Setelah teror Kalongwewe perlahan-lahan menghilang, Yogi, Edwin, Ruri, dan Restu merasa lega, meskipun rasa takut itu masih membekas. Mereka kembali beraktivitas seperti biasa, mencoba melupakan kejadian-kejadian mencekam yang mereka alami. Namun, rasa tenang itu tak berlangsung lama, karena kini muncul cerita baru tentang gangguan di dekat pohon beringin tua di desa mereka.
Pohon beringin itu sudah lama dikenal sebagai tempat angker. Konon, banyak warga yang mengaku pernah melihat bayangan hitam besar di sekitar pohon tersebut, yang dipercaya sebagai penampakan genderewo. Selama ini, mereka hanya mendengar cerita tersebut sebagai dongeng belaka, tapi suatu malam, seorang warga yang kebetulan melewati pohon itu dikejutkan oleh sosok menyeramkan yang tiba-tiba muncul dari balik pepohonan.
Kabar tersebut menyebar cepat. Warga desa mulai merasa resah. Ada yang mengaku mendengar suara aneh, desahan berat yang terdengar seperti napas seseorang. Bahkan, beberapa warga yang tinggal di dekat pohon beringin mengaku melihat sosok hitam besar dengan mata merah menyala menatap mereka dari kejauhan.
Yogi, Edwin, Ruri, dan Restu tidak bisa mengabaikan kejadian itu begitu saja. Mereka penasaran, tapi juga merasa was-was. Teror Kalongwewe yang baru saja selesai membuat mereka berpikir dua kali untuk berurusan dengan hal-hal mistis lagi. Namun, rasa penasaran mereka tak terbendung. Mereka pun memutuskan untuk mencari tahu lebih lanjut.
Pada suatu malam, ketika bulan purnama, mereka berkumpul di rumah Yogi untuk mendiskusikan rencana. "Apa kita beneran mau ke sana?" tanya Ruri dengan nada ragu. "Kita baru aja lepas dari teror Kalongwewe, masa mau ngundang masalah lagi?"
Edwin mengangguk, tetapi ia pun merasa gelisah. "Tapi gimana kalau itu benar-benar genderewo? Kalau kita nggak cari tahu, siapa yang akan ngelindungin warga lain? Lagian, kita udah pernah ngalamin yang lebih parah dari ini, kan?"
Restu terlihat berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk setuju. "Kalau kita nggak melakukannya sekarang, kita nggak akan pernah tahu kebenarannya. Lebih baik kita cek langsung daripada terus-terusan dihantui rasa takut."
Yogi setuju. Dia merasa bertanggung jawab untuk memastikan keamanan desa mereka. Akhirnya, mereka memutuskan untuk pergi ke pohon beringin malam itu juga. Mereka membawa senter, beberapa batang dupa, dan benda-benda kecil yang mereka percayai dapat memberi perlindungan, seperti kalung dan gelang bertuliskan doa.
Saat mereka tiba di dekat pohon beringin, suasana mencekam langsung terasa. Pohon itu berdiri tegak dengan akar-akar besar yang menyebar ke segala arah, seolah-olah mencengkeram tanah dengan kuat. Daun-daunnya yang rimbun menutupi cahaya bulan, menciptakan bayangan gelap yang menakutkan.
Ruri menggenggam senter erat-erat. "Ada yang ngerasa nggak enak?" tanyanya sambil melirik teman-temannya. Edwin mengangguk. "Iya, aku ngerasa ada yang ngeliatin kita dari tadi."
Tiba-tiba, terdengar suara gemeretak dari dalam semak-semak dekat pohon. Mereka semua terdiam, saling berpandangan dengan wajah tegang. Perlahan, mereka mendekati sumber suara itu, berharap itu hanya suara angin atau binatang kecil yang lewat.
Namun, saat mereka semakin dekat, mereka melihat sesuatu yang membuat bulu kuduk mereka merinding. Sesosok bayangan besar berdiri di bawah pohon beringin, dengan mata merah menyala menatap mereka. Sosok itu terlihat menyerupai manusia, tapi tubuhnya jauh lebih besar dan berbulu lebat. Aroma busuk yang menusuk hidung mulai tercium, membuat mereka ingin muntah.
"Genderewo..." bisik Yogi dengan suara gemetar. Mereka semua terpaku, tak mampu bergerak. Sosok itu terus menatap mereka dengan mata merahnya yang menakutkan, seolah-olah mengamati setiap gerak-gerik mereka.
Edwin berusaha menenangkan dirinya, mencoba mengingat doa yang biasa ia baca untuk mengusir makhluk halus. Sambil gemetar, dia mulai melafalkan doa tersebut. Ruri dan Restu ikut membaca doa, berharap bisa mengusir sosok tersebut.
Namun, genderewo itu hanya tersenyum, memperlihatkan deretan giginya yang besar dan tajam. Tubuhnya bergerak mendekat, membuat mereka semakin terdesak. Yogi yang merasa tak punya pilihan lain, mengambil dupa yang mereka bawa, menyalakannya, dan mengarahkannya ke sosok itu.
Sosok genderewo tersebut sejenak mundur, tampak tidak nyaman dengan asap dupa yang mulai menyebar. Edwin melihat ini sebagai kesempatan untuk melarikan diri. "Lari!" teriaknya sambil menarik tangan Ruri dan berlari menjauh dari pohon beringin. Yogi dan Restu mengikuti di belakang, mencoba menjauh sejauh mungkin dari tempat itu.
Mereka terus berlari hingga sampai di rumah Yogi. Napas mereka tersengal-sengal, dan tubuh mereka masih gemetar ketakutan. Namun, meskipun mereka berhasil melarikan diri, mereka tahu bahwa kehadiran genderewo itu bukan hal yang bisa diabaikan begitu saja.
Setelah kejadian tersebut, mereka semakin yakin bahwa genderewo itu benar-benar bersemayam di pohon beringin. Mereka pun berencana untuk meminta bantuan kepada seorang sesepuh desa yang dikenal memiliki pengetahuan tentang dunia mistis. Sesepuh itu bernama Pak Wirya, seorang pria tua yang memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan makhluk halus.
Keesokan harinya, mereka mengunjungi rumah Pak Wirya. Pria tua itu mendengarkan cerita mereka dengan seksama, wajahnya berubah serius. "Pohon beringin itu memang sudah lama dihuni oleh makhluk yang kalian sebut genderewo. Dia tak suka diganggu, terutama saat bulan purnama seperti kemarin."
Yogi memberanikan diri bertanya, "Apakah ada cara untuk mengusirnya, Pak? Warga desa sudah mulai resah, dan kami ingin desa ini kembali tenang."
Pak Wirya terdiam sejenak, memikirkan sesuatu. "Mengusir genderewo bukan perkara mudah. Dia makhluk yang kuat dan licik. Namun, ada cara untuk menenangkan dan membuatnya tidak mengganggu warga lagi."
Pak Wirya menjelaskan bahwa mereka harus melakukan ritual khusus di bawah pohon beringin itu pada malam bulan purnama berikutnya. Ritual itu membutuhkan beberapa persembahan, seperti bunga kantil, sesajen, dan dupa khusus. Selain itu, mereka juga harus meminta izin kepada pohon beringin sebagai simbol penghormatan terhadap makhluk-makhluk yang bersemayam di dalamnya.
Meskipun terdengar menyeramkan, Yogi, Edwin, Ruri, dan Restu merasa ini adalah satu-satunya cara untuk mengatasi teror yang terus menghantui desa mereka. Mereka pun sepakat untuk melakukan ritual tersebut bersama-sama dengan bantuan Pak Wirya.
Pada malam bulan purnama berikutnya, mereka berkumpul di bawah pohon beringin. Pak Wirya mulai memimpin ritual, mengucapkan mantra-mantra kuno sambil membakar dupa. Suasana mencekam kembali terasa. Pohon beringin itu seakan-akan berbisik, menyampaikan sesuatu yang hanya bisa dipahami oleh Pak Wirya.
Perlahan, mereka meletakkan persembahan di sekitar pohon beringin, sambil terus membaca doa dalam hati. Tiba-tiba, mereka merasakan hawa dingin yang menyelimuti mereka, dan terdengar suara berat yang bergema di telinga mereka. Namun, Pak Wirya tetap tenang dan terus melanjutkan mantranya.
Setelah beberapa saat, suara itu hilang, dan hawa dingin perlahan menghilang. Pak Wirya menutup ritual tersebut dengan doa penutup, lalu menyuruh mereka untuk meninggalkan tempat itu tanpa menoleh ke belakang. Mereka semua mengikuti perintah Pak Wirya, berjalan menjauh dari pohon beringin tanpa melihat ke belakang.
Setibanya di rumah masing-masing, mereka merasa lega. Mereka berharap ritual tersebut dapat mengusir genderewo dan mengembalikan ketenangan di desa. Benar saja, setelah malam itu, tak ada lagi yang melaporkan melihat sosok genderewo di dekat pohon beringin.
Warga desa akhirnya bisa hidup dengan tenang kembali, dan Yogi, Edwin, Ruri, serta Restu merasa telah melakukan yang terbaik untuk melindungi desa mereka. Meski mereka tahu bahwa genderewo itu masih ada di pohon beringin, setidaknya ia tidak lagi mengganggu, dan mereka pun belajar untuk lebih menghormati tempat-tempat yang dipercaya menjadi tempat tinggal makhluk-makhluk gaib.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments