"Tentu aja cewek ma.." jawabku males, aku dah ngantuk.
"Ya udah, ngak apa- apa, sana mandi dan terus turun untuk makan." mama menjelaskan.
Akhirnya aku turun dari kasur dan masuk kekamar mandi, membersihkan diri. Habis itu aku turun untuk makan, walupun ngantuk aku tahan saja, karena mama akan berulang - ulang ke kamarku jikalau tidak di ikuti apa yang dia perintahkan.
Setelah makan aku kembali ke kamar dan merebahkan diriku masuk ke alam mimpi. Minggu tidur seharian.
***
Ke esokan harinya ketika di sekolah ataupun ketika pulang, aku berusaha untuk menghindari Aldo.
"Tia, tunggu!" seseorang memanggilku dari belakang, aku mengenal suaranya. Aku semakin mempercepat langkahku dan hampir setengah berlari. Tapi dia lebih cepat dari ku dan langsung menarik tanganku dan membawaku ke area yang sepi.
"Tak ku sangka kau tega berbuat begitu padaku Tia!"
"Aku juga tak menyangka kau menculikku." ku kibaskan tanganku dari pegangannya. Tapi dia malah berdiri di depanku dengan menatapku dengan tajam, aku bingung mau mengalikan pandanganku kemana.
"Mengapa kau lari dari aku?" tanya lagi dengan nada yang lebih lembut. Ku palingkan wajahku ke samping.
"Apa aku terlalu buruk buatmu?" aku hanya menunduk tidak bisa menjawab pertanyaannya, sebenarnya jantungku berdegub kencang saat dia melihatku dengan intens seperti ini.
"hem, kamu tidak di apa- apain sama sopir truk itu kan?" aku mengangguk.
"Tia, sekali lagi aku mohon padamu, tolong bantu aku. Kalau kau memang tidak mau menolong aku, aku berjanji tidak akan pernah berubah. Mungkin itu yang kamu mau? Aku menjadi seorang pembunuh, pemerkosa, pencuri dan pecandu ob..."
"Cukup!" teriakku sambil menatapnya lekat - lekat.
"kau mendesakku?!"
Dia hanya mengangguk, "Aku tidak sanggup" ucapku.
"Kenapa? Itu bisa kita coba."
Aku menggeleng dan berlalu menyebrangi jalan raya, tanpa melihat ada kendaraan yang lewat. Aku terperangah di tengah - tengah ternyata sebuah truk sudah hampir mendekatiku. Tapi tiba - tiba ada yang mendorong tubuhku ke depan dan aduuh.. Lututku terasa sakit sekali kena hantaman pembatas jalan.
Aaakkkhh...
Tiba - tiba aku mendengar suara teriakan, aku menoleh ke belakang. Astaga...!
"Aldo!" aku menjerit dan berusaha mendekati, tidak merasakan lagi lututku yang tadi sakit.
"Do.. Apa yang kau lakukan?
Dia hanya tersenyum dan memegang tanganku erat - erat seperti tidak ingin di lepas. Aku melihat darah dari kepala dan hidungnya.
"Do.. Bertahan do.." rintihku di sebelahnya yang sambil memeluknya. Orang - orang mulai mendekati kami.
"Pak, tolong pak carikan bantuan." pintaku kepada orang yang ada di situ.
Tak berapa lama datang sebuah ambulance, para petugas medis mengangkat tubuh Aldo ke tandu dan memasukkan ke dalam ambulance.
"Saya rasa nona saja yang menemani saudara ini ke rumah sakit." saran orang - orang yang ada di situ. Akupun menggangguk dan masuk kedalam ambulance.
Sesampai di Rumah sakit mereka membawa Aldo ke ruang UGD. Aku menunggu di depan pintu ruangan itu. Ku ambil ponselku dan menelepon susi temanku.
"Hallo Tia"
"Susi, tolong datang ke Rumah Sakit Sartika sekarang."
"Emangnya ada apa? Siapa yang sakit?"
"datang saja, cepat ya, darurat ini."
"ok, ok, sekarang aku cabut."
Tak berapa lama susi sudah datang ke tempat aku menunggu hasil operasi Aldo.
"Astaga Ti.. Bajumu kok penuh dengan darah, tanganmu.. Apa kau kecelakaan?" dia bertanya dengan sedikit berteriak.
"sudah, duduk dulu. Bukan aku, Aldo kecelakaan."
"Apa?!" dia terkejut "Bagaimana kejadiannya?" dia penasaran juga.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments