Setelah berjam-jam berada di jalanan, kini bapaknya Ruri, Ruri dan juga Restu sudah tiba di daerah asalnya. Sebelum menuju kampungnya, mobil pick up itu terlebih dahulu melewati sebuah palang pintu rel kereta tak berpintu. Jadi, semua pengemudi yang secara kebetulan lewat palang pintu ini harus lebih berhati-hati. Menyelonong dan langsung menyerobot saja bisa fatal akibatnya akan tertabrak kereta.
Saat sedang fokus mengendarai mobil pick up, tiba-tiba ada seorang bapak-bapak yang usianya sudah tidak muda lagi menyelonong saja hendak menabrakkan diri ke atas rel kereta.
Padahal kereta tidak lama lagi akan melewatinya dan suara kereta pun sudah mulai terdengar padahal masih beberapa ratus meter jauhnya. Warga yang melihat sudah panik luar biasa, sudah diteriaki namun tidak didengar dan tidak digubris himbauannya. Saat akan hendak menyeretnya keluar dari rel oleh warga, tiba-tiba bapak-bapak tadi menabrakkan diri dengan kereta yang sedang lewat.
Bbrrruuukkk....
Tubuhnya yang kurus dan keriput terpental dan terseret beberapa puluh meter jauhnya. Begitu sudah terseret, tubuhnya sudah tidak utuh lagi. Tangan, kaki, dan badannya berada terpisah. Dan itu membuat bau anyir ke mana-mana, darah merah segar pun mengalir tiada henti disana tepatnya disemak-semak pinggir rel kereta api. Bapaknya Ruri tidak berani mendekat bahkan menolongnya, karena masih syok dengan kejadian dini hari tadi sewaktu di jalan tol.
Sebagai gantinya, bapaknya Ruri hanya mampu menelepon ambulans dan kantor polisi terdekat. Biarlah mereka-mereka yang bekerja mengurusi mayat itu. Setelah semuanya sudah berada di lokasi kejadian, lalu bapaknya Ruri mengajak Ruri dan Restu untuk kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah.
“ Rur, Restu, ayo kita lanjutkan lagi perjalanannya, semua instansi sudah berada di lokasi kejadian, biarlah mereka-mereka yang mengurusnya.”
“ Kita tidak usah ikut campur.” Lanjutnya lagi
Ternyata usut punya usut, di sekitar palang pintu rel kereta tersebut dianggap angker oleh warga sekitar. Dikarenakan terdapat sesosok makhluk astral yaitu setan budek, makhluk astral ini dipercaya sering mengganggu warga sekitar yang lewat palang pintu tiba-tiba menjadi budek. Pantas saja, bapak tadi diteriaki warga untuk tidak menerobos palang pintu tidak digubris sama sekali. Dan terus saja menerobos hingga badannya terpental jauh dan sudah tidak utuh lagi.
***
Beberapa menit kemudian, pick up yang dikemudikan bapaknya Ruri dan ditumpangi oleh Ruri juga Restu kini sudah sampai di rumahnya Ruri. Ada kabar juga bahwa bapak-bapak yang sempat terpental kereta api tadi sudah dibawa ke rumah sakit dan kasusnya sudah ditangani oleh kepolisian setempat. Untunglah para petugas sangat cepat tanggap dengan kejadian di daerahnya. Setelah beristirahat sebentar di rumahnya Ruri untuk melepas lelah, Restu pun pamit untuk pulang ke rumahnya. Keadaan langit sudah mulai mendung dan gelap tanda akan segera turun hujan.
Restu lalu pulang ke rumahnya, tidak jauh dari rumah Ruri hanya beberapa meter saja Cuma terhalang oleh gang di sebelahnya. Setelah Restu pulang ke rumahnya, Ruri lalu melanjutkan istirahatnya yaitu tidur siang sebentar. Karena nanti malam akan ada janji dengan Yogi dan kawan-kawan mau bermain Playstation di rumahnya Yogi. Sore pun sudah habis, kini berganti malam, waktu yang dinanti sudah tiba. Ruri pun pamit ke orang tuanya mau berkunjung ke rumahnya Yogi.
Ruri berangkat ke rumah Yogi dengan menggunakan motor, walaupun jarak rumah Yogi tidak terlalu jauh dengan rumah Ruri, tapi rasanya Ruri malas jalan kaki lebih memilih memakai motor saja supaya lebih cepat sampai. Beberapa menit kemudian, Ruri pun telah sampai di rumahnya Yogi. Yogi pun segera menyambut kedatangan Ruri disusul dengan kawan-kawan yang lainnya.
Setelah semua kawan-kawannya telah berkumpul di rumahnya Yogi, lalu Yogi pun mulai menyalakan PlayStationnya. Disaat sedang mencoba-coba memakai analog playstation, Yogi kemudian bertanya dan membuka percakapan dengan kawan-kawannya.
“ Rur, apa benar tadi siang ada yang kesambar kereta api? ” tanya Yogi penasaran.
“ Iya Gi, tadi siang pas Gue baru pulang nganterin bokap Gue ke luar kota.”
“ Oh, korbannya terluka parah gak setelah kejadian kesambar kereta api itu? Tanya Yogi lagi.
“ Kurang tahu Gi, kan Gue langsung melanjutkan perjalanan lagi menuju rumah, lagi pula kata bokap Gue gak usah terlalu ikut campur.”
