Esok harinya pada jam istirahat, Dodi benar - benar datang ke kelasku.
"Hai Ca, pa kabar?" sapanya dengan senyum,
"Baek, elo sendiri gimana?"
"Baek juga" jawabnya seraya melirik Dina yang berada di sampingku.
"Hei, Do.. Tumben lo kesini? Kagak ikutan ngejar Putri? Kayak cowok - cowok laen, gitu?" tanyaku menyusun skenario.
"Buat apa? Gua kan udah ada pacar." dia mengikuti arus juga.
"Ah, masa sih? Tapi gua liat lo kemaren jalan sendiri aja, apa pacar elo lagi deketin cowok laen? Aduh...!" tiba - tiba Dina menginjak kaki ku.
"Ada apa Ca? Tanya Doni.
"Ng.. Nggak apa - pa, cuma ada yang gigit kaki gua" ucapku sambil usap - usap kakiku.
"Tapi gua enggak percaya kalau pacar gua selingkuh deh." ucapnya sambil sesekali melirik Dina yang sudah salah tingkah.
"Oh ya... Kalau kamu enggak percaya tanya aja langsung deh, kayaknya dia lirik cowok laen." ucapku seraya berlalu keluar, aku tinggalin mereka berdua di dalam kelas. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan.
Tapi menurutku mereka sudah baikan, karena ketika pulang sekolah aku sudah sendirian lagi karena aku sempat melihat mereka sudah bergandengan tangan lagi sambil cekikikan.
"Makasih ya Ca.." ucap Dodi seraya mencubit pipiku saat mereka melewati aku.
"Luan ya..." Dina melambaikan tangan kepadaku sambil gelayutan di lengan Bajingan Dodi.
Aku hanya berdiri di depan gerbang sekolah menatap dengan wajah datarku, mereka menghilang di keramaian umat.
"Haaa... Pulang sendiri lagi" bisiku untuk diriku sendiri. Aku ayunkan langkah ku dengan santai, cuaca hari ini sedikit berawan jadi enak menikmati jalanan sendirian.
Tapi tiba - tiba aku melihat dua sosok manusia sedang berjalan di trotoar dengan hati yang gembira, mereka tertawa riang. Tapi hatiku sebaliknya, seperti tersayat - sayat rasanya, karena kedua manusia itu Satria dan Putri.
Mereka terlihat begitu mesra di mataku, aku terdiam dan duniaku pun ikut berhenti.
Aku hanya bisa melihat mereka yang bergerak sendiri dengan riang. Walaupun aku melihat mereka dengan wajah datarku, tapi di dalam hatiku seperti sedang mengeluarkan air mata satu ember. Kakiku lemas dan hampir pingsan rasanya.
Padahal perasaan itu sudah bagus - bagus aku timbun dengan tanah 5 kontainer, tapi mengapa masih sakit.
Karena aku merasa tidak bisa bergerak, aku menjerit sekuat tenaga dengan memegang telingaku. Semua orang menoleh ke arahku, Dia juga, aku merasa dia menatapku walaupun aku menunduk.
Aku netralkan kembali ekspresiku, kemudian aku terburu - buru berjalan karena takut sebentar lagi akan hujan, aku melihat langit sudah menjadi gelap.
Ketika sampai di rumah, air mataku jatuh sendiri. Sial..! Aku bingung kenapa seperti ini, padahal dari kemaren aku bertekat agar bisa melupakan Laki - laki itu, selalu aku sebutkan di dalam hatiku. 'Aku tidak mengenalnya..! Aku tidak menyukainya..!'
Namun nyatanya di dunia nyata sangat berbeda dengan dunia halusinasi. Sial..! Sial..! Apakah diam - diam hatiku ini menipu otakku? Di kepalaku berkata tidak akan memperdulikan dia dengan yang lain. Tapi di hatiku sangat sakit jika melihat dia dengan yang lain. Ck, setan apa yang masuk ke dalam hatiku, Tolong keluar..!
Tiba - tiba ponsel gua berdering dengan nomor yang tidak di kenal. Dengan wajah datar aku ambil dan pencet warna hijau.
"Hallo" sapaku pendek.
"Hallo.. Apa kabar Caca..?" tanya orang di sebrang. Aku diam mematung, dari kapan aku berubah jadi Caca?
"Maaf, anda salah sambung, aku bukan caca." jawabku dingin dan hendak mematikan ponselku.
"Hei! Tunggu..! Lo Caca kan? Tanya orang di sebrang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments