Ciara sudah sampai rumah ia disambut oleh Oma dan Opa nya.
" Sayangnya Oma sudah sehat Nak.. Ciara harus tetap sehat ya sayang .. " Ibu menggendong cucu kesayangannya.
" Dokter Dhena .. Terima kasih banyak " ucap Ibu kepada Dhena.
" Sama-sama Bu " Dhena tersenyum.
" Oma aku mau main sama boneka-boneka aku " ucap Ciara.
" Kamu main sama Mbak Yuli ya "
Yuli dipanggil untuk menemani Ciara bermain, sedangkan Dhena duduk di ruang keluarga bersama Bisma dan Ayah nya karena Ibu sedang membuatkan minum untuk Dhena.
Tidak lama Ibu kembali dengan dua cangkir teh hangat untuk Dhena dan Bisma
" Tidak perlu repot-repot Bu " ucap Dhena.
" Tidak apa-apa hanya air teh, silakan diminum "
" Silakan diminum Nak Dhena " susul Pak Waluyo.
" Terima kasih "
Dhena lalu mengambil cangkir lalu meminum teh hangat yang sudah di buatkan oleh Ibu tadi.
Pak Waluyo sudah mengetahui cerita Dhena dari Ibu, selain ia sebagai karyawan di perusahaan nya, Dhena pun menjadi seseorang yang bisa membuat cucu nya kembali bahagia, Pak Waluyo menyetujui saja jika Dhena bisa menjadi Ibu dari cucunya, Dhena pun bisa memposisikan diri dan sangat santun jika bertemu dengan mereka.
" Bagaimana klinik dok, aman ? " tanya Pak Waluyo di sela-sela obrolan mereka.
" Alhamdulillah Pak, klinik aman sudah ada penambahan karyawan klinik juga Pak, karena Pak Bisma sempat mengubah kebijakan klinik " ucap Dhena melirik Bisma sesaat.
" Ya syukurlah saya sudah sempat mendengar itu, saya percayakan klinik di pegang olehmu, karena adanya Klinik itu akan di dedikasikan untuk mendiang almarhumah kakak dari Bisma " ucap Pak Waluyo.
Deg
Dhena masih terheran dengan ucapan Pak Waluyo, Kakak Bisma mana yang sudah meninggal, karena beberapa kali ke rumahnya ia hanya melihat foto pernikahan yang tidak terlalu besar terpajang di salah satu sudut rumah, namun itu bukan foto pernikahan Bisma, ia tidak pernah melihat sama sekali foto pernikahan Bisma.
Apakah itu Kakak Bisma yang sudah meninggal ?
" Baik Pak " Dhena hanya mengangguk.
Bisma yang sesekali melihat Dhena, ia pun menebak sepertinya ada sesuatu yang dipikirkan oleh Dhena.
Setelah berbincang-bincang Dhena pamit untuk pulang, saat ia akan menemui Ciara, Ciara tertidur di pangkuan Mbak pengasuh nya, mungkin karena Ciara masih sedikit lemas.
" Saya pamit pulang dulu Pak Bu " ucap Dhena.
" Ya hati-hati Nak "
Setelah menyalami kedua orangtua Bisma, ia berjalan bersama Bisma keluar rumah.
" Pak.. Saya naik angkutan online saja" ucap Dhena.
" Saya antar "
" Tidak usah repot-repot Pak terima kasih "
" Tenang saja ini tidak merepotkan " balas Bisma seperti biasa.
Tadi Dhena menuju rumah sakit untuk menjemput Ciara menggunakan mobil pribadinya, namun Ciara tidak ingin berpisah dengan Dhena, sehingga Bisma mengajak Dhena untuk ikut dengan mobilnya, sedangkan mobil Dhena, Bisma meminta Jerry untuk mengantarkannya ke rumah Dhena.
Dhena menyetujui ajakan Bisma untuk mengantarkan nya pulang.
Didalam mobil hening tidak ada obrolan, tiba-tiba Bisma memanggil Dhena memecah keheningan.
" Dok "
Dhena menoleh.
" Jangan panggil dok, ini bukan di klinik " ucap Dhena.
" Hmm.. Pasti kamu tidak mengerti dengan apa yang diucapkan Ayah tadi " ucap Bisma.
" Ucapan yang mana ? " Dhena pura-pura
" Saya memiliki Kakak perempuan, namun ia sudah meninggal karena kecelakaan " ucap Bisma.
" Ya Tuhan.. Berarti benar desas-desus berita kabur yang sering ia dengar jika Pak Waluyo memiliki 2 orang anak namun yang pertama meninggal " batin Dhena.
" Mmh.. Maaf saya pikir yang meninggal itu Ibu nya Ciara " ucap Dhena.
" Ya.. Memang yang meninggal almarhumah Ibunya Ciara " ucap Bisma.
" Maksudnya gimana ? " Dhena tidak mengerti dengan ucapan Bisma.
Apa sih maksudnya ? Masa iya Bisma nikah sama kakaknya, atau gimana sih ini ?
Batin Dhena berkecamuk.
" Ehem.. Lambat laun saya pasti akan menceritakan ini semua.. Terlebih kamu akan menjadi Ibu dari Ciara " ucap Bisma.
Dhena menoleh ke arah Bisma.
" Pak, maksud nya gimana ? " tanya Dhena.
" Tapi jawab dulu pernyataan saya, baru saya akan menjelaskan semua " ucap Bisma.
" Apa ? "
" Kamu menikah denganku dan menjadi Ibu untuk Ciara " ucap Bisma lantang.
Deg
Blash
Bagaimana mungkin aku bisa menikah dengan seseorang yang tidak aku cintai, aku mencintai dan menyayangi Ciara tapi tidak dengan Papa nya. Pak Bisma hanyalah atasanku di tempat kerja.
Aku harus jawab Apa Tuhan.. ?
Batin Dhena.
" Kenapa diam ? Bagaimana ? " tanya Bisma tidak sabar
" Maaf Pak saya tidak bisa " ucap Dhena.
" Kenapa ? "
Dhena terdiam.
" Apa karena dokter Ammar ? " tanya Bisma lagi.
Deg
Apa-apaan Pak Bisma, bawa-bawa Ammar lagi.
Dhena menjadi kikuk sendiri setelah mendengar kata Ammar.
Sebelumnya Bisma telah menyelidiki Dhena dan juga Ammar yang ia curigai, Bisma memang memiliki intuisi yang kuat juga dibantu oleh Jerry dan benar saja, Ammar adalah seseorang yang sempat di taksir oleh Dhena dulu. Mereka nyaris menjalin hubungan hanya karena satu hal, mereka kembali menjadi seseorang yang saling mengagumi dalam diam.
" Saya menyadari mungkin kamu belum bisa mencintai saya, tapi saya bisa melihat kamu mencintai Ciara, karena bagi saya, saya akan mencintai wanita yang ia pun mencintai anak saya " ucap Bisma lagi.
Pikiran Dhena semakin kalut, ia tidak pernah menyangka kepindahan nya ke Klinik perusahaan untuk bertugas sebagai dokter disana, membuatnya berada di posisi sekarang.
Tapi ia tidak dapat memungkiri jika sebetulnya ia tidak memiliki perasaan apapun kepada Bisma, sikap baik dan peduli nya hanya untuk Ciara.
" Saya mohon.. Demi Ciara " ucap Bisma lagi
Dhena belum diberitahu jika Ciara adalah anak dari Kakak Bisma yang sudah meninggal.
Obrolan mereka di dalam perjalan menuju rumah Dhena , membuat Dhena tersadar jika jalan ke rumahnya sudah terlewat jauh sekitar 2 kilometer.
" Pak.. Jalan rumah saya bukan kesini " ucap Dhena.
" Saya tunggu jawaban kamu sekarang, baru saya akan putar arah untuk mengantarkan kamu pulang " balas Bisma.
Ada gila-gila nya emang ..
" Tapi Pak.. "
" Pelanggaran satu "
" Apa pelanggaran satu ? " tanya Dhena.
" Jangan panggil saya Pak, ini bukan di kantor " jawab Bisma dengan terus melajukan mobilnya.
Dhena berusaha untuk tenang, karena semakin panik semakin ia tidak dapat berpikir tenang.
" Bagaimana ? Saya akan terus melajukan mobil ini, jika kamu belum menjawab pertanyaan saya " ucap Bisma lagi.
Dhena masih dilanda kebingungan.
" Bisa-bisa kita akan sampai luar kota menikmati perjalanan ini berdua " susul Bisma.
Tanpa pikir panjang.
" Stop ! "
Ciittttttt
Bisma menghentikan laju mobilnya secara mendadak.
Duk
Untung Dhena menggunakan sabuk pengaman sehingga tubuhnya aman di atas kursi penumpang.
" Oke.. "
" Oke apa ? " tanya Bisma menggoda Dhena.
" O..oke .. Kita menikah, demi Ciara "
Jreengg
Dengan senyum mengembang dari lengkung Bisma, ia kembali melajukan mobilnya, putar arah untuk mengantarkan Dhena pulang.
🌷🌷🌷
Gak akan lupa selalu minta dukungan buat author dengan vote,like komen nya ya kakak ❤️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 124 Episodes
Comments
Yani
itu mah namanya pemaksaan pak Bisma bukan ngelamar/Smile/
2024-12-25
2
Aries suratman Suratman
Itu namanya pemaksaan kehendak Bisma masa nggak ada Romantis -romantisnya
2024-12-20
1
Sulis Tyawati
astagaaaaa ada gitu org ngajak nikah, maksa sambil ngancem🤣😃
2025-03-16
0