Setelah membahas tentang kejadian di palang pintu kereta api, Yogi dan kawan-kawan menghabiskan sore itu dengan bermain PlayStation di kamar kos Yogi. Suasana kamar dipenuhi tawa dan sorak kemenangan ketika mereka bergiliran memenangkan pertandingan di game sepak bola favorit mereka. Malam semakin larut, tetapi tak satu pun dari mereka yang merasa ingin berhenti.
"Eh, besok kita ada rencana kemana nih? Mau sekalian keluar cari makan gak?" tanya Rur sambil meneguk air minum dari botol di tangannya.
"Kayaknya seru juga, apalagi besok libur. Gimana kalau kita nginap aja di sini sekalian? Paginya kita bisa jalan-jalan bareng," usul Yogi.
Semua setuju dengan ide itu, dan mereka akhirnya memutuskan untuk menginap. Menjelang tengah malam, suasana mulai tenang, namun obrolan kecil masih berlanjut. Tanpa sadar, pembicaraan kembali mengarah pada kejadian di palang pintu kereta api siang tadi.
"Kamu benar-benar gak tahu banyak soal korban yang kesambar kereta itu, Rur?" tanya Andi, teman kos mereka yang dari tadi diam mendengarkan cerita.
"Enggak, Di. Gue cuma lihat ramai-ramai sebentar, tapi Gue buru-buru pulang karena bokap juga udah pesan buat gak ikut campur. Jadi ya, Gue cuma lihat sekilas aja," jawab Rur sambil menggeleng.
"Gue dengar-dengar, katanya tempat itu memang angker. Sering ada kejadian aneh, apalagi malam Jumat kayak gini," kata Yogi sambil melirik teman-temannya.
Rur hanya tertawa, tapi ia terlihat sedikit tidak nyaman. "Iya, Gi. Bokap Gue juga pernah bilang tempat itu dulu memang sering terjadi kecelakaan, entah kenapa. Tapi ya, Gue gak terlalu mikirin sih, mungkin cuma mitos aja."
Pembicaraan mulai berubah ke arah yang lebih mistis. Andi yang memang gemar cerita horor mulai menambahkan kisah-kisah seram yang pernah ia dengar tentang rel kereta itu. Suasana menjadi agak tegang, terutama ketika lampu kamar tiba-tiba berkedip sebentar, membuat mereka terdiam.
"Heh, jangan bercanda lu semua, gue merinding ini," kata Rur sambil mengusap lengannya yang tiba-tiba terasa dingin.
"Ah, paling juga listriknya," balas Yogi mencoba menenangkan, walau dalam hati ia juga merasa ada yang aneh.
Malam pun terus berlanjut hingga akhirnya satu per satu dari mereka mulai mengantuk dan tertidur. Rur masih sedikit gelisah dengan cerita-cerita yang tadi mereka bicarakan, terutama karena bayangan kejadian di palang pintu kereta itu kembali muncul di pikirannya. Sebelum memejamkan mata, ia berharap semua itu hanya kebetulan belaka dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Keesokan harinya, mereka bangun agak siang. Setelah sarapan seadanya, mereka berencana untuk jalan-jalan di sekitar kota. Namun, tiba-tiba ponsel Rur berdering. Ternyata panggilan itu dari ayahnya.
"Rur, kamu baik-baik aja kan?" tanya ayahnya dengan nada khawatir.
"Iya, Yah. Ada apa?" jawab Rur penasaran.
"Semalam bokap mimpi aneh tentang kamu. Mimpi kamu di tempat palang kereta itu. Pokoknya hati-hati aja, jangan main-main di sana," pesan ayahnya dengan nada serius.
Percakapan itu membuat Rur sedikit terdiam. Setelah menutup telepon, ia menceritakan kejadian itu pada Yogi dan Andi. Mereka terkejut, tetapi mencoba menganggap itu hanya kebetulan.
"Ah, paling cuma mimpi biasa, Rur. Jangan terlalu dipikirin," kata Andi, mencoba menenangkan.
Namun, kata-kata ayah Rur tetap terngiang di benaknya. Hingga akhirnya, mereka memutuskan untuk mengubah rencana dan pergi ke tempat lain. Mereka ingin menikmati hari libur mereka tanpa perlu merasa terganggu oleh perasaan aneh yang muncul karena cerita di palang pintu kereta api itu.
Saat siang menjelang sore, mereka pun berkumpul di taman kota, menikmati suasana yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Canda tawa kembali muncul, dan ketegangan yang dirasakan Rur pun perlahan hilang.
Namun, saat mereka bersantai, sebuah berita di layar ponsel Andi kembali mengejutkan mereka. Diberitakan bahwa korban kecelakaan di palang pintu kereta api kemarin sore ternyata meninggal dunia setelah sempat dirawat intensif di rumah sakit.
Mereka terdiam sejenak, merasa sedikit ngeri. Rur pun menghela napas panjang, memikirkan ucapan ayahnya. Meskipun hari itu akhirnya tetap berjalan dengan baik, kejadian tersebut memberikan mereka pengalaman yang tidak terlupakan dan membuat mereka semakin percaya bahwa ada hal-hal di dunia ini yang sulit untuk dijelaskan.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments