Tiba - tiba ada seseorang memanggilku, seperti suara yang ku kenal, tapi aku menepisnya karena aku mengira itu di dalam hayalanku.
"Hai Sus, apa kabar?" tanya suara itu lagi, aku menoleh, ya... Ampun.. Aku terkejut, tidak mungkin! Aku membulatkan mataku. Dan tanpa sadar berdiri, dan anehnya dia hanya tersenyum.
"ka.. Kamu Johan?" tanyaku tak percaya, dia hanya tersenyum dan mengangguk. Aku hendak melompat kedalam pelukannya, tapi aku tahan.
"Aku boleh duduk?" pintanya bertanya. Aku hanya mengangguk dan kembali duduk berhadapan dengan dia.
"Tempat ini sama seperti dulu ya." dia buka suara setelah beberapa menit kami terdiam. Aku memperhatikannya, dia sudah berubah, cara berpakaiannya juga berbeda, apa lagi cara dia berbicara, sangat berbeda dari kami bertemu terakhir dulu.
"Kapan sampainya?" tanyaku sedikit mendatarkan wajahku.
"sudah ada 2 hari"
"kenapa tidak di kabari?"
"aku ingin buat kejutan."
Aku cuma tersenyum kecut, lelaki ini terlalu kejam, pikirku. Dia sama sekali tidak peka.
"Oh ya, dari mana kamu tahu aku di sini?" tanyaku lagi.
"Cuma kebetulan saja, sebenarnya saya juga ingin ke sini untuk mengenang masa lalu kita." ungkapnya dengan sesekali meminum minuman yang sudah dia pesan.
"Oh ya, gimana keadaan kamu selama ini? Apakah kamu sudah berkeluarga?" aku sedikit penasaran.
"pertama - tama aku mau minta maaf, karena selama ini tidak memberi kabar kepadamu. Aku berat juga untuk menceritakannya."
"mau cerita apa? Katakan saja" ucapku santai, sementara hatiku sudah deg degan. Dia hanya menatapku dan menarik nafasnya.
"sebenarnya, aku sudah berkeluarga." ucapnya.
Aku tersentak karena kaget, tak terasa air mataku menetes.
"Sekali lagi aku minta maaf." ucapnya menunduk.
"Ka.. Kau gila Jo..! Kau menyuruhku untuk menunggumu, telah aku lakukan, dan kini aku malah mendengar kabar yang paling buruk setelah aku kelelahan! Kau manusia super tega Jo.. Aku.. Aku sangat membencimu Jo..!" teriakku dan berlari keluar.
"Sus.. Tunggu!" teriaknya dan berusaha menarik tanganku. Aku mengibaskan tangannya yang berusaha meraihku.
Semua orang yang ada di situ memandang ke arah kami. Dia membayar minuman yang kami pesan tadi dan kemudian berlari menyusulku keluar. Air mataku semakin deras.
"Susi.. Tunggu! Sorry sus... Aku tadi cuma bercanda!" teriaknya sambil terus menarik tanganku.
"Apa maksudmu cuma bercanda?" aku menghentikan langkahku dan berbalik menatapnya. Dia menarik nafas karena sudah ngos - ngosan mengejarku.
"Ya.. Ya, aku cuma bercanda, sebenarnya aku belum berkeluarga, aku belum menikah sus." ucapnya dengan sedikit keringat di wajahnya, aku belum bereaksi apa - apa, hanya memandanginya mencari kebenaran di matanya. Dia mengangguk, tapi aku tetap mengibaskan tangannya karena sedikit kurang percaya.
"Apa kau ingin mempermainkan aku lagi? Jika sudah menikah katakan terus terang sekarang, jangan kau berbohong hanya karena kasihan kepadaku."
"Tidak, tidak, aku tidak bohong." ucapnya dengan mengangkat 2 jarinya.
"Jika kamu tidak percaya, lihat ini." dia mengeluarkan kartu tanda penduduk dari dompetnya dan memperlihatkannya kepadaku. Kupandangi dia, entah mengapa aku menjadi menangis lagi dengan suara yang sedikit keras. Aku langsung memukul - mukul dadanya yang berada di depanku.
"Kamu jahat Jo.. Mengapa ini kamu lakukan?" ucapku di sela sela tangisku, dia langsung memelukku.
"Sorry Sus.. Aku hanya ingin lihat kamu marah, selama kita bersama aku tidak pernah melihat kamu marah, entah mengapa aku memiliki ide ingin membuat kamu marah, dan bagaimana rasanya di marahi sama kamu. Ternyata malah membuat aku takut, Maaf sayang." ucapnya sambil mengelus rambutku pelan dan sesekali mengecup pucuk kepalaku.
Aku merasa begitu tenang di dalam pelukan Johan, aku semakin mengeratkan peluk kanku.
"Sudah.. Sudah.. Kamu enggak malu di lihat orang?" dia malah menggodaku.
"Aku nggak peduli!" teriakku manja.
"Nanti di sambung lagi di rumah."
Aku mendongak memandangnya, dia ini membuat aku kesal, langsung saja aku cubit perutnya.
"Adu.. Aduh.. Sakit sayang." dia menjerit manja dan langsung memegang tangku yang tadi mencubitnya.
Hari ini aku sangat bahagia, penantianku ternyata tidak sia -sia.
Makasih Jo.. Kamu sudah membuat aku bahagia.
Kisah ini aku tulis rapi - rapi di dalam buku harianku. Kapan - kapan aku akan membacanya lagi untuk mengenang masa laluku.
*** the and
NB : ini terjadi saat posel belum ada ya, masih zaman surat menyurat. Makasih... 👋👋
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments