episode 05

Robert dan william melihat bagaimana teganya seorang ayah menyakiti putrinya. Itu tidak seberapa di banding kejamnya dion yang lalu kepada tasya. Namun, mereka hanya diam, tak ada sedikit pun terlintas di pikiran mereka untuk menolong tasya.

"dia pantes dapet itu, dia penyebab bunda mati" ucap robert sambil melipat kedua tangannya.

☆☆☆☆☆

Langit malam yang menampilkan keindahan ribuan bintang, dan bulan yang bersembunyi di balik awan putih. Tasya yang sedang duduk termenung di teras samping rumahnya. Kini menatap langit yang penuh keindahan.

Tasya meraih sebuah buku yang sempat dia abaikan. Tasya mulai menulis di buku itu.

Aku terbiasa memeluk luka, buih air mata mengalir deras tanpa niatan untuk mereda. Aku dipaksa bungkam, hanya tangan yang memegang pena dapat bicara bagaimana rasa sakitnya. Hanya bisa membalut luka dengan luka. Aku lelah dengan rasa sakit ini, sangat lelah. Tuhan, aku tak sekuat itu. Aku lelah dengan semua ini, mereka hanya bisa memberi luka yang bekasnya takkan menghilang. Sampai kapan aku terus merasakan sakit ini, apakah hidupku hanya untuk menampung luka?

"bun. Kenapa tinggalin aku sendiri di sini?" sambil menatap langit malam, berharap sang bunda dapat mendengarnya.

"harusnya aku yang mati bun, bukan bunda"

☆☆☆☆☆

~chat~

Tasya :

"kamu udah berangkat ke sekolah?

kalau belum, aku mau bareng ya"

hazel :

"kenapa ga bilang dari pagi sya. Ini aku udah di sekolah. Atau ga gini aja deh, aku minta supir aku jemput kamu ya?"

Tasya :

"gausah hazel, gapapa. Aku bisa berangkat sendiri atau sama kakakku kok"

hazel :

"bener? Yaudah kamu hati-hati ya"

☆☆☆☆☆

Tasya melihat jam di tanggannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 06.40, hanya tersisa 20 menit untuk tiba di sekolah. Hari ini tasya kesiangan, itu sebabnya dia tak berani memesan ojek online atau naik angkutan umum, butuh waktu lama untuk menunggu.

Tasya melihat mobil yang biasa di bawa oleh william masih terparkir di halaman rumahnya. Tak lama kemudian william tiba, menuju mobilnya. Tasya membuntuti william. Saat william hendak membuka pintu mobil, tasya menahan tangan kakaknya. William terkejut dengan aksi tasya. Dia menghempas tangan tasya. Kini william menatap adiknya.

"hari ini tasya bareng sama kakak ya, tasya janji kak cuma hari ini aja kok. Setelahnya tasya ga akan bangun kesiangan lagi"

William tak menghiraukan tasya, dia masuk ke dalam mobil, kini mobilnya melaju keluar gerbang. Tasya yang melihat kakaknya tak peduli kepada dirinya, kini pasrah. Mungkin dia akan alfa hari ini.

William membuka kaca mobilnya.

"cepat masuk"

Ternyata william tak meninggalkan tasya, dia hanya mengeluarkan mobilnya keluar dari halaman rumah.

Akhirnya tasya berangkat sekolah bersama william. Dia tak menyangka ternyata william masih peduli terhadapnya

"gausah senang, gue cuma punya rasa kemanusian aja" ucap william, saat melirik cermin di dalam mobilnya yang memperlihatkan wajah bahagia tasya yang duduk di kursi belakang, terlihat dalam cermin itu tasya terus tersenyum.

Saat tiba di sekolah, tasya sangat bersyukur karena hari ini dia tidak telat masuk sekolah, walaupun tinggal 4 menit lagi gerbang sekolah akan di tutup.

Halaman sekolah memang sudah sepi, semua siswa pasti sudah berada di dalam kelasnya, karena bel akan segera bunyi.

Belum sempat mengucapkan terimakasih kepada william, william sudah pergi terlebih dahulu.

Terpopuler

Comments

MakBarudakh

MakBarudakh

Air mataku kayaknya lagi discount deh 😭

2024-07-06

0

Tiara Bella

Tiara Bella

banyak bet bawang ini.../Sob//Sob//Sob/

2024-06-21

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!