Bab. 3

Melihat adegan ini, Aldo menatap kami berdua dengan wajah jengkel.

Cuuiihh..! Sambil berludah dia meninggalkan kami.

"Sakit?" tanyaku

"enggak kok, aku ngak apa - apa." jelasnya.

Aku menggeleng dan memapah dia kebangku tempat duduknya, dan setelah itu Susi datang.

"Hei, Andi kenapa?" dia mendekati kami dan memegang bahu Andi.

"Aldo" jawabku singkat.

"Maksudmu, Aldo memukulnya?" Aku hanya mengangguk.

"Wah, kurang ajar dia" ujar susi sambil mengepal tangannya.

"Sudah, sudah kita tidak bisa lagi ngurusi orang yang emosian seperti dia, bisa bahaya. Kita yang tak bisa jurus apa -apa." ucapku lesu.

Ah, coba waktu bisa di ulang, lebih baik aku tidak berbicara kemaren. Penyesalan selalu terlambat.

"Tapi ini sudah keterlaluan" susi keberatan.

"Sudah deh sus, aku tidak apa - apa kok." Andi buka suara, susi cuma bisa nyengir.

Ketika pulang sekolah, tiba - tiba Ririn dari kelas sebelah datang menghampiri.

"Hei, kebetulan nih" ucapnya membuka pembicaraan.

"Ada apa?" tanyaku

"Ini nih.. Besok malam kan malam minggu.."

"Lantas..?" potong susi

"Aduh.. Belum selesai ngomong sudah di potong." cetus Ririn

"udah, udah, terus?" aku penasaran.

"Wina, mengundang kamu kamu semua untuk hadir di acara ulang tahunnya."

"Ohhh.." ucap kami serempak.

"kok, nggak pake kertas undangan?" Andi bertanya.

"Waduh, sudah kehabisan, cuma kurang 3, ya untuk kalian bertiga saja. Makanya Wina nyuruh aku yang undang kalian secara langsung. Nanggung kalau beli lagi kertas undangannya, cuma kurang 3 soalnya." jelasnya

"Ok, kami akan datang." sahutku

"Pasti ya, jangan sampai tidak datang, nanti aku yang di marahi sama Wina." ucapnya

"lho, kenapa harus di marah?" aku mengkerutkan dahi.

"Kalian kan teman- teman dekatnya, tadi aja aku di marahi karena tidak menulis surat undangan untuk kalian. Soalnya aku pelupa dan yang mau di undang banyak banget, jadi kelupaan deh." jelasnya dengan tersenyum, kami cuma manggut - manggut.

"Kalian harus datang ya." ucapnya lagi sambil berlalu, kami hanya mengangguk.

"Agak aneh nggak?"

"hmm" ucap mereka berdua.

"kalau kalian pergi, aku pergi. Kalau kalian tidak pergi aku juga tidak. Aku takut sih mana tau ada trik kalau kita sendiri - sendiri." ucapku

"Ya sudah, kami akan menjemputmu besok." ucap Andi.

***

Kulirik jam tanganku, sudah pukul 7 malam, Susi dan Andi belum juga datang. Aku kembali melihat penampilanku di cermin. Aku rasa sudah cukup cocok dengan pesta ulang tahun anak remaja, dengan memakai celana jeans hitam panjang dan tang top satin lembut berwarna pink soft sampai pangkal paha.

Dengan makeup yang mini malis, rambut panjangku ku ikat ke atas.

Tin.. Tin..

Aku mendengar klakson mobil, itu pasti mereka dengan bergegas aku keluar menghampiri mereka dengan membawa kado yang sudah ku persiapkan untuk Wina.

Sampai di Rumah Wina, suasana sudah cukup ramai. Kami memasuki rumah megah tersebut dan memberikan kado yang kami bawa kepada penerima tamu, sesampai di dalam kami melihat Wina lagi di kerumuni teman - temannya dan cowok ganteng, jadi nanti sajalah mengucapkan selamatnya. Tapi ternyata ketika kami berjalan dia melihat kami, dia melambaikan tangannya dan aku membalas.

Rangakian acara telah di lewati kini tinggal acara dansa, atau menari berpasangan. Musik mengalun slow dengan musik melow yang membuat orang berdansa semakin rapat.

Andi mengajakku berdansa, hmm, asyik juga. Lama kami berpelukan dan sesekali berputar.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!