Setelah mendengarkan cerita seram dari driver Ojol, lalu Edwin, Ruri, dan juga Restu dengan ketua kelompoknya Yogi sekarang dihadapkan dengan teror kalong wewe yang selalu membuat ulah dengan menculik anak-anak disekitar tempat tinggalnya ketika waktu magrib tiba.
***
Malam semakin larut ketika Yogi, Edwin, Ruri, dan Restu berkumpul di rumah Yogi. Udara malam terasa dingin, dan suara hewan malam terdengar samar-samar dari luar. Mereka masih teringat cerita seram yang baru saja mereka dengar dari driver ojol yang mengantar mereka tadi sore, tentang kalong wewe – makhluk menyerupai kelelawar besar yang suka menculik anak-anak di waktu magrib. Warga setempat sering mengingatkan anak-anak untuk pulang sebelum matahari terbenam, tapi beberapa kali peringatan itu tidak dihiraukan, dan itulah yang membuat teror ini semakin menakutkan.
Mereka berempat saling bertukar pandang dengan tegang, seolah-olah mencoba membaca pikiran satu sama lain. Yogi yang biasanya berani kini terlihat sedikit gelisah. Namun, sebagai ketua kelompok, ia mencoba menenangkan mereka.
“Kita harus cari tahu lebih banyak tentang kalong wewe ini,” Yogi memulai. “Aku dengar makhluk itu bukan hanya sekadar mitos. Banyak orang yang melihatnya terbang melintasi atap rumah-rumah saat magrib tiba. Bahkan, konon katanya makhluk ini sudah ada sejak zaman dulu, dan hanya muncul pada waktu-waktu tertentu.”
“Terus, kita mau ngapain, Yog? Mau nyari-nyari makhluk itu?” tanya Edwin dengan nada ragu, menatap Yogi seolah-olah mempertanyakan kewarasannya.
Ruri menunduk dan menarik napas dalam-dalam. “Sebenarnya aku penasaran juga, sih. Tapi kalau memang ada anak-anak yang hilang, kita nggak bisa tinggal diam. Bisa aja ada sesuatu di balik semua ini.”
Restu, yang dari tadi hanya mendengarkan, akhirnya berbicara. “Kita perlu bukti dulu, bukan cuma dengar cerita orang. Lagipula, siapa tahu ini cuma cerita buat nakut-nakutin anak kecil biar nggak keluar pas magrib.”
Mereka akhirnya memutuskan untuk melakukan penyelidikan sederhana, dimulai dengan mengumpulkan cerita dari warga sekitar. Mereka ingin mengetahui seberapa serius teror ini dan apakah kalong wewe benar-benar ada atau hanya cerita rakyat yang sengaja dibuat untuk menakuti anak-anak.
Keesokan harinya, mereka berempat berjalan-jalan di kampung, berbincang dengan beberapa orang tua yang sedang duduk di balai-balai. Mereka sengaja bertanya dengan nada santai, seolah-olah hanya ingin tahu cerita dari masa lalu. Tapi jawaban yang mereka dapatkan cukup mengerikan.
“Dulu ada seorang ibu yang kehilangan anaknya di waktu magrib,” kata salah satu warga, seorang nenek dengan suara serak. “Anaknya keluar main sebentar di depan rumah, tapi tiba-tiba lenyap. Beberapa orang melihat bayangan hitam besar di langit, seperti kelelawar raksasa. Sejak saat itu, warga sini selalu menjaga anak-anak mereka lebih ketat.”
“Lalu, apa ada yang bisa mengusir makhluk itu, Nek?” tanya Ruri penasaran.
“Sebenarnya, ada. Konon, kalong wewe takut pada bunyi-bunyian keras. Biasanya, warga akan memukul-mukul benda logam atau membuat suara keras untuk menakutinya. Makhluk itu akan pergi untuk sementara waktu, tapi pasti akan kembali,” jawab nenek itu dengan mata menerawang, seakan mengingat masa-masa mencekam itu.
Setelah mendengar cerita itu, Yogi dan teman-temannya semakin yakin bahwa teror kalong wewe ini bukan sekadar cerita iseng belaka. Mereka memutuskan untuk menyusun rencana kecil untuk berjaga-jaga ketika magrib tiba. Mereka membawa lonceng, panci, dan benda-benda yang bisa menghasilkan suara keras. Meski merasa cemas, mereka bertekad untuk menyelesaikan misteri ini.
Ketika waktu magrib hampir tiba, mereka berempat sudah berkumpul di sebuah pos kecil di dekat pohon besar yang sering dianggap angker oleh warga. Pohon itu sering dikaitkan dengan tempat tinggal kalong wewe. Suasana sunyi mencekam mulai terasa ketika langit berubah menjadi gelap.
“Kalian siap?” bisik Yogi.
Mereka mengangguk, walaupun wajah mereka tak dapat menyembunyikan ketegangan. Suara azan magrib berkumandang dari masjid terdekat, dan suasana seketika berubah menjadi lebih hening. Udara terasa dingin dan berat. Lalu, suara samar-samar terdengar dari arah pohon besar.
“Kalian dengar itu?” bisik Edwin dengan suara gemetar. Suara seperti kepakan sayap besar bergema di sekitar mereka. Lalu, muncul bayangan hitam melayang di langit. Mereka semua menahan napas saat melihat sosok itu semakin mendekat. Kalong wewe, dengan sayap besar dan mata merah menyala, terbang mengitari pohon.
Refleks, Yogi segera memberi aba-aba kepada teman-temannya. Mereka mulai memukul benda-benda logam yang mereka bawa, membuat suara keras yang bergema di sekitar. Kalong wewe itu terkejut, berhenti melayang, dan menatap mereka dengan mata merah menyala. Ia tampak marah, berputar-putar seolah mencari cara untuk menyerang.
“Kita nggak boleh berhenti!” teriak Ruri, meskipun ia sendiri merasa sangat takut.
Kalong wewe itu akhirnya mengeluarkan suara melengking yang menusuk telinga, kemudian melesat pergi dengan cepat ke arah hutan di pinggir kampung. Mereka semua terdiam, masih merasa tegang dan tidak percaya bahwa makhluk itu benar-benar muncul di hadapan mereka.
Setelah beberapa saat, mereka mulai bernapas lega. Warga sekitar yang mendengar suara mereka akhirnya keluar dari rumah, melihat mereka dengan tatapan penasaran. Salah satu warga yang lebih tua mendekati mereka dan berkata, “Kalian sudah menyelamatkan banyak anak malam ini. Makhluk itu mungkin akan kembali, tapi setidaknya kalian membuatnya pergi untuk sementara.”
Yogi dan teman-temannya merasa lega sekaligus bangga, meskipun mereka tahu bahwa perjuangan mereka belum selesai. Mungkin kalong wewe akan kembali, tapi sekarang mereka sudah tahu apa yang harus dilakukan untuk melindungi kampung mereka.
Sejak malam itu, mereka pun memutuskan untuk mengadakan ronda setiap magrib bersama warga lainnya, berjaga-jaga agar tak ada lagi anak-anak yang hilang. Warga juga semakin kompak dan saling mengingatkan untuk menjaga keluarga mereka saat waktu magrib tiba. Bagi Yogi, Edwin, Ruri, dan Restu, pengalaman ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya keberanian dan persatuan dalam menghadapi ancaman yang tidak terduga.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments