan tak melihat apa pun. Di kehidupan lalunya ia tidak memiliki hubungan baik, jadi ia tidak ingin membina hubungan baik lagi. Biarkan saja, ia ingin menjalani seperti air saja.
"Ekhem."
Andreas melirik namun tak membuat Selena tertarik. "Selena di ruang tamu ada Jhonatan."
Selena tak mengatakan apa pun, ia hanya berpikir mungkin hubungan mereka sudah membaik karena ada Julia. Tapi tiba-tiba ia merasa mual dan seperti api kebencian yang langsung berkobar ketika membayangkan wajah Jhonatan, entah kenapa ia sangat membenci Jhonatan, mungkin karena anak di perutnya yang tidak ingin melihat atau mengingat ayahnya.
Ia duduk di ruang makan dan mengambil buah apel. Hidungnya sangat sensitif ia mencium bau seperti mengenal bau itu. Namun ia tahan, hidungnya akhir-akhir ini sangat sensitif.
"Selena." Sapa seorang pria. Niatnya meminta air putih namun siapa sangka bertemu dengan mantan istrinya.
Selena melirik sekilas, ia merasa tidak senang. Suasana hatinya mendadak berubah. Bahkan lebih menjengkelkan lagi pria itu malah dudun di depannya. Jika dulu, jangankan duduk bertemu saja seakan tak pernah. Bisa di bilang di hitung jari.
"Kau belum tidur padahal sudah malam?"
"Loh Jhonatan kau di sini rupanya."
Selena beranjak dari kursinya saat mendengarkan suara seseorang yang tak lain kakaknya. "Aku mencari mu."
"Selena kau di sini?" Andreas menatap Selena. Namun yang di tatap malah melenggang pergi.
Jhonatan menatap punggung Selena yang semakin menjauh, entah kenapa perasaannya tidak nyaman. Sedikit nyeri, rasanya ia tidak suka di abaikan oleh Selena.
"Selena dimana Mommy dan Daddy."
Selena berbalik dan mengedikkan bahunya. Ia kembali melangkah pergi.
"Ternyata dia tidak tau juga."
"Em Andreas aku pulang dulu." Jhonatan pun pamit, tanpa menunggu jawaban dari Andreas ia meninggalkan Andreas.
"Padahal air putihnya belum di minum."
...
Jhonatan menarik dasinya yang terasa mencekik lehernya. Ia merasa sesak dan ingin sekali membukanya.
Sikap Selena tadi membuatnya merasa enggan dan tak ingin melakukan apa pun. Ia merasa malas untuk pulang ke mansion utamanya dan merasa malas untuk pulang ke apartementnya.
"Kemana ya? Oh di rumah Mommy saja." Ia melajukan mobilnya menuju kekediaman sang ibu yang jaraknya luamyan dekat.
"Natan kau di mana?" tanya Julia. Dia sedang menunggu kedatangan Jhonatan sejak tadi.
"Aku tidak pulang malam ini, aku sedang sibuk," ucapnya. Dia pun mematikan ponselnya karena merasa sesak dan tak nyaman di dadanya itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments
pipi gemoy
emang enak di cuekin kalian berdua 👎🏼😂
2024-11-08
1
dori
kenapa ya kl cerita si sayonk. FL selalu balik lg ke mantan. pdhl mantan udh nyakitin dan selingkuh.. selalu berakhir dimaafkan.. pdhl kenyataan hidup byk org yg justru gak bgitu
2024-11-25
2
Airin Moo
sijonatan sdh jatuh cinta sama selena tapi belum menyadarinya dan cintanya pad julia tanpa dia sadari sdh hilang hanya tersisa rasa sayang dan melindungi😃
2024-09-21
0